
Pagi hari tak seperti biasanya Dhandeli sudah rapi dan siap untuk bekerja, duduk di meja makan siap menyantap sarapan paginya dengan Samuel dan Arthem.
"Tak seperti biasanya..." Sam bergumam.
"Ada angin dari timur, makanya matahari terbit lebih dulu." Arthem menjawab gumaman Sam dengan perumpamaan yang dalam.
"Aku sudah selesai, ayo berangkat Art." Dhandeli meraih ranselnya dan keluar rumah lebih dulu, disusul oleh Arthem kemudian.
Selama perjalanan Dhandeli hanya terdiam tanpa kata, membuat Arthem kebingungan.
"Ada apa?" Arthem bertanya dengan nada yang sangat lembut, karena dilihat dari raut wajah Dhandeli yang seperti akan meledak bila tersentuh.
"Apa?" Dhandeli hanya acuh tak acuh, bahkan sama sekali tidak menoleh ke arah Arthem.
"Sikap mu ini sangatlah langka, kediaman mu itu sungguh mengerikan nona, apa kau tahu?" Arthem sedikit bergidik ngeri melihat tatapan Dhan saat tadi ia menoleh.
"Aku hanya sedang kesal dan memendam dendam pada seseorang yang pergi tanpa pesan." Arthem menelan ludahnya yang tergantung di kerongkongan, dia tahu yang Dhandeli maksud adalah dirinya.
"Masalah itu diluar dari keadaan, karena pekerjaan mendadak yang datang di waktu yang tepat." Arthem memamerkan deretan giginya dengan konyol mencoba membuat sang nona tersenyum, namun hasilnya nihil.
"Itu tidak ada hubungannya dengan kabar." Dhandeli masih bersikap dingin dan melanjutkan kediamannya sepanjang perjalanan hingga tiba di kantor.
"Nanti mau makan siang dimana?" Arthem mencoba membujuk Dhan dengan makan siang bersama dan dengan menu yang Dhandeli inginkan.
"Tidak terima kasih, aku ada janji." Dhan menanggapinya tawaran Arthem dengan nada ketus.
"Astaga, dia sungguh marah." Arthem melajukan mobilnya meninggalkan area lobby kantor PT GE.
Nina tengah sibuk dengan laporannya saat Dhandeli datang pun dia tidak menyadari kedatangannya.
"Kak, kau sudah datang sepagi ini?" Dhandeli merasa tidak enak pada Nina, karena dia datang lebih awal.
"Ada hal darurat hari ini, entah mengapa anak dari pemilik perusahaan ingin datang mengecek beberapa berkas, padahal dia baru saja pulang dari luar negeri." Nina merapikan berkas-berkas yang sudah dia dapatkan dan menyusunnya di meja, dengan sigap dan tanpa instruksi Dhandeli pun membatu Nina.
Meeting di mulai hanya untuk bagian divisi support, produksi, dan procurement. Semua divisi yang di minta ikut meeting sudah berkumpul di ruangan dengan meja meeting oval besar.
__ADS_1
"Selamat pagi semuanya, saya Yunan Sein, selaku pimpinan jajaran direksi kantor pusat PT SEIN group, hari ini ingin mendengarkan apa saja yang telah kalian lakukan untuk membuat produk menjadi nomor satu." Dhandeli terperangah saat melihat siapa yang masuk dan kemudian duduk di kursi pimpinan meeting.
Meeting selesai cukup lambat karena banyak sekali arahan yang diberikan oleh Yunan untuk tiap divisi. Hingga hampir dua jam berlalu, begitu banyak arahan dan kebijakan yang Yunan berikan untuk divisi produksi sehingga catatan Dhandeli memenuhi dua halaman kertas A5.
"Astaga, tangan ku pegal sekali." Dhandeli mengeluh dengan suara pelan.
"Hanya seperti itu kau sudah mengeluh?" Suara Yunan begitu terdengar di belakang telinga Dhan, nada mencibir yang dia gunakan sungguh membuat Dhandeli ingin menghajarnya.
"Untuk apa seorang pewaris perusahaan besar bekerja di perusahaan kecil seperti GE ini? apa ada motif lain?" Yunan menggunakan nada curiga yang kental membuat Dhandeli yang tadinya hanya diam dan hendak terus berjalan kembali ke ruangannya berhenti dan membalikkan badannya.
"Untuk apa? kalau pertanyaan mu hanya 'untuk apa', tentu saja mencari uang dari hasil keringat sendiri tanpa ada bayang-bayang kekayaan orang tua, karena menikmati harta orang tua itu sangat tidak memuaskan." Dhandeli menggunakan nada dingin dan mimik menantang.
"Wah... luar biasa, kata-kata mu itu sungguh luar biasa." Yunan hendak melangkah mendekati Dhandeli namun suara panggilan dari belakang mereka membuat keduanya menoleh.
"Dhan, Bisa kita keluar sebentar?" Ternyata suara itu adalah Yara.
Setelah mendengar kabar dari Nina bahwa Yunan tiba-tiba mengadakan meeting di GE, Yara langsung memutar balikkan mobilnya yang sudah hampir sampai ke tujuan dimana dia dan rekan kerja di agensi akan mengadakan rapat review bulanan.
"Ini jam kerja, karyawan tidak bisa sembarang keluar masuk perusahaan." Yunan mengetatkan gerahamnya sambil menatap kedua wanita itu.
"Baiklah, Kau menang dan aku mengalah." Yunan membalikkan tubuhnya dan bergegas pergi meninggalkan kedua wanita itu.
"Dhan, kita harus bicara, ikut aku." Tanpa kata Dhandeli mengekor Yara yang berjalan mendahuluinya.
Yara dan Dhandeli menggunakan mobil Yara untuk pergi ke sebuah cafe yang tenang.
***
"Tuan." Jimmy sang asisten, memberikan hormat kepada Yunan yang tengah emosi di sebuah ruangan khusus tamu di PT GE.
"Jangan berikan kabar buruk." Yunan terlihat tengah menekan emosinya yang akan meluap.
"Tapi, ini... Tuan besar Sein ingin berbicara dengan Anda." Jimmy dengan mengumpulkan keberanian mencoba memberitahukan bahwa Tuan Sein menghubunginya.
"Ada apa?" Yunan menatap Jimmy dengan tidak sabar.
__ADS_1
"Dia meminta disambungkan dengan anda via telepon sebentar lagi." Jimmy mengarahkan pandangan Yunan ke arah telpon di atas meja kantor.
Dan satu menit kemudian telepon itu berbunyi dengan sangat tidak sabar. Yunan menjawab telepon itu dengan enggan, namun mau tak mau dia harus menjawab telpon ayah angkatnya itu.
"Ayah." Yunan menyapa dengan suara datar.
"Kau melanggar otoritas ku! seberapa besar nyali mu sebenarnya?" Suara Tuan Sein sampai terdengar keluar walau tanpa loud speaker membuat Yunan menjauhkan gagang telepon itu dari telinganya.
"Aku tunggu kau di kantor pusat, sekarang!" Sambungan telepon itu langsung terputus tanpa Yunan bisa menjawab sepatah kata pun.
"Jimmy, awasi terus gerak gerik Yara dan Draga, aku akan ke kantor pusat." Yunan bergegas menuju tempat parkir, meninggalkan kantor GE.
***
Di sebuah cafe yang sangat feminim, Yara dan Dhandeli duduk menyantap macaron dan eskrim yang sudah mereka pesan saat tiba.
"Dhan, mulai hari ini kau harus berhati-hati dan jangan percaya apapun yang Yunan katakan, waspadalah mulai sekarang." Yara menatap Dhandeli dengan ekspresi serius yang tak bisa di bantah.
"Ada apa dengan Yunan, kak?" Dhandeli mencoba mencari tahu.
"Dia mencoba mencelakai Draga, dan mungkin kau juga akan menjadi targetnya." Yara masih menatap Dhandeli lurus dengan raut wajah serius.
"Astaga, lalu Draga bagaimana? kalau aku kakak tidak perlu khawatir, karena aku selalu di awasi Arthem." Dhandeli ditengah keterkejutan yang melandanya, dia masih memikirkan Draga.
"Draga, aku akan jamin keselamatannya dengan nyawaku, kau tidak perlu cemas." Yara menghembuskan nafas kasar, dia benar-benar di buat frustasi oleh masalah yang akan menghampiri.
"Maaf kak, aku ingin bertanya sesuatu." Dhandeli membaca ekspresi Yara, dan saat mendapati Yara tidak keberatan, dia pun melanjutkan perkataannya.
"Yunan, kakak dan Draga, bukankah kalian keluarga? tapi kenapa seperti ada banyak pertentangan di antara kalian?" Dhandeli bertanya dengan serius dan tatapan matanya lurus kedalam mata Yara.
"Ada hal yang tak boleh kau ketahui tentang kami, dan masih banyak lagi misteri yang kau harus hindari, jangan coba-coba mencari tahu, karena taruhannya adalah nyawamu." Yara memberikan peringatan kepada Dhandeli agar tidak terlalu dan bahkan harus menjauh dari masalah ini.
Like Love comment
thank you for reading...
__ADS_1