
"Betulkah?"
Yunan mengernyitkan dahinya menatap gadis di hadapannya itu.
"Tentu, karena aku punya impian menikah dengan orang yang kucintai bukan di jodohkan."
Dhandeli menyesap minuman dinginnya dengan santai.
"Cita-cita yang sungguh sederhana, untuk seorang pewaris."
Yunan mencibir dengan senyum menjengkelkan.
"Tidak apa, sederhana namun bahagia."
Dhandeli kembali menyesap minumannya, dia berbicara tanpa menatap wajah Yunan sedikit pun.
"Baiklah semua sudah jelas, ku harap kita tidak bertemu lagi."
Yunan bangkit dari duduknya melangkah pergi, setelah tiga langkah dia terhenti dan berbalik ke arah Dhan.
"Untuk minuman aku yang traktir."
Dhan hanya mengacuhkan Yunan dengan masih menyesap minumannya.
Saat Yunan pergi Dhan dengan frustasi meletakkan keningnya di meja, Arthem pun menghampirinya dengan bingung.
"Tadi kau begitu bersemangat saat mendengar penolakan pria itu, kenapa sekarang lesu?"
Arthem yang heran langsung bertanya pada intinya.
"Itu karena, sudah dua pria yang mengucapkan 'Ku harap kita tidak bertemu lagi', Haish aku harus bagaimana?" Dhan kembali menjatuhkan kepalanya di meja.
"Bagaimana apanya?"
Arthem tambah bingung.
"Pria yang sebelumnya bicara seperti itu sekarang malah jadi sering bertemu, dan parahnya selalu bertemu disaat aku sedang sial."
Arthem menahan tawanya dengan menutup mulutnya, namun suara tawanya masih terdengar.
"Benarkah? aku tidak percaya."
Arthem mulai menggoda Dhan.
"Kau anggap saja kata-kata ku takhayul, puas!"
Dhandeli merajuk dan pergi mendahului Arthem yang masih menahan tawanya.
***
Draga Khawatir dengan Yara, karena dia sulit di hubungi, akhirnya dia pergi untuk menemui Yara dirumahnya.
"Draga, sudah lama tidak berkunjung."
Sapa ibu Yara yang sangat bahagia bertemu Draga sampai-sampai dia ingin memeluk Draga namun Yara dengan cepat mencegahnya.
"Ibu, dia masih menderita OCD, jangan buat ibu menyesal."
Yara merangkul tangan ibunya dan membawa nya ke ruang tamu.
"Ibu lupa, kalian berbincang-bincang saja, ibu akan ambil minuman kaleng."
Ibu Yara pun pergi ke dapur dengan senyum mengembang.
"Kau kemana saja?"
Draga langsung pada inti tujuannya datang.
"Wah! Kau mengkhawatirkan aku? sungguh?"
__ADS_1
Yara bertingkah berlebihan.
"Kau sebelumnya tinggal di tempat ku, dan kemudian pergi tanpa kata, dihubungi pun tidak bisa, sebagai tuan rumah aku cukup bertanggung jawab atas penghuni sementara seperti mu, lagi pula aku harus bilang apa pada Bibi Sein jika dia menanyakan mu sedangkan aku tidak tahu apa-apa."
Draga emosi, setelah mengeluarkan semua yang ada di dalam pikirannya, dia pun pamit begitu saja pada ibu Yara.
"Kau itu slalu saja membuat adik sepupu mu marah! padahal ibu baru bertemu beberapa menit tapi dia sudah pergi begitu saja karena mu."
Bibi Sein memarahi Yara karena membuat Draga marah dan pulang.
"Ibu, biarkan dia, Draga harus bisa menata emosinya, jadi harus sering kita buat dia kesal."
Ibu Yara hanya menghela nafas panjang dan pergi kembali ke dapur meninggalkan Yara dengan berbagai cemilannya.
***
Draga tiba di rumahnya, namun entah kenapa hari ini dia ingin duduk bersantai sore dipekarangan rumahnya.
Saat dia tengah duduk bersantai sebuah mobil sedan mewah berhenti di depan pagar rumahnya. Dari dalam mobil itu turun seorang gadis dengan beberapa bingkisan.
"Hai..."
Sapa Dhandeli.
"Ada apa?"
Draga bersikap acuh tak acuh.
"Aku sebagai tetangga baru harus menyapa bukan? jadi aku berinisiatif membawakan mu bingkisan."
Dhandeli yang masih berdiri tak jauh dari Draga masih tampak ragu untuk melangkah mendekatinya, karena saat itu raut wajah Draga sungguh sangat tidak enak dipandang.
"Terima kasih, tapi tidak perlu repot-repot."
Draga berdiri hendak meninggalkan Dhandeli yang masih berdiri kaku di tengah pekarangan rumahnya.
Draga pun berhenti melangkah di ambang pintu dan berbalik badan.
"Apa supir mu bermasalah?"
Draga masih dengan nada datar menjengkelkan menatap ke arah Dhandeli.
"Tak apa, jangan hiraukan dia, sebaiknya kau terima ini, aku permisi."
Setelah Dhan memberikan bingkisan itu, dia pun pergi meninggalkan rumah Draga dengan berjalan kaki, tidak menghiraukan Arthem yang memanggil manggil dirinya.
Arthem pun memutar mobilnya dan memasukkannya ke dalam pekarangan rumah Dhan yang berseberangan dengan rumah Draga.
Arthem menyusul Dhan yang sudah masuk kedalam rumah dengan kesal membanting pintu dibelakang.
"Pria yang sungguh tidak punya etika! untuk apa kau berbaik hati membawakannya bingkisan? kalau hanya untuk di acuhkan."
Arthem masih kesal namun tidak bisa berbuat apa-apa pada Draga.
"Dia memang begitu, sepertinya dia Introvert."
Dhandeli mulai mengamati sikap Draga selama ini.
"Biar ku simpulkan, jangan-jangan pria pertama yang kau bilang itu... dia?"
Dhandeli mengangguk.
"yang berkata 'ku harap kita tidak bertemu lagi' itu adalah dia?"
Arthem masih memastikan dengan berapi-api namun Dhan hanya menanggapinya dengan senyum dan anggukan kepala.
***
Keesokan harinya Draga berangkat bekerja seperti biasa. Dia tiba di kantor di jam biasa dengan gaya dan sikap yang seperti biasa. Namun langkahnya terhenti saat mendengar suara motor yang begitu mengganggu telinganya.
__ADS_1
Saat dia menoleh untuk melihat siapa yang mengendarai motor itu dan berencana menegur, menjadi terdiam saat melihat siapa yang turun dari kuda besi itu.
"Dhan..."
Draga bergumam dan terperangah melihat gaya Dhan yang sangat tomboy tidak seperti sebelumnya yang anggun dan elegan.
Saat masih terpaku, asisten Draga menghampirinya dan memanggil Draga berkali-kali sampai Draga merespon dengan sedikit linglung.
"Pak Draga, itu adalah asisten yang akan menggantikan saya, dia lulusan luar negeri pa."Asisten nya memberikan informasi singkat mengenai Dhan
"Asisten baru? dia?"
Draga menjulurkan telunjuk dan tangannya hingga Dhan hampir tertusuk oleh jari Draga jika saja dia tidak menghindar.
"Nona Dhan, sini... perkenalkan Pak Draga, dia adalah Manajer produksi yang akan jadi atasan mu langsung."
Dhandeli terperangah tak percaya melihat pria yang ada di hadapannya, dia merasa dunia ini terlalu sempit, karena selain bertetangga mereka juga bekerja di bawah perusahaan yang sama dengan jabatan yang saling berkaitan pula.
"Se-selamat pagi Pak, saya Dhandeli calon asisten Pak Draga."
Dhan mencoba seramah mungkin dan bersikap biasa terhadap Draga di lingkungan kerja.
"Hem, pagi."
Draga pun pergi meninggalkan asisten lama dan asisten barunya di lobby yang sedang saling lempar pandangan.
"Kau harus terbiasa dengan sikap Pak Draga, dia memang seperti itu, tapi dia baik jadi jangan khawatir."
Asisten itu mencoba menenangkan Dhan yang terlihat sedikit tegang.
"Baiklah Kak, aku mengerti, mari kita mulai bekerja."
Dhan memberikan senyum terbaiknya agar sang asisten lama tersebut tidak khawatir.
Dhan dan Asisten itu sedang mempersiapkan rutinitas pagi yang biasa dilakukan karena Draga sangat ketat terhadap waktu dan laporan rutin nya.
Telpon meja asisten berbunyi, Dhan menjawab telpon tersebut dengan ramah.
"Halo,"
"Bawakan laporan biasa keruangan ku."
Setelah memberikan instruksi telpon itu langsung terputus.
"Kak laporan mana yang harus ku bawa?"
Dhan bertanya pada asisten senior tersebut.
"Map biru Dhan, aku sudah menyiapkannya."
Dhan pun meraih map biru tersebut dan membawanya masuk ke ruangan Draga.
Dhan mengetuk pintu, setelah terdengar jawaban dari dalam Dhan pun masuk dan menyerahkan map biru tersebut.
Saat hendak keluar dari ruangan Draga menghentikan langkahnya, membuat Dhandeli menoleh ke arah Draga.
"Tunggu."
"Ya"
"Kau yang membawa motor sport itu?"
"Ya,"
"Besok aku ingin kau tidak membawanya lagi karena menggangu lingkungan."
"Apa!"
🤔🤔🤔💙👍
__ADS_1