Standard Effect

Standard Effect
Menggoda Arthem


__ADS_3

Yara melihat dari jendela kamarnya menatap kamar di sebrang jalan yang lampunya masih menyala. Tanpa dia sadari Draga sudah berdiri di ambang pintu.


"Ya, kalau masih ingin berkencan kenapa sudah pulang?"


Draga membuat Yara terkejut dan menatap tajam kearahnya.


"Memangnya kenapa? apa kau iri?"


"Tidak, siapa yang iri."


Draga menyanggah tuduhan Yara dengan sikap yang sedikit salah tingkah.


Dan Yara teringat sesuatu yang harus diberitahukan kepada Draga.


"Yunan sudah pulang."


Yara memberitahukan dengan nada datar.


"Oh, begitu rupanya."


Draga menanggapi dengan dingin.


"Apa kau ingin menemuinya?"


"Tidak."


Jawab Draga tegas.


"Sebaiknya kau juga menjauh darinya Yara."


Sambung Draga setelah beberapa detik terdiam.


"Aku mengerti tapi dia juga adalah kakak yang sudah menolong ayahku, aku tidak bisa mengabaikan nya begitu saja."


Yara terlihat kebingungan karena Yunan yang bersikap seperti seorang kekasih posesif dan pencemburu.


***


Pagi yang cerah, ruang rawat Dhan sudah dipenuhi oleh tawa riang. Ternyata Dr.Nathalia, Sam dan Dhandeli tengah menggoda Arthem yang baru saja datang untuk menjemput Dhan pulang.


"Jadi Art kita sudah tidak dirundung kegalauan lagi sekarang..."


Goda Nathalia sambil menyunggingkan senyum.


"Iya Nyonya, dia sudah berbaikan dengan mantan kekasih yang tak bisa pernah dia lupakan.


Sam bercerita dengan nada yang di buat-buat, membuat Arthem memukul bahunya.


"Diam kau!"


Arthem pun memberikan peringatan lewat isyarat agar Sam berhenti bicara.


"Aku sangat setuju dengan wanita itu Art, dia cantik, seksi, tegas, pintar, elegan dan sangat berwibawa, aku sangat menyukai karakternya, seandainya saja dia pria, aku pasti sudah jatuh cinta."


Dhandeli pun ikut menggoda Arthem yang wajahnya sudah memerah dan menjadi semakin salah tingkah.


"Siapa pun dia, jika mampu membuat Art bahagia, ibu setuju..."


Nathalia memberikan restu pada Arthem dengan sikap yang tulus seperti seorang ibu sesungguhnya.


"Baik Nyonya, terima kasih."


Arthem menjawab malu-malu dengan masih menundukkan wajahnya.


"Oh ya Dhan, Yunan dia menolak perjodohan kalian dengan tegas, hingga ayah mu dan ayahnya bingung harus bagaimana, Ibu jadi ingin tahu apa yang kau lakukan padanya?"


Tatapan Nathalia memicing membuat Dhandeli menelan ludah dan mencoba tersenyum hambar.

__ADS_1


"Sebelum bokong ku mendarat di kursi restoran itu, dia sudah menolak ku Bu, jadi aku setuju-setuju saja."


Jelas Dhan dengan nada konyol.


"Apa?"


Nathalia semakin terkejut dan heran.


"Apa kau berdandan jelek, buruk rupa dan tak berkelas?"


Tanya Sang Ibu


"Tidak, malah aku sangat cantik, ibu bisa tanya Arthem."


Dhan melibatkan Arthem, membuat Arthem mendapatkan tatapan tajam.


"Apa kau berbicara kasar pada Yunan?"


"Justru dia yang terlebih dulu bicara tanpa mempedulikan aku Bu."


Dhan memasang wajah memelas.


Nathalia pun akhirnya menyerah dan hanya mampu memijit keningnya, memikirkan usia putrinya yang sudah 27 tahun tapi masih seperti anak remaja.


"Bu..."


Dhandeli meraih tangan Nathalia dan menggenggamnya erat.


"Aku tidak ingin di jodohkan, aku hanya ingin sebuah cinta yang wajar, tanpa ada rasa terpaksa."


Dhan berucap dengan tersenyum lembut.


"Tapi sampai sekarang ibu tidak pernah melihat mu membawa pria sebagai kekasih, apa Arthem terlalu menjaga mu ketat, sehingga tidak ada seorang pun pria yang mendekati mu?"


Dhandeli tertawa saat mendengar kalimat Nathalia yang menuduh Arthem dan membuat Arthem terperangah, tak percaya kalau dia di jadikan sebab mengapa Dhan tidak punya kekasih.


Senyum Dhan mengembang kala dia mengingat wajah Draga.


"Oh iya Nyonya, ada seorang pria tampan namun sangat dingin yang dekat dengan Dhan."


Sam akhirnya buka suara saat menyimak pembicaraan Nona dan Nyonya itu.


"Apakah itu benar Sam?"


Nathalia antusias dan berbalik ke arah Sam.


"Iya, pria itu memang dingin dan agak kaku, namun dia sudah menolong Nona dua kali dan mengantarnya pulang dengan selamat."


Sam menceritakan dengan penuh semangat.


"Dan jangan lupa, pria itu juga yang sudah mengabaikan nona saat sakit kemarin."


Arthem menyela pembicaraan Sam dengan nada ketus.


"Bukan begitu, dia sangat sibuk jadi tidak bisa membantu ku."


Sanggahan Dhan membuat Arthem kesal namun membuat ibunya mengerti tentang perasaannya.


***


Draga berada di kantor, sikapnya kali ini sedikit aneh, beberapa kali dia salah memanggil nama asisten lamanya, membuat sang asisten tersenyum melihat tingkah Draga yang seperti serba salah.


"Pak, apa anda ingin menjenguk Dhan?"


Asistennya menawarkan menjenguk Dhan di jam makan siang, namun Draga langsung menolak.


Hingga jam makan siang tiba, Draga melewati meja asisten dan melihat bawahannya itu sedang mengemas sebuah parcel.

__ADS_1


"Kau mau kemana?"


Draga mengerutkan keningnya, melihat asistennya yang sedang sibuk.


"Saya ingin menjenguk Dhan pak."


Asisten itu pun membawa parcel dan tasnya melangkah keluar dari bilik kerjanya.


"kenapa kau tidak bilang?"


Draga seketika kesal entah kenapa dan apa yang sebenarnya dia rasakan.


"Tadi jam 10 tepat saya menelpon bapak, dan bapak langsung bilang 'tidak'."


Asisten itu pun berlalu pergi tanpa memperdulikan atasannya yang hanya berdiri kaku tak jelas.


***


Dirumah Sakit, Dhan sangat bahagia karena seniornya di kantor menjenguknya. Mereka saling bertukar cerita mengenai situasi setelah Dhan pingsan.


"Sebenarnya tadi aku mengajak pak Draga untuk menjenguk mu Dhan, tapi dengan cepat dia menolak, jadi aku sendiri saja."


Asisten senior itu masih tampak kesal saat mengingat penolakan Draga namun Dhan hanya tersenyum tanpa berkomentar.


"Oh ya, pria kemarin itu siapa? dia dibicarakan di setiap penjuru gedung, membuat telinga ku panas."


Seniornya mengalihkan pembicaraan saat melihat ada raut kecewa diwajah Dhan.


"Emm, dia kakak ku, Arthem."


Dhan tersenyum canggung.


"Banyak wanita yang bertanya-tanya pada ku, kepala ku sampai mau pecah, tapi memang kakak mu sangat tampan dan mempesona."


Seniornya pun ikut mengagumi Arthem.


"Tapi tidak seperti itu, kalau kalian tahu sifatnya mungkin kalian akan berfikir dua kali untuk mendekatinya."


Dhan mulai mengada-ada saat tahu Arthem ada didepan pintu.


"Apa maksud mu? atau jangan-jangan dia menyukai sesama jenis!"


seniornya sedikit memekik membuat Arthem memberi kode ancaman pada Dhan dari pintu namun Dhan hanya tertawa menanggapinya.


"Astaga! apa sungguh seperti itu?"


Seniornya memastikan lagi, membuat Dhan tak kuasa menahan tawanya.


"Tidak, tidak, itu tidak benar, hanya saja dia sudah punya kekasih yang sangat ia cintai dan sayangi."


Dhan pun memperbaiki citra buruk yang hampir saja melekat di mata teman kantornya itu.


"Oh syukurlah... aku kira dia menyimpang, ternyata dia tipe lelaki setia."


"Yah begitulah, dia pria yang baik, semoga kisahnya dipenuhi kebahagiaan."


Doa tulus keluar dri bibir Dhan, membuat Arthem tersenyum di balik pintu.


Hy hy hy...


Terima kasih untuk dukungan nya💙💙💙


author masih belajar, belajar dan belajar


jadi masih suka revisi, revisi dan revisi


So, author mau tau nih komentar kalian tentang cerita Star in Blind ini agar author bisa tahu hal apa saja yang harus ditingkatkan lagi

__ADS_1


__ADS_2