
Draga menatap wajah gadis itu dingin, saat mendengar teriakan suaranya yang cukup memekakan telinganya.
"Kau membuat orang salah paham padaku."
Draga kesal, untuk menenangkan emosinya dia membuka botol air mineral dan meneguknya.
"Maafkan aku, lagi pula kakak yang menuduhku tidak-tidak."
Gadis itu tertunduk malu dan diam seribu bahasa hingga akhirnya Draga menandaskan minumannya dan beranjak dari duduknya.
"Aku akan mengantarmu sampai ke tujuan."
Draga bangkit dari duduknya dan berjalan keluar Minimarket menuju mobilnya, disusul gadis itu yang berjalan dengan perlahan, karna kakinya mulai terasa sakit.
Didalam mobil suasana hening menyelimuti mereka berdua membuat canggung gadis itu.
"Nama ku Dhan, Apa boleh aku tahu nama kakak?"
Dengan senyum manis Dhan memperkenalkan diri dan juga menanyakan nama Draga.
"Apa aku cocok jadi kakak mu? padahal tadi kau bilang usiamu sudah hampir 30 tahun."
Gadis itu melotot ke arah Draga, dia tidak terima usianya menjadi 30 tahun.
"Aku sudah sopan terhadap mu karena kau sudah menolongku, tapi asal kau tahu masalah usia itu sangat sensitif."
Draga masih fokus menyetir dan tidak menghiraukan Dhan, sampai mereka tiba di lobby hotel.
"Namaku Draga, semoga kita tidak bertemu lagi, karena aku khawatir entah apa lagi yang akan kau tumpahkan kepada ku."
Setelah mengucapkan kata-kata yang mengesalkan itu Draga menginjak gasnya dan pergi meninggalkan Dhan yang berdiri kaku di lobby hotel.
"Dasar Pria aneh."
Dhandeli pun masuk kedalam hotel dengan masih mengenakan jaket dan kacamata hitam.
"Nona."
Seorang Pria tampan dan gagah menghampirinya dan mengikuti Dhandeli ke kamar hotel.
"Aku sudah bilang tidak akan kabur jauh dan meninggalkan kota ini, kenapa kalian masih saja membuat ku tidak nyaman? membuat orang emosi saja."
Pria tampan dan gagah itu adalah Arthem, pengawal Dhandeli.
"Tapi orang-orang yang mengejar mu hari ini bukan anak buah ku."
Wajah Arthem begitu serius menatap Dhandeli.
"Apa? jadi orang-orang tadi mengejar ku benar-benar ingin mencelakai ku? Wah aku bisa gila"
__ADS_1
Dhandeli duduk di sofa sambil menyandarkan tubuhnya.
"Nona kau terluka?"
Arthem melihat kaki Dhandeli yang dipenuhi plester luka.
"Arthem, kita tidak berada di rumah, jadi tolong jangan terlalu formal, aku juga teman mu kan? atau kau mau aku panggil kak.."
"Baiklah, as you wish... lalu jaket dan topi itu milik siapa?"
Dhandeli tersenyum dan menyesap cokelat hangatnya sebelum menjawab pertanyaan Arthem.
"Punya seorang pria dingin dan menyebalkan namun baik hati."
Arthem menggelengkan kepalanya bingung dan tak bisa mendeskripsikan orang yang Nonanya itu maksud.
"Oh ya Art, apa ayah sudah mengirimkan email balasan tentang permintaan ku bekerja di perusahaan Engineering itu? karena aku sudah ada panggilan wawancara dan aku diterima."
"Emm, sepertinya sudah..."
Arthem sedikit berakting seolah-olah sedang ragu dan berfikir, membuat suasana jadi tegang dan Dhandeli dibuatnya sangat penasaran.
"Ayolah, jangan mempermainkan ku, aku sangat ingin hidup mandiri, dan ingin tahu rasanya bekerja dan juga tanpa ada orang tau status ku."
"Ayah mu setuju, dia tidak melarang mu hanya saja aku harus terus mengawasi mu agar kejadian hari ini tak terulang."
"Yeay!!! ini bagus! dari pada didalam sangkar."
"Lalu Minggu depan kau akan berpenampilan seperti apa? jika kau berpenampilan begini sekali lihat orang sudah tau kau anak konglomerat se-Asia."
"Aku akan bergaya tomboy, bagaimana menurut mu Art?"
"Bagus juga, agar tidak mudah ditindas."
Arthem setuju dengan rencana Dhandeli dan mendukung sepenuhnya.
"Jadi mari kita rayakan di terimanya aku bekerja di perusahaan baru."
Dhandeli dan Arthem pun merayakannya dengan membeli banyak makanan dan minuman.
***
Draga tiba dirumahnya, memarkirkan mobilnya di halaman rumah dan masuk dengan tergesa-gesa. Saat membuka pintu rumah pertama kali yang dia tuju adalah kamar mandi, dengan tidak sabar dia membuka kemeja dan semua pakaiannya kemudian membersihkan diri dibawah shower .
Draga mandi cukup lama, setelah mandi dia membungkus pakaiannya dan membuangnya ke tong sampah depan rumah.
Saat semua sudah selesai Draga merebahkan tubuhnya di ranjang, padahal waktu baru menunjukkan pukul 8.35 tapi entah kenapa dia merasa sangat lelah. Saat hendak memejamkan mata, bel rumahnya berbunyi membuatnya menghela nafas panjang beranjak dari ranjangnya menuju pintu rumahnya.
"Ada apa?"
Draga bertanya dengan nada yang malas.
__ADS_1
"Ada masalah."
Wanita itu menjawab santai sambil menerobos masuk kedalam rumah Draga.
"Yara, jika kau masih tidak bisa move on dari mantan mu itu, sebaiknya kau cari yang lain."
Gadis itu adalah Yara Sein kakak sepupunya yang masih belum bisa melepaskan kekasihnya yang memilih pekerjaannya dibandingkan dia.
"Kau tahu, aku hendak melakukan banyak hal dengan beberapa pria dewasa untuk melampiaskan amarahku tapi aku tidak bisa."
"Apa maksudmu?"
Draga mengambilkan air mineral untuk Yara dan duduk di kursi tunggal sambil memandang miris kakak sepupunya itu.
"Kau tahu aku masih perawan sampai saat ini, aku sulit bergaul bebas dengan pria-pria tampan di luar sana."
Seketika Draga menyemburkan air mineral yang baru saja masuk ke tenggorokan nya.
"Ada apa dengan hari ini? kenapa para wanita menyatakan keperawanan pada ku? apa aku ini seperti orang mesum?"
Yara bangun dari sikap malasnya dan menatap Draga serius.
"Apa?! apa aku tidak salah dengar? ada wanita yang mendekati mu? Wah sebaiknya kau tampar aku."
"Aku tidak sengaja menolongnya, jangan berfikir macam-macam."
Draga menjelaskan dengan datar.
"Sudah ku duga, kau tidak normal."
"Apa? Aku normal."
"Buktinya kau sama sekali tidak pernah berkencan, atau jangan-jangan kau... astaga aku harus menyimpan kekasih ku jika tidak ingin direbut oleh mu."
"Apa kau bilang?! kau pikir aku homo? kau gila!"
Yara hanya tertawa terbahak-bahak menanggapi kemarahan Draga dan hal itu membuat Draga jengah dan kemudian beranjak pergi meninggalkannya.
"Aku lelah, aku akan tidur, seperti biasa bersihkan kembali kamarnya kalau kau pulang besok, dan jangan lupa bilang pada Bibi Sein, aku tidak mau dia menceramahi ku."
"Siap adikku yang manis...."
Yara sebenarnya sangat dingin dan acuh terhadap semua orang terutama orang asing, orang yang tidak mengenal dekat dia akan mengira Yara adalah wanita sombong dan angkuh, namun dengan orang terdekatnya dia sangat humoris dan ceria, tidak seperti Draga, terhadap siapa pun dia tetap dingin dan menjaga jarak.
Di dalam kamar yang selalu dia tempati jika berkunjung di rumah Draga terdapat foto pria pujaan hatinya yang selama ini dia simpan di laci meja kamar itu.
Saat sedang dalam masalah Yara selalu pulang ketempat Draga hanya untuk menginap dan memandangi foto yang dia sembunyikan di laci kamar.
"Aku sangat merindukan mu dan juga membenci mu."
__ADS_1
💙💙💙