
Keesokan harinya, pagi-pagi Arthem sudah di buat pusing dengan rengekan Dhandeli yang minta segera pergi ke rumah sakit.
"Bukannya kau harus bekerja di PT GE? belum genap sebulan bekerja kau sudah sering absen, dimana profesionalisme mu nona?" Arthem akhirnya sedikit meninggikan suaranya.
"Tapi aku khawatir dengan Draga." Dhan sungguh sangat keras kepala, akhirnya Arthem menelpon Yara.
"Halo Yara." Arthem langsung menyapa begitu telpon tersambung.
"Biar ku tebak, Bayi mu merengek bukan?" Yara tak membalas sapaan Arthem dan malah langsung menebak situasi yang sedang Arthem alami sambil tertawa.
"Anak itu sungguh membuat ku pusing." Arthem mengeluh kepada Yara dengan nada yang pasrah.
"Kau ajaklah dia ke rumah sakit, aku sudah memberikannya cuti satu hari, karena bagaimanapun dia sudah mengalami hal buruk kemarin malam." Yara dengan penuh pengertian memberikan cuti untuk Dhandeli, karena Yara yakin Dhandeli syok berat.
"Baiklah, aku akan mengajaknya ke sana, terima kasih Yara, aku tutup telponnya."
Sambungan telpon pun terputus, Arthem berencana memberitahukan Dhandeli info yang dia dapat dari Yara, namun betapa terkejutnya Arthem saat membalikkan tubuhnya Dhandeli sudah ada di belakangnya dengan raut wajah konyol dan senyum bahagia.
"Jadi, aku bisa bolos hari ini?" Dhan memastikan kembali pendengarannya yang baru saja dia gunakan untuk menguping.
"Iya."
Arthem pun bergegas menyiapkan mobil untuk mengantar sang Nona bertemu Pria yang belum berstatus dengannya.
***
Di rumah sakit yang merupakan rumah sakit milik keluarga Dhandeli, Draga sudah siuman dan sedang duduk menyantap sarapannya.
"Gadis mu sungguh sulit di kendalikan." Celetuk Yara membuat Draga tersedak.
"Apa yang kau katakan? dia bukan gadis ku." Draga masih berpura-pura dingin dan acuh tak acuh.
"Wajah mu yang pucat saja sampai memerah begitu, tapi masih belum mau mengakuinya, kekanakan sekali." Yara mencibir.
"Tidak apa, yang penting aku tidak membuat keputusan bodoh dengan perasaan ku, setidaknya aku sedang mempertimbangkan apakah gadisku menginginkanku atau ingin melepaskan ku." Draga tersenyum penuh kemenangan saat sindiran yang dia lontarkan membuat Yara berdehem berkali-kali dan membuat kakak sepupunya itu canggung.
__ADS_1
Saat suasana canggung itu makin mencekik Yara, dua orang dokter dan dua orang suster mengetuk pintu dan melakukan visit pasien. Draga menjalani pemeriksaan lukanya suhu tubuh dan lainnya oleh dokter Adam yang kemarin melakukan operasi darurat padanya.
"Luka luar sudah mulai mengering, hanya tinggal tunggu luka bagian dalamnya beberapa hari lagi, suhu tubuh, tensi darah, jantung dan paru-paru semua baik-baik saja." Dokter Adam memberitahukan kondisi terbaru Draga.
"Apa dia, Pria yang di tangis Dhandeli semalaman hingga membuat Arthem frustasi?"
Seorang wanita paruh baya namun nampak masih cantik dan anggun mensejajarkan posisinya dengan dokter Adam di sisi ranjang.
"Iya, Dhandeli menangisinya hingga membuat baju operasi ku penuh dengan air mata." Dokter Adam menjelaskan dengan senyum terkembang, mengingat saat Dhandeli menangis dalam pelukannya.
"Apa kau masih merasa demam dan mual?" Tanya dokter Nathalia pada Draga.
"Hanya masih demam di malam hari dan pusing dokter." Draga memberitahukan apa yang dia rasakan.
"Tidak apa-apa itu wajar, Siapa namamu?" Nathalia bertanya dengan penuh kelembutan.
"Draga white, dokter." Draga mengembangkan senyum ramahnya kepada Dokter Nathalia.
"Nama yang berwibawa, aku Nathalia dokter sekaligus ibu dari gadis yang menangisi mu." Saat dokter Nathalia berkenalan dan hendak berbincang sedikit dengan Draga, pintu ruang rawat terbuka.
"I-ibu" Dhandeli memaksakan senyumnya ke arah ibunya yang sedang berdiri di dekat ranjang Draga.
"Karena, ruangan ini terlalu penuh, aku dan asisten ku undur diri terlebih dahulu dokter Nathalia, permisi." Dokter Adam dan asisten nya pun keluar dari ruangan dan lanjut melakukan visit ke ruangan lainnya.
"Ibu sedang apa disini?" Dengan canggung dan salah tingkah Dhan mencoba berbicara dengan ibunya yang sedari tadi hanya menatapnya.
"Ini rumah sakit dan aku seorang dokter, tentu aku bekerja, memang mau apalagi?" Dokter Nathalia menyesap tehnya dengan santai.
"Pffttt..." Yara dan Arthem hampir tertawa mendengar pertanyaan Dhandeli dan jawaban sang ibu.
"Draga, boleh aku memanggil mu begitu?" sang ibu menoleh ke arah Draga dan hanya di jawab senyum dan anggukan Draga.
"Dhandeli, apa dia merepotkan mu dan membuat kepala mu pusing? Jika iya, aku mewakili anak nakal ini untuk minta maaf padamu." Nathalia, memohonkan maaf pada Draga dengan senyuman hangat.
"Tidak apa dokter, dia gadis yang menyenangkan dan apa adanya." Draga tidak menyanggah sikap Dhan yang memang merepotkan.
__ADS_1
"Art, apa jadwal Dhandeli hari ini? seingat ku bukannya Dhan harus bekerja?" Nathalia beralih ke Arthem yang sedari tadi diam di sisi kursi Dhandeli.
Arthem hendak membuka mulutnya namun kalah cepat oleh Yara.
"Dia saya liburkan dokter." Yara menjawab singkat dengan nada datar, membuat Nathalia menoleh kearah Yara.
"Dimana aku pernah melihatmu ya? Apa kita pernah bertemu?" Nathalia mengetuk-ngetuk dagunya dengan telunjuk seraya berfikir dan mengingat-ingat.
"Maaf dokter tapi kita belum pernah bertemu, ini adalah kali pertama kita bertemu." Yara memaksakan senyumannya sambil melirik ke arah Arthem yang seperti sangat tegang akan suatu hal.
"Ah tidak-tidak, itu tidak benar aku pernah melihatnya, melihatmu tapi dimana ya..."
Nathalia makin berfikir keras dan Arthem makin terlihat gusar.
"I-itu ibu, em maksudku Nyonya..." Arthem hendak berbicara namun di minta diam oleh Nathalia.
"Ah! aku ingat dikamar Arthem, foto mu dipajang begitu cantik di dinding, ternyata kamu Yara, benar?" Nathalia begitu bersemangat kala dia ingat siapa gadis yang ada di hadapannya itu.
Yara memberikan tatapan menusuk ke arah Arthem, membuat raut wajahnya begitu pucat dan terlihat sangat canggung.
"Kau sangat cantik nak, lebih cantik dari foto yang ada di kamar Art." Nathalia lanjut memuji Yara dan menggenggam tangannya dengan erat.
"Ibu sudah, kak Arthem sudah mau mati karena malu, ibu jangan bahas lagi." Dhandeli mencoba menenangkan ibunya yang tengah bahagia bisa bertemu dengan pujaan hati kakak angkatnya itu.
"Art, lain kali kau harus mengajak Yara makan malam bersama kita dirumah, Draga juga, jika kau sudah sembuh total aku mengundang mu makan malam bersama." Suasana canggung mencekam pun menghangat karena sikap dokter Nathalia yang sungguh keibuan.
Setelah cukup lama bercengkrama dengan anak-anak muda, dokter Nathalia kembali keruang kerjanya, meninggalkan empat anak muda yang terlihat canggung itu.
"Kau memajang foto ku?" Yara menyipitkan mata menelisik ke arah Arthem.
"Emm, itu foto kita berdua." Arthem menjadi sangat gugup dan siaga.
"Iya kak Yara, ada foto kakak dengan ukuran mulai dari 5R sampai 20R, kakak sangat cantik." Dhandeli memberikan informasi tanpa melihat ekspresi orang yang menerima informasi itu dan sumber dari informasi itu.
"Arthem, kau tahu apa yang ku benci?"
__ADS_1
👍🏻💙👍🏻💙👍🏻💙👍🏻💙👍🏻💙👍🏻💙👍🏻💙