
Lampu ruang operasi pun padam, pertanda operasi sudah selesai. Dokter dan perawat mendorong ranjang Draga membawanya keruang rawat.
"Dia baik-baik saja, lukanya tidak fatal, dia akan siuman setelah reaksi obat biusnya habis."
Sang dokter menjelaskan dengan wajah tenang dan senyum yang tulus. Namun saat dokter itu melihat wanita yang sedang menangis dan berlumuran darah, dokter itu terkejut.
"Dhandeli?" Sang dokter mengenali sosok wanita itu.
"Paman Adam..." Dhandeli berpindah dari pelukan Yara ke pelukan sang Dokter dan kembali menangis.
Sang dokter melirik ke arah Yara meminta penjelasan, namun Yara hanya memberikan isyarat agar dokter Adam bertanya sendiri pada Dhandeli.
"Sebenarnya siapa pria yang ada di dalam itu Dhan?" Dokter Adam penasaran setelah melihat reaksi Dhandeli yang sangat syok.
"Teman kerja ku." Masih dengan isak tangis dalam pelukan sang dokter Dhan menjawab terbata.
"Apa iya hanya teman? tapi kenapa reaksi mu ini berlebihan seperti ini? apa dia kekasihmu?" Dhandeli menggelengkan kepalanya, kemudian Dokter Adam hendak menghubungi Ibu Dhandeli agar menjemputnya, namun Dhan melarang karena dia ingin menemani Draga.
***
Di ruang rawat Draga, dia masih terpejam dengan nafas teratur. Saat tertidur Draga terlihat lebih tampan dari biasanya, itu mungkin karena tatapan matanya yang datar dan terkadang dingin.
"Sepertinya dia baik-baik saja." Yara memecah keheningan, karena dari awal Yara dan Dhandeli masuk ke ruang rawat tak ada satupun dari mereka berbicara.
"Aku akan menghubungi Arthem untuk menjemputmu." Yara mengambil inisiatif untuk meminta Arthem membawa Dhandeli pulang dan beristirahat.
"Tidak perlu kak, dia sedang marah padaku, jadi dia tidak mungkin datang dan menjawab telepon ku." Dhandeli dengan suara yang masih lemah memberi tahu Yara kalau Arthem tak mungkin menjawab telponnya.
"Siapa bilang?"
Suara yang tidak asing di telinga dua wanita itu datang dari arah pintu, membuat mereka menoleh bersamaan.
Yara tersenyum lembut saat melihat Arthem melangkah mendekati mereka.
"Kau datang?" Yara menyapa.
"Adik kecilku sedang bersedih, walau aku ada di ujung dunia, secepat mungkin aku pasti datang." Arthem memeluk Yara sebentar lalu beralih memandang Dhandeli yang masih duduk di sisi ranjang Draga.
"Kau tidak ingin memeluk ku Dhan?"
Arthem berdiri didekat Dhandeli yang masih terdiam.
"Apa kau tidak rindu pada..."
Belum selesai Arthem berbicara, Dhandeli sudah menghambur kedalam pelukan Arthem dan menangis.
__ADS_1
Arthem balas memeluk dan mengusap punggung Dhan agar tangisnya mereda, Arthem mengetahui kejadian yang menimpa Draga dan Dhandeli malam itu, membuatnya bergegas kembali dari tempat dia mengerjakan tugas rahasia.
"Astaga, padahal kau sudah tua, tapi kenapa masih manja." Arthem mencoba membuat Dhandeli berhenti menangis.
"Ini semua salah mu." Dhan menghapus air matanya dan melepas pelukan Arthem.
"Loh, kenapa jadi aku yang salah?" Arthem melirik ke arah Yara, dan Yara hanya menanggapinya dengan acuh.
"Kalau kak Art tidak merajuk dan pergi, Draga tidak akan terluka." Dhandeli tampak sangat marah dan kesal pada Arthem.
"Ya sudah, jangan menangis lagi, maafkan aku yah Nona..." Arthem meminta maaf dengan tulus sambil menyunggingkan senyum manisnya.
"Ehem! orang yang tidak tau, akan mengira kalian sepasang kekasih "
Melihat adegan di depannya Yara mengeluarkan pendapat dengan sedikit jengah.
"Kak Yara cemburu?" Dhan tersenyum jahil.
"Tidak." Yara menjawab canggung.
"Kak Yara tau tidak, saat kalian putus, kak Arthem itu seperti kehilangan jiwanya, gampang emosi, mengerikan." Dhan melebih-lebihkan kelakuan Arthem.
"Anak kecil, diam." Arthem memberikan peringatan.
Dhandeli memasang wajah serius membuat Yara sedikit tercengang namun kemudian tertawa, sedangkan Arthem menjadi salah tingkah.
"Maka dari itu, aku sarankan pada kalian berdua agar memperjuangkan perasaan kalian, saling cinta kenapa harus pisah? aneh." Dhandeli mencibir dengan sangat jelas kearah dua orang yang kurang dewasa itu.
"Aku normal."
Tiba-tiba Arthem buka suara dengan kalimat yang membuat Dhandeli tertawa dan Yara tersenyum canggung.
"Hahahaha, aku sudah tahu kak, saat kau bertemu dengan kak Yara, reaksi sangat lucu." Dhandeli kembali menggoda Arthem.
"Sudah diam! Sekarang pulang." Arthem mengajak Dhan pulang ke rumah agar dia dapat beristirahat.
"Tidak mau, aku mau menjaga Draga." Dhan memaksa tinggal.
"Tidak perlu, kau istirahatlah dengan baik dirumah, besok kau bisa kemari menjaganya, untuk saat ini aku yang akan menjaganya." Yara meminta dengan nada datar dan dingin membuat Dhandeli bingung dan enggan berdebat.
Dhandeli pun akhirnya pulang bersama Arthem dan berjanji esok akan kembali untuk menjenguk Draga.
Setelah kepergian mereka, Nina muncul dan menghampiri Yara untuk memberikan informasi.
"Jadi apa kau sudah dapat informasi tentang siapa pria itu?" Tubuh Yara menegang dengan aura membunuh yang kuat.
__ADS_1
"Sudah Nona, dia adalah orang suruhan dengan bayaran 100 juta." Nina menjawab singkat.
"Jadi yang membayarnya adalah..."
"Yunan."
Jawaban Nina membuat Yara mengepalkan tangannya erat dan wajahnya menggelap menahan emosi.
"Pria bodoh itu, berani-beraninya dia melukai adikku." Yara menggeram.
"Lalu apa yang akan kita lakukan Nona?" Nina menunggu perintah dari Yara.
"Pilih beberapa orang kepercayaan mu untuk membuntuti dan mengawasi pergerakan Yunan, jangan lengah sedikitpun." Yara membanting tubuhnya di sofa lalu meraih botol air mineral.
"Baik Nona " Nina hendak undur diri namun Yara menghentikannya.
"Dan juga perketat penjagaan ruangan ini, dan awasi Draga dari jarak aman."
Nina mengangguk mengerti lalu dia pun pergi meninggalkan ruangan rawat Draga.
***
Di sebuah rumah mewah bergaya klasik, Yunan tengah duduk di mini bar didalam ruang tamu sambil meminum bir kesukaannya.
"Jadi dia terbunuh, tapi Draga selamat?" Yunan masih menyesap dan menikmati setiap tetes bir itu
"Iya Tuan." Sang asisten memberikan laporan mengenai orang suruhan yang mereka bayar untuk membunuh Draga.
"Tidak apa, anggap saja ini sebagai peringatan, tapi kali kedua tidak akan ku biarkan dia selamat." Yunan meneguk habis bir nya dan kemudian mengingat sesuatu.
"Bukankah saat kejadian dia bersama seorang gadis?" Yunan bertanya dengan serius menatap ke arah Jimmy sang asisten.
"Benar Tuan, gadis itu bernama Dhandeli."
Jimmy menjawab singkat sambil menatap wajah Yunan.
"Apa anda ingin saya mencari informasi tentang gadis ini?" Jimmy menangkap wajah penasaran dari tuannya.
"Aku tahu tentang gadis ini, tapi tak ada salahnya coba kau cari informasi lebih tentang Dhandeli, jangan terlewat sedikitpun." Sang asisten mengangguk dan langsung undur diri untuk mengerjakan tugas.
Yunan kembali menuang bir kedalam gelas kosongnya, dia masih memikirkan beberapa hal yang mungkin saja berkaitan satu sama lain. Yunan yang awalnya hanya menganggap remeh Dhandeli, sekarang dia merasa harus mewaspadai gadis itu dan dia juga merasa gadis itu bermanfaat untuknya.
Aku tunggu Like, komentar dan Favoritnya
💙👍🏻💙👍🏻💙👍🏻💙👍🏻💙👍🏻💙👍🏻💙👍🏻💙
__ADS_1