
Gerakan panik Yara membuat tidur Arthem terusik, suara tombol yang ditekan berkali-kali membuatnya terbangun dan membuka mata.
"Aku baik-baik saja, kenapa kau menekan tombol darurat sayang?" Arthem yang membuka mata langsung kebingungan dengan tingkah kekasihnya itu.
"Sam, dia jatuh pingsan di depan pintu." Yara menatap wajah Arthem dan menatapnya serius.
"Apa?" Arthem panik dan dia spontan mengambil handphone miliknya.
"Kau mau apa?" Yara kebingungan melihat Arthem yang panik luar biasa.
"Dhandeli, dia semoga baik-baik saja, aku harus memastikannya." Yara mengangguk ringan dia masih menghubungi perawat jaga.
Panggilan pertama, ditolak.
Panggilan kedua, ditolak.
Panggilan ketiga, Nomor yang dituju tidak aktif.
Arthem terlihat semakin tegang saat mengetahui situasinya saat ini.
"Ada apa?" Yara jadi semakin panik walau barusan dia sudah berusaha tenang.
"Kau ketempat Draga sekarang, coba lihat kondisinya langsung." Arthem langsung meminta Yara untuk melihat keadaan Draga di ruangannya.
"Yara." Panggilan Arthem membuat langkah Yara terhenti dan menoleh ke belakang untuk melihat apa yang akan Arthem instruksikan lagi.
"Apa kau bawa senjata?" Arthem menatap Yara dengan wajah yang sangat serius.
"Kau, sejak kapan kau tahu?" Yara tercekat mendengar pertanyaan Arthem yang sebenarnya tidak mungkin Arthem akan menanyakannya, kecuali Arthem mengetahui hal yang dia sembunyikan selama ini.
"Itu tidak penting, yang terpenting kau membawanya atau tidak?" Arthem seperti sudah sangat tidak sabar.
"Aku selalu membawanya." Dengan senyum jahat Yara menunjukkan dua buah pistol lengkap dengan peluru dan perendamnya.
"Bagus, hati-hati, aku akan mengurus Sam." Yara mengangguk dan bergegas pergi keruangan Draga yang jaraknya memakan waktu 10 menit jika berjalan.
Saat Yara pergi perawat dan dokter datang memeriksa Sam yang tergeletak di depan pintu. Saat Tubuh Sam hendak di bawa ke ruangan lain Arthem mencegahnya, Art meminta pada perawat dan dokter itu agar Sam di baringkan di ranjangnya saja karena Arthem sudah merasa lebih baik.
__ADS_1
Namun dokter itu menolak dengan alasan prosedur, dan akhirnya Sam dibaringkan di ranjang berbeda namun masih di ruangan yang sama.
Dokter itu kemudian memeriksa Samuel dan menyatakan bahwa dia telah di beri Morfin dengan dosis ganda, sehingga Sam tidak sadarkan diri.
Setelah Dokter memberikan cairan infus dan menjelaskan kondisi Sam, Dokter itu pun undur diri dari ruangan Arthem.
Saat suasana sepi, Arthem mencabut selang infusnya, mengganti pakaiannya dan mengenakan rompi anti peluru yang selalu ia pakai lalu mengambil tablet yang biasa dia bawa, menyambar kunci mobil Sam dan bergegas pergi sambil menghubungi semua anak buahnya.
***
Yara tiba di ruangan Draga dengan nafas tersengal dan masih dalam kekhawatiran besar lalu dengan keras dia membuka pintu kamar rawat Draga. Saat pintu terbuka, dokter dan suster sudah berdiri disisi ranjang Draga menoleh bersamaan ke arah pintu.
"Draga!" Yara menghampiri ranjang Draga setengah berlari. Kondisi Draga saat itu masih tidak sadarkan diri.
"Ada apa dengan dia dok?" Tanya Yara pada sang dokter. Kemudian sang dokter meminta Perawat membawa benda yang baru saja dia dapatkan di tubuh Draga. Benda itu berupa jarum suntik yang ditembakkan menggunakan alat serupa pistol.
"Ada yang menembakkan morfin pada tubuhnya dengan dosis ganda, jadi kemungkinan dia tidak akan sadar sampai esok hari." Jelas sang dokter kepada Yara.
"Untuk kejadian ini saya menyarankan agar..." ucapan sang dokter terpotong oleh tatapan dan kalimat Yara yang melarang mereka melaporkan kejadian ini pada pihak polisi.
Yara terduduk lemas dan frustasi karena merasa telah lengah dan gagal dalam melindungi Draga dan Dhandeli.
Ditengah lamunan penyesalannya, Yara kemudian teringat Arthem yang sudah iya tinggalkan sendiri dengan Sam. Dia pun mencoba menghubungi Art namun nomornya tidak dapat di hubungi, Yara langsung mengerti, Arthem pasti pergi menyelamatkan Dhandeli sendiri.
Kemudian Yara menghubungi Ayahnya dan menceritakan kejadian ini dengan detail dan rinci. Tuan Sein pun marah besar, dan bergegas menuju rumah sakit HeartCare dengan beberapa anak buahnya.
Beberapa menit kemudian Tuan Rhowan Sein pun tiba dan langsung memarahi Yara.
"Kenapa kau tidak melaporkannya langsung, mengapa kau lengah?" Tuan Rhowan Sein menghela nafas berkali-kali lalu duduk di sofa sambil terus berfikir.
"Untuk sesaat aku masih bisa menghandle masalah ini, namun kemudian muncul kasus penculikan Dhandeli, jadi aku harus mengabari ayah untuk menanyakan tindakan apa yang akan kita lakukan." Yara mencoba menjelaskan alasan ia tida langsung melaporkan kejadian Draga dan Dhandeli langsung.
"Kalau begini aku harus memberitahu Antonio Viel, jika tidak, bisa-bisa hubungan pertemanan kami akan renggang." Yara hanya terdiam, mendengarkan keputusan ayahnya.
Setelah beberapa menit mencoba menghubungi Tuan Viel akhirnya Tuan Sein mendapat jawaban dari sambungan telponnya.
"Rhowan, tidak biasanya kau sangat tidak sabar saat menghubungiku?" Jawab Tuan Antonio Viel.
__ADS_1
"Ini gawat, Putrimu di culik saat tengah bersama anakku." Rhowan tanpa basa-basi langsung memberitahukan insiden penculikan itu.
"Arthem tengah mengejar penculik itu, kau bisa tenang Rhowan." jawaban santai dari Antonio membuat Rhowan geram.
"Dia putrimu, tapi kenapa kau sesantai itu?" Akhirnya Tuan Sein pun mengutarakan pendapatnya tentang sikap Tuan Viel.
"Penculik itu, apa kau tahu yang sebenarnya?" Pertanyaan itu membuat Tuan Sein mengerutkan Dahi.
"Penculik itu ada hubungannya dengan anak lelakimu itu, dia tidak suka melihat putriku bersama dengan putra mu, jadi semua salah mu." Dengan santai Tuan Viel menyalahkan Tuan Sein atas kejadian penculikan putrinya itu.
"Aish, kau masih tidak berubah, anakku sedang terbaring tak sadarkan diri sekarang, jadi akan aku kirimkan anak buah ku yang lain untuk membantu Arthem." Berbicara dengan Antonio memang selalu bisa membuat Rhowan gemas, geram, kesal dan juga jengkel, namun memang karakternya sudah seperti itu sejak muda.
"Terserah kau." Antonio memutuskan sambungan telpon secara sepihak membuat Rhowan menarik nafas kasar berkali-kali.
"Kalau orang seperti ini menjadi besan, aku bisa stroke." Mendengar gerutu ayahnya, Yara pun tersenyum geli.
"Lalu apa yang akan kita lakukan ayah?" Yara bertanya mengenai tindakan apa yang akan dilakukan untuk menolong Dhandeli.
"Kau ingat Marry? wanita yang tergila-gila dengan Yunan?" Tuan Sein mencurigai kekasih Yunan yang seorang Model itu.
"Ah, aku ingat wanita yang dewasa sebelum waktunya itu bukan?" Yara sangat membenci Merry terutama gayanya dan etikanya yang nol besar. Usia Merry empat tahun lebih muda dari Yara, namun dia sama sekali tidak menghargai Yara, membuat Yara jengkel setengah mati.
"Lacak keberadaannya, dia pasti mendengar isu bahwa Dhandeli dijodohkan dengan Yunan sehingga dia berbuat nekad." Perintah Tuan Sein dengan yakin.
"Apa bisa sampai seperti itu? wanita itu nekad menculik wanita yang merebut kekasihnya?" Yara masih ragu.
"Aish, kau tidak akan mengerti tentang tipe wanita nakal seperti Merry, dan lebih baik jangan mengerti." Kalimat itu di tanggapi Yara dengan tatapan tajam dan menelisik ke arah Tuan Sein.
"Apa?" Tuan Sein menjadi sedikit gugup.
"Apa ayah pernah bermain dengan wanita nakal?" Celetukan Yara membuat Tuan Sein ternganga dan salah tingkah.
"Tidak, itu tidak mungkin terjadi, Aku sangat mencintai ibu mu, mana mungkin aku bermain-main di luar." Tuan Sein menyanggah dengan sangat meyakinkan.
"Itu harus, karena jika benar, maka ayah dalam masalah besar." Yara kemudian pergi meninggalkan ayahnya yang masih terdiam membeku mendengar ancaman dari putri tercintanya.
Like dan komentar dari kalian sangat aku tunggu, thank you
__ADS_1