
Arthem duduk di samping Nyonya Viel, dan berhadapan dengan Draga. Arthem menatap wajah Draga yang terlihat hendak tertawa lepas.
"Jangan tertawa." Arthem menatap lurus kearah Draga.
"Tidak, aku tidak tertawa, hanya merasa lucu." Draga menetralkan ekspresi wajahnya dengan masih mengatupkan bibirnya.
"Perdebatannya bisa di lanjut setelah perut terisi penuh, kalian mengganggu selera makan orang lain." Tuan Viel memberikan tatapan dingin pada dua orang pria di hadapannya.
Setelah sang Tuan rumah mengeluarkan ultimatumnya, suasana meja makan pun menjadi tenang terkendali.
Acara makan siang pun berlangsung dengan cepat, Tuan dan Nyonya Viel masuk ke dalam rumah untuk beristirahat, sedangkan tiga anak muda yang sempat membuat ricuh masih berada di taman menikmati teh dan camilan pencuci mulut.
Draga dan Dhandeli duduk bersisian, Dhandeli bersandar dengan mesra di bahu Draga yang dengan lembut membelai pipi dan rambutnya. Di kursi tunggal lain Arthem duduk sendiri sambil menatap sinis ke arah pasangan yang baru satu minggu lebih bersama itu.
"Kalian sebaiknya jangan terlalu dekat." Arthem menatap Draga dengan ekspresi yang tak bisa ditebak.
"Kenapa?" Draga dan Dhandeli serempak bertanya pada Arthem dengan tatapan tajam yang menusuk membuat Art sedikit gugup dan mengalihkan pandangannya.
" Karena aku belum menyetujui hubungan kalian, Draga belum masuk penilaian ku." Arthem merubah ekspresi gugupnya menjadi layaknya tatapan menelisik seorang kakak yang sedang menilai calon adik ipar yang di bawa sang adik kesayangannya.
"Arthem, apa kau sedang berperan sebagai kakak sungguhan?" Dhandeli mencibir.
"Iya." Jawab Arthem dengan nada angkuh.
"Pffttt, apa tidak salah?" Draga tersenyum sinis.
"Kenapa memangnya? Dhandeli sudah ku jaga sejak dia kecil, jadi aku berhak menentukan pria mana yang cocok berdampingan dengannya."
Penuturan Arthem itu membuat Dhandeli ternganga, tak mengerti apa yang sebenarnya Arthem pikirkan dan apa yang ada di dalam hati Arthem tentang dirinya.
"Ya! bukankah seharusnya kau bahagia, karena aku sudah menemukan orang yang tepat untuk ku? lalu sebenarnya ada masalah apa? apa yang salah dari Draga?" Dhandeli sedikit emosi dan mencecar Arthem.
"Dia masih berhutang penjelasan tentang penculikan mu tempo hari." Arthem menatap Draga dengan aura membunuh yang kuat.
"Dia bukan wanita ku, maaf atas kejadian penculikan yang sudah membuat tragedi itu tapi sungguh, aku tidak pernah bisa berhubungan dengan manusia lain, bahkan Yara pun, aku beri dia batasan saat berinteraksi dengan ku." Semua orang terdiam, Dhandeli hanya menatap Draga dengan rasa simpati tanpa ada ungkapan lain.
"Kemungkinan besar dia adalah salah satu wanita yang terobsesi dengan ku namun ku tolak, entah siapa dia, terlalu banyak wanita yang mendekati ku dan mereka semua sungguh tidak punya malu." Draga menjadi kesal dan bangkit dari duduknya hendak pergi meninggalkan taman segera.
"Art, sebaiknya selidik terlebih dahulu sebelum kau berbicara." Dhandeli pergi meninggalkan Arthem yang duduk sambil memegang dagunya bingung melihat dua sejoli itu pergi.
Ilustrasi ekspresi Arthem.
***
Dhandeli mengejar Draga dengan nafas tersengal-sengal hingga tanpa sengaja menjatuhkan vas bunga yang ada di dekat pintu masuk.
Prang....!
__ADS_1
Bunyi benda jatuh membuat Draga menoleh dan seketika panik saat melihat Dhandeli tengah terhuyung di ambang pintu.
"Dhan, kau baik-baik saja? apa ada yang terluka?" Draga memapah Dhandeli yang sudah lemas dengan keringat dingin sebesar biji jagung bercucuran di dahinya.
Draga mendudukkan kekasihnya itu di sofa ruang tamu, lalu meminta asisten rumah tangga membawakan air minum untuk Dhandeli.
"Ada apa dengan mu sayang?" Nyonya Viel terlihat panik menuruni tangga untuk menghampiri putrinya.
"Aku hanya mengejar Draga ibu, Namun aku kehilangan keseimbangan dan menyentuh vas bunga itu hingga terjatuh." Dhandeli masih mengatur nafasnya saat menjelaskan apa yang terjadi.
"Kalian bertengkar?" Draga dan Dhandeli kompak menggelengkan kepala mereka menyanggah pesertanya Nathalia.
"Lalu? kenapa kalian harus kejar-kejaran?" Nyonya Viel mengerutkan dahi, menatap bergantian kedua manusia di hadapannya dengan heran.
"Bukan apa-apa Bibi, hanya saja aku sempat terburu-buru tadi untuk mengambil sesuatu di mobil." Draga tampak beralasan agar masalah tidak semakin rumit.
Nyonya Viel hanya mengangguk ringan menanggapi alasan Draga tanpa bertanya lagi kepada Dhandeli yang sedang bersandar di bahu Draga walau hanya sebagai klarifikasi.
"Kalau begitu tolong antar Dhan ke kamarnya, dia harus banyak istirahat, bila perlu kau bisa menginap Draga." Nyonya Viel tersenyum ramah.
"Mungkin aku akan mengantar Dhan terlebih dahulu ke kamarnya, perihal menginap, itu akan aku pikirkan." Draga tersenyum ke arah Nathalia baru kemudian dengan lembut dan hati-hati memapah Dhandeli menuju ke kamarnya.
"Kamar mu di sebelah mana?" Langkah Draga berhenti saat dia bingung dimana letak kamar Dhandeli.
"Di lantai atas, belok kanan, lurus mengikuti lorong dan akan bertemu pintu cat putih di ujung lorong." Dhandeli menjelaskan dengan nada yang masih lemah.
"Baiklah."
Tanpa diduga Draga mengangkat tubuh Dhandeli bak pengantin baru, membawanya menaiki tangga lalu menuju lorong dimana letak kamar Dhandeli berada.
Melihat suaminya yang seperti syok, Nyonya Viel berinisiatif memberikan segelas air pada Tuan Viel. Dengan refleks tuan Viel meminumkan dan seketika tersedak karena perkataan istrinya.
"Kapan kau akan menggendongku seperti itu lagi? sepertinya sudah lama sekali itu terjadi." Dengan tanpa rasa bersalah Nyonya Viel meraih gelas yang ada di genggaman Tuan Viel dan menepuk-nepuk punggung suaminya yang masih terbatuk-batuk karena tersedak air dan kalimat istrinya.
"Astaga, berapa umur kita sayang? apa kau tidak malu?" Tuan Viel menggelengkan kepalanya sambil berdecak kesal.
"Aku belum genap 50 tahun, lagi pula aku ini bukannya masih cantik dan ramping, apa salahnya jika kau mesra dengan ku, kecuali kau merasa sudah tua." Tuan Viel ternganga mendengar pendapat istrinya, karena melihat usia Tuan Viel hanya lebih tua 2 tahun dari sang istri, jelas dia masih pula terlihat gagah dan tampan.
Dengan gemas Tuan Viel menggendong istrinya yang tengah merajuk di sampingnya, membuat sang istri sedikit memekik terkejut karena tubuhnya tiba-tiba melayang di udara.
"Baiklah Istriku sayang, ayo kita ulangi masa-masa itu." Tuan Viel menciumi sang istri dengan mesra sambil menggendongnya ke kamar utama.
***
Draga sudah tiba di depan pintu kamar Dhandeli, dengan sigap membuka pintunya dan membawa tubuh Dhandeli masuk kedalam lalu merebahkannya di ranjang.
"Terima kasih." Senyum Dhan mengembang indah dengan wajah yang masih merona.
Draga mengedarkan pandangannya ke setiap sudut kamar sang kekasih hati yang tampak bersih dan tertata rapi dengan gradasi warna pastel lembut dan jendela besar di satu sisinya menampilkan pemandangan indah yang membuat orang nyaman berlama-lama di dalam.
__ADS_1
"Aku kira kamar mu akan penuh sesak dengan berbagai macam pernak pernik lucu dan berbulu dengan warna warni yang cukup mencolok, ternyata jauh berbeda." Draga duduk di sofa tepat di samping ranjang Dhandeli, dia bersandar dan meluruskan kakinya di atas sofa sambil masih mengedarkan pandangannya.
"Aku tidak suka suasana kamar yang terlalu penuh sesak, jadi inilah kamarku tanpa ada boneka-boneka lucu, kelap kelip lampu warna warni atau apalah itu, aku tidak terlalu menyukainya, karena yang paling penting dari sebuah kamar adalah kenyamanan bukan furniture atau dekorasi didalamnya." Dhandeli bersandar pada kepala ranjang sambil menghirup udara menjelang sore yang masuk dari jendela berukuran besar yang hampir memenuhi salah satu sisi dinding kamarnya.
"Apa kau suka kamarku dan merasa nyam..." Saat Dhandeli hendak menanyakan pendapat Draga mengenai kamarnya itu, dia terdiam saat mendapati wajah sang kekasih tampak tenang dengan mata terpejam dan nafas yang teratur karena jatuh tertidur dengan pulasnya.
"Jawabannya sangat jelas, bahwa kamar ku ini nyaman." Dhandeli tersenyum sambil memandangi wajah tertidur sang kekasih dan lama kelamaan Dhandeli pun ikut tertidur.
***
Dilantai bawah Arthem tampak mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan, lalu beralih ke dapur untuk mencari seseorang yang bisa dia tanya.
"Kemana semua orang bi? kenapa begitu hening?" Arthem bertanya pada seorang asisten dapur yang sedang mengolah makanan.
"Nyonya dan Tuan sedang istirahat di kamar, Nona Dhandeli dan Tuan Draga berada di kamar atas." Jelas sang asisten yang sudah tidak muda itu.
"Siapa dikamar atas?" Arthem memastikan pendengarannya.
"Nona Dhandeli dan Tuan Draga." Wajah asisten itu tampak bingung dengan sikap Arthem yang seperti sangat kesal dan langsung bergegas menaiki tangga menuju kamar Dhandeli.
Setibanya di depan pintu kamar Dhandeli, Arthem mengernyitkan dahi karena suasana kamar sangat sunyi dan pintu kamar pun sedikit terbuka, sehingga Arthem bisa membuka pintu tanpa bersuara.
"Astaga, mereka berdua tertidur begitu pulas." Arthem bergumam sambil memandang dua orang yang sedang tertidur di tempat terpisah.
Diluar pintu Arthem tampak menimbang-nimbang untuk membangunkan Draga dan mengusirnya atau membiarkannya sampai dia bangun dengan sendirinya.
Akhirnya tersirat sebuah ide yang bisa membuat Arthem menghilangkan rasa rindunya pada seseorang yang sudah satu minggu tidak bisa diganggu karena kesibukannya.
"Hallo." Suara merdu seorang wanita terdengar ketika telpon Arthem terhubung.
"Yara." Arthem menyapa.
Yara adalah wanita yang ada di sebrang menjawab teleponnya, ternyata Arthem berencana menggunakan Draga agar dia bisa bertemu dengan pujaan hati yang selama seminggu lebih tak bisa di temui.
"Ada apa Arthem?" Yara bertanya lebih dahulu karena tak ada suara terdengar dari Arthem.
"Draga, Draga ada di kediaman Viel sekarang." Arthem memulai sandiwaranya.
"Dia sakit, sekarang sedang beristirahat, apa kau bisa menjemputnya?" Arthem dengan hati berdebar menunggu jawaban Yara mencoba tetap tenang dan menetralkan nafasnya, gugup.
"Baiklah, kirimkan alamatnya, sesegera mungkin aku akan tiba di sana menjemputnya." Yara langsung menutup sambungan telepon seluler itu tanpa menunggu jawaban lawan bicaranya.
"Sungguh wanita dingin." Arthem menggerutu sambil menuruni tangga.
***
Yara yang tengah bekerja di agensi menerima kabar Draga sakit langsung panik dan dengan terburu-buru menyelesaikan meeting dan beberapa pekerjaan lain, namun dia akhirnya terdiam, otak cerdasnya mulai menangkap sesuatu yang aneh. Dalam pikiran Yara saat ini sedang mencari sebuah logika dari alasan Arthem memintanya menjemput Draga yang sedang sakit di kediaman Viel.
"Aneh, kenapa tidak Arthem saja yang mengantarkan Draga pulang? malah menghubungi ku, padahal dia tahu aku sedang sibuk, ada apa dengan pria itu?"
Yara menggelengkan kepalanya mengusir pikiran buruk yang terlintas karena sebenarnya dia selalu tahu situasi Draga, Namun tak urung Yara bergegas keluar kantor menuju tempat dimana mobilnya terparkir cantik lalu menyalakan mesin mobilnya dan mulai melaju dengan mengikuti petunjuk GPS yang sudah terhubung dengan lokasi alamat kediaman Viel.
__ADS_1
Like dan komen needed
Biar author lanjut ceritanya ke yang lebih seru