Standard Effect

Standard Effect
Mantu


__ADS_3

Mobil minibus itu langsung kabur setelah menabrak mobil Arthem, beruntung benturannya tidak terlalu keras, Arthem dan Yara selamat, Yara hanya mengalami memar di beberapa bagian tubuhnya sedangkan Arthem mengalami luka sobek di bagian wajah tangan dan kaki serta tulang lengannya retak.


"Kau baik-baik saja Yara?" Sambil menahan sakit Arthem memandang Yara yang sedang memegang kepalanya.


"Aku baik Art, kepala ku hanya terbentur sedikit, tapi kau terluka, aku akan menelpon untuk meminta bantuan." Yara meraih Handphonenya dan memberikan instruksi pada seseorang di sambungan telepon.


Beberapa menit kemudian tim evakuasi dan polisi tiba di tempat kejadian dengan membawa mobil derek dan ambulance. Yara dan Arthem pun dilarikan ke RS Heart Care.


Tuan dan Nyonya Sein langsung bergegas menuju rumah sakit untuk melihat kondisi anak kandung semata wayang mereka.


Tiba di rumah sakit Arthem langsung di bawa keruang operasi karena dia sudah hampir kehilangan kesadaran, sedangkan Yara hanya mendapat penanganan medis ringan sesuai dengan kondisinya yang baik-baik saja.


"Yara!" Nyonya Sein terlihat sangat panik tiba di ruang perawatan Yara.


"Aku tidak apa-apa, tapi dia... terluka cukup parah." Wajah Yara terlihat sangat sendu dan penuh dengan kekhawatiran.


"Kau saat kejadian bersama siapa?" Tuan Sein tampak memperhatikan wajah Yara yang pucat, menelisik sesuatu tersirat diraut wajah putrinya.


"Dengan dia..."


"Oh..." Ayahnya hanya ber-oh sedangkan Ibu Yara tampak kebingungan.


"Apa yang kalian bicarakan? apa maksudnya?" Nyonya Sein tampak sedikit kesal melihat sikap anak dan ayah di hadapannya itu.


"Nanti juga kau akan tahu, tunggulah sebentar lagi." Tuan Sein tampak santai menghadapi istrinya yang seperti akan menelannya hidup-hidup.


"Memang jika kalian bicara sekarang akan merubah keadaan dan kenyataan?" Nyonya Sein melipat kedua tangannya didada sambil menatap kedua orang itu bergantian, membuat Yara gugup, sedangkan Tuan Sein tampak biasa menghadapi istrinya itu.


"Saat Nyonya Sein hendak berdebat lagi, pintu ruang rawat itu terbuka, tampak seorang perawat masuk.


"Wali Atas nama Arthem Yang?" Sang perawat ternyata menanyakan siapa yang bertanggung jawab atas Arthem.


"Saya Suster." Yara menjawab dengan begitu antusias.


"Pasien sudah selesai operasi sekarang sudah bisa di jenguk di ruang intensif." Dengan senyum ramah sang suster menunjukkan jalan menuju ruang rawat inap Arthem.

__ADS_1


"Arthem siapa?" Tanya nyonya Sein pada suaminya.


"Calon mantu." Jawaban singkat Tuan Sein, sukses membuat istrinya terperangah tak percaya.


"Yara sudah punya kekasih? sejak kapan? siapa? darimana dia berasal?" Dengan sangat semangat dan antusias Nyonya Sein memberondong suaminya dengan banyak pertanyaan.


"Ibu tanya sendiri nanti." Tuan Sein memijit keningnya yang dibuat pusing oleh pertanyaan istrinya.


Mereka bertiga masuk kedalam ruangan rawat, terlihat Arthem tengah berbaring di ranjang dengan infus dan transfusi darahnya yang hampir habis, dan itu berarti sebentar lagi dia akan sadarkan diri.


"Siapa pria ini? tampan sekali." Nyonya Sein mendekati sisi ranjang Arthem dan memandangi wajah pria itu dengan kekaguman.


"Ehem! ayah waktu masih muda juga tampan bukan?" Tuan Sein menarik istrinya agar mundur sedikit dari ranjang dan mendekat ke pelukannya.


"Kalian bisa diam tidak? Apa kalian lupa berapa umur kalian?" Yara terlihat frustasi dengan tingkah orang tuanya.


"Tapi benar dia kekasih mu nak?" Tanya sang ibu.


"Iya." Jawab Yara singkat dan dengan nada ketus.


"Tapi kenapa ayah tahu lebih dulu dari ibu? kau sungguh tidak menganggap aku sebagai ibumu?" Nyonya Sein seperti merajuk kepada Yara, membuat Yara menghela nafas panjang.


"Ayah! keterlaluan sekali..." Protes Nyonya Sein.


"Anak ini baik, aku hanya memastikan saja, apa salahnya?" Jawab santai Tuan Sein.


Terdengar suara lenguhan dan gerakan dari arah ranjang, tampak Arthem tengah mencoba membuka matanya perlahan, sambil memegang dahinya.


"Yara..." Suara Arthem begitu berat saat memanggil nama Yara.


"Aku disini Art, bagaimana perasaan mu?" Yara menghampiri ranjang Arthem dan duduk disisinya.


"Selain pusing dan nyeri aku baik-baik saja." Jelas Arthem dengan senyum lemah yang dia paksakan.


"Apa kau haus?" Suara ibu Yara terdengar dari belakang Yara membuat Arthem mengerutkan dahinya.

__ADS_1


"Dia ibu dan ayah ku." Dengan gugup Yara memperkenalkan Arthem pada ibu dan Ayahnya, namun tanggapan Arthem sangat manis, dia tersenyum ramah memperkenalkan diri tanpa rasa canggung.


"Maafkan aku, karena kita bertemu dalam situasi yang kurang layak, lain kali aku akan menebusnya." Arthem merasa tidak enak bertemu dengan kedua orang tua Yara dalam keadaan tak berdaya.


"Tidak masalah, pulihkan tubuh mu dengan cepat, dan bertamulah kerumah kami, aku akan memasak masakan kesukaan Yara dan kau juga bisa meminta aku memasak makanan kesukaan mu." Ibu Yara begitu semangat sampai lupa jika suaminya sudah menatapnya tajam.


"Ibu sepertinya pria mu tidak suka kalau ibu banyak bicara dengan pria lain." Celetuk Yara membuat sang ibu menoleh ke arah suaminya.


"Itulah sebabnya ibu selalu terkurung di rumah, karena pria itu yang membuat ibu tidak bisa pergi kemana yang ibu mau." Nyonya Sein seperti mengungkapkan secara tidak langsung pada suaminya, dan membuat suaminya jadi sedikit salah tingkah.


"Itu karena kau terlalu cantik, jadi aku tidak mengizinkan mu untuk keluar rumah, karena jika kau keluar rumah pria-pria di luar sana pasti akan menatapmu." Penjelasan Tuan Sein yang bisa di bilang posesif itu, membuat Yara geli sendiri, namun Arthem hanya tersenyum melihat adegan kekanak-kanakan didepannya.


"Apa kau haus Art?" Yara mengalihkan pandangannya dari kedua orang yang masih berdiri mesra di ruangan pasien itu.


"Ku rasa kau juga haus." Arthem tersenyum melihat ekspresi Yara yang sudah menahan kesal sedari tadi.


"Tentu saja, dan rasanya aku juga ingin mandi air dingin." Gerutu Yara.


Yara dan Arthem meneguk air mineral yang sudah tersedia di meja, sambil terus mencuri pandang pada kedua orang tua Yara.


"Mereka sangat romantis, kau pasti bahagia mempunyai orang tua seperti mereka." Arthem mengemukakan pendapatnya tentang Ayah dan Ibu Yara.


Tiba-tiba pintu ruang rawat itu terbuka dengan kencang, dan sosok yang tidak asing masuk kedalam ruangan itu.


"Arthem!" Dhandeli berteriak dari ambang pintu dan langsung menghambur ke sisi ranjang.


"Astaga, suara mu membuat jahitan ku terbuka." Arthem sedikit bercanda karena melihat kekhawatiran Nonanya itu, namun hal yang lucu terjadi.


"Yara, kau baik-baik saja? apa kau terluka?" Saat sampai di sisi ranjang, bukannya Arthem yang mendapat pertanyaan yang seharusnya, malah Yara yang di berondong pertanyaan penuh kekhawatiran oleh Dhandeli.


"Aku tidak apa-apa, tapi Arthem yang harus menjalani operasi." Yara tersenyum geli melihat ekspresi Dhan yang tampak biasa saja menatap kakak bodyguardnya itu.


"Dia akan baik-baik saja, tulangnya baja dan kulitnya seperti kulit badak, menurutku akan sulit membuatnya terluka parah." celetuk Dhandeli membuat semua orang terdiam dan terperangah mendengar kalimat perumpamaan yang sangat diluar nalar.


Arthem hanya sanggup menghela nafas dan menggelengkan kepalanya mendengar pendapat dari wanita di depannya itu.

__ADS_1


Love like comment...


thanks


__ADS_2