Standard Effect

Standard Effect
Kecanggungan


__ADS_3

"Apa maksudmu karena pakaian terbuka itu kau selamat? menurut logika ku kau malah akan di goda oleh lelaki hidung belang jika kau berkeliaran dengan pakaian yang belum selesai dijahit itu." Nada sinis begitu kental terdengar di telinga Dhandeli membuatnya menarik nafas berkali-kali.


"Yara mengalami kecelakaan saat bersama Arthem, dan itu karena dia mengenakan pakaian ku." Dhandeli memberitahukan tentang Yara dan Art pada Draga dengan ekspresi penuh penyesalan.


"Maksudmu... ada orang yang ingin membunuhmu namun karena kau dan Yara bertukar pakaian jadi orang itu salah sasaran? begitu?" Draga ternyata mudah memahami maksud dari kalimat Dhandeli, jadi Dhandeli hanya mampu mengangguk lesu.


"Brengsek! lalu bagaimana kondisi Yara?" Draga menatap serius ke arah Dhandeli.


"Yara baik-baik saja, tapi Arthem terluka parah dan harus dioperasi." Raut wajah lega begitu jelas terpancar dari wajah Draga, membuat Dhandeli mengerutkan dahinya.


"Kau tidak perduli dengan Arthem?" Dhan sedikit ketus ketika berucap karena dia merasa Draga tega sekali pada Arthem yang sudah melindungi Yara.


"Tidak, bukan begitu, hanya saja aku lebih khawatir dengan kakak sepupu ku itu, lagi pula Arthem kan pria dan dia pasti jauh lebih kuat dari Yara, bukan?" Draga mencoba mencari alasan logis agar Dhan tidak kesal.


"Terserah!" Dhandeli hendak beranjak dari duduknya karena kesal, namun tanpa diduga Draga menarik tangan Dhandeli sehingga ia seperti memantul dan jatuh kedalam pelukan Draga dengan cukup kuat, sehingga membuat Draga mengaduh kesakitan.


"Apa yang kau lakukan?" Dhan yang masih emosi terus bergerak di atas dada bidang Draga.


"Maafkan aku tenaga ku sepertinya terlalu besar saat menarik tubuh mungil mu, tapi tolong diam karena lukaku sakit sekali, bisakah kau bangun dari tubuhku?" Draga meminta Dhan yang ada di dalam pelukannya untuk bangun dari tubuhnya, namun naas baju yang berupa dress slim fit yang Dhan kenakan melorot di bagian atasnya dan hampir menampilkan utuh buah dada Dhandeli, hal itu membuat Draga menjadi salah tingkah saat matanya menangkap pemandangan yang sungguh menggoda tepat di hadapannya, Buah dada yang begitu padat berwarna putih susu nan mulus membuat pandangannya enggan berpaling.


"Ah! matamu melihat kemana?" Dhan dengan panik menutupi buah dadanya dengan selimut rumah sakit yang Draga kenakan.

__ADS_1


"Itu salah mu, kenapa baju seperti itu kau pakai?" Draga memalingkan wajahnya yang sudah memerah.


"Ya! ini adalah pakaian sepupumu bukan pakaianku, minggir!" Dhandeli menekan tubuh Draga agar dia bisa bangun dari posisi mereka yang apabila orang lain melihatnya maka mereka akan mengira Draga dan Dhandeli sedang bermesraan di atas ranjang pasien.


Draga mengaduh cukup kencang, karena Dhandeli menjadikan tubuh Draga tumpuan saat melepaskan diri. Setelah turun dari tubuh Draga Dhandeli langsung membalikkan tubuhnya dan bergegas kekamar mandi untuk memperbaiki pakaiannya dan mengancingkan jaketnya.


"Astaga, mimpi apa aku semalam, ini sangat memalukan, aku harus bagaimana?" Dengan perasaan malu dan canggung, Dhandeli keluar dari kamar mandi dan mendapati Draga merintih kesakitan dengan keringat dingin mengalir deras dari wajahnya yang menjadi pucat.


"Ada apa dengan mu Ga?" Dhandeli kembali panik saat ia melihat sprei yang sudah berganti warna menjadi merah karena darah ia pun panik dan menekan tombol darurat.


Tak berapa lama dokter dan perawat tiba, memberikan penanganan kepada Draga, sedangkan Dhandeli menunggu di luar ruangan.


Lima belas menit berlalu, Dokter Adam pun keluar dari ruangan Draga dengan wajah lega sekaligus bingung.


"Tadi kami bercanda paman, dan aku tanpa sadar memukul dengan kuat di bagian lukanya, aku menyesal paman." Dhandeli hampir menangis karena teringat betapa banyaknya darah yang mengalir keluar dan membasahi sprei itu.


"Sudah tidak apa-apa, lain kali kau harus menjaga sikapmu dan lebih berhati-hati lagi, jangan sampai terulang lagi hal yang membahayakan pasien." Dokter Adam memberikan nasihat dengan penuh perhatian kepada Dhandeli.


"Lalu kondisinya saat ini bagaimana Paman?" Dhandeli sangat penasaran dengan kondisi Draga pasca kecerobohannya itu.


"Dia masih dalam pengaruh obat bius, karena paman baru saja menjahit kembali lukanya yang terbuka, tapi kau bisa menjaganya, kemungkinan sebentar lagi dia akan sadar." Dokter Adam tersenyum lembut dan langsung berpamitan kepada Dhandeli, meninggalkannya di depan pintu kamar Draga.

__ADS_1


Dengan ragu Dhandeli membuka pintu dan masuk kedalam. Di pandangnya Draga tengah tertidur lelap dengan pakaian dan sprei yang sudah di ganti baru. Dhandeli duduk di kursi yang ia duduki sebelumnya sambil terus memandangi wajah Draga yang pucat seperti kertas. Air matanya mengalir dan hidungnya pun memerah karena menahan tangisannya yang akhirnya pecah, saat ini dia amat menyesal dengan kecerobohan yang dia lakukan pada Draga.


"Maafkan aku, maafkan aku... aku tidak sengaja... maafkan aku." Kata maaf terus terucap bersama dengan Isak tangisnya di kesunyian petang menjelang malam, hingga akhirnya dia tertidur pulas dengan kepala bersandar di sisi ranjang Draga.


Draga membuka matanya, dan memandang wajah gadis yang sedari tadi mengusik tidurnya dengan tangisan yang cukup pilu. Sebenarnya, dia sudah tersadar saat Dhandeli duduk di kursi sisi ranjang, namun draga tetap memejamkan matanya saat dia menyadari raut wajah Dhandeli yang begitu khawatir, lagi pula Draga pun masih canggung untuk bertatapan dengan Dhandeli.


***


Dua orang Pria terikat di kursi dan berlumuran darah di sebuah gudang yang terbengkalai. Sepertinya kedua Pria itu sudah sekarat karena luka-luka yang ia derita mengeluarkan darah cukup deras.


"Kau bilang sudah memastikan dan mengkonfirmasi bahwa yang bersama lelaki itu adalah Dhandeli, tapi kenapa kabar yang aku dapat adalah wanita kesayangan ku yang terlibat dalam insiden itu? kenapa?"


Emosi Yunan sepeti sudah tidak terkontrol, dia secara membabi buta memukul wajah dan perut kedua pria itu yang sebelumnya dia tugaskan untuk mengintai Arthem dan Dhandeli serta melakukan percobaan pembunuhan dengan menabrak mereka.


"Tuan, informasi dari rumah sakit Nona Yara baik-baik saja, dia hanya mengalami sedikit memar dan luka gores." Asisten Yunan memberikan informasi tentang keadaan Yara.


"Lalu kenapa bisa dua makhluk ini salah sasaran?" Yunan masih dengan berapi-api menatap kedua pria yang sudah tidak berdaya di hadapannya itu.


"Itu karena Nona Yara menyadari bahwa dia di awasi, kemudian berinisiatif menukar pakaiannya dengan Nona Dhan." Asisten itu pun undur diri setelah memberi tahukan kejadian yang menyebabkan anak buahnya salah sasaran.


"Besok kau tugaskan anak buah terbaikmu untuk mengawasi Yara, jangan sampai ia sadar jika dia sedang aku awasi apa lagi sampai kejadian ini terulang lagi." Langkah asistennya itu terhenti oleh perintah sekaligus ultimatum dari Yunan, dan setelah dia memberikan isyarat bahwa dia paham, asisten itu melangkah keluar dari ruangan itu.

__ADS_1


"Berarti dari awal kalian memang sudah bodoh." Yunan tanpa ragu mengakhiri hidup kedua orang itu dan meminta anak buahnya membereskan mayatnya.


Like please....


__ADS_2