
"Sangat membuat orang yang melihat menjadi iri." Samuel rupanya sudah terlalu jengah melihat adegan mesra di hadapannya.
Sedari Dhandeli pergi, Yara dan Arthem seolah merasa di ruangan itu hanya mereka berdua, tanpa menghiraukan Samuel yang sedang melahap makanannya sendirian di sofa ruang tunggu.
"Bawa tunangan mu, kenapa jadi cemburu dengan kami?" Arthem membalas ucapan sindiran sekaligus protes Sam dengan santai tanpa menoleh sedikitpun.
"Jadi Sam sudah bertunangan?" Yara terlihat terkejut sekaligus antusias.
"Iya, tapi kekasihnya selalu berkeliaran." Arthem mengejek profesi kekasih Sam dengan sengaja.
Tunangan Sam berprofesi sebagai Intel Negara yang pekerjaannya selalu mengharuskan dia untuk bepergian dalam menyelidiki sebuah kasus dengan berbagai bentuk penyamaran.
"Dia masih muda jadi biarkan saja." Jawab Sam dengan nada datar namun sedikit terselip kesedihan di sana.
"Lalu posisi tunangan mu itu dimana saat ini?" Yara mencoba merubah suasana hati Sam yang seperti akan mendung.
"Entahlah, Aku tidak terlalu ingin ikut campur urusannya." Sam menjawab dengan enggan dan masih bisa makan dengan tenang walau hatinya sudah tak karuan.
***
Draga mencoba mengulurkan tangannya untuk menyentuh kepala Dhandeli, membelainya lembut agar dia tak terganggu.
Namun ternyata Draga salah, Dhandeli langsung membuka matanya bulat-bulat, mata itu langsung jernih tak seperti orang lain pada umumnya, yang menggeliat dan menguap atau mengerjapkan matanya terlebih dahulu untuk mengumpulkan kesadaran sepenuhnya.
"Ternyata kau tipe manusia yang langsung sepenuhnya sadar dari tidur dan juga waspada." Draga berucap sambil tersenyum dengan ramah.
"Kau baik-baik saja? apa masih terasa sakit?" Dhandeli memperhatikan raut wajah Draga yang pucat.
"Aku baik-baik saja, kau bisa tenang, selain darahku yang berkurang semuanya masih dalam keadaan stabil." Draga berbicara masih dalam kondisi setengah berbaring karena bagian kepala ranjangnya ia naikkan 45°.
"Syukurlah kalau begitu..." Dhandeli terlihat canggung.
__ADS_1
"Ehem!" Draga berdehem untuk menghilangkan kegugupannya.
"Kau ingin minum?" Dhan dengan sigap mengambil segelas air mineral dan memberikannya pada Draga.
"Terima kasih." Draga menerima gelas yang berisi air mineral dari tangan Dhandeli.
"Masalah tadi, aku minta maaf." wajah Draga masih bersemu merah saat mencoba untuk menetralkan perasaannya dan meminta maaf atas kecerobohan yang dia buat beberapa menit lalu.
"Aku juga minta maaf, karena aku luka mu jadi terbuka lagi." Dhandeli duduk tegak dan menatap wajah Draga serius dengan masih memasang raut wajah menyesal.
"Kalau begitu, jangan menangis lagi, karena aku benar-benar tidak bisa beristirahat dengan baik." Nada datar kembali terdengar dari mulut Draga dengan tanpa ada nada hangat dan penuh perhatian seperti sebelumnya.
"Aku tidak menangis." Sanggah Dhandeli.
"Kau lupa? aku sangat peka terhadap lingkungan sekitar, sedikit saja ada pergerakan atau suara berbisik sekali pun, itu akan membangunkan ku dari tidur lelap.
"Aish... kau ini perhitungan sekali." Dhandeli menggerutu sambil beranjak dari kursi sisi ranjang Draga menuju sofa ruang tunggu pasien.
Malam hari menjelang, suara ketukan pintu terdengar dari arah pintu kamar rawat Draga. Draga menoleh kearah jam dinding yang ternyata menunjukkan pukul 9.00 malam, membuat sikap waspada Draga meningkat. Ketukan terdengar lagi, dan di lihatnya Dhandeli sedang tertidur pulas di sofa. Draga turun dari ranjang dan melangkah menuju pintu sambil mendorong tiang infusan.
"Aku mengantarkan pakaian Nona, tadi sore Nona mengirim pesan pada ku untuk membawakan baju ganti." Ternyata Sam yang berdiri di depan pintu dengan membawa paper bag, sambil mengunyah pakaian dia mengetuk-ngetuk pintu kamar Draga.
"Oh, silahkan masuk, Dhan sedang tidur pulas jadi jangan berisik." Draga mempersilahkan Sam masuk untuk meletakkan barang-barang yang diminta oleh Dhandeli.
"Bagaimana kondisi Arthem?" Draga sedikit canggung saat menanyakan perihal Arthem.
"Butuh waktu satu minggu untuk pulih, karena tulang bahu dan kakinya cidera, beruntung kecurigaan kami bahwa Arthem akan mengalami retak atau patah tulang tidak terjadi." Samuel sedikit menghela nafas.
"Lalu bagaimana dengan supir yang menabrak mereka?" Draga memasang raut wajah mengintimidasi membuat Sam sedikit gugup entah apa sebabnya.
"Kami sudah melacaknya melalui GPS, CCTV bahkan jaringan tak resmi pun sudah kami kerahkan, tapi hasilnya nihil, supir itu tidak bisa kami temukan." Jelas Samuel dengan sikap datar.
__ADS_1
"Terima kasih untuk informasinya." ucapan terima kasih Draga hanya di balas dengan anggukan kepala oleh Sam.
"Oh ya, Arthem masih bersama Yara?" Pertanyaan Draga membekukan Sam yang hendak membuka pintu keluar.
"Iya " Jawab Sam singkat.
"Bisakah kau meminta dia untuk kemari? bilang padanya bahwa adik lelakinya sedang membutuhkannya." Sam spontan tersenyum namun dia tarik kembali senyumannya itu saat melihat ekspresi Draga yang seperti mengancam.
"Baik, akan aku sampaikan." Sam bergegas membuka pintu dan keluar dari ruang rawat Draga menuju ruangan dimana Arthem di rawat yang hanya berbeda dua blok dari tempat Draga.
Waktu menunjukan pukul 11 malam, Susana hening dan sepi terdengar suara roda didorong dan terhenti di depan ruangan Draga, membuat Draga mengerjapkan matanya untuk menetralkan pandangan matanya yang kabur.
Pintu kamarnya terbuka perlahan, sepertinya seseorang mengendap-endap masuk. Draga pun bereaksi hendak menekan tombol darurat, namun naas sebuah jarum yang berisi obat bius sudah tertancap di bahu kanannya, menghilangkan kesadaran Draga seketika.
Setelah melihat Draga tak sadarkan diri, dua orang yang berseragam perawat dan memakai masker operasi menghampiri Dhandeli yang tengah tidur pulas di sofa. Namun karena merasa diawasi Dhandeli terbangun. Saat melihat kedua orang yang sedang berdiri di hadapannya Dhan pun membuka mulutnya untuk bertanya.
Sebelum Dhandeli bersuara salah satu dari mereka membekap mulut dan hidung Dhan membuatnya jatuh pingsan. Melihat targetnya sudah tak sadarkan diri kedua pria itu mengangkat tubuh Dhandeli ke atas kursi roda yang sudah di siapkan dan mendorongnya keluar ruangan.
***
Sam berjalan di lorong rumah sakit dengan santai sambil melihat ponselnya, karena terlalu asyik tanpa sengaja Sam menabrak tubuh seorang pria berbaju perawat. Perawat itu menepuk bahu Sam dengan kencang, membuat Sam sedikit meringis dan meminta maaf atas kecerobohannya pada sang perawat yang tampaknya tidak senang.
Namun beberapa saat setelah perawat itu berlalu, Sam merasa mual dengan kepala pusing tak terkendali membuatnya terhuyung-huyung menyusuri lorong rumah sakit. Handphone yang dia pegang sedari tadi pun tak sanggup ia genggam lagi karena rasa lemas dan pandangannya yang mulai kabur, namun dia terus berusaha sadar dan melangkah dengan berpegang pada dinding karena sebentar lagi dia akan tiba di ruangan tempat Arthem dirawat.
Tiba di depan ruangan rawat Arthem, Sam sudah tidak sanggup lagi dan jatuh pingsan tepat sebelum dia membuka pintu.
Yara yang mendengar seperti ada sesuatu yang terjatuh bangun dari tidur ayamnya, diliriknya jam dinding yang menunjukkan pukul 11 malam. Dengan waspada Yara membuka sedikit pintu untuk mengamati kondisi di luar ruangan yang sudah sepi.
Karena penasaran Yara melangkah keluar dan tanpa sengaja iya menginjak sesuatu yang membuatnya menoleh kebawah.
"Astaga! Sam! ada apa dengan mu? apa yang terjadi?" Yara memukul-mukul wajah Sam agar pria itu sadar namun tidak membuahkan hasil.
__ADS_1
Akhirnya Yara masuk lagi kedalam kamar dan menekan tombol darurat yang ada di atas ranjang Arthem.
Like, Comment need.,.