
"Memang ada Badak yang setampan aku? kau sungguh keterlaluan." Arthem merajuk, namun Dhandeli hanya memajukan bibirnya.
"Sudah jangan bertengkar, kepala ku jadi sakit." Yara sengaja berakting sakit kepala sambil memijit pangkal hidungnya.
"Gadis ini..." Nyonya Sein memperhatikan dengan seksama wajah Dhandeli, melangkah mendekat agar wajah Dhan bisa ia lihat lebih jelas.
"Nyonya... bukankah nyonya teman ibuku? Ibuku Nathalia Viel." Dhandeli mengingat wajah Nyonya Sein di saat mereka mendekat satu sama lain.
"Jadi kau Dhandeli Viel?" Nyonya Sein akhirnya mengingat wanita di depannya itu.
"Iya, betul nyonya, apa kabar?" Sapa Dhandeli dengan ramah, ekspresi kekanak-kanakannya menghilang seketika saat berhadapan dengan Nyonya Sein.
"Aku baik-baik saja, kau sendiri?" Nyonya Sein mencium pipi Dhandeli dengan akrab.
"Aku juga, baik dan ceria tentunya." Dengan gaya yang di buat seimut mungkin Dhandeli mencoba mencairkan suasana.
"Maafkan atas kelakuan Yunan putraku Dhan, dia memang sangat arogan." Nyonya Sein langsung membahas hal yang selama ini membuat hatinya merasa bersalah.
"Ah, masalah perjodohan waktu itu rupanya, tidak apa-apa, kami tidak saling dirugikan Nyonya, tidak melanjutkan perjodohan adalah kesepakatan kami."Jelas Dhan dengan nada yang penuh perhatian.
"Ah syukurlah, aku khawatir jika Yunan menyinggung mu atau yang lebih buruk." Nyonya Sein sungguh lega saat melihat ekspresi Dhandeli.
"Tidak, sungguh benar-benar tidak ada, nyonya bisa tanyakan itu pada Arthem." Dhandeli mengerlingkan matanya ke arah Arthem membuat Arthem menghela nafas panjang.
"Memangnya apa hubungan mu dengan Arthem?" Nyonya Sein memberikan tatapan curiga.
"Dia kakak angkat sekaligus bodyguard kesayangan keluarga Viel." Dengan bangga Dhandeli menerangkan kedudukan Arthem.
"Wah beruntung sekali Nathalia memiliki anak angkat yang baik dan juga tampan." Nyonya Sein pun tersenyum sedikit masam saat memandang Arthem.
"Kita sepertinya sudah harus pulang, aku ada pekerjaan sebentar lagi." Tuan Sein menyela obrolan antara Dhan dan istrinya, karena dia telah melihat raut wajah kecewa sang istri saat membahas masalah Yunan.
"Baiklah, kalian jaga Arthem baik-baik dan tetap, jangan sampai lupa istirahat, ingat itu." Nyonya dan Tuan Sein langsung keluar dari kamar inap Arthem, meninggalkan dua wanita dan satu pria yang sedang sakit.
"Kak Yara, Apa Ibu mu tidak tahu kalau Draga juga sedang di rawat disini? aku lihat dia sama sekali tidak menyinggung keponakannya itu." Dhandeli baru teringat tentang Draga dan merasa aneh dengan sikap Nyonya Sein.
"Kami merahasiakannya dari Ibuku, dia tidak boleh tahu, karena dia pasti akan syok berat dan cemas berlebihan." Terang Yara.
"Art, apa kau lapar?" Tanya Dhandeli dengan wajah yang bahagia.
__ADS_1
"Aku lapar, tapi melihat kebahagiaan mu aku jadi kenyang." Arthem merajuk.
"Aku hanya terlalu antusias, kau tidak pernah mau ke rumah sakit separah apapun luka yang kau derita, tapi sekarang aku lihat kau terbaring di ranjang pasien, ini kejadian langka kau tahu?" Arthem mulai jengah dengan ocehan Nonanya itu.
"Sam sebentar lagi sepertinya sampai, aku sudah memesan beberapa jenis makanan untuk kita semua." Dhandeli duduk di sofa tunggu yang ada di ruang rawat itu.
"Kau tidak menemui Draga?" Yara ikut duduk di samping Dhandeli.
"Belum, aku sedang menunggu Samuel, setelah dia datang baru aku ke ruangan Draga."
Beberapa menit kemudian Sam tiba di ruang rawat Arthem. Saat dia masuk tiga pasang mata menatapnya dingin dan penuh curiga.
"Ada apa dengan kalian? kenapa menatapku begitu?" Sam sampai merinding ngeri melihat tatapan tiga orang itu.
"Kenapa lama sekali? Draga sedang menunggu ku Sam." Dhandeli mengeluarkan keluhannya.
"Memang kau tersasar saat pergi keruangan ku? atau kau tersangkut seseorang di jalan?" Arthem menyindir Sam dengan telak.
"Ya seperti itulah kira-kira." Sam menjawab dengan santai dan tanpa dosa.
"Astaga, kau menyebalkan sekali." Dhandeli memukul Sam dengan tasnya karena kesal sudah menahan lapar sejak satu jam yang lalu.
Dhandeli pun langsung merampas jinjingan yang berisi makanan untuk Draga dan membawanya pergi ke ruang rawatnya, dengan tanpa pamit.
"Dia marah?" Tanya Yara.
"Sam memang sering membuatnya kesal." Ungkap Arthem.
"Ya! bukan aku saja, tapi kau juga." Sam protes sambil membuka kotak berisi makanan.
"Ya, kami yang lapar kenapa kau yang makan lebih dulu." Arthem protes pada Sam yang sudah duduk manis sambil melahap makanannya.
"Kau kan ada kekasih, minta dia menyuapi mu, lagi pula itu semua makanan untuk mu, kenapa aku juga yang harus mengurus mu juga bos?" Sam menunjuk paper bag yang ada di meja sisi ranjang Arthem.
"Kau," Arthem hendak melempar bantal ke arah Sam namun di cegah oleh Yara.
" Sudahlah, mari kita makan, aku suapi." Yara membuka kotak makanan satu per satu dan menunjukkan apa yang mau kekasihnya itu makan.
***
__ADS_1
Di ruangan rawat Draga, Dhandeli masih berdiri melihat Draga yang sedang serius membaca buku di ranjangnya.
"Emm, itu... Berapa lama waktu yang kau habiskan untuk membaca buku?" Dhan dengan sedikit gugup mencoba memastikan berapa lama lagi waktu yang dibutuhkan Draga untuk membaca, karena dia khawatir makanan yang dia bawa akan dingin.
"Kenapa kau masih berdiri di sana? duduklah." Draga hanya menoleh ke arah Dhandeli sesaat kemudian membaca buku kembali.
Dhandeli pun mengikuti arahan Draga untuk duduk di sofa yang tak jauh dari ranjangnya.
"Begini, aku membawa makanan untuk kita, dan restoran tempat aku memesan makanan ini pun sudah ku sesuaikan dengan OCD mu, apa kau mau mencobanya?" Dhandeli sedikit ragu namun tak urung dia menawarkan makanan yang telah dia pesan.
"Oh, baiklah, mari kita makan." Draga dengan santai meletakkan buku dan kacamatanya di sisi ranjang dan beralih ke Dhandeli.
"Kau serius? " Dhandeli sedikit bersemangat dan saat Draga mengangguk sambil tersenyum dia memberikan kotak makanan yang sudah dia pesan di restoran khusus dengan senyum mengembang.
"Nah, ini dia... apa kau bisa memakannya?" Dhandeli kembali memastikan bahwa Draga tidak membenci apa yang dia bawa.
"Dhan, perlu kau ketahui, OCD ku sudah tak separah itu, kau bisa tenang." Draga mengambil sanitizer untuk tangannya baru kemudian mengambil makanan yang sudah Dhan sediakan.
"Tapi kau masih menggunakan hand sanitizer." Dhandeli bergumam disela makannya.
"Ya, Sebelum makan kita wajib cuci tangan, jika jauh dari air, maka hand sanitizer solusi yang tepat." Draga menghela nafas dan kembali fokus pada makanan di depannya.
Suasana makan berlangsung sepi, karena mereka tahu, tidak sopan berbicara saat makan.
Setelah mereka selesai makan Dhan merapikan kotak makanan Draga dan juga miliknya, membungkusnya dalam kantong dan langsung membuangnya ke luar ruangan. Saat itulah Draga baru memperhatikan pakaian yang dikenakan oleh Dhandeli, dengan kain yang hanya menutup sampai dada dan belahan samping roknya yang sebatas paha, membuat wajah Draga seketika memerah tanpa Dhandeli tahu.
Saat Dhandeli kembali, ia langsung menuangkan air mineral dan memberikannya pada Draga lalu dia duduk di kursi yang ditarik mendekat ke sisi ranjang Draga.
"Kau, baju apa yang kau pakai?" Draga dengan canggung menanyakan penampilan Dhan.
"Oh ini, Yara bertukar pakaian dengan ku waktu di kantor dan dia..."
"Apa? jadi kau mengenakan pakaian seperti ini saat masih di kantor hingga sekarang?" Draga dengan nada sedikit meninggi memotong kalimat yang hendak Dhandeli utarakan.
"Bukan begitu, aku juga tidak ingin menggunakan pakaian ini, tapi karena pakaian ini aku selamat." Dhandeli akhirnya mengungkap apa yang terjadi.
Love, Like and comment please...
thanks...
__ADS_1