
Draga hanya diam disepanjang jalan, memperhatikan Dhandeli yang dengan lahap memakan roti panggang isinya itu, dan saat melewati salah satu stand, Draga melihatnya lalu mendekati stand yang di jaga oleh wanita paruh baya itu, karena ada hal yang sangat menarik hatinya.
"Gelang ini unik." Draga tersenyum saat melihat gelang yang terpajang di stand itu
"Berapa harganya Bu?" Draga tanpa berfikir lagi langsung membelinya.
"Selera mu sungguh bagus nak, Gelang itu harus di beli sepasang, harganya 250ribu." Sang penjual tersenyum ramah, memperhatikan Draga yang begitu antusias melihat gelangnya.
Gelang Pria.
"250 ribu untuk satu pasang?" Draga memastikan harganya.
"Iya"
"Boleh aku lihat gelang untuk yang wanita?"
Sang penjual pun membuka sebuah kotak bludru hitam yang berisi sebuah gelang polos untuk wanita.
"Ini indah sekali, sangat halus, aku akan membayar lebih untuk sepasang gelang ini." Draga membayar lebih untuk gelang yang dia suka itu.
"Ga!"
Terdengar suara seorang gadis memanggilnya dari arah belakang, membuatnya berdiri mematung dan entah mengapa panggilan itu tidak asing untuknya, dan membuatnya enggan berbalik, mematung di tempat dengan pandangan kosong.
"Draga! aku mencari mu tapi kamu disini, sedang apa Ga?" Dhandeli, gadis itu membawa dua kantong makanan, dengan nafas tersengal menghampiri Draga yang masih berdiri di stand penjual gelang tanpa berbicara sedikit pun.
"Apa nona ini pasangan mu?" Sang penjual tersenyum ramah kepada Dhandeli.
"Bukan." Draga dan Dhandeli serempak menyangkal.
"Ah, aku mengerti, baiklah nak... ini pesanan mu, semoga berhasil." sang penjual tersenyum dengan penuh arti kearah mereka.
"Apa yang ibu penjual itu maksud dengan 'Semoga Berhasil ' Ga?" Dhandeli menatap Draga penasaran.
"Tidak tahu, Ayo kita kembali kekantor." Draga dan Dhandeli kembali ke kantor dengan beberapa kantong makanan yang Dhandeli beli.
Saat memasuki ruangan Draga, asisten seniornya sudah berdiri di depan pintu, dia terlihat sedikit cemas, dan ketika Draga masuk asisten senior itu sangat gugup.
"Ada apa?" Tanya Draga
"Apa hari ini kita tidak melakukan inspeksi ke bagian produksi Pa?" Asisten itu sebenarnya mengingatkan kebiasaan yang selama ini dilakukan.
"Untuk hari ini tidak." Drag menjawab datar.
"Emm, itu Pa, ada sesuatu." Asisten itu terlihat gugup.
"Apa lagi?" Draga memicingkan matanya.
__ADS_1
"Ada wanita cantik yang menunggu di ruangan Bapa." Sang asisten terlihat begitu gugup dan takut hingga hanya tertunduk saat memberikan informasinya.
Draga melihat handphonenya dan kembali menatap sang asisten.
"Oh iya, kalian kembali bekerja." Draga melangkah ke ruangan miliknya tanpa menghiraukan kedua asistennya itu.
"Apa kau tidak salah membawa orang Dhan?" Sang asisten kelihatan bingung dan curiga.
"Tidak, memang kenapa? apa ada yang salah?" Dhan masih mengunyah sisa makannya.
"Jelas ada! Pertama, Pa Draga tidak pernah terlambat apa lagi meninggalkan pekerjaan yang sudah jadi rutinitasnya, Kedua, Pa Draga tidak pernah membiarkan orang lain siapapun itu naik mobilnya, Ketiga, Pa Draga sangat membenci karyawan yang membawa makanan ke dalam kantor, dan yang aku lihat kau sangat santai mengunyah makanan di depan Pak Draga tanpa dia mengusir mu." Jelas panjang lebar sang seniornya itu.
"Apa sampai harus terheran-heran begitu? apa itu hal yang luar biasa?" Dhan menanggapi dengan santai.
"Tentu saja luar biasa! ini adalah perubahan yang sangat menakjubkan, kau tahu, untuk pengidap OCD itu adalah perkembangan pesat." Dhandeli terdiam.
"Draga Pengidap OCD? kau serius?" Dhandeli sangat terkejut mendengar informasi dari seniornya mengenai Draga yang mengidap OCD.
***
Draga bekerja seperti biasa, seolah tak ada kendala apapun dan tak ada yang terjadi serta tak peduli dengan orang yang sedang duduk menatapnya menyelidik.
"Tidak ada yang ingin kau jelaskan." Yara begitu penasaran.
"Tidak, jika tidak ada hal yang kau ingin bicarakan, kau bisa pergi." Draga masih sibuk dengan dokumennya.
"Wah! kau ini adik macam apa? bahkan minum saja tidak di hidangkan." Yara mencibir.
Tok, tok, tok.
Saat dipersilahkan masuk orang itu pun masuk dengan nampan yang berisi teh, kopi dan biscuit.
"Kau Dhandeli?" Yara bertanya sambil menyesap tehnya.
"Iya kak, eh Bu." Dhandeli canggung.
"Panggil Yara saja, atau kakak juga boleh." Yara tersenyum ramah, membuat Dhandeli terpesona.
"Kakak sangat cantik, pantas Kak Arthem sungguh sulit melupakan mu." Dhan memuji Yara karena dia memang sangat cantik.
"Dhan, apa laporan mu sudah selesai?" Draga menatap Dhan menunggu jawaban.
"Sedikit lagi Pa." Dhan memasang senyum canggung, dan pamit undur diri.
"Apa gadis itu sangat istimewa?" Yara masih menikmati tehnya.
"Entahlah." Draga masih berkutat dengan dokumen dan komputernya.
"Kau sudah lebih baik sekarang." Yara merapikan tasnya dan bangun dari duduknya.
"Aku kesini membawa pesan Ayah, beliau ingin makan malam bersama nanti malam." Yara beranjak dari ruangan Draga.
__ADS_1
"Jangan lupa jam 7 tepat." Yara berbalik badan saat sudah di depan pintu keluar.
"Cerewet." Draga hanya acuh tak acuh melihat Yara keluar ruangannya.
Saat Yara melewati bilik asisten, Yara menghampiri Dhan yang sedang serius bekerja.
"Kau sibuk?" Tanya Yara sambil duduk di kursi kosong dekat dengan Dhandeli.
"Iya, aku sedang mengerjakan yang bos minta tadi." Dhandeli menyunggingkan senyumnya ke arah Yara.
"Kalau ada waktu senggang bisa kita makan bersama?" Yara ingin berbincang lebih jauh tentang Dhan dan Draga.
"Ada apa kak?" Dhandeli menjadi gugup.
"Masalah Adik ku itu." Sambil menoleh ke arah ruangan Draga sekilas, Yara memberikan isyarat pada Dhandeli.
"Oh, baiklah, aku akan menghubungi mu."
Dhan menerima kartu nama Yara dan menyimpannya.
"Aku tunggu ya." Yara melenggang anggun keluar dari ruangan kerja Dhandeli.
"Jadi dia itu Kakaknya Bos kita? aku kira kekasihnya." Senior Dhan berbisik dari meja sebelah.
"Bukan, Yara adalah kakak Draga." Dhan menjelaskan singkat.
"Apa kau sebelumnya sudah mengenal Bu Yara?" Seniornya tampak sangat penasaran.
"Kak Nina sangat ingin tahu ya." Asisten senior yang bernama Nina itu Mengangguk semangat.
"Kalau begitu traktir aku dulu." Dhan tersenyum konyol, membuat Nina jengah.
Suasana kerja kembali seperti biasa hingga tak terasa sudah jam pulang. Dhandeli masih berdiri di lobby, bersandar di salah satu pilar sambil melamun. Hingga bunyi klakson mengejutkannya dari lamunan.
"Ayo pulang." Ternyata Draga mengajaknya pulang bersama, tak ada alasan untuk menolak ajakan Draga, dengan enggan Dhan masuk ke mobilnya.
Di sepanjang jalan Dhandeli hanya diam menatap keluar jendela.
"Kenapa diam? Saat makan siang begitu bersemangat, saat bergosip di kantor juga begitu antusias, kenapa sekarang seperti habis baterai?" Draga mencoba membuat Dhan tersenyum.
"Kakak ku yang tampan masih belum ada kabar."
"Arthem?" Draga tersenyum geli.
"Iya, siapa lagi?" Dhan menanggapi dengan lesu.
"Kekasihnya saja tidak seterpuruk itu, kenapa kau seperti kehilangan nyawa?" Draga mencibir.
"Aku salah, aku memarahinya sebelum dia pergi, aku belum minta maaf... bagaimana ini? ayahku pasti menyeret ku pulang, Huaaa..!" Dhan menangis seperti anak kecil di dalam mobil Draga.
"Sudah, sudah, jangan menangis lagi, nanti orang lain mengira aku melakukan tindakan kriminal." Draga panik dan mencoba menenangkan Dhandeli.
__ADS_1
don't forget Like and love nya...