
"Lepaskan maskermu!" Siapa sangka setelah selesai memberi pengajaran singkat di aula, Hideo malah mengikuti Tahta hingga ke koridor.
"Apa urusanmu?"
"Aku cuma mau tahu wajah bocah yang tidak respek dengan kemiliteran negaranya sendiri."
"Bukankah kau sibuk? Buat apa mengurusiku? Sana! Pulanglah ke tempat asalmu!"
"Kau sendiri kenapa malah pergi ke luar? Bukankah kau seharusnya kembali ke dalam kelas? Kau mau bolos, ya?"
Tahta yang kini sedang menuruni tangga----berhenti. Dia berbalik lantas menatap Hideo yang berdiri di tangga paling atas.
"Siapa juga yang mau bolos? Aku----hachiu!----sedang flu jadi aku mau ke kantin untuk membeli minuman hangat. Kau pergi saja sana dan bawa anak buahmu juga!"
"Kau ini benar-benar. Berani sekali kau mengusirku! Buka maskermu!" Hideo mendekati Tahta dan berniat untuk menarik maskernya, tapi niatnya tertunda karena tulang kering kaki Hideo ditendang. Rasanya tidak terlalu sakit, tapi Hideo berpura-pura sakit.
"Aowh! Tendanganmu keras juga. Rasanya sakit sekali."
"Hahaha ... di bagian itu tidak ada pelindungnya? Bye! Kuharap kita tidak bertemu lagi."
"Kita pasti akan bertemu lagi! Kalau bukan aku pasti kau yang datang padaku!"
"DALAM MIMPIMU!!" teriak Tahta sebelum benar-benar pergi.
Hideo tertegun menatap layar berisi memori Tahta. Jelas dia kaget. Jadi dia pernah bertemu dengan Tahta sebelumnya? Dia tidak ingat. Sepertinya pekerjaan telah membuatnya lupa pada pertemuan pertama mereka.
Jika ditilik kembali memang dulu Hideo pernah berkunjung ke Cassanova High School bersama tim. Di sana dia bertemu dengan seorang remaja yang sepertinya tidak menyukai orang-orang militer. Dia galak, judes tapi menarik perhatian. Rambutnya pirang keperakan dan terlihat halus. Sepasang mata agak besar berwarna merah ruby miliknya terlihat sangat hidup dan menggemaskan. Namun sayang, Hideo tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas karena saat itu Tahta memakai masker. Ketika dia nekat ingin melepas paksa masker yang dipakai Tahta, mereka malah bertengkar.
Ha-ah. Karena sibuk, Hideo melupakan pertemuan itu.
Memori Tahta kembali berputar menampilkan saat kelasnya sedang pergi bertamasya. Di sanalah malapetaka dimulai. Di sanalah awal mula dari tragedi yang menimpa anak-anak sekolah hingga menjadi trading topic paling menggemparkan di semua media masa.
Waktu itu pukul 9 pagi. Mobil yang mereka tumpangi melewati perbatasan Kota Lazar yang bersebelahan dengan Kota Venya. Satu-satunya pembatas di antara dua kota adalah Hutan Zadnok. Di tengah perjalanan melewati hutan, ban mobil mereka kempes dan terpaksa harus berhenti. Dalam keresahan lagi panik, supir serta beberapa guru pergi ke luar untuk segera mengganti ban sedangkan yang lainnya berjaga-jaga.
Tak berapa lama zombie berdatangan dan menyerang mereka. Tahta, Jeon, dan beberapa penumpang berlari menyelamatkan diri ke hutan. Mereka tidak tahu bahwa ini pilihan yang buruk. Zombie-zombie terus mengejar hingga satu per satu dari mereka dimangsa.
Tahta terus berlari ke dalam hutan sampai akhirnya terpojok pada sebuah batu besar. Wajahnya tampak ketakutan, namun tidak juga menyerah. Tahta mengangkat kepala, buruknya dia justru melihat salah satu zombie tepat berada di atasnya dengan mata abu-abu buas siap menyerang kapan saja. Saat inilah waktu terasa lambat berputar.
Tahta benar-benar tidak punya pilihan. Maju atau mundur sudah tidak ada jalan. Di hadapannya saat ini berbondong-bondong mayat hidup berdatangan. Di satu titik akhirnya dia menyerah. Tahta hanya melindungi tubuhnya dengan kedua tangan. Dia bersiap untuk kemungkinan terburuk saat zombie di atasnya melompat, Tahta pun berteriak.
"ARGH! JANGAN MAKAN AKU!"
Dia kira akan mati.
Namun ...
BRUK
__ADS_1
Jeon tiba-tiba muncul di depan Tahta dengan sebuah tongkat baseball. Dia menghantam zombie dan berusaha melindungi sahabatnya.
"Kau baik-baik saja? Sial, mereka berhasil menyentuhmu!" umpat Jeon ketika melihat pipi Tahta berdarah.
"Sakit, Je-on," rintih Tahta menahan perih yang terasa merobek lagi panas.
"Tahan," Jeon menarik Tahta ke belakang lalu memasang tubuhnya sendiri sebagai tameng.
Darah yang keluar dari luka itu justru memancing zombie semakin agresive. Mereka berdatangan seperti seekor semut mengerubungi gula. Jeon memukul mereka semua dengan kemarahan. Keinginannya untuk melindungi Tahta sangat kuat.
"Tahta, pergilah!"
"Tapi, Jeon ...."
"Aku bilang pergi! Jangan sampai kau jadi seperti mereka. Aku dengar para ilmuwan akan menjalankan program STERIL sebentar lagi. Aku ingin ada harapan untukmu."
"Jeon! Aku tidak bisa meninggalkanmu!"
"Kau harus pergi!" Jeon menatap Tahta. "Aku mencintaimu, Tha. Sejak dulu."
Jeon tersenyum sebagai hadiah perpisahan bagi mereka.
"Sekarang pergilah!"
BRUK
"Jeooon!"
"Jeon," Tahta merapalkan nama itu sebelum tubuhnya berhenti di tanah keras dan menutup mata. Ada bulir air mata menetes di sudut matanya. Dia dan Jeon telah berpisah dengan cara yang tragis. Apa Jeon begitu mencintainya sampai-sampai berkorban nyawa seperti ini?
Di balik ruangan, Hideo menatap kekasihnya dengan sendu. Pasti saat itu Tahta sangat ketakutan. Dia menyesal karena tidak bisa menolong. Rasa sesal itu perlahan jadi kesal karena ada orang lain yang lebih dulu melindungi Tahta. Melihat drama romantisme antara Tahta dan Jeon membuatnya jengkel. Apa dia cemburu?
Para ilmuwan dan profesor masih memantau lewat bantuan alat. Setelah Tahta digigit dan terjatuh ke jurang pasti remaja itu akan berubah jadi zombie.
Mereka kira memori Tahta akan berakhir tapi ternyata mereka salah. Setelah tersadar, mata Tahta terus merekam apa yang dilihatnya walaupun kini dia telah berbeda.
Hal ini sulit dimengerti karena pada dasarnya otak zombie telah mati. Bagaimana bisa bagian tubuh paling rentan ini mampu merekam peristiwa yang terjadi di sekitarnya? Apa ini berarti otak mereka sebenarnya masih hidup dan hanya terganggu saja?
Kasus Tahta ini merupakan yang pertama kali terjadi. Bila ternyata demikian, maka proses kesembuhan semakin terbuka lebar untuk 'mereka.' Profesor Hartman sepertinya harus meneliti tentang aktivitas kerja otak lebih lanjut.
Layar di muka kembali berwarna putih lalu terang. Kali ini mata Tahta merekam saat dia menjadi zombie dan berada di aula luas. Sepasang matanya menyorot aktivitas mereka layaknya sebuah kamera proyektor. Melaluinya semua orang tahu bahwa di sekitar Tahta pada waktu itu banyak zombie berkeliaran.
Di tiap sudut aula yang menjadi tempat tinggal barunya dipenuhi oleh bercak darah juga tubuh-tubuh bergelimpangan. Seonggok tubuh tergeletak sementara zombie-zombie berkerumun mengelilinginya seperti acara makan besar. Tapi anehnya Tahta diam saja. Dia tidak tergerak untuk ikut bergabung, malah lebih banyak menonton.
"Apa yang kau lakukan? Kenapa kau diam saja? Kau tidak ingin makan?" Profesor Hartman berbicara sendiri. Dia merasa perlu jawaban atas perilaku aneh yang membuatnya penasaran.
Saat itu Tahta malah berbalik dan pergi menuju kebun dengan langkah diseret. Sesekali dia menggeram. Tidak jauh darinya ada beberapa burung hinggap di atas pagar. Tiba-tiba dia jadi agresiv. Dia menyerang, menangkap, lalu memakan burung itu dengan rakus.
__ADS_1
"Dia menolak memakan daging manusia dan lebih memilih makan burung?" tanya Leony yang berdiri di samping Profesor Hartman. Antara percaya atau tidak, Leony yakin ini merupakan hal baru.
"Apa hal ini bisa terjadi, Pofesor?" tanyanya lagi.
"Mungkin saja, sebab kulihat zombie Tahta berbeda. Dia lebih tenang dibanding 'mereka.' Dia agresiv jika terganggu dan ingin makan. Bukankah selama dia dikarantina juga baik-baik saja dengan adanya manusia di sekitarnya? Itu karena dia tidak mau atau tidak suka memakan manusia."
Leony mengangguk tanda setuju. Selama ini Tahta memang jinak. Dia agresiv hanya karena satu atau dua hal. Ditambah Tahta ternyata memperhatikan meski hanya diam. Sebagai poin tambahan Tahta juga bisa memanggil nama seseorang walau tidak lengkap.
Di layar, diperlihatkan Tahta kembali berjalan-jalan dengan langkah seperti seseorang kehabisan tenaga. Siapa sangka dia malah bertemu dengan sahabatnya Jeon yang juga telah berubah menjadi zombie. Jeon terlihat lebih menyedihkan dengan luka di sekujur tubuhnya dan pakaian compang-camping. Dia hampir tidak mungkin untuk dikembalikan menjadi manusia lagi. Jika bertemu dengan tim penyelamat STERIL, sudah pasti dia tidak akan dibawa ke Atlantis.
Tahta mengikuti Jeon seperti seorang penguntit. Mereka ke mana-mana selalu berdua. Ketika Jeon menyerang manusia dan memakannya, Tahta hanya berdiri di samping sambil menyaksikan. Ketika mereka berjalan beriringan Tahta akan menabrak lengannya pelan lalu Jeon pun akan menoleh padanya.
"E-o," gumam Tahta pada waktu itu.
Gumaman itu membuat semua orang yang menjalankan tahap penarikan memori panik.
"Apa dia bilang sesuatu? Coba perjelas!" perintah profesor Hartman pada anak buahnya.
Tahta dan Jeon saling berhadapan. Tak berapa lama panggilan itu terdengar lagi, "Eo."
"Dia bilang Eo? Apa itu maksudnya Jeon?" tanya Leonya sekadar meyakinkan atas apa yang didengar.
Leony shock setelah menyadari kenyataannya. Dia menoleh pada Hideo yang berdiri menegang. Pasti hatinya tengah kecewa. Selama ini 'Eo' yang Tahta ucapkan bukan nama Hideo melainkan Jeon----sahabat Tahta. Di sinilah akhirnya Leony merasa telah melakukan kesalahan. Tak seharusnya dia mengijinkan Hideo untuk masuk ke ruang Memori. Karena meski ruangan tempat Hideo berdiri dan ruang inti penarikan memori terpisah oleh dinding kaca, namun suara aktivitas mereka bisa didengar.
Tahta bisa menyebut nama Jeon, namun Jeon tidak ingat siapa itu Tahta. Zombie itu mengabaikan sahabat masa manusianya dan berjalan menjauhi Tahta. Bukannya pergi, Tahta justru mendekati Jeon lagi sama seperti dia mengikuti Hideo di belakang.
Tiba-tiba Tahta menyerang Jeon. Insting buas zombie kembali bekerja dan mereka berguling di tanah. Dengan kekuatanya Tahta mematahkan leher Jeon hingga zombie itu terkapar. Belum puas, sebuah batu besar dipukulkan ke kepala Jeon membuatnya benar-benar mati.
Tahta berdiri lalu menjatuhkan batu yang dipegangnya. Dia menoleh pada sebuah benda hitam melintas di kejauhan. Itu adalah mobil Divisi Penyelamatan STERIL. Dengan langkah diseret Tahta mendekati pasukan penembak yang sudah masuk ke dalam gedung sambil bergumam.
"T ... lo ...ng."
"Apa dia sedang minta tolong?" Jelas hal ini membuat profesor Hartman heran. Zombie mana mungkin meminta tolong?
"Dia ...." Kata-kata Leony terhenti saat tampilan memori Tahta berganti-ganti dengan cepat dan hampir semuanya tentang Jeon.
"Profesor Hartman, sepertinya kita berhasil menarik kesadaran Tahta," ucap salah satu ilmuwan muda.
"Tarik ingatannya sekarang!" perintah profesor Hartman.
"Baik."
Hitungan pun dimulai.
Di tempatnya, Hideo mulai terserang panik. Dalam benak pemuda itu timbul berbagai macam hal buruk. Dia khawatir pada Tahta. Dia berjalan ke pintu berusaha ingin masuk. Menyadari bahwa dia tidak bisa membuka kuncinya dia berjalan lagi untuk melihat dari balik kaca.
"Tahta!" teriak Hideo, memanggil sia-sia.
__ADS_1
****
Bersambung