
Jarak Draga dan Arthem hanya 30cm, wajah Arthem yang kaku dan menatap tajam ke arah Draga membuat suasana menjadi tegang. Dengan ragu-ragu asisten senior yang melihat situasi itu pun memberanikan diri untuk angkat bicara.
"Maaf apa kau Arthem? jika iya tolong bawa Dhan sekarang, dia seperti keracunan atau semacamnya."
Asisten senior itu mencoba sedikit menjelaskan kondisi Dhan.
Dengan masih penuh emosi Arthem mengangkat tubuh Dhan yang tak sadarkan diri di meja kerjanya. Setelah posisi tubuh Dhan nyaman untuk dia bawa dalam gendongannya dia pun beranjak pergi, saat hendak beranjak pergi Arthem sempat melirik ke arah Draga dengan tatapan membunuh.
"Dhandeli bukan anak manja yang belum pernah bekerja, asal kau tahu saja aku akan membuat perhitungan dengan mu."
Arthem pun melangkah dengan cepat keluar ruangan beruntung ruangan Draga dan ruangan asisten ada di lantai 1, jadi itu mempercepat Arthem membawa Dhan keluar kantor.
Arthem meletakkan tubuh Dhan di kursi depan, memasangkan sabuk pengamannya, dan merendahkan sandaran kursi mobilnya agar posisi Dhan setengah berbaring dan nyaman hingga tiba dirumah sakit milik keluarganya.
Setelah kejadian itu Draga hanya diam dan mengurung diri di dalam ruang kerjanya tanpa berkomunikasi dengan asistennya sampai jam pulang tiba.
***
Dirumah sakit Dhan mendapatkan tindakan langsung oleh dokter Nathalia yang adalah Ibu kandungnya.
"Art, jangan khawatir seperti itu, rileks lah... aku perhatikan kau sangat tegang seperti hendak meledak jika ada orang menyentuhmu."
dokter Nathalia mencoba mencairkan suasana. Bagi Nathalia Arthem sudah ia anggap seperti anak laki-laki nya walau mereka bertemu tujuh tahun lalu tapi Arthem begitu membuat ibu Dhan sangat bahagia dan menyayanginya.
"Nyonya, aku sangat menyesal membiarkan Nona makan makanan itu, aku tidak bisa mencegah dia."
Arthem memberitahukan hal yang membuat dia begitu kesal.
"Dhan kan memang seperti itu, memang kau baru tahu sekarang, dari dulu dia itu tidak pernah berubah, keras kepala dan ceroboh."
Nathalia mencoba membuat Arthem tidak merasa bersalah.
Arthem menghela nafas kasar, mencoba meredakan emosinya.
"Kau bisa menyegarkan pikiran sampai jam 8 malam, aku akan menjaga Dhan setelah itu baru aku pulang ke rumah."
Nathalia menyarankan Arthem untuk pergi menenangkan pikiran baru setelahnya kembali untuk menjaga Dhan.
"Baiklah Nyonya, aku juga ada yang harus aku kerjakan saat ini, jadi aku akan undur diri sebentar."
Arthem pun bergegas pergi meninggalkan Nathalia dan Dhan yang tengah tertidur pulas.
***
Arthem menyetir dengan sangat cepat dia menuju ke komplek perumahan yang Arthem dan yang lain tempati namun tidak untuk pulang.
Saat Arthem melihat mobil orang yang ingin dia temui sudah terparkir di carport rumahnya, Arthem langsung keluar dari mobil dan menekan bel rumah tersebut dengan tidak sabar.
Draga yang saat itu baru selesai mandi hendak menghiraukan bel yang berbunyi, namun karena bel tersebut tak berhenti berbunyi, dengan kesal Draga mengenakan jubah mandi dan pergi ke pintu depan.
Baru saja membuka pintu Draga sudah menerima satu pukulan di wajahnya hingga dia mundur beberapa langkah.
"Apa yang kau lakukan?!"
__ADS_1
Draga emosi dan berteriak kepada Arthem.
"Kau sungguh tidak punya perasaan, kau mengabaikan adikku yang sedang sakit dan jatuh pingsan, kau mengabaikannya! bahkan kau mengejeknya! adikku, jika terlambat lima menit saja gejalanya akan lebih parah dari ini."
Arthem mencengkeram kerah jubah mandi Draga namun saat hendak melayangkan tinjunya suara dari belakang tubuhnya menghentikan tindakan itu.
"Apa yang kalian lakukan?"
Yara, tanpa diduga datang berkunjung ketempat Draga untuk mengambil beberapa barang yang tertinggal. Arthem yang mengenal suara Yara langsung melepaskan Draga dan berbalik ke arah Yara dengan sangat terkejut.
"Yara!"
"Arthem, apa yang kau lakukan pada sepupuku?"
Yara melangkah maju dan melihat wajah Draga yang lebam.
"Tanya saja pada sepupumu! apa yang dia lakukan pada adikku!"
Arthem meninggikan suaranya tanpa sadar, membuat Yara terdiam kaku.
"Draga, ada apa ini?"
Yara beralih ke Draga yang sedang berdiri dengan tatapan tajam ke arah Arthem, namun Draga memilih membalikkan tubuhnya masuk kedalam kamarnya.
"Art?"
Yara menghentikan langkah Arthem yang hendak pergi meninggalkan rumah Draga.
"Aku harus menjaga adikku, aku permisi."
"Aish! lelaki bodoh itu, apa yang sebenarnya dia lakukan pada adik Arthem?"
Yara masuk kedalam rumah dan langsung mencari kotak P3K dan alat kompres.
Yara menunggu Draga di ruang keluarga selama satu jam, namun tidak ada tanda-tanda Draga akan keluar dari kamarnya. Yara pun mengetuk pintu kamar Draga namun tidak ada respon, lalu dia mencoba menelpon handphone Draga namun tak ada jawaban, kemudian Yara mencoba membuka pintu namun terkunci.
Yara yang sudah tidak sabar lagi pun menendang pintu itu dengan sekuat tenaga hingga pintu itu terbuka lebar, dan tanpa diduga Draga tengah berbaring terlentang dengan nafas teratur.
Yara melangkah mendekati Draga dengan kotak P3K dan alat kompres. Tanpa ada pergerakan dan perlawanan berarti Yara mengobati luka di sudut bibir Draga dan mengompres lebam di pipinya.
Setelah selesai mengobati Draga, Yara pun pergi meninggalkan ruangan adik sepupunya itu.
"Kau harus ganti rugi pintu kamar ku, nanti aku kirim, model pintunya dan tempat dimana aku membelinya."
Tanpa diduga Draga tersadar namun masih berbaring di ranjang dengan malas.
"Astaga! kau sungguh sangat mengejutkan, hanya sebuah pintu saja harus sama persis, berlebihan sekali."
Yara menggerutu namun masih bisa didengar jelas oleh Draga.
"Jika tidak, jangan harap bisa menempati kamar mu."
Draga kembali berucap dengan nada dingin.
__ADS_1
Yara hanya diam dan berlalu pergi meninggalkan Draga yang kembali memejamkan mata.
Kemudian dia teringat tentang Arthem yang tadi sempat mengabaikannya. Yara mengambil ponselnya dan mengirim pesan singkat kepada Draga.
"Art, kau dmn?"
Yara mengirim pesan itu dan menunggu jawabannya sambil mencari beberapa barang yang dia tinggalkan di kamarnya. Saat tengah asyik memilah-milah beberapa pakaian dan barang lain, ponselnya berdering, tampak nama Arthem terpampang di layar.
"Yara,"
Arthem menyapa terlebih dahulu.
"Kau sekarang dimana Art? aku akan menyusul mu?"
Yara segera mengemasi barang-barang dan bergegas keluar rumah menuju mobilnya.
"Aku di Rumah sakit HeartCare, apa sepupu mu sudah kau obati?"
Arthem sedikit menyesal dengan tindakan yang dia lakukan karena dia menyadari betapa Kekanak-kanakannya itu.
"Sudah, hanya lebam dan sedikit luka di bibir sekarang dia sedang tidur."
Yara membuka bagasi mobilnya dan menaruh barang-barang yang dia ambil ke dalamnya.
"Aku tutup telponnya Art, sampai jumpa di rumah sakit."
Sambungan telpon itu pun terputus dan Yara mulai menginjak gas mobilnya menuju RS Heart Care.
Diruang rawat Arthem masih memandangi layar ponselnya dengan senyum tersungging.
"Wah, kau akan dijemput kekasih mu ya? senangnya..."
Ternyata sedari Arthem menjawab telpon Yara, Dhan sudah terbangun dan menguping pembicaraan mereka.
"Kau sudah bangun? dan kau sempat-sempatnya menguping."
Arthem sedikit salah tingkah karena ketahuan oleh Dhan.
"Kau pergilah, biar Sam yang bersama ku."
"Tidak apa, aku akan disini."
"Sam ada di depan pintu, lagi pula ini rumah sakit ibu ku pengawasan nya pasti sudah prioritas untuk ku."
Arthem mengangguk setuju dan memanggil Sam yang tengah berjaga di depan pintu.
"Sam jaga Nona sebentar, aku ada...
"Kencan"
Dhan tiba-tiba memotong kalimat Arthem membuat wajah Arthem bersemu merah.
"Oh......"
__ADS_1
Happy reading gengs
Like and love please...