Standard Effect

Standard Effect
Mereka Bersama


__ADS_3

"Jadi apa kita resmi bersama?" Dhandeli memastikan sikap Draga.


"Iya, kita bersama sekarang." Draga tersenyum lembut sambil mengusap pipi Dhandeli, gadis yang sudah jadi kekasihnya itu.


"Apa kau serius?" Dhandeli membulatkan matanya menatap wajah Draga.


Draga tersenyum gemas sambil mencubit pipi gadisnya itu, lalu membawa tubuh mungil itu kedalam pelukan hangatnya.


"Iya, kenapa kau seperti tidak yakin?" Draga berbicara dengan masih memeluk Dhandeli.


"Ya karena itu terasa..."


Belum sempat Dhandeli mengungkapkan perasaan kurang yakinnya, tiba-tiba pintu kamar terbuka.


"Congratulation!!!" Samuel bersama dengan Yara yang tengah tersenyum bahagia dan Arthem yang tanpa ekspresi masuk bersamaan membuat Draga melepas pelukannya.


"Wah Nona ku tak sendiri lagi sekarang." Sam tampak sangat semangat melihat sepasang kekasih baru itu.


"Selamat Draga, akhirnya kau berhasil membuktikan kenormalan mu sebagai seorang pria." Yara tersenyum geli pada Draga, sedangkan Draga hanya memutar bola matanya jengkel.


"Kalian menguping?" Dhandeli menatap mereka kesal.


"Bukan menguping, tapi tidak sengaja mendengar." Arthem seperti tidak terima di tuduh menguping.


"Ini semua karena pria itu." Yara menunjuk Sam.


"Kenapa jadi aku?" Sam pura-pura tidak tahu.


"Kau kan yang merengek ingin menjenguk Dhan, lalu kau juga yang menahan kami didepan pintu." Yara mengungkapkan ide Sam.


"Dia juga yang menguping." Imbuh Arthem.


"Ah sudahlah, lagi pula tak ada yang perlu di tutupi juga." Draga memotong kalimat perdebatan tiga orang itu dengan pandangan mencela.


Samuel tak henti-hentinya menggoda pasangan baru itu, membuat Arthem harus berkali-kali memukul kepalanya karena gemas dengan tingkah dan kalimat Sam yang sungguh diluar kendali.


***

__ADS_1


Satu Minggu berlalu, Dhandeli sudah di bolehkan pulang oleh dokter sekaligus ibunya itu. Dengan raut wajah yang penuh kebahagiaan Dhan ditemani oleh Draga pun berkemas-kemas untuk bersiap pulang.


Draga menggandeng tangan Dhandeli dengan mesra sepanjang lorong rumah sakit hingga ke parkiran mobil. Draga dengan sigap membuka pintu mobilnya, menghela Dhandeli dengan lembut masuk kedalam mobil.


"Dokter bilang kau harus pulang ke rumah orang tua mu, dimana itu?" Pesan dari Nyonya Nathalia bahwa dia ingin agar Dhandeli dalam pengawasannya di rumah keluarga besar Viel.


"Apa tidak bisa ke rumah kecil ku saja? di sana pasti sangat hampa." Dhandeli tampak murung karena harus pulang ke rumah orang tuanya.


"Hanya sementara sampai kondisi mu pulih sempurna." Draga mengusap lembut rambut Dhandeli yang terurai panjang.


Perjalanan ke kediaman Viel hanya 20 menit saja dari rumah sakit, ditambah dengan perbincangan hangat antara Draga dan Dhandeli membuat waktu tempuh semakin singkat. Mobil Draga memasuki gerbang putih besar yang didalamnya terdapat rumah bergaya modern minimalis dengan halaman yang cukup luas.


Draga memarkirkan mobilnya dan membuka pintu penumpang untuk Dhandeli sang kekasih hati.


Mereka berdua berjalan beriringan menuju pintu utama yang sudah terbuka lebar menyambut kedatangan Nona besar mereka.


"Selamat datang sayang." Nyonya Viel menyambut dengan pelukan hangat dan cubitan manja di pipi Dhandeli.


"Terima kasih ibu." Dhandeli tersenyum lembut dan menyandarkan sejenak kepalanya di bahu hangat sang ibu.


"Halo Bibi." Draga menyapa dengan senyum tipis terukir.


"Jangan bantah apapun keinginannya, wanita itu memang begitu." Suara bariton terdengar dari sudut ruang tamu, ternyata Tuan Viel tengah duduk menghadap mereka seperti sedang menonton pertunjukan Opera.


"Ah Paman, apa kabar, maaf aku tidak memperhatikan paman." Drag terlihat canggung saat mendapati Tuan Viel menatapnya dari kursi tunggal di area ruang tamu.


"Duduklah, nanti kita akan makan siang bersama." Tuan Viel mempersilahkan Draga duduk di ruang tamu.


"Terima kasih Paman." Draga duduk di sofa yang bisa menampung empat orang tepat di sebelah sofa tunggal yang di duduki oleh Tuan Viel.


Draga menyeruput teh yang disediakan dengan gaya yang elegan, dengan masih sedikit canggung karena Tuan Viel tidak membahas apapun dengannya, beliau hanya diam sambil menatap tablet yang ada di pangkuannya.


"Emm, Paman, sebenarnya aku dan Dhandeli sedang..." Draga yang terlihat gugup langsung terdiam saat kalimatnya dipotong oleh tuan Viel.


"Sedang menjalin hubungan dengan putriku?" Draga mengangguk mantap.


"Putriku itu, tidak seperti gadis pada umumnya, entah kenapa dia selalu membuat orang khawatir, jadi jangan terlalu berharap dia bisa sama dengan gadis kelas atas lainnya." Kalimat itu secara tersirat merupakan persetujuan dari Tuan Viel terhadap hubungan antara Dhan dan Draga.

__ADS_1


Senyum lega terukir jelas di wajah tampan Draga, kegugupan dan kecanggungan yang sedari tadi menyelimutinya hilang sudah oleh kalimat dari ayah sang kekasih.


"Kenapa kau senyum-senyum seperti itu Ga?" Dhandeli datang dari arah ruang keluarga.


"Apa makan siangnya sudah siap?" Sang Ayah menyela.


"Iya, Ibu meminta ku untuk memanggil kalian ke taman belakang." Dhandeli menghampiri Draga yang masih duduk tegak di sofa.


Tuan Viel berdiri dan melangkah terlebih dahulu ke arah taman belakang, disusul oleh Draga dan Dhandeli yang bergandengan tangan.


Nyonya Viel ternyata menyiapkan barbeque di taman belakang yang tumbuhi bunga-bunga cantik, beberapa pohon buah dan tanaman hias rambatan.


"Kalian lama sekali, dagingnya sudah mau matang." Nyonya Viel sedang sibuk memanggang iga sapi, daging steak dan ubi.


"Mari aku bantu Bu." Draga menghampiri Nyonya Viel dengan mengganti panggilannya, membuat Nyonya Viel tampak tersenyum. bahagia dan bangga.


"Begitu terdengar lebih baik, aku sangat menyukainya." Nyonya Viel mengelus pipi Draga lembut dan kemudian meninggalkannya pergi kedalam rumah.


"Ibu akan memanggil Arthem sebentar di ruang kerjanya, kalian duduk lah dulu." Nyonya Viel mempercepat langkahnya menuju ke dalam rumah untuk mengajak Arthem makan siang bersama di sela kesibukannya.


"Arthem memang sangat sulit di ajak makan bersama." Tuan Viel terdengar menggerutu di meja makan.


Draga menyajikan daging yang sudah matang dan menu panggangan lainnya di atas meja makan dengan rapi dan sangat terlihat estetik, karena dia menambahkan sentuhan saus dan beberapa potong sayuran yang sengaja dia tata menghiasi piring.


"Wah, kau seperti koki handal." Dhandeli terlihat takjub dengan sajian steak sapi di hadapannya.


"Makanlah, daging baik untuk masa pemulihan." Draga duduk di samping Dhandeli, dia meraih piringnya dan membantu Dhan mengiris daging steak menjadi potongan kecil.


"Ibu... iya aku panggil ibu, maafkan aku ibu..." Tampak dari dalam terdengar suara rintihan seorang pria dan ternyata suara itu berasal dari Arthem yang sedang di tarik telinganya oleh nyonya Viel.


"Aku sudah berkali-kali bilang pada mu, dari ibu masih cantik dan sekarang sudah setua ini, jangan panggil Nyonya! Kau itu putraku!"


Melihat adegan itu suasana meja makan menjadi hening, Dhandeli tampak menahan tawanya, begitu pula dengan Draga yang berdehem berkali-kali sambil mengatupkan bibirnya menahan senyum melihat adegan Nyonya Viel yang menarik telinga Arthem hingga ke taman belakang tanpa perlawanan.


Author nya lama yah update nya...


🤭🤭🤭 maaf ya gengs

__ADS_1


Makanya kasih like dan dukungannya yang lain yah... kali aja authornya cepat sembuh dan punya banyak inspirasi...


__ADS_2