Standard Effect

Standard Effect
Trik


__ADS_3

Peringatan dari Yara itu cukup membuat Dhandeli bungkam seribu bahasa, dia tidak lagi bertanya tentang hal-hal yang sebenarnya sangat menggelitik rasa ingin tahunya.


Saat suasana canggung dan tegang itu seperti tidak bisa di hindari, suara seorang pria yang mereka berdua sangat kenali terdengar.


"Kalian para wanita sungguh tidak menghargai pria." Arthem sudah berdiri tepat di sisi meja mereka dengan berkacak pinggang.


"Apa masalahmu?" Yara menjawab datar.


"Apa urusan mu?" Dhandeli menjawab dengan nada jengkel.


"Aku khawatir karena tidak menemukan jejak Dhandeli, dan aku juga khawatir karena kau bertemu dengan Yunan." Arthem menghela nafas kasar, lalu duduk di sebelah Yara dan meneguk jus yang Yara pesan.


"Kau yang bayar." Dengan tanpa menatap ke arah Arthem Yara meminta pria itu membayar semua pesanan mereka.


"Apa?" Arthem hampir tersedak, saat Yara menyodorkan bill tagihan pesanan mereka.


"Astaga, aku sepeti masuk ke sarang penyamun." Mau tak mau Arthem mengeluarkan kartunya dan membayar tagihan dua wanita yang selalu mengisi hari dan hatinya.


***


Di kantor pusat, yaitu PT SEIN group Yunan melangkah pasti menuju ruangan CEO tanpa menghiraukan sapaan dari semua karyawan. Saat baru membuka pintu, Yunan sudah disambut dengan kotak pena yang melayang hampir mengenai wajahnya, namun dengan santainya Yunan dapat menghindar.


"Aku tidak pernah mengajarkan mu untuk lancang di perusahaan, bukan?" Tuan Sein mencoba menetralkan emosinya.


"Iya ayah." Yunan menjawab sambil tertunduk.


" GE adalah tanggung jawab Yara, kau tidak ada hak untuk ikut campur dalam segi dan unsur apapun, kau hanya fokus pada pengembangan pusat, apa kau masih belum puas? apa kau terlalu senggang?" Tuan Sein menekan setiap kata yang keluar dari mulutnya dengan tatapan yang tegas dan gesture yang berwibawa.


"Aku tidak tahu apa motif mu yang sebenarnya, sehingga ikut campur dalam mengurusi internal PT GE, ayah hanya berharap kau selalu ada di jalan yang benar dengan penuh tanggung jawab, PT SEIN bukan tempat bermain." Tuan Sein mengingatkan Yunan tentang posisinya secara tidak langsung.


"Baik ayah, aku akan mengingatnya." Yunan menanggapi perkataan ayah angkatnya dengan nada datar.


"Sekarang kau bisa pulang dan beristirahat, pikirkan kesalahan mu hari ini, jangan sampai terulang lagi." Yunan pun pamit undur diri keluar dari ruangan CEO dengan raut wajah yang tak enak.

__ADS_1


***


Setelah Menyantap minuman dan camilan, Arthem, Yara dan Dhandeli kembali ke kantor.


"Saat pulang pastikan kau selalu bersama Arthem." Yara mengingatkan Dhandeli di lobby.


"Iya kak." Dhandeli masuk kedalam kantor dan langsung menuju ruangannya untuk melanjutkan aktivitas kerjanya.


Yara pindah dari mobilnya ke mobil Arthem, dia ingin berbicara secara empat mata.


"Yunan sudah di luar batas, kita harus waspada pada kemungkinan terburuk." Yara terlihat cemas dan gugup karena selama ini hanya ada kedamaian tanpa ada perselisihan apalagi pertumpahan darah.


"Sekarang kita harus mulai mengatur siasat agar Yunan mau menyerang kita secara terbuka." Arthem memegang dagunya sambil berfikir mengenai cara apa yang efektif untuk membuat Yunan mau menampakkan wajah aslinya.


"Kau ada anak buah lain untuk mengawasi Dhandeli?" Tanya Yara.


"Ada, aku akan siagakan tiga orang anak buah ku." Arthem seperti memiliki suatu rencana.


"Sekarang pasti anak buah Yunan sedang mengawasi kita, bagaimana kalau kita bermain trik? kita lihat apa yang akan dia lakukan."


"Dhan, kita harus bertukar pakaian." Yara menghampiri meja Dhandeli, dan tanpa basa-basi lagi meminta bertukar pakaian.


"Ada apa kak?" Dhandeli heran apa sebenarnya maksud dan tujuan Yara memintanya bertukar pakaian.


"Sudah, kau tenang saja, tidak akan terjadi apapun." Yara meyakinkan Dhandeli dengan santai.


"Tapi pakaian mu seksi sekali... aku tidak bisa memakainya, itu terlalu terbuka." Pakaian Yara saat itu memang dress yang terbuka di bagian bahu dan memiliki belahan samping sebatas paha, kain yang digunakan serupa bahan katun stretch tebal berwarna cokelat tua menutupi tubuhnya hanya sampai dada.


"Kau membawa jaket bukan?" Yara mengingatkan Dhandeli sebuah jaket hitam denim yang biasa dia bawa.


"Kau bisa menggunakan jaket itu untuk outer." Yara kemudian membawa Dhan ke toilet untuk bertukar pakaian.


"Oh iya tentu, tapi belahan sampingnya..." Yara sudah tak lagi menghiraukan protes dari Dhan, dia terus menarik tangan Dhan hingga ke bilik toilet.

__ADS_1


Setelah beberapa menit mereka pun selesai bertukar pakaian, ternyata ukuran tubuh mereka sama jadi pakaian yang mereka tukar sangat pas di satu sama lain.


"Oke, kalau begitu aku pergi." Yara melenggang keluar kantor dengan pakaian Dhandeli.


Dhandeli mengenakan celana Chino ketat berwarna hitam dengan kemeja oversize maroon dan juga topi baseball, Yara tampak cantik seperti gadis remaja, ia pun merasa selera Dhandeli tidak buruk dalam hal fashion.


"Dhandeli?" Arthem hendak protes saat Yara yang ia kira Dhandeli masuk ke dalam mobilnya, namun saat Arthem memperhatikan lagi dan membuka topi yang terpasang di kepala Yara, senyum lebar mengembang di wajah Arthem.


"Mau kemana kita Nona?" Dengan masih tersenyum Arthem mengemudikan mobilnya keluar dari area kantor PT GE.


"Kita cari tahu apa yang akan dia lakukan." Yara memasang wajah serius saat menjawab pertanyaan Arthem.


***


"Apa yang kau lihat itu benar? dan kau sudah pastikan orang itu Dhandeli, yang keluar dari kantor bersama bodyguardnya itu?" Yunan tengah berbicara dengan orang yang dia suruh mengawasi Dhandeli dan Arthem, karena dia sedang menyusun sebuah rencana jahat.


"Iya tuan, sudah saya konfirmasi, dan juga nona Yara masih berada di kantor GE, sampai saat ini belum keluar lagi." Ungkap orang itu melalui sambungan telepon.


"Berikan hadiah pada dua orang itu, tidak perlu sampai tewas." Yunan memberikan instruksi yang mengerikan dengan senyum gilanya.


"Baik Tuan." Orang suruhan itu pun menuruti perintah Yunan tanpa ragu sedikitpun.


"Kalian berdua sudah mengganggu ketenangan ku, jadi jangan salahkan aku jika aku tidak sungkan." Yunan duduk di sofa sudut area kamarnya sambil menyesap teh hangat yang tersaji di meja kecil.


***


Arthem mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang dan masih dengan sikap waspada ke segala arah, begitupun Yara.


Saat di lampu merah insting Arthem mulai menangkap sesuatu yang janggal, dia melihat sebuah mobil box yang seperti tidak sabar untuk melaju sehingga tampak berhenti melewati batas seharusnya di jalur kanan yang menuju arah berlawanan dengan jalur Arthem.


Saat lampu hijau menyala, ternyata mobil box itu tampak masih berdiam, tidak melaju. Namun saat Arthem menginjak gas mobilnya, satu menit kemudian mobil box itu bergerak membuat kekacauan lalu lintas di perempatan lampu merah itu. Setelah dirasa cukup jauh untuk mobil box itu mengejar dan Arthem merasa sudah aman, dia menurunkan kecepatannya dan melihat situasi kembali.


Tanpa di duga, dari sebuah persimpangan mobil minibus datang dengan kecepatan tinggi dan menabrak mobil Arthem dari arah kanan, membuat mobil itu naik ke tempat pejalan kaki dan menabrak sebuah pohon.

__ADS_1


Like like like.....


__ADS_2