
Tuan Sein membanting tubuhnya di kursi kantor lemas dan memijit pangkal hidungnya.
"Yunan semakin tidak terkendali."
Gumam Tuan Sein.
"Dia semakin aneh belakangan ini." Tuan Sein mengangguk setuju dengan kecurigaan Yara.
"Ayah tidak usah khawatir aku sedang menyelidikinya secara menyeluruh mengenai kegiatan Yunan di luar PT SEIN."
Sambung Yara.
"Bagus, ayah takut dia musuh dalam selimut."
Ternyata Tuan Sein pun sudah curiga dengan gelagat Yunan belakangan.
"Oh ya, bagaimana dengan Draga?"
Tuan Sein mengalihkan topik
"OCD nya sedikit ada penurunan, kemungkinan sembuh sudah bisa dipastikan 80% tercapai.
"Itu bagus, Jaga dia selalu, karena dia segalanya bagi kehormatan kita."
Yara mengangguk mengerti dengan apa yang ayahnya maksud.
Tuan Sein kemudian bertanya mengenai pekerjaan Yara di sebuah Agency sebagai Tim Creator.
"Bagaimana dengan pekerjaan paruh waktu mu?" Tuan Sein bertanya dengan penuh perhatian.
"Lancar, aku hanya saat di butuhkan baru datang kekantor, jika tidak aku akan seharian di rumah Draga." Yara menjelaskan kegiatannya yang sedikit.
Tuan Sein sibuk dengan berkas-berkas yang ada di mejanya, sedangkan Yara tersenyum manis dengan handphonenya.
"Kau punya kekasih?" Ayah Yara memberikan tatapan menelisik ke arah Yara.
"Em, Bisa dibilang iya, bisa juga tidak."
Yara enggan menjelaskan.
"Kenapa begitu? perlu bantuan?" Tuan Sein menawarkan bantuan.
"Tidak perlu, ini salah ku yang terlalu acuh, dan dia yang terlalu sibuk."Jelas Yara singkat.
"Oh begitu, jika kau sudah tidak acuh dan dia sudah tidak sibuk, makan malam lah dirumah."
"Baik ayah."
Tuan Sein pun beranjak pergi untuk pulang ke rumah dan Yara menyusul di belakang.
***
Di PT GE, Hari sudah mulai sore, seluruh karyawan sudah mengambil absen pulang dengan penuh semangat, begitupun Dhandeli yang sedang merapikan meja kerjanya dan meraih tas ranselnya dengan penuh semangat berjalan ke arah basemen.
"Darker, aku sangat merindukanmu!"
Dhandeli memeluk body motor sport kesayangannya seolah bertemu kekasihnya.
__ADS_1
"Wanita yang konyol." Ternyata Draga ada di belakang Dhan, mengekor ke arah basemen.
"Biarkan, pokoknya aku sangat merindukan Darker, sekarang kita belah jalan raya Darker."
Dhandeli memakai jaketnya dan helem, menyalakan mesin motor dan melaju mendahului Draga yang hendak masuk ke mobil.
Didalam mobil Draga hanya menggelengkan kepalanya tak habis pikir dengan wanita yang baru saja melaju dengan motor sportnya, Karena awal pertemuan mereka Dhan sangat feminim, cantik dan anggun, tapi ditempat kerja Dhandeli seperti terlalu maskulin.
"Ah sudahlah, apa urusan ku."
Draga pun melajukan mobilnya menuju rumah.
***
Saat Draga tiba di pekarangan rumahnya, dia sudah melihat motor Dhan terparkir rapi di teras rumahnya. Draga memikirkan seberapa cepat motor itu dipacu oleh Dhandeli, dengan kecepatan berapa kilometer per jam motor itu mampu tiba dirumah jauh lebih dulu darinya dengan jalanan yang padat dan jarak yang cukup jauh. Draga menjadi aneh sendiri kenapa dia begitu khawatir dan ingin tahu tentang bagaimana Dhandeli bisa tiba lebih cepat.
"Dia mengendarainya bak pembalap profesional."
Suara Yara terdengar dari ambang pintu, mengejutkan Draga yang menatap lurus ke sebrang.
"Apa yang kau bicarakan?"
Draga berpura-pura bodoh dan tak mengerti maksud perkataan Yara.
"Aku pun di dahului olehnya saat di jalan raya tadi, dia benar-benar diluar dugaan, tapi yang kulihat dia memang pengendara motor profesional."
Yara mengemukakan pendapatnya tentang gadis yang menarik perhatian adik sepupunya itu.
"Gadis itu jiwanya jauh berbeda dengan fisiknya." Draga berkomentar lalu pergi ke kamarnya.
"Bagaimana? sesuai?"
Yara mengintip di balik bahu Draga.
"Good job Sis."
Draga menepuk bahu Yara dengan akrab, membuat Yara yakin kalau adik sepupunya itu akan segera normal kembali.
Saat Yara tengah bersantai di ruang tamu, Bel rumah Draga berbunyi. Yara bangkit dari duduk santainya dan membukakan pintu untuk siapapun yang bertamu di jam istirahat itu.
"Arthem."
Yara terkejut sekaligus gembira melihat siapa yang berdiri di ambang pintu.
"Kau sangat gembira."
Arthem menyentuh pipi Yara yang dingin dengan tangannya yang hangat.
"Tapi... aku sebenarnya ingin bertemu Draga." Arthem tersenyum jahil namun memang itu kebenarannya, dia ingin berbicara dengan Draga.
Yara memasang wajah kecewa, dan mempersilahkan Arthem duduk lalu dia pergi ke kamar Draga, mengetuk pintu kamarnya perlahan.
"Ada apa?" Draga membuka pintu dengan wajah masam.
"Ada yang ingin bertemu."
__ADS_1
"Kalau Yunan, aku tidak mau."
Draga hendak kembali masuk kedalam kamarnya.
"Bukan Draga, dia bukan Yunan, tapi bodyguard gadis itu."
Yara pun memberitahukan secara tersirat membuat Draga berfikir sejenak.
"Bilang saja kalau dia itu kekasih mu, Arthem bukan?"
Draga langsung keluar dari kamar dan menutup pintu dibelakang meninggalkan Yara yang masih malu-malu karena tebakan Draga yang tepat sasaran.
Draga melangkah menuju ruang tamu dan di susul oleh Yara, dengan hati penuh rasa penasaran, ada apa dengan Dhan sehingga bodyguardnya datang malam-malam kerumahnya.
Draga duduk di sofa tunggal, sedangkan Yara duduk di sebelah Arthem, membuat Draga mengerutkan keningnya.
"Ada apa?" Draga tanpa basa-basi langsung bertanya kepada Arthem.
"Aku ingin meminta tolong padamu."
Arthem menjawab datar.
"Apa yang bisa ku bantu?" Draga menatap Arthem yang sedikit menghela nafasnya dan baru kemudian menatap Draga serius.
"Dhan membawa motor dengan sangat lepas kendali, hal itu diketahui oleh Ayahnya dan membuat ayahnya murka hingga masuk rumah sakit, saat ini aku kesulitan untuk menasehati anak itu." Jelas Arthem.
"Apa hubungannya dengan ku?" Draga mengerutkan dahi bingung dengan cara apa dia harus membantu Arthem.
"Aku melihat dia sangat mengikuti saran mu belakangan ini, jadi bisakah kau membantu ku untuk yang satu ini? esok aku ada tugas penting yang mengharuskan aku pergi selama lima hari, sedangkan Sam rekanku sibuk dengan hal lain yang berkaitan dengan Nona Dhan." Arthem menceritakan garis besarnya kepada Draga.
"Kau mau kemana Arthem? memangnya tidak ada orang lain yang bisa menggantikan mu?" Yara bingung dengan sikap Arthem, seolah kucing-kucingan, namun Yara berusaha menutupi kecurigaan Yara.
"Saat ini tidak, jadi Draga bagaimana? apa kau bisa menolong ku selama lima hari kedepan?" Arthem bertanya penuh harapan.
Draga menatap lurus kearah Arthem seolah menimbang-nimbang.
"Aku setuju, dengan syarat."
"Apa syarat mu?"
Arthem menegakkan punggungnya dan menatap curiga ke arah Draga.
"Hanya menggunakan mobil ku kemampuan, Jangan buat aku menunggu dan ikuti aturan ku."
Draga berlalu tanpa menunggu kata-kata dari Arthem.
"Apa maksudnya?" Arthem bingung.
"Dia setuju, itu bagus Art, hal ini juga masuk dalam daftar terapi OCD yang dia derita, aku harus berterima kasih pada mu dan gadis itu." Yara sangat bersemangat dan menekankan beberapa hal kepada Arthem yang harus di ketahui oleh Dhandeli.
"Baiklah kalau begitu, Aku undur diri, sampaikan terima kasih ku untuk adik mu."
Yara mengangguk dengan senyum termanis nya, lalu kemudian Arthem mengecup keningnya lembut dan pergi meninggalkan rumah Draga.
Yara masih berdiri di ambang pintu menatap Arthem yang menyebrang jalan dan masuk kembali kedalam rumahnya.
"Pantas saja kau tidak bisa move on dari cinta pertama mu, ternyata dia orangnya."
__ADS_1
👍💙👍💙👍💙👍💙👍💙👍💙👍💙👍💙