Standard Effect

Standard Effect
Kemungkinan


__ADS_3

"Pecahkan Kacanya Art! Jika tidak Dhan akan keracunan gas." Yara meminta Art menghancurkan kaca pintu sebelahnya agar tidak melukai Dhandeli.


Arthem dengan sebuah dongkrak yang dia ambil dari bagasi mobilnya, memukul kaca samping mobil BMW hitam itu. Hanya dengan sekali pukulan kaca mobil itu hancur, lalu dengan leluasa Arthem membuka pintu mobil, membuka seat belt Dhandeli dan meraih tubuh Nonanya yang sudah tak sadarkan diri itu. Yara sudah bersiap membuka mobilnya dan membiarkan mobil Arthem di bawa oleh asistennya lebih dulu.


Mobil Yara melaju meninggalkan area tempat mobil Arthem dan Dhandeli bersinggungan, setelah satu menit mereka menjauh, mobil BMW hitam itu meledak dengan dahsyat di pagi buta, asapnya membumbung tinggi menodai cahaya fajar yang hendak beranjak naik. Yara menginjak gas dengan kencang agar kecepatannya bertambah dan dapat tiba dengan segera di rumah sakit.


***


Mobil mewah lainnya tiba di pekarangan rumah mungil tempat yang tadinya di gunakan untuk menculik Dhandeli. Pria tampan dengan kemeja berwarna navy polos dengan tangan kemeja di gulung setengah turun dari kursi penumpang di ikuti oleh beberapa bodyguard yang turun dari mobil SUV.


Wajah pria itu muram, saat melihat kedua orang suruhannya tergeletak tak sadarkan diri dengan darah mengalir dari leher dan kepala mereka.


"Aku sudah meremehkan gadis itu." Tawa sinis namun mengerikan tersungging di bibirnya membuat bulu kuduk anak buahnya yang lain meremang dan hanya bisa terdiam ngeri.


***


Arthem memarkirkan mobil Yara dengan serampangan di depan pintu UGD, kemudian membopong tubuh Dhandeli ke ranjang pasien sendiri dan membiarkan Dhandeli di rawat oleh tim medis.


"Dia akan baik-baik saja, tenangkan dirimu." Yara memeluk Arthem yang tengah duduk lemas di kursi yang disediakan di lorong rumah sakit.


"Kau ternyata cengeng juga..." Yara mencoba menggoda Arthem agar dia melupakan rasa penyesalan yang kini dia rasakan.


"Dia sudah seperti adikku sendiri, tapi sepertinya aku sungguh tak berguna." Arthem menundukkan kepala, menopangnya dengan kepalan tangannya yang bertumpu di lututnya.


"Kau sudah bekerja keras, jangan salahkan dirimu." Suara pria paruh baya yang sangat Arthem kenal terdengar dari arah pintu masuk Instalasi UGD.


"Tuan..." Arthem langsung berdiri tegak dari sikap lemahnya.


"Dhandeli akan baik-baik saja, percaya padaku." Tuan Antonio Viel menepuk bahu Arthem dan mengajaknya duduk bersama.


"Tuan, perkenalkan ini..."


"Yara, benar bukan?" Tuan Antonio memotong kalimat Arthem seraya tersenyum hangat ke arah Yara.

__ADS_1


"Kalian sudah saling kenal?" Arthem menatap Tuan Antonio dan Yara bergantian.


"Tentu saja, siapa yang tidak kenal dengan Putri cantik keluarga Sein yang dingin dan anggun ini." Terang Tuan Viel sambil setengah bercanda.


"Sudahlah, kalian bisa istirahat, Dhan biar aku dan ibunya yang urus." Tuan Viel meminta Arthem dan Yara untuk pergi istirahat.


"Baiklah kalau begitu Paman, aku juga ingin menjenguk adik sepupu ku." Yara teringat Draga yang masih dirawat di ruangannya, dan langsung permisi undur diri untuk menemuinya.


"Sampaikan salam ku pada sepupu mu itu, dan bawa Arthem bersama mu, Kesatria juga harus minum dan tidur bukan?" Tuan Viel sangat berkarisma dan berwibawa sangat berbeda dengan apa yang Ayah Yara bicarakan.


Tuan Sein selalu bilang, jika Tuan Viel itu sangat konyol dan menyebalkan, sikap acuh tak acuh yang Tuan Viel perlihatkan sering membuat ayah Yara kesal, namun sepertinya Pria paruh baya ini memang punya gaya tersendiri dalam menghadapi setiap persoalan.


Dengan langkah sedikit gontai Arthem mengekor di belakang Yara, Arthem juga harus melihat kondisi Sam yang malam tadi tak sadarkan diri.


***


Yara mengetuk pintu ruangan rawat Draga, lalu masuk kedalam di susul Arthem yang langsung membanting tubuhnya di sofa sambil memejamkan mata.


"Kau sudah sadar?" Yara mendekat dan duduk di kursi dekat ranjang.


"Maafkan aku, aku lengah." Permohonan maaf dengan nada penuh penyesalan keluar dari bibir kakak sepupunya itu.


"Ya, Walau kau kakak, tapi kau itu kakak perempuan, wajar jika kau memiliki banyak kelemahan, jangan salahkan dirimu, lagi pula aku baik-baik saja." Draga menatap Yara dengan penuh pengertian dan Yara membalasnya dengan senyuman.


"Pria mu sepertinya lelah sekali?" Draga memandang kearah Arthem yang tengah terpejam di sofa.


"Banyak hal yang kami lalui sampai pagi dini hari tadi, beruntung Dhandeli selamat." Kalimat Yara mengingatkan Draga pada Dhandeli.


"Bagaimana keadaan Dhandeli? Apa dia terluka?" Raut wajah cemas terlihat jelas di wajah Draga.


"Iya dia mengalami luka-luka saat insiden kecelakaan yang diluar dugaan." Yara menghela nafas berat.


"Kecelakaan?" Draga tampak muram namun tetap menguarkan aura mengintimidasi yang kuat.

__ADS_1


"Iya, sepertinya Dhan berhasil kabur sendiri dengan membawa mobil penculik itu, dan saat di sebuah persimpangan Arthem tidak sengaja menabrak mobil yang dikendarai oleh Dhan, beruntung pengendalian diri Arthem baik, jadi kecelakaan yang terjadi tidak fatal." Yara pun berdiri dan duduk di dekat Arthem.


"Pantas dia sepertinya syok." Draga mencibir ke arah Arthem.


"Jangan mengejek ku." Arthem berucap dengan masih memejamkan matanya.


"Daripada kalian bertengkar lebih baik kalian berfikir, penculik bodoh mana yang bisa di kalahkan oleh Dhandeli? aku rasa Yunan pasti cerdik, sedangkan Marry, aku masih menyelidikinya." Yara ternyata sedari tadi sedang kebingungan memecahkan masalah pelaku yang menculik Dhandeli.


"Masih ada kemungkinan lain, itu pasti." Arthem seperti sedang meyakini sesuatu membuat Yara dan Draga menatapnya lurus kearahnya.


"Hey, Apa kau punya pengagum rahasia?" Arthem bertanya pada Draga dengan mimik wajah serius.


"Aku?" Draga menunjuk pada dirinya sendiri.


"Iya, kalau aku kan sudah jelas tidak mungkin." Senyum sinis terukir jelas di wajah Arthem dengan bias rasa bangga, Yara yang mendengar itu pun menjadi salah tingkah, karena dia mengerti maksud dari kalimat Arthem adalah bahwa dia sudah punya kekasih jadi tidak mungkin dekat dengan wanita lain.


"Wanita yang ku tolak terlalu banyak, jadi aku tidak tahu." Draga memalingkan wajahnya karena sedikit canggung.


"Wah, luar biasa, kalau begitu wanita yang ingin membunuhmu pasti ada dimana-mana dan salah satunya mengira kalau Dhan adalah wanita mu." Celetuk Arthem.


"Apa? apa itu bisa jadi kemungkinannya?" Draga menanggapi celetukan Arthem dengan serius karena entah mengapa hati nuraninya sendiri mengatakan bahwa ini ada kaitan dengan dirinya.


***


Di sebuah Villa megah, seorang wanita muda nan cantik dengan rambut bergelombang hitam, bibir merahnya yang seksi dan matanya yang tajam tengah duduk dengan seorang pria tampan yang baru saja tiba.


"Aku kira gadis itu tidak bisa apa-apa, hanya bisa merengek minta tolong pada Draga." Wanita itu berucap dengan nada datar, namun ditanggapi biasa oleh Yunan.


Wanita itu adalah Julia Winter, seorang wanita dewasa yang mengaku sebagai tunangan Draga saat pertama kali bertemu Yunan di cafe tempat dimana Yunan kencan buta dengan Dhandeli. Mereka berdua menjalin sebuah kesepakatan untuk saling menguntungkan dengan bekerja sama memecah belah Yara, Draga dan Dhandeli.


"Tidak masalah, aku rasa setelah kejadian ini, situasi akan semakin menegangkan, bukan begitu?" Yunan menyesap kopi capuccino dengan gaya elegan.


"Pria macam apa yang sungguh tergila-gila pada adik angkatnya sendiri." Julia mencibir Yunan dengan tatapan dingin mengancam.

__ADS_1


"Aku tidak peduli, dan kau sebaiknya tidak usah urusi urusanku, fokus saja pada rencana kita." Yunan bangkit dan bergegas meninggalkan ruang tamu mewah itu menuju halaman tempat iya memarkirkan mobilnya.


__ADS_2