Standard Effect

Standard Effect
Berhasil Lolos


__ADS_3

Arthem tengah mengikuti arah GPS yang ada pada tabletnya, dia menginjak gas mobil sport Ferrari Stradale miliknya agar kecepatannya meningkat.



Lewat jalur komunikasi yang sudah di buat paralel agar mereka terhubung Arthem mengerahkan timnya agar berpencar ke beberapa titik yang mendekati arah GPS Dhandeli bergerak.


"Jika kalian sudah pada posisi, maka pertahankan jarak dan awasi terus, jangan lengah." Arthem hendak mematikan sambungannya setelah memberikan perintah mutlak itu namun ada satu kontak yang masih menyala.


"Kalau aku harus ke arah mana bos?" Suara seorang wanita yang sangat dia kenal terdengar dari sambungan komunikasi paralel tersebut membuat Arthem terdiam sesaat.


"Kau, ikut denganku." Dengan seringai yang tidak dapat diartikan Arthem membiarkan Yara mengikutinya.


"Dasar tukang perintah." Yara melajukan mobilnya sama cepat dengan Arthem dan kebetulan di pagi buta itu jalanan sangat amat sepi.


***


Mobil BMW hitam legam berhenti di sebuah rumah mungil. Seorang Pria keluar dengan mengetatkan jaketnya membuka pintu penumpang dan membopong seorang gadis, sedangkan pria satunya membuka pintu rumah mungil itu dengan tetap waspada.


"Kita letakkan di ranjang itu saja, karena Bos berpesan wanita ini tidak boleh terluka dan kurang suatu apapun." Jelas salah satu pria itu dan di balas dengan anggukan oleh rekannya.


Setelah meletakkan tubuh Dhandeli dengan masih mengikat kedua tangan dan kakinya kedua pria itu pun pergi keluar dan mengunci pintu kamar yang hanya berukuran 2x3 meter.


Setelah mereka berdua pergi untuk berjaga di luar, Dhandeli membuka matanya dan melihat sekeliling ruangan. Di dalam ruangan itu hanya ada satu kursi, satu meja kecil dan ranjang single yang sekarang ia tempati.


Dhandeli melihat ke atas plafond, namun tak ada celah sedikitpun. Tapi, di pojok atas tembok terdapat exhaust fan berukuran 20 inci. Dhan merenung bagaimana caranya dia bisa kabur dari tempat itu, sedangkan tidak celah sedikitpun untuk dia menyelinap.


Pintu tiba-tiba terbuka, seorang pria masuk membawa nampan berisi makanan masuk dengan wajah galaknya.

__ADS_1


"Makanlah!" Sang penculik itu meletakkan nampan penuh makanan itu di atas meja kecil.


"Kalian, apa yang kalian inginkan?" Dhan bertanya dengan nada gemetar.


"Untuk apa kau ingin tahu?" Jawab sang penculik dengan raut wajah mengintimidasi.


"Jika kalian ingin uang, kalian harus menelpon ayahku." Dhandeli berucap polos, karena sepengetahuan dia, jika para penjahat menculiknya, yang mereka inginkan adalah uang, itulah yang dia pahami selama ini.


"Sayangnya Bos kami punya banyak uang." Senyum sinis sangat jelas di wajah penculik itu, membuat Dhandeli bingung apa mau mereka sebenarnya.


"Kau hanya untuk umpan Nona." Penculik itu tersenyum dingin sambil menatap ke arah Dhandeli.


"Umpan? umpan apa maksudmu? Jelaskan padaku!" Dhandeli histeris membuat penculik itu mendekat dan mencengkeram lehernya.


"Jaga sikapmu jika ingin selamat, andai saja Bos kami tidak meminta agar kami tidak menyentuh mu, kau pasti sudah habis!" Tubuh Dhandeli terhuyung saat dihempaskan oleh penculik itu. Dhandeli terbatuk-batuk karena sebelumnya dia tercekik oleh cengkraman penculik itu.


"Sekarang makan! kau harus tetap hidup dan menyaksikan kakak kesayangan mu itu mati." Tawa penculik itu menggema dan menghilang di balik pintu yang kembali tertutup rapat.


"Ah! sungguh sial! dan pakaian ini, membuatku tidak leluasa bergerak, harus bagaimana sekarang..." Dhandeli yang berada ditengah kepanikan hanya memandang makanan yang ada di meja dengan bingung, bagaimana caranya dia makan dengan kondisi terikat seperti ini, akhirnya dia nekat memanggil penculik yang berjaga di luar.


"Hey! Orang yang diluar! Bagaimana aku bisa makan jika aku di ikat? Kalian niat memberi ku makan atau tidak?!" Suara Dhan begitu nyaring terdengar membuat kedua pria yang berjaga di luar itu terganggu, dan akhirnya membuka pintu untuk menghampiri Dhandeli.


"Suara mu berisik sekali." Dengan menggerutu pria itu membuka ikatan tangan kemudian ikatan di kaki Dhandeli.


Saat penculik itu tertunduk untuk melepaskan ikatan pada kakinya, Dhandeli meraih garpu makan dengan hati-hati, dan saat di rasa penculik itu selesai membuka ikatan di kakinya tanpa membuang waktu lagi, Dhandeli sekuat tenaga menancapkan garpu makan itu ke leher sang penculik itu membuat dia tersungkur sambil mengaduh dengan darah yang mengalir deras.


Dhandeli kemudian berlari keluar ruangan meninggalkan penculik yang sedang mengerang kesakitan sambil membawa nampan yang masih berisi makanan, karena dia yakin pria yang satunya akan menyergapnya di depan.

__ADS_1


Dan dugaan Dhan benar pria satunya tengah menghadang jalannya. Dengan gesit Dhandeli menghindar dari sergapan lelaki itu lalu menyerangnya dengan melemparkan mangkuk berisi sup panas tepat diwajahnya, lalu memukul pria itu dengan piring penuh makanan yang terbuat dari keramik cukup tebal sehingga kepala pria itu mengeluarkan darah, dia pun berlari keluar setelah melihat dan meraih kunci mobil yang tergeletak di atas meja.


Dengan tergesa-gesa Dhandeli masuk kedalam mobil itu, mulai menyalakan mesinnya dan menginjak gasnya agar bergegas meninggalkan rumah penyekapan itu.


***


Di sepanjang perjalanan Arthem terus memperhatikan GPS yang tadinya berhenti di suatu tempat tiba-tiba bergerak kembali. Karena dirasa mencurigakan, dia meminta tiga orang untuk melanjutkan pengejaran ke posisi GPS terhenti sebelumnya, sedangkan Arthem dan Yara mengikuti GPS yang bergerak.


"Yara, Bagaimana menurutmu?" Arthem menanyakan pendapat kekasihnya yang sekarang sedang menjadi anak buahnya itu.


"Aku sependapat, karena aku curiga ada jebakan dan manipulasi untuk mengecoh kita, untuk tim Yang lain tetap pada posisi siaga." Yara begitu yakin dengan pendapatnya membuat Arthem tersenyum kagum.


Dan saat mobil Arthem semakin mendekat ke titik yang menandakan keberadaan Dhandeli, dia lengah dan membuatnya bermanuver saat dia berpapasan dengan mobil BMW hitam dan menabrak bodi sampingnya. Beruntung Arthem langsung menginjak rem jadi benturannya tidak begitu keras.


Arthem turun dari mobil dengan menggenggam senjata apinya, dan di susul oleh Yara yang kala itu mengekornya.


"Kau ceroboh sekali Art!" Yara hendak mengomel lebih panjang namun saat dilihatnya Arthem tengah memegang senjata dia pun kemudian bersiaga.


"Apa ada yang aneh dengan mobil ini?" Tanya Yara dengan wajah penasaran.


"Iya, GPS yang aku lacak berada di area dekat sini, aku akan periksa mobil itu, kau berhati-hatilah." Yara mengangguk dan bersiaga menjaga sekeliling dengan menajamkan matanya.


Arthem melangkah perlahan dan menajamkan matanya mencoba menerawang siapa orang yang berada di dalam mobil itu. Setelah dirasa tidak ada pergerakan, Arthem mengetuk pintunya namun tak ada jawaban dan saat dia menempelkan wajahnya di kaca mobil, mata Arthem langsung melebar terkejut melihat sosok yang berada di balik kemudi.


"Dhandeli...! Dhandeli...!" Teriakan Arthem membuat Yara menoleh kearah pintu mobil.


"Itu Dhandeli, Kita harus segera mengeluarkannya." Yara menodongkan senjatanya bersiap menembak handle pintu mobil itu, namun di hadang oleh Arthem.

__ADS_1


"Jangan Yara! Tanki bensinnya bocor, kita tidak bisa menggunakan senjata api, karena akan menimbulkan ledakkan."


Thanks for reading...


__ADS_2