
Mendengar doa tulus yang keluar dari bibir Dhandeli, Arthem tersenyum lembut dan berharap Dhan pun memiliki jodoh yang terbaik.
Nathalia pun harus pulang karena hari ini dia ada pertemuan penting bersama Ayah Dhan Tuan Antonio Viel, jadi Dhan akan ditemani oleh Arthem dan Sam.
"Apa kalian sudah puas bergosip?"
Arthem mencibir ke arah Sam dan Dhandeli.
"Sejujurnya belum."
Tanpa rasa bersalah Sam mengungkapkan kekecewaannya karena belum mengetahui semuanya tentang Arthem dan kekasihnya.
"Iya, kita kehabisan bahan gosip dan kekurangan informasinya, apa ada kabar atau kemajuan yang lain dalam hubungan mu dan wanita mu?"
Dhan memasang wajah konyol ke arah Arthem menatapnya dengan mata bulat yang dibuat-buat.
"Aku bukan artis."
Sam dan Dhan pun kecewa karna Arthem tidak mau bercerita.
"Oh ya Art, sore ini aku sudah bisa pulang dari rumah sakit."
Arthem mengangguk dan memutuskan mengurus administrasi sedangkan Sam membantu Dhan berkemas.
***
Draga sedang melakukan konseling dengan Dr.Alana dalam dua sesi. Selama satu jam akhirnya sesi konseling selesai.
"OCD nya menjadi agak parah Yara, apa kau tahu pemicunya?"
Selidik dokter Alana pada Yara karena Arthem tidak terlalu terbuka saat sesi cerita.
"Apa mungkin berhubungan dengan seorang wanita?"
Yara sedikit berfikir mengenai kejadian yang menimpa adik Arthem yang disebabkan oleh Draga.
"Kalau benar begitu, itu bagus, kita harus mendorongnya agar mau memangkas jarak dengan orang lain, kita harus memberinya dorongan Yara, karena bisa jadi kondisinya saat ini karena pergolakan hati yang menimbulkan sikap perlawanan terhadap penyakitnya ini."
Dokter Alana menjadi sangat bersemangat dan meminta agar mereka datang kembali minggu depan.
"Bagaimana perasaan mu?"
Yara bertanya karena cukup membosankan didalam mobil namun hanya diam dan dia juga cukup penasaran dengan perasaan Draga.
"Kesal."
"Apa?"
"Pintu ku belum kau ganti, aku jadi kesal."
Draga pun mengutarakan hal yang membuat Yara terperangah.
"Sabar, aku sedang mencari toko yang kau maksud."
Draga dan Yara kembali diam hingga tiba dirumah.
Sesampainya di rumah, Draga masuk ke kamarnya dengan pintu yang tidak bisa ditutup. Wajah kesal Draga sangat terlihat jelas, membuat Yara harus memberanikan diri berbicara padanya dan memberi saran.
"Bagaimana kalau kau tidur dikamar ku? aku sudah merapikan isinya, mengganti alas kasur dan bad covernya serta sudah aku desinfektan setiap sudutnya."
Yara memberikan saran dengan penuh semangat, namun tatapan dingin Draga membuatnya membungkam mulutnya sendiri.
"Aku bahkan ingin merombak semua isinya dan mengganti furniture yang ada didalamnya." Dengan dingin Draga mengemukakan keinginannya.
"Kau seperti pria yang patah hati, uring-uringan tak jelas."
Yara pun jadi sedikit kesal karena merasa Draga menganggapnya bakteri.
"Tidak."
Draga menyanggah ucapan Yara.
__ADS_1
"Lalu apa aku semenjijikan itu? hingga kau perlu merombak seisi kamar ku, padahal aku berniat baik, aku juga merasa bersalah tentang pintu itu."
Yara membanting tubuhnya di sofa merajuk.
***
Dhandeli sudah tiba di halaman rumahnya, dia terus menatap rumah yang ada di sebrang itu, entah apa yang dia harapkan.
"Ayo masuk, kau kan baru sembuh."
Arthem menuntun Dhan masuk ke dalam rumah karena senja sudah berganti malam.
Satu jam Dhan berada di rumah, dia sudah merasa bosan karena Arthem pergi dan Sam sibuk dengan segala kegiatannya.
"Sam dimana motor ku?"
Yara mencari-cari motor sport kesayangannya.
"Masih di kantor mu Nona, aku sengaja membiarkan motor itu di sana."
Sam menjawab dengan mata tetap fokus pada laptop nya.
"Lalu kuncinya?"
"Aku sudah menghubungi seniormu, katanya kunci motor mu itu ada pada bosnya dia tidak berani memintanya"
Dhandeli pun hanya ber-oh tanpa tau harus bagaimana.
"Kalau begitu aku akan memintanya sekarang."
"Tidak perlu Nona, besok kau kan di antar Arthem, lagi pula sudah malam dan kau baru keluar dari rumah sakit sore tadi."
Sam melarang dengan penuh kekhawatiran.
"Aku hanya ke sebrang sebentar."
Dhan berlalu tanpa bisa Sam cegah.
***
Hingga bel berbunyi beberapa kali, Yara berpura pura tidak mendengar, jadi Draga bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu rumahnya.
Saat pintu di buka Draga terkejut dengan sosok yang ada di depan pintu, dia berdecak kesal dan walau dengan enggan dia mempersilahkannya masuk.
"Yara."
Yara menoleh saat Yunan memanggil namanya.
"Kakak, ada apa kakak kemari?"
Yara sedikit berbasa basi dan bangun dari duduknya. Draga masih berdiri di dekat pintu seolah menjaga jarak dari Yunan.
"Pulang lah sebentar, apa kau tidak rindu padaku?"
Yunan pun merentangkan tangannya, membuka pelukannya. Namun tanpa diduga seseorang datang tiba-tiba.
"Apa? rindu?"
Ternyata Dhandeli sudah berada di ambang pintu yang terbuka, dekat dengan Draga yang tengah berdiri sambil bersandar di bingkai pintu. Dhan reflek menyuarakan pertanyaan itu karena keterkejutan yang dia rasakan melihat kekasih Arthem dengan dua orang pria
"Kau!"
Tiga orang itu terkejut serentak.
"Apa yang kau lakukan disini?"
Yunan yang pertama membuka suara.
"A-aku..."
Dhandeli sangat gugup di tatap oleh tiga manusia berwajah dingin.
__ADS_1
"Ada perlu apa? apa kau sudah sembuh?"
Sekarang Draga yang berbicara namun dengan ekspresi yang tak berubah, tetap datar dan dingin.
"Aku ingin menanyakan kunci motor ku, apa Bapak menyimpannya?"
Dhan berusaha mengendalikan situasi yang menurutnya sangat tabu itu.
"Iya itu ada pada ku, kau baru sembuh sebaiknya minta seseorang untuk mengantarmu."
Draga yang tinggi menjulang di hadapan Dhan sedikit tertunduk mengawasi wajahnya yang masih pucat dalam diam.
"Tunggu sebentar, kalian saling kenal?"
"Dia bos ku"
"Dia asisten ku."
Dhandeli dan Draga menjawab dengan kompak, membuat Yunan memicingkan mata menatap mereka berdua.
"Kau sedang apa disini?."
Tanya Dhan pada Yunan dengan nada ragu.
"Bukan urusanmu."
Jawaban yang ketus keluar dari bibir Yunan.
Draga yang gerah melihat situasi itu pergi ke kamarnya, dan tiga menit kemudian kembali dengan kunci motor Dhandeli.
"Ayo aku antar pulang."
Draga mendahului Dhandeli melangkah keluar.
"Tapi, tapi mereka... bagaimana dengan mereka?"
Dhan sedikit ragu.
"Untuk apa pedulikan mereka, mereka sudah tua bisa mengurus masalahnya sendiri."
Dhandeli mengangguk kecil dan mengikuti Draga berjalan keluar.
***
Di jalan menuju rumah Dhandeli, Draga terdengar menghela nafas kasar beberapa kali, membuat Dhandeli berfikir kalau dia sedang jengkel.
"Kau Cemburu?"
Seloroh Dhan dengan tatapan penuh rasa penasaran.
"Mereka adalah kakak ku."
Jawab Draga santai.
"Apa! pantas saja sikap kalian semua sama."
Dhan merasa mengerti dengan kesamaan sikap mereka.
"Apa maksudmu?"
Draga mengernyitkan dahinya.
"Kalian semua sangat mirip, menawan namun bersikap dingin dan arogan."
Dhan mengungkapkan penilaiannya, saat sadar dia pun menutup mulutnya.
"Maaf, bukan maksudku..."
Diluar dugaan Draga tersenyum, membuat Dhan melebarkan matanya menatap takjub dan penuh keterpesonaan.
"Penilaian untuk kami sungguh buruk di matamu."
__ADS_1
Masih dengan senyuman manis Draga melanjutkan langkah kakinya mengantar Dhan kembali kerumahnya.
happy reading gengs 💙👍💙👍💙👍