Standard Effect

Standard Effect
Makan Malam


__ADS_3

Pukul 7.00 tepat Draga sudah tiba di kediaman Sein, dia berpakaian rapi dengan kemeja putih dan celana jeans berwarna biru.


"Kau terlihat santai." Suara berat dari ruang keluarga terdengar.


"Paman, apa kabar?" Draga memberi salam pada Paman Sein nya yang sedang membaca koran di ruang keluarga.


"Aku sehat, semoga kau juga selalu sehat." Tuan Sein tersenyum dan segera menghela Draga menuju meja makan.


Posisi duduk Draga berada di antara Paman Sein dan Yunan, dan berhadapan dengan Yara dan ibunya.


"Apa aku perlu menjaga jarak dari mu?" Yunan membuka percakapan dengan sindiran.


"Tidak perlu." Draga menanggapinya datar.


"Benarkah?" Yunan kembali membuat Draga jengah.


"Yunan, lanjutkan makan mu." Tuan Sein menegur Yunan.


"Aku hanya khawatir ayah, apakah seorang pengidap OCD bisa tahan makan bersama orang lain di meja makan yang sama."


"Yunan cukup, jangan buat masalah, ini makan malam keluarga kita setelah sekian lama." Nyonya Sein akhirnya angkat bicara.


Draga menyuap dua potong makanan pembuka dan dua potong menu utama tanpa kata, lalu meneguk sedikit air.


"Aku sudah selesai, terima kasih atas undangan makan malamnya, makanannya sangat lezat Bibi, dan Paman maaf aku permisi lebih awal."


Draga bangun dari duduknya dan bergegas keluar dari rumah keluarga Sein.


"Seharusnya kau bisa menjaga sikapmu Yunan, biar bagaimanapun dia adalah saudara sepupu mu, jangan buat saudara jadi musuh."


Tuan Sein seperti sudah tidak sanggup menelan hidangan makan malam buatan istrinya itu, dan akhirnya dia memilih untuk ke ruang kerjanya.


"Kakak harus minta maaf pada Draga." Yara mulai geram.


"Iya Nak, kau sudah membuatnya tersinggung, sampai-sampai dia hanya makan dua sendok, kau harus berbaikan dengan Draga." Nyonya Sein menghela nafasnya dan beranjak dari meja makan.


"Tidak." Yunan tidak lagi menanggapi apapun yang keluar dari mulut Yara dan ibunya, dari matanya malah semakin terpancar kebencian.


***


Draga mengemudi dengan sedikit emosi membuat dia sedikit lepas kendali dan hampir menghajar trotoar. Dan untuk menghindari hal yang tidak di inginkan Draga menepi sejenak, membuka jendela mobilnya dan menghirup udara malam.


Sampai akhirnya dia memikirkan sesuatu yang akan menghiburnya, yaitu Dhandeli. Draga pun mengarahkan mobilnya untuk bergegas pulang dan bertemu Dhan.

__ADS_1


Beberapa menit mengemudi, akhirnya Draga tiba dirumah, memarkirkan mobilnya dan langsung berjalan menyebrang ke rumah Dhandeli.


Ting tong, Ting tong


Suara bel rumah Dhan berbunyi, dengan enggan Dhan berjalan menuju pintu ruang tamu. Dan betapa terkejutnya Dhandeli saat melihat pria yang sedang berdiri di ambang pintu rumahnya.


"Draga!" Pekik Dhan setengah tak percaya.


Namun tanggapan Draga hanya diam, menatap penampilan wanita di depannya ini dari atas ke bawah.


Penampilan Dhan saat itu diluar dugaan, dengan rambut yang berantakan, wajah yang tanpa riasan sedikitpun, kaos kebesaran dan hotpants serta sendal bulu yang memiliki telinga, membuat Draga tercengang menatap tampilan wanita di hadapannya.


"Tunggu sebentar." Saat Dhan hendak menutup pintu kembali, Draga menahan pintu itu dengan tubuhnya.


"Bolehkah aku masuk?" Draga bertanya dengan nada datar seperti biasa.


"Oh boleh, maafkan aku atas ketidak nyamanan ini, silahkan duduk aku mau merapikan diri dulu." Dhan mempersilahkan Draga masuk ke ruang tamunya dan duduk, sedangkan Dhandeli pergi kembali kekamar untuk merapikan diri.


"Ah, aku malu sekali... penampilanku, imej ku... mau ditaruh dimana muka ku." Dhan merutuki dirinya sendiri karena penampilannya yang bak singa habis berkelahi.


"Ah sudahlah, begini saja, toh dia juga tidak peduli." Akhirnya Dhan hanya menyisir rambutnya dan mencuci wajahnya lalu membuat teh untuk Draga.


"Nona, apa yang kau lakukan?" Sam keluar dari kamar mandi dan melihat Dhandeli sedang membuat minuman.


"Pasti Draga." Celetuk Sam yang masih mengeringkan rambut dengan handuknya.


"Kenapa kau bisa tahu?" Dhan menjadi canggung.


"Siapa lagi yang akan membuat mu segugup ini kalau bukan dia, sudahlah aku tidak akan mengganggu kalian, aku akan tidur lebih awal." Sam pergi kembali ke kamarnya yang berada dekat dengan dapur.


Dhandeli membawakan teh untuk Draga, dengan hati-hati dia letakkan di atas meja lalu dia duduk berhadapan dengan Draga.


"Ada perlu apa? tidak biasanya kau kesini?" Dengan perasaan dan senyum canggung Dhan mencoba bertanya mengenai alasan Draga bertamu.


"Ini baru jam 8.30 malam, apa kau sibuk?" Draga bertanya tanpa menghiraukan pertanyaan Dhandeli.


"Tidak, aku barusan hanya tidur tanpa ada kegiatan lain." Dhan menjelaskan yang sejujur.


"Sam kemana? aku ingin meminta izin untuk mengajak mu keluar sebentar."


Draga mengedarkan pandangannya untuk mencari sosok Sam. Dan suara Sam terdengar dari ruang makan.


"Pergi saja, asal jangan terlalu larut!"

__ADS_1


Sam ternyata sedang menguping pembicaraan mereka berdua dari dapur dengan penuh rasa ingin tahu.


"Baik, kalau begitu kami pergi dulu."


Draga bangkit dari duduknya dan langsung meminta Dhan mengikutinya.


"Tunggu, aku ganti pakaian dulu, ini sangat memalukan." Draga hanya mengangguk dan membuka lima jarinya.


"Lima menit, tidak lebih." Ternyata Draga memberi waktu Dhan untuk berganti pakaian hanya 5 menit saja.


Hal itu membuat Dhan pontang panting mengganti bajunya, tanpa make-up dia terpaksa langsung menghampiri Draga yang sudah duduk di balik kemudi karena dia tahu orang yang mengidap OCD sangat sensitif dengan waktu dan kebersihan.


Dhandeli saat itu hanya mengenakan dress putih polos dengan potongan Sabrina, dan sneaker shoes putih, rambut panjangnya yang di ikat cepol menambah kesan manis dan anggun hanya saja wajahnya tak di rias.


"Cantik." Draga memberikan pujian dengan senyum tipis.


"Maaf aku tidak sempat merias diri, apa boleh aku lakukan di mobil?" Dhan tak ingin membuat Draga malu mengajaknya, jadi dia ingin mempercantik diri.


"Kau sudah cantik, tanpa harus berdandan." Draga menanggapi Dhan tanpa menoleh.


"Tapi jika kau ingin, kau lakukan saja." Akhirnya Draga memberikan izin untuk hal yang ingin Dhan lakukan. Dengan penuh semangat Dhan membuka tasnya, dia mulai sedikit membentuk alisnya senatural mungkin, memakai bedak tipis dan lipmatte berwarna nude, tak sampai 10 menit Dhan sudah selesai makeup.


"Sudah?" Draga bertanya lembut.


"Iya, sudah." Dhan menjawab sambil tersenyum ke arah Draga.


"Aku kira butuh waktu lama, ternyata lebih singkat dari yang aku bayangkan." Draga masih fokus menyetir tanpa menoleh.


Setelah beberapa menit perjalanan, akhirnya mereka tiba di sebuah restoran bernuansa taman yang indah di tepi danau dengan beberapa gazebo yang siap di tempati pelanggan yang datang. Mereka berdua langsung di sambut oleh pelayan Restoran yang langsung menghela mereka menuju tempat yang tersedia.


"Aku, Entah kenapa sangat lapar sekali hari ini." Sambil berjalan mengikuti seorang pelayan Draga mengungkapkan bahwa dia sedang lapar kala itu, namun sebenarnya suasana hatinya sedang tidak baik.


Draga yang sudah duduk berlesehan terlebih dulu, mengulurkan tangannya kepada Dhan yang masih berada di anak tangga gazebo.


"Aku juga lapar, karena tidur terlalu lama jadi aku lupa makan." Celetuk polos Dhandeli itu ternyata bisa membuat Draga tersenyum.


"Baiklah, mari kita buat perut kita terisi."


Jangan lupa dukungan nya yak


Love, like and comment.


Thanks

__ADS_1


__ADS_2