
Draga memperhatikan Yara sedari tadi, di ruang makan, membuat wajah Yara memerah karena malu.
"Kalau iya, memang kenapa?" Yara berusaha bersikap biasa.
"Tampan, tegas dan punya pendirian, tidak buruk." Draga mengeluarkan pendapatnya.
"Oh ya, senang mendengarnya." Yara tersenyum dan kembali ke kamarnya.
***
Dhandeli sedang merajuk, dia melakukan mogok makan dan tidak mau bicara, membuat Arthem kebingungan membujuknya.
"Dhan, kau harus akui salah agar tuan tidak marah, aku kewalahan menghadapi tekanan dari Ayahmu." Arthem sedikit mengiba mencoba membuat hati sang Nona luluh.
"Mengendarai motor dengan kecepatan 140km/jam, kau kira itu tidak berbahaya? apa lagi di jalan raya." Arthem kembali mengingatkan tentang tindakan Dhan yang ugal-ugalan.
"Baiklah, kalau anda ingin terus seperti ini." Arthem mengangkat kedua tangannya dan pergi.
Dhandeli masih tidak bergeming melihat kepergian Arthem, dia berfikir bahwa Arthem hanya menakutinya dengan berpura-pura pergi. Padahal Arthem benar-benar pergi untuk lima hari kedepan karena ada sesuatu persoalan yang harus dia hadapi.
Namun Dhan semakin gelisah karena sampai jam 1.00 dini hari Arthem tidak kunjung kembali.
"Sam, Sam!" Dhan mencari-cari Samuel sang asisten.
"Ada apa Nona?" Sam terbangun dari tidurnya.
"Arthem belum pulang juga, kemana dia?" Dhan bertanya dengan nada khawatir.
"Kenapa nona bertanya padaku? Arthem kan tangan kanan nona, aku mana tau dia kemana, dimana, sedang apa, dengan siapa?" Sam sedikit melebih-lebihkan padahal sebenarnya dia tau kemana Arthem pergi.
"Apa benar dia marah yah?" Gumam Dhan.
"Bisa jadi, lagi pula siapa juga yang tidak pusing menghadapi masalah bertubi-tubi, apalagi bukan dia yang buat masalah, pasti kesal luar biasa." Sam sengaja menggunakan kalimat sindiran.
Seketika Dhan murung dan pergi ke kamarnya dengan langkah lesu. sedangkan Sam memberikan laporan kepada Arthem yang nan jauh di sana.
***
Pagi hari yang cerah namun tak sesuai dengan suasana hati Dhandeli, Saat sarapan dia terus melamun dan seperti tidak bersemangat.
"Cepat habiskan sarapan mu nona, nanti ada yang menjemputmu." Sam memberitahu kalau dia memang akan dijemput.
"Kenapa tidak kau saja yang mengantar ku Sam?" Dhan menghela nafasnya sambil menatap lurus ke arah Sam yang sedang lahap menyantap hidangan pagi ini.
__ADS_1
"Aku sangat sibuk Nona, dan hal yang aku kerjakan adalah semua tugas dan tanggung jawab yang nanti nona emban." Sam kembali menyindir Dhan.
"Kau pasti sangat membenciku."
"Tidak."
"Bohong."
"Aku tidak benci hanya kadang kesal."
Jujur Sam dengan wajah konyol.
"Itu berarti kau membenci ku." Dhandeli bangun dari duduknya dan berjalan keluar rumah.
"Nona! nona! nanti akan ada yang menjemputmu, kau mau kemana?" Sam dengan langkah seribu mengejar sang nona yang merajuk sedang berjalan dengan cepat.
Saat Dhandeli berjalan dengan langkah cepat karena kesal, sebuah mobil yang tidak asing menghampirinya.
"Naik." Ternyata Draga sudah mengawasinya dari teras rumahnya dan berinisiatif menyusul Dhan, saat melihat Draga yang menghampiri Dhandeli, Sam pun menjadi tenang dan kembali ke rumah.
"Tidak, jangan-jangan kau juga membenciku." Dhan masih berjalan dan mobil Draga mengiringinya perlahan.
"Naik, kalau tidak kita terlambat bekerja."
Draga menaikan intonasi suaranya membuat Dhandeli terlonjak kaget dan langsung naik kedalam mobil Draga.
"Jika marah dengan seseorang, jangan libatkan orang lain." Draga memberikan nasihat ringan.
"Mereka tidak memahami ku." Dhan menjawab singkat sambil menatap keluar jendela mobil.
"Memang apa yang tidak mereka pahami dari mu?" Draga lanjut bertanya.
"Aku ingin hidupku sendiri, tanpa campur tangan orang tuaku, di usiaku yang hampir 30 tahun ini, aku masih saja selalu di awasi." Dhan memberitahukan ketidaknyamanannya selama ini.
"Orang tua mu menjaga mu karena mereka tau kau pasti akan di incar oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab, yang kemudian memanfaatkan mu untuk menekan ayahmu, dan mendapatkan apa yang mereka mau." Draga menjelaskan sebuah alasan yang cukup masuk menelusup ke dalam pikiran dan hati Dhandeli.
"Ini takdir ku, tapi aku masih tidak bisa menerimanya, Kau lihat mereka, betapa menyenangkannya bisa berjalan jalan dengan bebas, tanpa tahu kapan peluru akan melesat ke arah mu." Dhandeli menunjuk ke arah pejalan kaki yang berlalu lalang dengan santai.
"Kau bisa," jawab Draga singkat.
"Tidak bisa, bahkan Arthem saja marah dengan ku karena hal itu." Dhandeli kembali murung.
"Hem, Nanti makan siang dengan siapa?" Draga berencana mengajaknya jalan kaki santai saat makan siang.
__ADS_1
"Entahlah, sepertinya aku tidak lapar nanti." Dengan nada yang masih lemah Dhan sudah memprediksikan jika dia tidak akan berselera makan siang.
Setelah 30 menit lebih perjalanan, akhirnya mereka tiba di lobby kantor dan melanjutkan aktivitas masing-masing seperti biasa.
Tanpa terasa jam makan siang tiba, seluruh karyawan pun berhamburan keluar kantor untuk berkuliner siang.
Hanya Dhandeli yang meletakkan kepalanya di meja kerja sambil terus menatap handphonenya.
"Dia benar-benar marah." Dhan bergumam.
"Tidak, Arthem tidak marah." Draga ternyata sudah berdiri didepan meja kerja Dhandeli.
"Jangan menghiburku." Dhandeli masih tidak beranjak dari posisinya.
"Ayo makan siang, kalau tidak makan apa kau bisa fokus bekerja?" Draga masih dengan penuh kesabaran membujuk Dhan, walau dia sadar itu seperti bukan dirinya.
"Tidak mau." Dhan kembali membenamkan wajahnya di lipatan tangan yang masih setia menempel diatas meja.
"Aku akan mengajakmu makan di street food." Dengan enggan Draga menawarkan tempat yang paling tidak dia sukai.
Namun reaksi Dhan begitu mengejutkan, kepalanya langsung terangkat dengan senyum mengembang dan mata yang membulat antusias.
"Apa kau serius?" Dhan langsung berdiri merapikan tasnya dan melangkah keluar dari bilik kerjanya.
Draga menyunggingkan senyuman terpaksa dan berjalan mendahului Dhandeli. Dhandeli menyusul Draga dengan semangat dan senyum yang merekah hingga masuk kedalam mobil pun dia masih bersenandung riang.
"Sebegitu bahagianya kau saat aku ajak ke street food." Draga terheran-heran dengan tanggapan Dhandeli.
"Seumur hidupku, aku ingin sekali pergi ke street food, sampai aku kira hanya dalam mimpi, tapi kau mewujudkan impian ku, terima kasih Bos." Dhandeli mengucapkan terima kasih dengan senyuman manis nan tulus kepada Draga, membuat jantung Draga berdegup kencang.
Draga memarkirkan mobilnya tidak jauh dari area food street, namun ternyata tidak semua stand buka di siang hari.
"Street food akan ramai dan penuh sesak di malam hari, jika siang hari kebanyakan tutup, jadi sekarang kau harus puas dengan stand yang ada saja." Draga menjelaskan situasi street food yang akan di datangi namun saat menoleh Dhan sudah tida ada di sisinya, melainkan di salah satu stand.
Stand yang Dhandeli jumpai adalah stand roti panggang dengan isian daging yang melimpah, keju serta sayuran dengan topping saus pedas.
"Apa kau mau? aku yang traktir." Dhan begitu bersemangat menatap Draga yang sangat terlihat tidak nyaman.
"Tidak, terima kasih." Draga menolak sambil memalingkan wajah.
"Baiklah kita lihat apa ada makanan lain yang kau inginkan nanti." Dhandeli menerima roti panggang itu dan memakannya dengan lahap, tanpa memperhatikan raut wajah Draga yang sudah pucat pasi.
Mohon dukungannya...
__ADS_1
Like Love comment
💙👍🏻💙👍🏻💙👍🏻💙👍🏻💙👍🏻💙👍🏻💙👍🏻💙👍🏻💙