
Dhandeli dan Draga makan dengan lahap tanpa suara, hingga tanpa terasa hampir semua hidangan habis. Dhan malam itu memang sangat lapar karena di siang hari dia hanya makan dengan roti isi dan beberapa kue saja.
"Apa ada lagi yang kau ingin makan?" Draga mengelap bibirnya dengan tissue, pertanda dia telah selesai makan.
"Es krim cokelat, aku mau eskrim cokelat dengan wafer."
Dhandeli tampak tidak seperti wanita 27 tahun, namun tampak seperti anak gadis berusia 17 tahun.
Melihat betapa bersemangatnya Dhan meminta eskrim akhirnya Draga memesan satu mangkuk eskrim cokelat dengan wafer di atasnya.
"Kau ini, usia mu sudah berapa? tapi masih saja seperti anak kecil."
Draga tersenyum memperhatikan Dhan yang tengah melahap eskrim cokelat yang dia inginkan.
"Memang kenapa? hari ini aku sangat bahagia, bisa makan dengan bebas di manapun yang aku mau, dan itu semua berkat dirimu, Terima kasih Draga."
Dhandeli tersenyum tulus ke arah Draga membuat Draga tersipu malu dan jadi salah tingkah.
"Habiskan eskrim mu setelah ini kita akan berjalan-jalan sebentar."
Draga memanggil pelayan dan membayar billnya.
"Kau tidak mau coba?"
Dhandeli dengan sedikit ragu mencoba menawarkan eskrim padahal dia tahu tidak mungkin Draga akan mau menerimanya.
"Apa?" Draga mengernyitkan dahi.
"Rasa eskrim ini."
Dhan mengarahkan sendok berisi eskrim ke depan mulut Draga.
"Maaf aku tidak suka manis." Draga menolak dengan lembut.
"Tapi eskrim ini tidak terlalu manis Ga." Dhan dengan ekspresi meyakinkan berusaha membuat Draga mencicipi eskrimnya.
"Panggilan itu, kenapa kau memanggilku dengan akhiran namaku?" Draga dengan canggung mencoba menanyakan tentang panggilan 'Ga' dari Dhandeli untuknya.
"Entah, itu hanya spontan saja, dan nyaman saat aku memanggilnya, apa kau tidak suka?" Dengan masih menyodorkan sesendok eskrim Dhan menatap intens ke arah Draga, membuat wajah Draga memerah.
"Ti-tidak, bukan begitu maksudku, hanya saja aku merasa akrab dengan panggilan itu, seperti pernah mendengarnya di suatu waktu dan tempat."
Draga seperti samar mengingat sesuatu dari panggilan yang di berikan oleh Dhandeli.
"Oh, kalau aku dulu saat masih berusia 7 tahun pernah memiliki sahabat bernama Arga, jadi aku panggil dia 'Ga', mirip bukan? sekarang coba eskrim ini, kau pasti tidak akan kecewa." Dhan masih menyodorkan sendok berisi eskrim itu membuat Draga mengangguk dan membuka mulutnya lalu tersenyum lembut sambil berusaha menelan eskrim itu.
__ADS_1
"Bagaimana? enak tidak? Sebenarnya aku tahu tentang kau yang mempunyai OCD." Dhandeli sangat antusias dengan pendapat Draga mengenai eskrim itu dan mengutarakan pengetahuannya tentang OCD Draga.
"Kau tahu kalau aku memiliki OCD? tapi kenapa memaksaku makan dari tangan mu?" Draga sedikit mencurigai sikap Dhandeli yang seperti sengaja.
"Kau harus berusaha melawan alam bawah sadar mu dengan logika, aku sedang mendorong mu kepada kenyataan sehingga OCD mu itu bisa hilang." Draga hanya diam tidak bisa berkomentar apa-apa.
"Ayo kita jalan-jalan di tepi danau."
Draga bangun terlebih dahulu dan menuruni tangga gazebo, saat sudah di bawah Draga mengulurkan tangannya membatu Dhan menuruni tangga.
"Terima kasih." Dhan tersenyum lembut.
"Ayo."
Dengan santai Draga memimpin jalan, lalu Dhan mengikuti disampingnya.
Beberapa menit mereka berjalan dalam diam, membuat suasana teras canggung untuk Dhan.
"Apa aku boleh menanyakan sesuatu?"
Dhan memberanikan diri membuka pembicaraan.
"Apa?" Draga menjawab datar.
"Itu benar, aku sekarang sedang menjalani konseling dan beberapa terapi." Walau enggan Draga tetap menjawab.
"Apa kau tidak benci dekat dengan ku? karena yang aku tahu, penderita OCD sangat sensitif dengan kehadiran orang lain, hal-hal yang tidak bersih dan waktu yang berjalan tidak sesuai dengan keinginannya." Dhandeli penasaran tentang bagaimana perasaan Draga saat bersamanya.
"Sepertinya terapi yang ku jalani berhasil, karena biasanya selain dengan Yara aku tidak bisa berlama-lama dengan orang lain, sekarang bertambah satu orang yang bisa membuatku dekat."
Mendengar kalimat Draga entah kenapa membuat Dhandeli tersipu dan jadi salah tingkah, Dhandeli teringat saat dia menyuapi Draga eskrim dari sendoknya, sebelum mereka berjalan-jalan sekarang.
Mereka pun melanjutkan perbincangan mereka dengan senyum yang terukir jelas di wajah keduanya, padahal tanpa mereka sadari mereka sedang diawasi.
***
Disuatu tempat tersembunyi, Yara dan rekannya mengawasi Draga dari jarak jauh.
"Ayah, Draga baik-baik saja, bahkan dia bersenang-senang, sedangkan aku harus berkerumun dengan dedaunan." Yara memberikan laporan lewat ponsel kepada ayahnya.
"Awasi terus, jangan lengah, karena ayah khawatir terjadi sesuatu." Sang ayah menjawab tegas dan langsung menutup sambungan telponnya.
"Saat seperti ini, andai saja ada Arthem, mungkin aku tak akan merasa menyedihkan seperti ini."
Yara menggerutu sambil terus mengawasi Draga.
__ADS_1
"Sabar Nona, sebentar lagi tugas kita juga akan selesai." Jawab sang asisten yaitu Nina.
Nina yang juga merupakan asisten Draga di kantor adalah seorang pengawal yang khusus ditempatkan oleh Tuan Sein di PT GE untuk menjaga dan mengawasi Draga.
Saat Yara dan Nina tengah mengobrol, mereka melihat seorang pria yang mencurigakan.
***
Draga dan Dhandeli sangat menikmati suasana danau yang sunyi itu, menciptakan suasana romantis bagi setiap pasangan.
"Tempat ini sangat romantis, sayang aku tidak punya kekasih, kalau punya mungkin akan sangat menyenangkan." Dhandeli mengutarakan apa yang ada di pikirannya.
"Kau tidak punya kekasih?" Draga memastikan pendengarannya.
"Iya, terakhir kali aku kencan buta dengan pria yang waktu itu ada di rumahmu, dia yang sedang bertengkar dengan Yara, kau tahu dia menolak ku di detik aku menempelkan bokong ku di kursi cafe." Draga menanggapinya dengan tawa yang hampir lepas namun Draga bisa menahannya.
Mereka tertawa bersama Draga masih tidak bisa menghentikan tawa dari bibirnya. Saat itu Dhandeli memperhatikan pria yang berjalan semakin mendekat ke arah mereka. Saat pria itu semakin mendekat Dhan melihat dia mengeluarkan pisau kecil.
"Draga awas!" Dhandeli berteriak saat pria itu menyerang Draga, Dhan secara spontan menarik Draga namun pisau itu masih bisa mencapai tubuh Draga dan tertancap di pinggangnya.
"Aaaa! Draga!"
Dhandeli berteriak histeris saat tubuh Draga tumbang menimpa tubuhnya.
Saat ditengah kepanikan Dhan mendengar teriakan pria yang baru saja menusuk Draga, dan saat dia menoleh pria itu sudah terkapar tak bernyawa.
"Draga, bangun Draga! kau harus tetap sadar!" Dhan menekan luka Draga agar darah yang keluar dari luka tusuk itu terhenti.
"Siapa pun tolong aku! tolong!" Saat dalam keadaan panik, Yara yang berlari kencang menghampiri mereka.
Setelah melihat pria itu menusuk Draga, Yara langsung menembak pria itu dengan pistol yang di lengkapi peredam, namun sepertinya pelurunya mengenai titik vital pria itu, sehingga pria itu tewas di tempat.
"Yara! Yara... tolong Draga... dia, dia..." Dhandeli tampak syok melihat kejadian itu.
"Tenanglah, ayo bantu aku memapah tubuhnya ke mobil, kita bawa dia ke rumah sakit, kau terus tekan luka Draga, aku yang mengemudi." Dhan hanya mengangguk dengan masih terisak panik.
Yara mengemudikan mobilnya cepat, beruntung jalanan lengang dan jarak rumah sakit cukup dekat, jadi hanya dalam waktu 10 menit mereka sudah tiba di rumah sakit.
Saat tiba di UGD semua perawat bergegas menangani Draga, karena insiden itu Draga harus masuk ruang operasi.
"Dia akan baik-baik saja, berhentilah menangis Dhan." Yara mencoba menenangkan Dhan yang masih menangis di ruang tunggu.
"Aku takut kak... takut..." Dhan masih terus menangis, karena tidak tega Yara pun memeluk Dhan, menepuk-nepuk bahunya, agar dia tenang.
💙👍🏻💙👍🏻💙👍🏻💙👍🏻💙👍🏻💙👍🏻💙👍🏻💙
__ADS_1