
Sejak hari itu, Hideo akan selalu memberitahu Tahta jika dia tidak bisa datang menemuinya. Zombie remaja itu masih sama seperti kemarin. Dia suka berjalan-jalan dan mengabaikan Hideo. Meski kelihatannya tidak peduli, namun siapa sangka bila lengah atau lupa sedikit saja, dia tidak akan mau masuk ke ruangannya. Dia akan berkeliaran di sekitar taman sambil memandangi lonceng angin atau pot pemberian Hideo. Bisa dibilang itulah cara ngambek ala Tahta. Semua staf sudah hafal tentang ini.
Orang-orang Atlantis trauma akibat Tahta kabur. Melalui kamera CCTV akhirnya mereka tahu bagaimana caranya Tahta bisa sampai di jalanan kota. Tak lain penyebabnya adalah dia meniru tindakan Hideo yang memanjat rak saat sedang mengambil lonceng. Sangat mengejutkan, bukan? Seperti kata Leony, dalam diamnya ternyata Tahta memperhatikan sekitar. Dia meneliti dengan caranya sendiri. Karena itulah sekarang jendela lantai 3 ditutup lebih awal. Rak kayu bersusun yang tadinya diletakkan di bawah jendela digeser menjauh. Semua orang tidak mau kejadian waktu lalu terulang lagi, terutama Hideo.
Coba kau bayangkan kau punya anak kecil hiperaktiv yang suka kabur diam-diam, pasti kau akan mengunci pintu, mengunci pagar, juga memantaunya selalu.
Hari berganti hari. Obat dan serum telah masuk ke dalam tubuh Tahta. Serum regenerasi sel dosis tinggi adalah serum yang paling terlihat efeknya. Serum itu dibuat dari ekstrak tumbuhan yang berfungsi baik untuk meremajakan sel. Berkat serum itulah kini kulit Tahta terlihat segar. Kuku-kuku yang agak kehitaman perlahan merona merah jambu. Karena kulitnya sehat, maka rambutnya pun tumbuh. Helaian blonde keperakkan Tahta memanjang melewati dagu juga terlihat sehat.
Luka di pipi dan kakinya pun sembuh. Ada jaringan sel baru di atas kulit yang terkoyak dan akhirnya menutup luka. Secara fisik, Tahta mulai terlihat seperti manusia, meski bibirnya masih abu-abu pucat. Organ dalam tubuh tentu masih membutuhkan lebih banyak waktu pemulihan, tapi dalam prosesnya semua mulai berjalan lancar.
Hari ini Hideo datang ke gedung Atlantis lebih awal dari biasanya. Dia diberitahu kalau Tahta diberi jadwal untuk proses penarikan memori. Proses ini berguna agar otak Tahta bekerja dan mengingat kembali kehidupannya sebagai seorang manusia.
Hideo berdiri terhalang dinding berkaca tebal. Dari tempatnya berdiri dia bisa melihat alat-alat canggih, beberapa komputer layar transparan, dan beberapa kapsul yang dindingnya tembus pandang. Dari sekian banyak kapsul hanya satu yang terisi. Satu kapsul berisi seorang zombie----Tahta.
Leony bersiap di depan layar. Jantungnya berdebar atas apa yang akan mereka lakukan nanti. Saat ini mereka akan membawa kembali ingatan Tahta. Ini tahap yang paling dinanti oleh semua orang. Tahap inilah yang akan berperan penting apakah zombie bisa mengingat kehidupannya dahulu atau berakhir dengan kegagalan sehingga mereka tetap pada wujudnya sekarang, yaitu makhluk bergerak tanpa hati dan memori. Dilihatnya lagi sosok Tahta yang terbaring di dalam kapsul. Beberapa alat bantu memori terpasang di kepala dan alat bantu lainnya di sekujur tangan. Leony berharap Tahta bisa bertahan dan menciptakan sebuah keajaiban.
"Nyalakan mesinnya!" perintah profesor Hartman.
Beberapa ilmuwan senior maupun junior menekan beberapa tombol hingga layar transparan itu berubah hitam. Layar hitam pun berubah putih menandakan alat ini tengah memasuki alam bawah sadar Tahta. Titik putih perlahan membesar menjadi sebesar pintu. Pintu terbuka lalu muncul sebuah ruang berlapis-lapis. Tiap layar mewakili memori berbeda menandakan banyaknya kenangan yang terkubur dalam-dalam. Ingatan memori itu dimulai ketika Tahta masih kecil.
"Sayang, waktunya minum susu." Ini adalah suara seorang wanita yang sangat lembut. Mata Tahta menangkap sosok wanita cantik berambut blondie pucat tersenyum manis penuh keibuan ke arahnya.
"Mama ... mama ...."
"Hey ... Jangan berlari, sayang. Anak momy kotor sekali, ya ampun." Wanita itu menunduk sambil mengusap puncak kepala Tahta, membuat si kecil terkikik geli.
Miow
Tahta menunduk dan melihat ke bawah di mana seekor kucing tengah berbaring dalam gendongannya.
"Tadi aku main dengan Lili. Lili nakal, dia lari waktu kukejar hehehe."
"Tahta, anak mama yang manis. Sekarang mandi dulu."
Beralih dari memori masa bahagia Tahta bersama ibunya, di layar yang lain justru menampilkan hal sebaliknya. Di layar diperlihatkan Tahta sedang menangis di depan sebuah gundukan tanah. Tanah itu masih basah menyelimuti seseorang yang telah kembali menuju tempat pembaringan terakhir. Ibundanya meninggal.
Dalam pandangan Tahta muncul sosok pria tegap tak lain adalah ayahnya sendiri, Altar Langit. Pria itu menunduk untuk memeluk tubuh kecil anaknya yang bergetar karena tangis kehilangan.
"Mama... hiks ... hiks."
"Jangan menangis, Tahta. Ada ayah di sini."
"Hiks ... hiks ... Apa mama sekarang bahagia di surga?" si kecil mengangkat wajahnya melihat sang ayah yang juga tampak bersedih namun berusaha tetap tegar demi sang anak.
Tuan Altar menatap anaknya dengan tatapan sendu. Dengan penuh kasih diusap-usap kepala bulat Tahta agar tenang. Seulas senyum di bibir pria itu terlukis, mencoba menyampaikan semua baik-baik saja. Jika dia menunjukkan kelemahan, pria itu takut anaknya bertambah sedih.
"Tentu. Mama sekarang bahagia di surga. Karena itu kau harus kuat agar momy pergi dengan senyuman. Ayah akan selalu bersamamu."
"Ya, ayah. Tha akan kuat karena Tha ingin mama tersenyum."
Di layar yang lain menampilkan sebuah tempat diduga sekolah Cassanova High School. Ini berhubungan dengan memori Tahta sewaktu beranjak remaja. Sepanjang remaja itu berjalan sorak-sorai terdengar di sekitar memanggil namanya. Oh! Sepertinya Tahta seorang idola Cassanova.
__ADS_1
"Tahta." Seorang lelaki menghampiri Tahta.
"Hai, Soni."
Hideo yang turut melihat proses penarikan memori diam-diam berdecih. Dia kesal melihat sosok Soni melekat di ingatan Tahta dan terbawa hingga sekarang. Dia menganggap Soni seharusnya masuk ke daftar hitam, mengingat bagaimana sikap lelaki itu terhadap Tahta. Hideo kesal bukan main. Kalau saja dia pria yang sudah dewasa pasti sudah dihajar hingga babak belur.
"Selamat ulang tahun, sayang." Lelaki itu tersenyum sambil menyodorkan sebuah kue tart dengan lilin. Tahta meniupnya lalu Soni pun mengecup dahi Tahta sebagai balasan.
"Terima kasih."
"Bagaimana kalau kita kencan?" Soni menggandeng tangan Tahta bersiap untuk pergi, tapi sebuah suara teriakan seseorang menunda niat mereka.
"Yo! Tahta." Seorang remaja laki-laki datang. Dia tersenyum lebar saat sudah berada di depan sahabatnya.
"Kenapa, Jeon? Apa kau salah makan?" bukannya menjawab, remaja di hadapan Tahta itu malah tersenyum semakin lebar lalu memberikan apa yang dia bawa.
"Selamat ulang tahun! Ini coklat dan bunga untukmu."
"Kenapa kau memberiku bunga?"
"Tadinya malah mau kuberi cincin. Hahahaha!"
"Dasar sahabat gila!" Tahta mendorong Jeon dan berjalan melaluinya.
"Jeon! Jangan macam-macam dengan kekasihku!" Soni tampak protes. Dasar tidak tahu malu, Jeon malah merangkul pundak Tahta.
"Diam saja kau. Aku lebih dulu kenal dengan Tahta. Ya, 'kan baby? Mau ke mana kalian?"
"Aku ikut."
"Enak saja! Sana, cari teman kencanmu sendiri!" Tahta masih menghindar dan tetap bergandengan tangan dengan Soni.
"Ayolah! Perutku lapar. Lagipula kau kan ulang tahun. Aku minta pajak kencan."
"Enak saja. Aku yang akan berkencan dengan Tahta."
"Pergi sana, Jeon!"
"Yaelah. Pelit sekali, sih?! Aku cuma mau minta kopi susu dan pizza dua loyang. Kau tega sekali sama pacar pertama, ih. Aku kan sudah memberimu ijin untuk punya pacar lagi."
"Kapan kita pacaran? Kita sahabat, Jeon."
"Sahabat rasa pacar."
"Mimpi."
"Memimpikanmu itu terlalu indah, Tha."
Tahta merotasikan matanya dan meninggalkan Jeon dengan segala halusinasi yang dia punya.
"Oi, Baby! Tunggu aku!"
__ADS_1
Di balik dinding kaca, hati Hideo berdenyut saat melihat memori Tahta. Dia mendadak tidak suka pada remaja yang akrab dengan kekasihnya itu. Tahta selain populer juga banyak disukai orang. Masa lalu Tahta ternyata sanggup membuat Hideo memasang wajah masam.
Memori Tahta berganti saat dia melihat sebuah mobil bertuliskan STERIL memasuki halaman parkir sekolah. Beberapa orang berpakaian seragam khas militer turun dari dalam mobil itu. Entah apa yang menarik sehingga Tahta menangkap sosok pemuda tinggi berambut hitam sedang berjalan dengan gagahnya.
"Wuoh! Bukankah itu Divisi militer yang akan membantu menjalankan program STERIL? Mau apa mereka ke sini?"
Tahta menoleh ke arah Jeon. "Aku dengar mereka mau memperkenalkan kemiliteran secara langsung pada mata pelajaran Pertahanan Negara. Oh, ya. Apa itu STERIL?"
"Kau tidak tahu? Program itu punya misi untuk menyembuhkan dan membuat zombie kembali menjadi manusia. Kau percaya itu? Masa kau tidak tahu?"
"Tidak."
"Aish! Kau ini ... kau tidak kagum sama sekali? Mereka hebat. Terutama bagian militernya. Suatu hari nanti aku akan menjadi seperti mereka. Aku akan membidik zombie dengan senjata. Keren, kan?"
"Biasa saja." Tahta berjalan pergi namun dicegah Jeon.
"Mau ke mana? "
"Tidur."
"Yang benar saja?! Ada militer di sini? Ayo kita ke aula. Tunggu dulu! Kenapa kaupakai masker?"
"Aku sedang flu. Ah, Jeon! Jangan seret-seret aku! Aku tidak mau melihat militer!"
Tahta ditarik-tarik oleh Jeon. Sekarang mereka berada di aula dengan lima orang militer sedang menjelaskan tugas-tugas mereka, apa saja jenis senjata yang mereka pakai dan cara menggunakannya. Mereka juga memperagakan keahlian bela diri. Ruang aula yang biasa dipakai untuk acara resmi itu mendadak gaduh karena sorak-sorai siswa-siswi. Di tengah acara, sang kapten meminta perwakilan dari siswa untuk mencoba memegang senjata. Tahta pun tertarik.
"Apa ada yang mau mencoba memegangnya?" tanya sang kapten.
"Aku." Tahta mengangkat salah satu tangan lalu berjalan ke depan aula. Sebuah masker masih menempel menutupi sebagian wajah, namun tak mengurangi sorot mata penuh kehidupan dari sepasang mata semerah ruby.
"Kalian para militer sangat populer di antara teman-temanku. Mungkin karena kalian memiliki senjata jadi aku mau mencobanya." Mata Tahta beralih untuk membaca papan nama di dada sang kapten.
"Hideo Alexander. Nama yang tidak buruk," katanya.
"Dengan membaca namaku berarti nyalimu besar juga. Hei, kau pikir kami cuma ingin kelihatan keren, hah?! Bagi kami keselamatan warga sipil sangat penting. Kalau kami tiba-tiba jadi populer----itu sih bonus." Hideo menyunggingkan senyum menyeringai sambil menepuk-nepuk puncak kepala Tahta yang langsung ditampik oleh si pemilik raga.
"Huh! Jangan sentuh aku!"
"Galak sekali. Baiklah. Kau mau mencoba memegangnya----Tahta?"
Tahta melengos. Pemuda militer itu sungguh menyebalkan karena telah membaca namanya yang tertera di baju seragam. Tidak heran jika Hideo bisa menyindirnya lewat nama. Ditambah senyum menjengkelkan di wajah Hideo, Tahta semakin sebal. Sekarang mereka impas.
Hideo mengambil senjata besar dengan laser. Dengan telaten dia memperkenalkan bagian-bagian senjata beserta fungsinya. Dia menempatkan diri di belakang Tahta untuk mencoba membidik sasaran. Dari jarak sedekat itu Hideo bisa mencium bau parfum Tahta yang lembut. Nyaris saja pemuda itu memejamkan mata karena terbuai wanginya.
"Jaga jarak! Jangan dekat-dekat!" seru Tahta begitu sadar ada yang tidak beres dengan pemuda militer di belakangnya. Dia menoleh dan melirik tajam.
Hideo terkejut dengan reaksi ini hanya bisa terkekeh.
****
__ADS_1
Bersambung