
Hari itu, sungguh cerah. Bukan hanya karena mentari bersinar dengan begitu gagah, namun karena dia. Bagi Hideo itulah arti Tahta baginya. Si pirang pucat pemberi cahaya sekaligus penghangat hatinya yang sepi penuh kesendirian. Tahta sangat penting, bahkan lebih penting dari hidupnya sendiri. Bila harus berkorban nyawa, Hideo 'kan rela.
Tahta segalanya bagi Hideo.
Ini pertama kalinya Hideo dan Tahta pergi berdua tanpa ada sangkut paut urusan dengan militer. Hideo anggap mereka sedang kencan. Karenanya, dia ingin membuat Tahta bahagia. Hideo memiliki rencana untuk itu. Dia akan membawa kekasihnya ke tempat baru yang menyenangkan. Siapa tahu dengan adanya kenangan indah, akan menumbuhkan perasaan manusiawi sehingga mempercepat penyembuhan Tahta.
"Sayang," panggil Hideo pada Tahta, namun tak digubris.
Kekasihnya justru asik melihat kupu-kupu yang terbang bebas di Kota Lazar. Tahta mengangkat tangannya untuk menggapai kupu-kupu, tetapi tidak bisa. Mereka terbang menjauh lalu mendekat seakan senang menggodanya. Mereka terbang mengelilingi Tahta, mengungkungnya dalam penjara kupu-kupu.
Tahta tidak bersuara. Dia hanya diam dengan mulut menganga. Samar terlihat gambaran kupu-kupu pada bola matanya. Retina mata Tahta telah membentuk bayangan benda yang kemudian dikirim oleh saraf mata ke otak, lantas otak pun merekam semua objek yang dilihat.
Kemudian keajaiban terjadi. Perlahan namun pasti, otot-otot wajah Tahta meregang dan mengencang, serta pembuluh darahnya mengerut lalu menghasilkan raut wajah yang paling ingin dilihat oleh semua orang----Tahta tersenyum.
"Kausuka kupu-kupu?"
Kali ini Tahta menjawab, meski tidak menoleh sedikit pun. "Kupu-kupu. Ya ... suka."
Hideo yang tertular oleh kebahagiaan Tahta lantas menunjuk ke arah taman. "Di sana ada lebih banyak lagi. Kau bisa melihat sepuasnya."
"Oke. Ayo ... lihat ... kupu-kupu! Kupu-kupu."
Tahta berjalan dengan sedikit melompat. Kedua tangan diayun mengikuti irama ceria. Langkahnya pendek seperti biasa, karenanya Hideo tengah berusaha untuk tidak mendahului kekasihnya.
Hideo mengikuti Tahta. Dia tidak melepaskan pandangan sedikit pun dari kekasihnya. Pemuda itu hanya mengulas senyum bahagia sambari terus mengawasi Tahta agar tidak melakukan hal aneh. Dilihatnya sang kekasih sangat senang bermain. Ternyata dia tidak hanya tertarik pada kupu-kupu, tetapi juga pada bunga. Dia menyentuh lagi dan lagi, bahkan meremasnya.
"Bunganya jangan dirusak!" larang Hideo ketika Tahta menarik sejumput bunga dengan paksa.
"Um ... kenapa?"
"Nanti bunganya mati."
"Jangan ... mati ... bunga!"
Tahta meninggalkan bunga itu lalu dia berjalan lagi.
Di tengah taman ada sebuah kolam. Gemericik air mancur terdengar lembut di telinga. Kaki kecil Tahta pun berlari riang. Sesampainya di tepi kolam, Tahta hanya berdiam diri. Kepalanya bergerak ke kanan-kiri untuk melihat makhluk apakah yang berenang di dalam air? Baginya sangat menarik.
"Itu ... apa?" tunjuk Tahta.
"Oh, itu ikan," jawab Hideo. "Kau suka melihatnya?"
"Um, suka. I-kan ... lucu. Ikan, ayo sini!" Tahta menunduk. Tanpa pikir panjang, dia memasukkan tangannya. Bunyi kecipak riak air membuat ikan-ikan yang tengah berenang santai ketakutan, tetapi Tahta tidak peduli. "Sini! Main sama, Tha!" panggilnya, berharap ikan-ikan bisa mendengar seperti manusia atau dirinya sendiri. Bukannya mendekat, mereka justru berenang menjauh karena ketakutan.
__ADS_1
"Hey, Tahta, jangan tangkap ikannya!" seru Hideo. Dia berusaha menghentikan Tahta, tetapi kekasihnya cukup nekat. Bukan hanya tangan, melainkan Tahta juga memasukkan kakinya ke dalam air.
"Tha mau ... ikan!" serunya seraya berusaha melepaskan diri dari tangan Hideo.
"Jangan sembarang memasukkan kakimu!" Hideo menahan Tahta sebisa mungkin, karena kekasihnya bersikeras ingin bermain basah-basahan.
"Tha ... mau ikan!"
"Tidak boleh, Tahta!"
"Tha ... mau ikan, Deo!"
Di tengah kesusahan Hideo dalam menghadapi ulah sang kekasih, sebuah mobil jeep melintas. Dari plat nomor, Hideo hapal betul milik siapa itu. Hideo tidak pernah lupa karena pemiliknya selalu mengendarai mobil yang sama setiap kali datang ke markas militer. Mobil itu milik salah satu atasannya.
Namun, Hideo tidak mengerti mengapa jeep hitam itu berhenti di dekat mereka? Tidakkah pria di dalamnya ingin pergi ke suatu tempat? Pergi ke tempat pertemuan misalnya? Bukankah pria itu memiliki kesibukan? Namun sepertinya anggapan Hideo meleset, karena begitu ban yang bergesekan dengan aspal berbunyi, mobil hitam itu benar-benar berhenti di taman. Seketika Hideo merasa ada firasat buruk.
Pintu mobil pun terbuka dan seorang pria keluar dari dalam. Tatapan matanya dingin serta raut wajahnya tidak tersenyum sama sekali. Setelah Tahta berhasil diamankan dari kolam, Hideo berdiri tegak lalu mengangkat sebelah tangan untuk memberi hormat.
"Salam, Jenderal!"
"Hm, salam. Sedang apa kau di sini?" tanya Jenderal Drake tenang namun matanya tertuju pada seseorang berambut pirang pucat yang bersembunyi di balik tubuh Hideo.
Hideo sedikit salah tingkah, tetapi dia secepatnya menguasai diri. "Aku sedang mengajak Tahta pergi melihat-lihat kota."
"Oh, apa kalian sedang kencan?" Jenderal Drake melirik Tahta. Dalam sekejap dia paham siapa seseorang di samping Hideo. "Apakah dia Tahta anak Tuan Altar yang berubah jadi zombie?"
Jenderal Drake tersenyum samar, sehingga gelagat sinisnya tak terlihat, "Aku sudah mendengar kalau kau pacaran dengannya. Apa kau tidak salah? Menjadikannya kekasih sama saja dengan mengantar nyawamu."
"Tahta bukanlah ancaman. Dia akan segera sembuh dan aku tidak keberatan jika harus menunggu sedikit lebih lama." Hideo menoleh pada kekasihnya. Tahta terlihat tenang, meski tangannya agak meremat kaus yang dipakai Hideo.
Drake tampaknya tidak sepaham. Dia lantas tersenyum semakin lebar. Nada bicaranya tenang seolah semua yang dikatakan hanyalah ucapan biasa. "Apa kau mencoba membodohiku seperti orang-orang Atlantis? Aku tidak habis pikir kenapa mereka menganggap bahwa zombie bisa disembuhkan? Mereka pikir bisa melakukan hal mustahil. Lihatlah dia dan lihatlah mereka di luar sana! Mereka makhluk mengerikan dan rendahan. Kalian pikir dengan wajah seperti boneka lantas tidak berbahaya?"
"Aku yakin bahwa para ilmuwan bisa menyembuhkan Tahta dan zombie lainnya. Semua hanya tentang waktu."
"Hahahaha!" Jenderal Drake menutupi wajahnya yang tertawa kencang. "Kau lucu sekali. Selama ini belum ada yang berhasil mengembalikan zombie menjadi manusia. Takdir mereka hanya dibinasakan dan dimusnahkan. Jangan bicara omong kosong di depanku, karena aku tidak akan membiarkan kebodohan ini merajalela."
Jenderal Drake maju. Salah satu tangannya terangkat untuk menggapai Tahta. Namun yang ada, Hideo malah melindunginya. Jenderal Drake pun melempar tatapan dingin pada Hideo. "Oh, sepertinya kau terlalu memanjakannya. Kau orang hebat, Hideo. Kau masih muda. Siapapun bisa kaupilih jadi kekasihmu, tapi sayang sekali. Kau lebih memilih anak Tuan Altar gara-gara sayembara yang tidak masuk akal."
"Dengan siapa aku memilih untuk bersama----itu hakku, Jenderal. Aku memilih Tahta juga bukan urusanmu."
Lantas Jenderal Drake tertawa lagi. "Memang bukan. Tapi kota ini berada di bawah kekuasaanku. Jadi----aku akan memgawasi seluruh zombie yang masuk ke Atlantis. Jika mereka mulai macam-macam, maka jangan salahkan aku bila aku turun tangan dan mengerahkan anak buahku agar memusnahkan mereka. Itu berlaku juga untuk kekasihmu!"
Jenderal Drake diam sejenak sebelum melanjutkan, "Satu hal lagi-----walaupun kau berada di dalam Misi STERIL, tetapi kau juga seorang militer. Militer tidak boleh berpihak pada kubu manapun. Aku masih berbaik hati sekarang, tetapi kau harus taati peraturan atau aku akan mencopot jabatanmu!"
__ADS_1
Hideo merasa dadanya sesak oleh api kemarahan. Dia tidak terima dengan kata-kata Jenderal Drake barusan. Bahkan ketika pria itu masuk kembali ke dalam mobil dan kendaraannya mulai menghilang di kejauhan, kata-kata Jenderal Drake masih membekas dalam ingatan. Dia merasa perlu mengejar jenderal lalu memukulnya, tetapi sebagai bawahan, Hideo masih menaruh hormat. Mengingat bahwa menjadi militer tidak mudah. Ada peluh dan kerja keras yang dituangkan hingga bisa menjadi pelindung negara seperti sekarang ini. Hideo segan, karena dia mengerti perjuangan sebagai seorang militer----antara hidup dan mati.
"Deo. Kau ... baik-baik saja?"
Hideo menarik seulas senyum. Dari raut wajahnya, Hideo tahu Tahta tengah khawatir. "Aku baik-baik saja. Kau tidak usah cemas." Hideo menepuk-nepuk kepala Tahta pelan. "Jangan dengarkan kata-kata Jenderal, ya. Aku akan selalu menjaga dan melindungimu."
"Um. Tha percaya ... Deo."
"Nah, ayo kita jalan-jalan lagi."
"Um." Tahta mengayunkan langkah ringan.
"Apa kau mau beli ikan?" tawar Hideo.
"Um, mau. Tha, suka ikan!"
"Kalau begitu----ayo mampir ke toko ikan hias!"
****
Hideo tidak pernah menduga jika Tahta bisa belanja sangat banyak. Setelah dari taman, mereka mampir ke beberapa toko. Di sana Tahta menunjuk apa-apa saja benda yang disukai. Hideo pun hanya bisa mengangguk setiap kali Tahta meminta sesuatu. Zombie remaja itu agaknya tidak mengerti jika apapun yang dibawa dari toko harus ditukar dengan uang.
Beberapa kali kartu debit milik Hideo bergesekan dengan mesin kasir dan pemuda itu tidak masalah sama sekali. Sepanjang Tahta senang. Toh, buat apa tabungannya mengendap sekian lama?
Hideo bukan orang yang suka menghamburkan uang seperti Mark. Meski gajinya cukup banyak karena berpangkat menjanjikan, Hideo lebih senang memakai seperlunya, seperti kebutuhan sehari-hari, listrik, dan bensin. Memang untuk kendaraan dia hanya punya satu motor besar yang harganya mahal. Karena prinsip Hideo adalah lebih baik membeli barang mahal sekali, tetapi awet dan bisa dipakai berkali-kali. Setelah itu, dia akan membiarkan sisa uangnya tetap disimpan di dalam bank. Bisa dikatakan tabungan pria itu sudah cukup untuk menghidupi satu orang lagi.
Ketika pulang, Hideo sangat kerepotan. Dia pulang dengan membawa belanjaan milik Tahta. Hideo menaruh kantung-kantung belanjaan di atas kursi. Tahta bilang ingin ikan jadi Hideo membeli beberapa ekor untuk menemani Tahta selama direhabilitasi. Tak hanya ikan, Hideo juga membeli akuarium bundar berukuran sedang sebagai tempat ikan-ikan itu nantinya. Dengan hati-hati Hideo mengambil lalu menaruh ikan di dalam akuarium bundar yang telah diisi air. Aquarium itu diletakkan di atas meja. Dengan adanya hewan kecil warna-warni, kamar Tahta tampak hidup dan lebih manusiawi.
"Ikan ... ikan." Tahta terlihat senang. Beberapa kali tangannya ingin masuk ke dalam air, namun Hideo tidak mengijinkannya.
"Jangan mengobok-obok akuarium! Nanti ikannya bisa mati," larang Hideo seraya membuka kantung makanan ikan.
Di sampingnya Tahta berteriak, "Tha tidak mau ... ikannya mati! Jangan mati!"
"Ya, kalau tidak mau ikannya mati, beri mereka makan supaya tidak kelaparan."
"Oke."
Tahta mengambil segenggam makanan ikan, lalu menjatuhkannya ke dalam air. Ikan-ikan kecil pun berlari mengejar bola-bola kecil yang mengambang. Mereka melahapnya dengan rakus. Karena begitu senang, Tahta memberi pakan ikan lagi dan lagi, sampai-sampai airnya keruh oleh makanan ikan.
"Jangan memasukkan semua makanan ke dalam akuarium! Mereka tidak mungkin memakan semuanya."
Tahta tidak merasa bersalah. Dia malah terkikik geli, karena baginya ikan-ikan mabuk terlihat lucu. "Bersihkan ... akuariumnya, Deo!" Tahta berlari kecil menuju tempat tidur. Boneka beruang berukuran besar dibawanya serta.
__ADS_1
Hideo menatap akuarium, nelangsa. Dia merasa kasihan melihat penghuni kecil di dalamnya. Dia merasa harus segera membersihkan semua kekacauan ini sebelum ikannya benar-benar mati akibat ulah Tahta. Selain menangkap zombie, sekarang Hideo punya pekerjaan tambahan, apalagi kalau bukan----menguras akuarium.
****