
Arthem tampak menarik nafas dalam-dalam, dan mencoba tetap tenang. Dia tahu Yara paling tidak suka di foto, apalagi fotonya menjadi pajangan.
"Maafkan aku, tapi tak ada lagi yang bisa kulakukan untuk mengobati rasa rinduku padamu, hanya dengan diam-diam memotret mu dan memajangnya di setiap sudut ruangan." Arthem pun mendekati Yara dan menyentuh wajahnya.
"Wah... kalian sungguh sangat romantis." Dhandeli terpana melihat pemandangan pasangan romantis di hadapan.
"Itu bukan kah bisa di bilang menguntit, mengikuti orang diam-diam dan memotretnya." suasana romantis seketika sirna karena ulah Draga.
"Ya! mereka kan saling mencintai, apa salahnya?" Dhandeli terlihat tak setuju dengan pendapat Draga.
"Ya, Kau tahu? pada saat itu pengawal mu itu sudah memutuskan hubungan dengannya, jadi itu jelas tindakan menguntit." Draga tetap pada pendapatnya.
"Tapi mereka masih saling mencintai, jadi itu bukan termasuk tindakan kriminal." Dhan semakin kesal dan menghampiri Draga yang sedang bersandar di ranjang pasien.
"Itu lah bodohnya mereka, tindakan egois dan kekanak-kanakan, membuat ku sakit kepala setiap hari." Draga mencibir.
"Kau..." Arthem hendak bangkit dan menghampiri Draga, namun ditahan oleh Yara.
"Dhan, bisakah kau menjaga brandal itu sebentar? aku dan Arthem ingin membeli kopi." Yara menyeret Arthem ketika Dhandeli menganggukkan kepalanya.
"Pasangan konyol." Draga masih menggerutu kesal.
"Kadang cinta memang bisa diluar nalar, kau akan sulit memahaminya jika belum mengalaminya." Dhandeli mengambil segelas air dan memberikannya pada Draga.
"Kau seperti play girl?" Draga mencibir Dhan.
"Astaga, aku hanya terlalu banyak membaca novel romantis, aku bukan player, berciuman saja belum pernah, malang sekali nasib ku." Seketika Draga tersedak dan kesakitan karena luka jahitannya yang sedikit tersentak saat Draga batuk.
"Kau baik-baik saja? apa perlu ku panggil dokter?" Dhan hendak berlari keluar memanggil dokter namun di tahan oleh Draga.
"Tidak perlu, aku baik-baik saja." Draga memberikan gelas yang sudah kosong kepada Dhandeli.
Tuk!
Bunyi jentikkan jari yang menghantam kening terdengar cukup keras membuat pemilik kening itu mengaduh.
"Ah! apa yang kau lakukan, ini sakit..." Dhandeli mengusap keningnya untuk menghilangkan rasa sakitnya.
__ADS_1
"Lain kali jika kau ingin bicara, perhatikan kalimat mu, jangan terlalu terbuka." Draga memberitahukan bahwa Dhan terlalu terbuka akan privasinya hingga bisa membuat orang lain salah paham.
"Baiklah maafkan aku, sebenarnya itu adalah hal yang terpendam dalam lubuk hatiku, jadi spontan saja aku keluarkan." Dhan sedikit merendahkan suaranya karena merasa bersalah membuat Draga tersenyum menatapnya.
Namun suara langkah kaki dari arah pintu mengalihkan perhatian mereka, membuat Draga dan Dhandeli menoleh untuk melihat siapa yang datang.
Saat melihat yang masuk adalah seorang pria tampan dengan kemeja dan jasnya, mengedarkan pandangannya tanpa menyapa, membuat Dhandeli sedikit geram dan hendak melakukan protes.
"Ah, maaf aku kira Yara ada bersama kalian?" Yunan dengan santai duduk di sofa tamu sambil tersenyum menyebalkan.
"Yara pergi membeli kopi, mungkin sebentar lagi akan kembali."
Draga dengan acuh memberikan informasi tentang Yara sambil membaca pesan singkat di handphonenya.
"Aku tidak suka menunggu, lagi pula aku juga ingin menjenguk adikku." Yunan tersenyum manis ke arah Draga.
"Apa? Adik?" Dhandeli begitu terkejut dengan informasi yang baru saja dia terima.
"Oh, kau? gadis yang waktu itu?" Yunan berusaha mengingat-ingat siapa gadis yang ada di hadapannya.
"Ah! aku ingat, kau adalah gadis yang ku tolak waktu kencan buta itu, benar?" Wajah Dhandeli saat itu merah padam, malu dan kesal menjadi satu karena nada yang Yunan gunakan sangat menyinggungnya.
"Ralat, kita sama-sama menolak dengan perjodohan itu, dan kau juga bilang padaku kalau alasan yang aku gunakan untuk menolak perjodohan itu sangat konyol." Dhandeli berbicara dengan nada datar dan dingin, membuat suasana tegang menguar begitu saja.
"Ah... kau rupanya menyimpan dendam padaku, maafkan aku, aku memang selalu berkata hal yang ada di kepala ku." Yunan berbicara dengan sangat santai sehingga membuat Draga dan Dhandeli muak.
"Oh aku sampai lupa pada adikku, maaf kan aku mengabaikan mu, apa kau sudah baik-baik saja?"
Yunan memasang wajah khawatir yang palsu membuat Draga mengerutkan dahi.
"Aku sudah lebih baik." Draga menjawab dingin.
"Sepertinya sekarang kau harus berhati-hati lagi jangan sampai mendekati hal yang berbahaya dan membahayakan orang lain." Yunan bangkit dari duduknya dan menatap Draga dan Dhandeli bergantian.
"Apa maksud mu? kau seperti sedang mengharapkan hal buruk terjadi." Dhandeli menatap lurus ke arah Yunan.
"Mana mungkin aku mendoakan hal buruk kepada adikku." Yunan tersenyum sinis dan berlalu pergi meninggalkan ruangan rawat Draga.
__ADS_1
"Apa kau yakin dia kakak mu?" Dhandeli emosi menghadapi tingkah Yunan.
"Dia bukan kakakku, tapi kakak angkat Yara." Draga menjawab dengan santai, namun tanggapan Dhandeli begitu heboh.
"Apa?! itu akan menjadi masalah besar, Arthem harus tahu ini, harus." Dhandeli meraih Handphone nya hendak menghubungi Arthem, namun di cegah oleh Draga.
"Ya, kau mau mengganggu mereka berkencan? Apa kau mau di cap sebagai perusak suasana?" Draga merebut handphone Dhan dan mengingatkannya tentang apa yang sedang pasangan itu lakukan serta apa hubungan Arthem dan Yara.
"Ah, iya, Sepasang kekasih pasti sedang bermesraan." Dhan Deli terduduk dengan wajah polos yang sedang cemberut, sedangkan Draga hanya bisa menggelengkan kepalanya bingung dengan sikap gadis didepannya itu.
***
Di sebuah coffee shop dekat dengan rumah sakit, Arthem dan Yara tengah menikmati kue dan kopi yang mereka pesan. Sepertinya suasana canggung masih belum memudar dari mereka.
"Maafkan Draga, dia memang pria ketus dan sedikit arogan tapi sebenarnya dia baik." Yara meminta maaf dan maklum atas sikap Draga yang mungkin menyinggung Arthem.
"Aku tahu, lagi pula Dhandeli tidak mungkin menyukai sembarangan orang, dan dia juga bukan tipe wanita yang menyukai ketampanan." Arthem tersenyum lembut ke arah Yara, membuat hati Yara sedikit tenang.
"Untuk masalah foto ku, bisakah kau..." Yara sedikit ragu mengenai keinginannya untuk membuat Arthem membuang fotonya.
"Tidak, Foto itu akan tetap ada di tempatnya, di kamarku." Raut wajah Arthem berubah dingin dan kaku saat Yara membahas foto.
"Kau, aku tidak suka." Yara masih bersikeras.
"Lagi pula, memang kau melihatnya? memang kau pernah ke rumahku?" Pertanyaan Arthem membuat Yara gugup dan menjadi salah tingkah.
"A-aku, belum pernah, lagi pula apa kau mengajak ku?" Yara sedikit bis menguasai emosinya.
"Memang sebagai wanita yang paling ku kasihi, kau tidak merasakan apapun? asal kau meminta padaku, apapun itu pasti akan kulakukan Yara." Kalimat yang Arthem lontarkan sukses membuat hati Yara menghangat dan luluh seketika, menerbitkan senyum manis di bibirnya.
"Kau, apa benar sangat mencintaiku?" Yara menatap Arthem dengan intens membuat lelaki itu balas menatapnya tajam.
"Entah hal apa yang bisa membuatmu percaya bahwa aku mencintaimu dengan sepenuh hati, suatu saat akan ku buktikan itu, dan untuk membuktikannya kita harus tetap hidup."
Arthem menggenggam lembut tangan Yara dan menatapnya dengan penuh tekad.
💙👍🏻💙👍🏻💙👍🏻💙👍🏻💙👍🏻💙👍🏻💙👍🏻💙
__ADS_1