Standard Effect

Standard Effect
Kecemburuan Yunan


__ADS_3

Draga dan Dhandeli sudah sampai di halaman rumah tempat tinggal Dhan. Draga hanya mengantar Dhan tidak berencana mampir atau bertamu, dia kemudian kembali kerumahnya setelah berpamitan dengan Dhan dan Sam yang masih memasang wajah kaku padanya.


"Tumben dia bersikap gentleman, tidak seperti kemarin."


Sam berpendapat namun hanya ditanggapi dengan senyum aneh di wajah Dhan.


"Hey nona! kau sungguh menyukai pria seperti itu?"


Sam terheran-heran dengan ekspresi wajah nona nya itu.


"Entahlah, aku hanya suka saja pria itu unik dengan segala kedewasaannya."


Dhan beranjak ke kamarnya untuk tidur meninggalkan Sam yang masih menatapnya jengah.


***


Yunan dan Yara masih duduk saling diam tanpa sepatah kata pun, Yara kesal pada Yunan yang masih memaksanya untuk pulang.


"Aku selalu bertanya-tanya, mengapa kau sangat peduli pada Draga? melebihi dari seorang sepupu."


Yunan memicingkan matanya menelisik ke arah Yara yang hanya duduk bersandar sambil memainkan ponsel.


"Ketenangan adalah segalanya bagiku, suasana rumah ini sesuai dengan diriku saat ini."


Yara berucap seperti hanya asal bicara, membuat Yunan berdecak kesal.


"Di rumah ada ibu dan terkadang ada ayah dan aku, apa kami begitu mengganggu?"


Yunan masih tidak habis pikir dengan alasan yang dibuat oleh Yara.


"Bukan seperti itu, maksud ku adalah..."


pembicaraan mereka terpotong saat Draga masuk keruang tamu.


"Jika dia selalu tidak mengerti sebaiknya kau diam Yara, itu lebih baik dan menghemat tenaga mu bukan?"


Draga mulai geram dengan sikap Yunan.


"Apa? dia adik ku dan aku harus menjaganya tetap dalam pengawasan ku."


Yunan menjelaskan statusnya yang sebenarnya Draga tidak pedulikan.


"Kakak yang mana yang tidak bisa mengerti keinginan adiknya? Yara bukan anak kecil, dia disini bersama ku saudara laki-laki sesungguhnya, sedangkan kau! tak ada 0,1% pun darah keluarga Sein mengalir di tubuh mu."


Nada Draga semakin menekan dan mengintimidasi, membuat Yunan mengetatkan gerahamnya dan mengepalkan tangannya erat.


"Harusnya kau mengerti maksudku bukan?"


Ucapan Draga yang mengisyaratkan pengusiran membuat Yunan dengan memendam emosi pergi melangkah keluar dari rumah Draga.


Yunan mengendarai mobilnya dengan menginjak gas begitu kencang, hingga menimbulkan suara menggeram yang begitu keras.


"Draga, kau menyinggungnya, kau harus waspada mulai sekarang."


Yara memperingatkan Draga betapa berbahayanya menyinggung Yunan, karena dia memiliki banyak koneksi di luar SEN Group.


"Aku malah ingin tahu bisa berbuat sejauh mana dia pada ku atau orang lain."


Hening di ruang tamu itu, membuat Yara akhirnya tertidur pulas di sofa, Draga hanya menyelimutinya dan pergi meninggalkan Yara yang tertidur di ruang tamu.


***

__ADS_1


Pagi menjelang waktunya manusia beraktivitas seperti biasa, begitupun dengan Dhandeli yang sudah mulai bekerja kembali setelah di hari pertama membuat kehebohan dengan tiba-tiba jatuh sakit.


Dhandeli di antar oleh Arthem sampai di lobby kantor PT GE, dan kembali melanjutkan perjalanan menuju tempat dia memantau Dhan.


Saat di lobby, Dhan mengedarkan pandangannya mencari-cari Darker motor sport kesayangan nya.


"Mencari apa?"


Tanya seorang pria pada Dhan yang membelakanginya.


"Motor ku, tapi dimana yah? Apa kau..."


Saat hendak melanjutkan bertanya dan membalikkan tubuhnya ternyata pria itu adalah Draga yang berdiri mematung tepat dibelakangnya.


"Aku meletakkan motor itu di basemen."


Draga pun berlalu tanpa peduli Dhan yang tengah ber-oh menanggapi informasi yang dia berikan.


Akhirnya Dhan pun tersadar bahwa motor sport kesayangannya aman, dia pun bergegas absen dan kembali bekerja.


"Dhan, senang melihatmu kembali."


Senior asisten itu sangat bahagia luar biasa, lantaran selama dua hari ini dia cukup cemas kalau-kalau Dhan resign, karena sangat sulit mencari seorang asisten yang mumpuni.


"Iya kak, terima kasih juga sudah menjengukku."


Dhan tersenyum ramah pada seniornya.


"Ini undangan pernikahan ku tiga minggu lagi, aku ingin kau yang pertama mendapatkannya."


Senior itu sangat antusias saat memberikan undangan pernikahannya.


"Wah... berarti aku harus belajar lebih giat dan cepat agar kakak tidak khawatir saat nanti meninggalkan ku."


"Kau pintar Dhan, aku yakin kau mampu, jadi... semangat!"


Setelah perbincangan hangat yang diakhiri dengan saling menyemangati mereka pun mulai menyibukkan diri.


Dhan memberikan laporan pagi serta jadwal Draga tanpa ada perdebatan, bahkan hingga makan siang sungguh sangat nyaman dan tenang, semua pekerjaan dan pengarahan dari seniornya maupun Draga dapat Dhan serap dan pahami dengan mudah.


Jam makan siang pun tiba, Arthem seperti biasa menunggunya di lobby dengan sikap cool yang luar biasa.


"Hay ganteng!"


Dhan mengejutkan Arthem yang tengah memegangi handphone dan berkirim pesan dengan seseorang.


"Kau ingin aku mati muda?"


Arthem menggerutu sambil mencubit lengan Dhan.


"Kau sendiri begitu sibuk, dan mengacuhkan adik mu yang cantik ini, kalau kau memang sesibuk ini kenapa tidak Sam saja yang menjagaku?"


Dhan mulai merajuk dengan wajah cemberut yang di buat-buat.


"Samuel lebih sibuk dengan urusan Ayahmu yang nanti akan jadi urusan mu."


Arthem menggandeng Dhandeli menuju Resto ala Jepang yang ada di sebrang jalan.


Kali ini Arthem yang memilih menu makan siangnya, tanpa memperdulikan Dhandeli yang mulai merengek karena menu yang dia inginkan tidak dipesan oleh Arthem.


Makanan pun datang, wajah Dhan langsung berubah drastis saat melihat sajian menu di meja makannya, kalimat protes yang tadi dia suarakan tak terdengar lagi, berganti senyum cerah dengan gumaman memuji makanan yang ada di hadapannya.

__ADS_1


"Art, kau memang terbaik!"


Dua jempol mengarah ke wajah Arthem membuat dia tersenyum malu.


"Kau sudah dewasa, berhentilah berperilaku seperti anak kecil."


Arthem menasihati Dhandeli agar dapat menjaga sikapnya, karena dia adalah seorang pewaris tunggal jika ada yang melihat tingkah konyolnya itu akan mempengaruhi nama baik perusahaan.


***


Di PT SEN Yara berjalan masuk keruang Ayahnya, ayah Yara baru saja tiba dan langsung menuju kantor untuk memeriksa beberapa hal sebelum kembali kerumah.


Ternyata di ruangan itu sudah duduk manis seorang pria tampan dengan setelan kemeja berwarna hitam dengan jas tanpa dasi namun masih terlihat elegan.


"Kakak juga datang?"


Sapa Yara sambil mengecup pipi sang ayah.


"Iya, aku menunggu mu."


Yunan menjawab santai.


"Memang apa lagi yang kau perlukan dari adikmu?"


Tuan Sein ikut bicara.


"Ayah, aku ingin Yara menjadi asisten ku."


Yunan dengan penuh percaya diri meminta persetujuan sang ayah angkat agar adiknya itu menjadi asisten pribadinya.


"Itu tidak bisa, Yara memiliki kesibukkan sendiri, kau bisa menyeleksi beberapa calon dari luar atau dalam perusahaan."


Tuan Sein langsung menolak permintaan Yunan, karena banyak sedikit dia tahu jika Yunan menaruh hati pada adiknya sendiri.


"Apa ini karena Draga?"


Yunan masih terlihat tenang walau hatinya sudah memanas.


"Itu salah satunya."


Hening membentang di ruangan luas itu membuat suasana begitu tegang.


"Kau bisa pergi Yunan, ayah ingin berbicara empat mata dengan adik mu."


Tuan Sein menatap lurus ke arah Yunan, berharap anak itu mengerti apa yang dia inginkan.


"Aku akan mencari tahu semua hal tentang Draga, mengapa dia sangat penting didalam keluarga kita? dan ayah juga perlu tahu, bagiku dia hanya benalu."


"Yunan! jaga bicara mu!"


Tuan Sein meninggikan suaranya.


"Entah kenapa semua orang sangat memprioritaskan dia? aku ini apa ayah? apa karena aku anak angkat jadi kalian mengacuhkan ku?"


Yunan akhirnya mengeluarkan pertanyaan yang membuat Tuan Sein terdiam.


Tidak mau melihat ayah angkatnya Yunan pun pergi meninggalkan ruangan itu.


Nah loh....


Ayo semangat nya mana nih gengs...

__ADS_1


👍💙👍💙👍💙👍💙👍💙👍💙👍💙👍💙


__ADS_2