
"Siapapun bisa melakukan kesalahan Draga, ini semua murni kecelakaan, jadi jangan salahkan siapa pun." Yara terlihat panik saat melihat ekspresi Draga yang tampak sangat marah.
"Antar aku menjenguk Dhan." Draga memerintah dengan nada datar dan tanpa menoleh sedikitpun ke arah Yara.
"Ayo." Yara mendahului langkah Draga dengan raut wajah yang penuh kegusaran.
Brakkk!
Pintu terbuka lebar, membuat dua orang didalamnya menoleh bersamaan.
Draga menatap dingin ke arah Arthem tanpa bergeming walau Yara sudah mengajaknya duduk.
"Apa kau baik-baik saja Dhan?" Draga bertanya pada Dhandeli namun masih menatap lurus ke arah Arthem.
"Aku baik Ga, apa kau sudah bisa pulang hari ini?" Dhandeli memperhatikan Draga yang sudah tidak mengenakan pakaian pasien lagi.
"Sudah, aku sudah boleh pulang hari ini." Draga menjawab dengan dingin dan masih tetap menatap Arthem.
"Kau?" Telunjuk Draga mengarah pada Arthem.
"Ada apa?" Arthem tidak menggubrisnya.
"Kenapa kau bisa sampai sebodoh itu? kau hampir membunuhnya." Yang Draga maksud adalah Dhandeli.
"Aku akui, aku salah karena kelalaian ku dan konsentrasi ku yang terpecah sehingga menimbulkan insiden ini, namun perlu kau ingat juga, kemungkinan ini adalah ulah wanita mu." Arthem membalas tatapan Draga dengan tak kalah sengit.
"Kau, Brengsek!" Draga hendak merangsek memukul Arthem namun Yara dan Dhandeli kompak menghalanginya.
"Sudah, jangan buat keributan, Arth kau boleh keluar dengan Yara, dan kau Draga, aku ingin bicara dengan mu." Dhan memijit kepalanya sambil bersandar pada tumpukan bantal.
"Arthem tidak salah, bahkan tidak di salahkan pun, dia sudah merasa bersalah Ga." Dhandeli menatap lurus ke wajah Draga.
"Maafkan aku, aku kesal karena dia tidak menceritakan kejadian ini kepadaku." Draga menghembuskan nafas kasar.
"Mungkin dia berfikir jika kau juga akan panik seperti tadi jika dia memberitahu mu, dan dia tidak mau itu terjadi apalagi saat kondisi mu belum pulih." Dhandeli sedikit banyak tahu karakter Arthem yang sangat penuh perhatian dan petimbangan yang matang tentang segala hal.
"Aku terlalu banyak berfikir sepertinya." Draga menyandarkan tubuhnya di kursi sisi ranjang Dhan.
"Apa kau khawatir padaku?" Dhandeli menatap Draga serius.
"Ya." Draga terlihat canggung dan gugup membuat Dhandeli ingin mencubit pipinya.
"Ah, aku tahu." Dhan mencoba menggoda Draga.
"Tahu apa?" Draga memalingkan pandangannya.
"Kau menyukaiku ya?" Dhandeli melebarkan senyumannya.
"Tidak." Draga masih memalingkan wajahnya.
__ADS_1
"Apa kau yakin?" Dhandeli dengan gemas menyentuh pipi Draga dan membuat lelaki Perfectionis itu tercengang.
"Ten, tentu." Draga menepis tangan Dhandeli dengan gugup.
"Aw!" Dhandeli meringis karena lukanya yang baru saja di obati pasca perang bantal dengan Arthem tersentuh kasar oleh Draga.
"Ada apa? kau kenapa? bagian mana yang sakit?" Draga panik melihat Dhan meringis kesakitan dan memegang tangannya sendiri.
"Mana, aku lihat tanganmu." Draga meraih tangan Dhandeli, dan matanya membulat saat melihat darah mengalir dari perban yang membalut hingga telapak tangannya.
"Astaga, kau berdarah Dhan!" Draga hendak meraih tombol darurat yang ada di head board ranjang namun di cegah oleh Dhandeli.
"Tidak perlu, darahnya sudah berhenti mengalir." Dhandeli memperlihatkan tangannya ke depan wajah Draga sambil tersenyum.
Draga terdiam memandang wajah Dhandeli dengan tatapan yang tidak bisa diartikan, entah apa yang sedang dia pikirkan dalam diam.
"Jika aku menyukaimu, apa kau percaya?" Draga berucap dengan nada datar tanpa ekspresi.
"Hemm"
"Kenapa?" Draga mengernyitkan dahi mendengar tanggapan yang tak jelas itu.
"Aku tidak percaya diri tentang kau menyukai ku." Dhan menjawab santai.
"Apa?" Draga terheran.
"Apanya?" Dhandeli tersenyum malu-malu.
"Benarkah?" wajah Dhandeli berseri-seri seketika mendengar kalimat pujian spontan dari mulut Draga.
"Ah, sudahlah." Draga seperti enggan menanggapi tingkah Dhandeli.
"Emm, Draga, apa aku boleh bertanya?" Dhandeli tampak ragu-ragu untuk mengungkapkan sesuatu.
"Tanya saja, mungkin akan ku jawab." Draga bersikap arogan, membuat Dhandeli memutar bola matanya.
"Apa kau punya kekasih atau teman wanita?" Dhandeli melirik sedikit kearah Draga yang tidak bergeming menatapnya.
"Tidak." Jawabnya singkat.
"Apa kau akan marah dan menjauhiku jika aku bilang menyukaimu?" Dhandeli mengumpulkan keberaniannya saat mengutarakan perasaannya secara tersirat.
"Maksud mu hanya ' jika kau bilang menyukaiku ' bukan benar-benar suka padaku?" Draga menekankan kalimat pengandaian Dhandeli tanpa menjawabnya.
Dhandeli mengangguk pelan dan menatap wajah Draga sebentar dan kemudian berpaling. Draga menghela nafas dan tertunduk dengan lengan sebagai penopang kepalanya.
"Selama ini wanita yang paling dekat dengan ku adalah Yara, dia sudah seperti kakak kandungku, dan untuk dekat wanita lain aku selalu gagal." Draga mulai bercerita.
"Gagal? maksudmu putus ditengah jalan atau kau selingkuh? apa diselingkuhi?" Dhandeli begitu antusias mendengarkan cerita Draga.
__ADS_1
"Bukan, astaga pikiran mu sungguh liar sekali." Draga mencibir.
"Yah, dalam hubungan yang gagal penyebabnya kebanyakan adalah orang ketiga atau ketidak cocokan satu sama lain."
"Yah itu benar."
"Yang mana yang benar?"
"Ketidak cocokan." Dhandeli hanya mengangguk paham.
"Ah ya! kau kan OCD, aku sampai lupa, pasti kau sangat tersiksa ketika dekat dengan seseorang yang menurut mu berprilaku tidak higienis." Nada bicara Dhandeli semakin menurun saat dia mengingat tingkah lakunya saat makan malam bersama Draga.
Draga tersenyum melihat perubahan sikap Dhandeli yang awalnya sangat antusias dan tiba-tiba menjadi seolah merasa bersalah dan penuh sesal.
"Aku yakin, aku bukan tipe wanita idaman mu, mengingat kelakuanku saat kita bersama." Dhandeli tertunduk lesu.
"Memang kau tahu apa tentang tipe wanita idaman ku?" Draga menatap Dhandeli dengan senyuman hangat.
"Aku, aku hanya..."
"Aku menyukaimu." Akhirnya Draga mengungkapkan perasaannya.
"Apa?"
"Kau wanita pertama yang membuat ku nyaman tanpa ada rasa risih, atau jijik, kau berbeda." Draga meraih tangan Dhandeli dan menggenggam tangannya dengan sangat hati-hati.
"Benarkah?" Dhandeli akhirnya berani menatap Draga.
"Iya, awalnya aku ragu dengan perasaan ku, namun kejadian demi kejadian yang menimpamu membuat pikiran ku kacau dan hatiku sakit," Hening.
"Terlebih lagi saat kau sangat peduli pada Arthem atau pria lainnya, entah kenapa itu mengusik kemarahan ku." Draga melanjutkan ungkapan isi hatinya.
"Tapi jujur saja, aku tidak yakin kau menyukai pria seperti..." Tanpa diduga Dhandeli mengecup lembut bibir Draga dengan penuh perasaan, kelembutan dan kehangatan.
Draga membeku saat bibir mungil nan manis milik Dhandeli mendarat di bibirnya, matanya membulat terkejut namun tak menolak kecupan manis itu.
"My first kiss, aku juga menyukai mu, Draga." Dhandeli menjauhkan bibirnya sambil mengungkapkan perasaannya yang merupakan jawaban positif untuk Draga.
"Ini terlalu manis jika untuk sesaat." Draga menyambar bibir mungil Dhandeli dengan ciuman yang bergaya lebih dewasa, membuat Dhandeli kewalahan karena tidak bisa mengimbanginya.
"Ini juga adalah ciuman pertama ku." Draga melepas pautannya dan tersenyum di atas bibir Dhandeli.
"Pertama? tapi kenapa begitu panas?" Dhandeli mengerutkan keningnya sambil masih menatap mata Draga.
Draga tersenyum geli melihat ekspresi gadisnya itu yang seolah tak percaya dengan apa yang dia katakan.
"Ciuman pertama, kau begitu ahli." Dhandeli menggunakan nada cibiran.
"Ya, menurutmu wanita mana yang bisa aku cium?"
__ADS_1
give me vote please hehehe