
Dhandeli sudah berada di ruang rawat dengan perban di kepala dan lengannya. Tuan dan Nyonya Viel setia menunggu anaknya siuman pasca operasi.
"Bu dokter? Kira-kira kapan anak ku akan sadar?" Celetuk Tuan Viel membuat Nyonya Viel yang sedang duduk di kursi dekat ranjang pasien sambil menggenggam erat tangan putrinya itu menatap tajam sang suami.
"Dia juga anakku, kau ini masih saja tidak berubah, di situasi seperti ini masih bisa bergurau, anda luar biasa " Nyonya Viel menjawab dengan ketus candaan suaminya itu, namun Tuan Viel hanya bisa tersenyum masam.
"Berisik sekali..." Suara itu datang dari Dhandeli yang sedang memijit kepalanya.
"Akhirnya kau sadar juga nak..." Nyonya Viel tersenyum lega melihat sang putri sudah membuka mata.
"kalian berisik, pasien mana yang tidak akan sadar lebih cepat, jika ruangannya di tunggu oleh orang yang beradu mulut." Dhandeli kesal, dengan nada yang masih lemah dia menggerutu ke ayah dan ibunya.
"Baru saja sadar sudah marah-marah, anak dan ibu sama saja." Tuan Viel yang sekarang menggerutu.
"Aku baik-baik saja, Ayah dan ibu tidak perlu khawatir." Dhandeli tersenyum mencoba menenangkan orang tuanya.
"Syukurlah kalau begitu, kasihan Arthem dia sangat merasa bersalah karena kejadian ini." Sang ayah menghembuskan nafas panjang sambil melihat keluar jendela.
"Kenapa Arthem merasa bersalah? dia kan memang sedang terluka dan butuh perawatan." Dhandeli mengerutkan keningnya heran.
"Dia masih belum makan sampai siang menjelang sore ini, ibu lelah membujuknya, hingga rasanya ingin menumpahkan sepiring nasi dan lauk pauk ke wajahnya." Nyonya Viel terbawa emosi saat mengingat betapa kerasnya dia meminta Arthem untuk mengisi perut namun tetap saja dia menolak.
"Ayah, bisa tolong biarkan Arthem masuk, aku ingin bertemu." Permintaan Dhandeli langsung di iyakan oleh sang ayah yang langsung pergi keluar.
Beberapa saat kemudian Arthem masuk sendirian tanpa Tuan Viel.
"Tuan berpesan kalau beliau kembali kekantor Nyonya." Arthem tanpa menyapa langsung menyampaikan pesan dari Tuan Viel.
"Kau kenapa Arth?" Dhandeli menatap Arthem dengan tatapan menelisik.
"Maafkan aku Nona, aku lalai dan semua ini karena kesalahanku." Arthem membungkukkan tubuhnya seraya memohon maaf kepada Dhandeli.
"Arthem, Ibu sudah bilang kalau kau sudah seperti, oh salah... bahkan sudah menjadi anak ku, tolong bersikaplah seperti keluarga." Nyonya Viel menghela nafas kasar.
__ADS_1
"Tapi memang aku sama sekali bukan..."
Kalimat Arthem terpotong oleh lemparan bantal, handphone, selimut bahkan botol air mineral.
"Apa aku terlalu buruk jika jadi adik mu?! Jahat!" Dhandeli mengamuk hingga jarum infus melukainya karena pergerakan yang tidak seharusnya.
"Tenangkan dirimu! kau berdarah!" Arthem yang pertama kali melihat darah segar mengalir dari tangan Dhandeli yang tertanam jarum infus, panik dan menahan kedua tangan Dhandeli dengan sigap.
"Astaga!" Nyonya Viel langsung melakukan tindakan dengan mencopot dan memindahkan jarum infus ke tangan kanannya.
***
Setelah beberapa saat lalu Arthem pamit untuk menjenguk Dhandeli, Yara dan Draga mendiskusikan tentang pengagum rahasia yang dikatakan oleh Arthem. Walah dengan niat bergurau namun hal itu membayangi pikiran Draga.
"Kau dulu pernah menolak seorang wanita, apa kau ingat?" Yara masih mencoba mengingat ingat masa lalu Draga.
"Menolak wanita yang mana?" Draga ikut berfikir keras.
"Seorang wanita berpenampilan glamor dan menor, kau ingat? siapa namanya?" Yara menatap lurus ke wajah Draga.
"Baiklah, aku menyerah, kau memang mantan pasien amnesia jadi aku tidak akan berdebat dengan mu, Julia Winter apa kau ingat?" Yara memberikan satu nama yang paling dia curigai, namun Draga masih diam membisu dengan pandangan kosong.
"Ah... ya, wanita sosialita yang selalu mengganggap aku sebagai tunangannya, dan aku menolaknya mentah-mentah, ditengah kerumunan geng sosialitanya, Wajah yang begitu menjijikkan mana mungkin aku akan mengingatnya." Raut wajah yang menggelap dengan nada bicara dingin yang Draga tampilkan membuat Yara bergidik ngeri.
"Bukannya dia sangat cantik, seksi, dan perfect sebagai seorang wanita, bagian mana yang menjijikkan?" Yara akhirnya ingat sepenuhnya tentang Julia dan merasa heran dengan respon dari Draga.
"Saat pertemuan kedua, dia memberikan aku minuman yang sudah diberi afrodisiak, dia memapah ku kekamarnya, beruntung aku bisa mengendalikan diri dan kabur dengan taksi." Draga menceritakan trik menjijikkan yang digunakan oleh Julia.
Afrodisiak didefinisikan sebagai makanan atau obat yang membangkitkan naluri seksual, menimbulkan hasrat atau meningkatkan kinerja seksual.
"Saat itu kenapa kau tidak menelpon ku?" Yara sama sekali tidak tahu masalah yang satu itu.
"Ya! aku Lelaki yang sedang dalam pengaruh obat perangsang, jika aku berada di dekat wanita entah siapapun itu, takutnya aku melakukan kesalahan besar, Wanita macam apa kau ini." Draga meninggikan suaranya kesal menghadapi sikap Yara yang kadang polos.
__ADS_1
"Baiklah, aku mengerti maksudmu, lalu bagaimana kau menetralkan pengaruh obat itu?" Yara penasaran kelanjutan dari cerita Draga.
"Hanya bisa mandi air dingin, dan minum air mineral sebanyak yang aku bisa, hingga aku jatuh tertidur dan bangun dengan tubuh yang sangat tidak nyaman dan juga kepala yang berdenyut nyeri." Jelas Draga tanpa menatap ke arah Yara.
Dan... Yara tertawa terpingkal-pingkal mendengar cerita menyedihkan seorang pria tampan yang pernah di jebak oleh salah satu fans wanita agar bisa tidur dengannya.
"Aku sungguh tak menyangka ternyata ada juga wanita yang bernafsu padamu, hahahaha." Yara kembali tertawa terbahak-bahak.
"Yara! diam!" Draga membentak Yara dengan tatapan dingin.
"Baik Tuan perfeksionis, aku akan diam." Yara menahan tawa sambil memegang perutnya.
"Sekarang, urus izin pulang ku ke bagian administrasi, aku sudah tidak betah berlama-lama di rumah sakit." Draga memerintah Yara dengan nada ketus nan menyebalkan.
"Baiklah Yang Mulia." Yara kembali menggoda Draga dan tertawa sambil meninggalkan ruangan.
Selama 30 menit Yara mengurus administrasi untuk kepulangan Draga, dan di ruangan rawat suster juga sudah melepaskan selang infus yang tertanam di salah satu tangan Draga.
Setelah semua beres Yara bergegas menuju tempat Draga untuk membantunya berkemas. Tapi sesampainya di ruangan Draga sudah mengganti pakaian pasiennya dan merapikan semua barang-barangnya sendiri.
"Wah... anak pintar..." Yara menggoda Draga lalu merangkul lengannya, menghela Draga keluar dan menyusuri lorong rumah sakit.
"Kau ingin menjenguk Dhandeli?" Tanya Yara dengan nada santai.
"Dhandeli?" Draga mengernyitkan dahi.
"Iya, dia baru saja selesai operasi dan sekarang sudah bisa di jenguk." Jelas Yara.
"Kau bilang Dhandeli selamat dan baik-baik saja, sebenarnya apa yang terjadi?" Draga menatap tajam Yara penuh dengan luapan emosi.
"Saat melakukan pencarian, Arthem panik sehingga mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi dan saat di persimpangan tanpa sengaja bersinggungan dengan sebuah mobil, dan ternyata didalamnya adalah Dhandeli, beruntung pengendalian diri Arthem baik jadi kecelakaan itu tidak fatal." Akhirnya Yara menjelaskan kejadian sebenarnya pada Draga walau dia masih merasa khawatir Draga akan mengamuk pada Arthem.
"Pria Bodoh!"
__ADS_1
Maaf ya guys, author lama update nya, author sedang tidak sehat... dan semoga tidak mempengaruhi karya ini di setiap bab nya.
happy reading gengs 💙👍🏻