
Sesosok perempuan berpakaian putih melompat ke atas dinding pembatas Atlantis. Rambut merah sebahunya berkibar tertiup angin. Sorot matanya kosong, namun lekat menatap lurus ke depan, ke tempat nan jauh di sana, tak ingin berpaling. Dia bahkan tak tertarik untuk melihat geliat Kota Lazar dari tempatnya berdiri.
"Dia akan menyelamatkanmu," ujarnya pada angin, seakan angin akan menyampaikan kata-katanya pada siapapun di sana.
"Jilly, apa yang kau lakukan di atas?!"
Jilly menoleh pada wanita yang menyebut namanya. Dengan mata hijau pucat, Jilly melihat Leony sedang menggeret kursi. Ilmuwan muda itu naik ke atasnya lalu memanjat balkon hingga posisi mereka bersisian. Angin kencang berembus dan hampir saja membuat tubuh Leony limbung ke belakang.
"Kenapa kau bisa ada di sini? Cepat turun dan kembali ke kamarmu." Leony mengangkat tangan hendak menarik lengan baju Jilly. Namun, belum juga kain putih itu tersentuh, pedang Jilly lebih dulu terhunus.
"Mundur."
"A ...." Leony bungkam. Meski pedang itu masih terbalut oleh sarungnya, tetapi bagi manusia seperti Leony pedang tetaplah pedang.
Sejak Jilly datang dan pedangnya ditemukan, tak pernah sekalipun dia berpisah dari samurainya. Jilly dan samurai seperti satu kesatuan yang utuh. Jika mereka dipisahkan, maka Jilly akan mengamuk. Karena itu Leony juga sedikit berhati-hati.
"Apa yang kaulihat? Apa dari sini pemandangannya bagus?" tanya Leony mencoba mencairkan suasana.
"Kauharus ... terima ... teman kami!"
"Apa?"
"Kauharus ... terima ... teman kami!"
Leony tidak mengerti dengan kata-kata Jilly. Dia hanya merasa senang karena Jilly mulai bisa berpikir sendiri menyerupai pola pikir manusia. Itu artinya ada kemajuan dalam pengobatan STERIL yang terjadi pada tubuh zombie. Sebagai seorang ilmuwan, perkembangan sekecil apapun sangat berarti.
Leony akhirnya tersenyum, "ya. Tentu saja."
****
Ketika sebuah pesan dalam pikirannya dia terima, Tahta sedang dalam penyelamatan di antara mayat hidup yang berkobar karena api. Teriakan pilu bercampur kemarahan menjadi melodi pengiring, dengan tambahan bau daging gosong yang tidak enak pun tercium. Makhluk-makhluk hilang akal seperti tidak mau menyerah. Meski badan telah berubah sehitam arang, namun gerak ototnya masih memaksa untuk menuntut balas.
CRAT
Tiba-tiba zombie tumbang seperti pohon yang ditebang. Bukan karena ledakan akibat everclear, tetapi mereka hancur ditebas oleh sesuatu yang tipis dan transparan. Sesuatu itu berfungsi layaknya pisau, bahkan lebih mengerikan daripada sebilah pedang maupun belati. Gerakanya tak dapat terbaca oleh mata, karena itu semua orang terheran-heran.
Hideo dan anak buahnya tidak berani bergerak lebih lanjut. Dari pantulan sinar matahari, hanya sedikit terlihat kilauan dari benang-benang tampak terjalin saling silang di hadapan mereka.
"Ini adalah ...."
"Benang berlapis kaca," ucap Hideo melanjutkan kata-kata anak buahnya.
"Hum."
Hideo menoleh ke asal suara. Sebuah geraman barusan berasal dari zombie. Zombie itu terlihat masih muda, mungkin usianya sama dengan Tahta. Rambutnya pirang agak berdebu. Sisi pipinya kehitaman oleh lebam parah. Salah satu kakinya memakai penyangga dari besi hingga lutut, sedangkan satu kaki lainnya normal. Namun, bukan hanya ini masalahnya. Jari zombie itu memakai sarung tangan besi. Dari jari-jarinya keluar benang-benang transparan. Benang itulah biang kerok atas pembasmian masal mayat-mayat hidup barusan.
Sret.
Dia menarik kembali benang-benang. Lambang kalajengking semakin jelas terlihat ketika dia mengepalkan tangan.
"Zacky," gumam Tahta menarik perhatian Hideo.
"Zacky? Kau kenal dia?" tanya Hideo.
Tahta menggeleng lalu mengangguk.
"Sayang, kalau menggeleng berarti tidak, mengangguk berarti ya."
"Um ... ya. Ya. Ya." Tahta mengangguk. "Ayo ... bawa ... Zacky."
"Dia terinfeksi cukup parah. Aku tidak yakin Atlantis mau menerimanya. Kalaupun iya, pasti akan membutuhkan waktu cukup lama untuk membuatnya pulih." Hideo melihat kaki dan tangan zombie Zacky terluka dan tulangnya hampir keluar. Mungkin sewaktu diserang dia tidak sempat melarikan diri. Kalau dipikir wajar saja. Dengan keadaan cacat, kakinya tak cukup kencang berlari.
"Zacky. Zacky. Zacky." Tahta menarik-narik seragam Hideo. Dia terus mengoceh dan bersikeras agar Hideo membawa Zacky.
__ADS_1
"Baiklah. Kami akan membawa dia. Ferdinan, bawa zombie itu ke dalam mobil," perintah Hideo kepada salah satu anak buahnya.
Ferdinan datang melapor setelah memeriksa keadaan dua van mereka. Ekspresinya tampak menyesal. "Lapor, Komandan! Ban mobil ke-2 yang khusus mengangkut zombie kempes. Para zombie tadi bermaksud menghalangi kita pergi dengan merusak kendaraan."
"Apa?! Bagaimana kita membawa dia?" Hideo melirik Zacky. Zombie itu sedang memperhatikan Tahta dalam diam.
Bantuan datang tepat waktu. Dua van lainnya datang ke lokasi. Komandan Shin turun dari mobil dengan senapan di tangan.
"Komandan Hideo, kami datang untuk membantu. Bagaimana situasinya?"
"Terima kasih, Komandan Shin. Situasi aman terkendali karena kami telah mendapat bantuan di sini. Masalahnya mobil kami rusak, sedangkan kami harus membawa zombie itu ke Atlantis."
Shin Liam melihat ke arah pandangan Hideo. Di sudut sana tampak Tahta sedang berdiri saling berhadapan dengan makhluk buruk rupa. Luka di tubuhnya hampir 70%. Zombie seperti itu seharusnya dimusnahkan, tetapi mengapa Hideo ingin membawanya ke gedung rehabilitasi?
"Kauyakin ingin membawanya?" tanya Komandan Shin ragu.
"Ya. Percaya atau tidak----zombie itu yang telah menolong kami. Lagipula Tahta senang padanya. Aku juga tidak tahu kenapa."
"Baik, kalau begitu. Serahkan saja padaku."
Shin membawa Zacky ke dalam mobilnya. Dia terheran-heran karena tidak perlu bersusah payah untuk mengeluarkan rantai, Zacky bisa berjalan sendiri dengan sukarela.
Tahta terlihat sangat senang. Dia berjalan di samping Hideo sambil melompat-lompat kegirangan.
"Teman ... baru. Teman ... baru. Zacky teman Tha~"
"Ow. Mari kita rayakan huruf R pertamamu, sayang."
Dua, setengah zombie sedang bermain-main di aula. Di tengah-tengah aula itu dibuat seperti taman bermain kanak-kanak. Tahta duduk di antara tumpukan mainan. Tangannya dengan lincah menyusun satu demi satu balok-balok hingga menjadi sebuah bentuk.
"Tahta ... hebat ... bisa bawa dia ... ke sini," komentar Jilly yang sedang memutar-mutar kubik. Warnanya acak dan hanya dalam beberapa putaran, kubik itu telah tersusun rapi sesuai warnanya.
"Tentu. Tha ... memang hebat. Tha suka teman ... baru." Tahta beralih pada mainan robot-robotan. "Apa masih ... ada yang lainnya, Jilly?"
"Hm? Ada. Tapi ... mereka ... seraaaam. Nanti Tahta ... takuuut," kata Jilly dengan nada menakut-nakuti.
"Nanti ... mereka muncul. Orang jahat ... harus ... hati-hati."
"Siapa ... yang jahat, Jilly?"
"Perhatikan ... saja. Orangnya ... sangat jahat."
Jilly melihat Leony datang. Wanita berpakaian ilmuwan itu lantas duduk bersama mereka. Jilly tidak bereaksi apa-apa selain membalas senyum Leony dengan wajah datar. Dia malah sibuk memperhatikan tangan Leony yang kosong.
"Mana ... mainanku?" tanya Jilly menagih.
Leony menaikkan alisnya. Kemarin Jilly minta dibelikan mainan pistol dan pedang-pedangan. Sebenarnya ada perawat yang bertugas untuk membeli barang, tapi sepertinya orang itu juga mendapat tugas lain dari Profesor Hartman sehingga lama datang. Jilly nampaknya tidak sabaran.
"Apa kau bisa menunggu mainanmu beberapa saat lagi? Profesor sedang butuh bantuan. Perawat akan membawanya nanti."
Jilly tidak senang, "lama. Aku ... mau main ... dengan Tahta. Se-ka-rang."
Leony menggaruk-garuk alisnya, padahal tidak gatal sama sekali. Dia sebenarnya sedang berpikir sambil sesekali melirik Jilly. Kelopak mata zombie berambut merah itu bahkan tidak berkedip menatapnya. "Sebentar. Akan kuhubungi Mark dulu." Leony mengambil ponselnya lalu menekan beberapa angka. "Hallo, Mark? Belikan mainan pistol-pistolan dan pedang-pedangan untuk Jilly ...." Obrolan Leony terputus karena gawainya direbut.
"Cepat ... belikan! Tidak ... pakai ... lama," lantas Jilly mengembalikan gawai kepada Leony yang tercengang.
Beberapa menit berlalu, Hideo datang bersama Mark. Tangan mereka masing-masing sibuk menenteng barang bawaan, semua pesanan dari kesayangan mereka. Wajah Hideo terlihat bahagia, berbanding terbalik dengan Mark. Pemuda itu kesal karena waktunya terbuang sia-sia hanya untuk pergi ke toko mainan dan membeli beberapa untuk Jilly. Semua transaksi pembelian menggunakan uangnya. Catat!
UANGNYA.
"Nih, mainanmu. Lain kali minta perawat untuk membeli. Jangan aku," protes Mark sambil menyerahkan tas berisi semua pesanan Jilly. Mark mendapat reaksi tidak menyenangkan. Zombie berambut merah itu mengambil mainannya sambil membuang muka.
"Kau seharusnya bilang terima kasih padaku, bocah." Mark menepuk-nepuk kepala Jilly dengan boneka ulat. "Dari mana datangnya boneka jelek ini?" Mark memperhatikan boneka ulat di tangannya. Serius, tidak adakah boneka yang lebih bagus sedikit?
__ADS_1
Leony memutar bola matanya, "Jilly suka boneka itu dan boneka bebek."
"Seleramu jelek sekali. Lihat dia! Dia saja suka boneka beruang dan kucing." Mark menunjuk Tahta yang sedang memeluk boneka kucingnya.
"Nih, punya, Tha. Nakal!" Tahta memeluk bonekanya semakin erat.
Jilly menatap Mark tajam sebagai balasan.
Mari kita tinggalkan permusuhan di antara mereka dan beralih ke Tahta dan Hideo.
Hidung Tahta mencium bau yang amat dikenalnya. Dia lantas berdiri dan menghampiri Hideo. Jari telunjuknya di bibir sedangkan matanya terus menatap barang bawaan Hideo. Dia menatap Hideo lalu ke kantong. Menatap Hideo lagi lalu ke kantong lagi.
"Hai, sayang. Apa kau rindu padaku?" Garis bibir Hideo tak kuasa untuk tersenyum. Melihat kekasihnya menyambut kedatangannya adalah hal paling menyenangkan.
Tahta menggeleng, lalu menunjuk bungkusan di tangan Hideo. "Apa, tuh?"
Meskipun Hideo kecewa karena Tahta tidak kangen dengannya, tapi dia harus sabar. "Ini oleh-oleh untukmu. Aku bawa daging rusa mentah ekstra jumbo dan masih segar. Tahta mau?"
"Mau. Ayo makan ... makan."
"Leo, bagi dagingnya dengan Jilly. Tadi Mark membelikan spesial untuknya juga." Hideo menyerahkan bungkusan pada sahabatnya, Leony Senyum kemenangan tak luput dari bibir tebal Hideo karena senang melihat reaksi Mark.
"Jangan bilang-bilang, bodoh! Apanya yang spesial?!" Mark memukul lengan Hideo hingga bunyi 'PLAK' terdengar kencang.
"Aku cuma bicara jujur, sialan!"
PLAK
Bunyi itu terdengar lagi sebagai balasan.
Daripada pusing melihat tingkah dua sahabatnya berkelahi seperti anak kecil, Leony lebih memilih untuk mengurus dua zombie manis di depannya.
****
Hideo dan Mark sedang berada di balkon, mereka duduk saling berhadap-hadapan. Dari tempatnya, mereka masih bisa melihat Tahta dan Jilly sedang makan ditemani Leony. Mark lebih dulu memulai percakapan, karena ada suatu hal yang sedari tadi ingin ditanyakan.
"Hideo, kudengar kau membawa pulang zombie yang memiliki lambang kalajengking hitam."
Mark sudah mendengar perihal organisasi dengan lambang hewan berbisa ini sejak Jilly ditemukan. Dan dia tertarik untuk tahu lebih banyak, karena zombie yang dibawa Hideo terakhir kali juga mempunyai lambang kalajengking. Mark hanya penasaran, entah kenapa.
Hideo diam sejenak untuk menghubungkan antara ucapan Mark dengan kejadian waktu lalu. "Ya. Kulihat ada lambang kalajengking hitam di senjata yang zombie itu pakai. Dia juga membantu kami lolos dari serangan para mayat hidup. Kenapa memangnya?"
"Jilly juga memiliki lambang itu. Kau pasti tahu tentang organisasi gelap ini, kan? Gerakan mereka sangat rapi, hampir tidak bisa disentuh. Belum lagi mereka selalu berada di belakang orang-orang kaya. Markas mereka pun tidak ada yang tahu. Tapi ... begitu menjadi zombie mereka seperti muncul ke permukaan. Aku merasa sedikit aneh," Mark menyesap secangkir teh di akhir kesimpulan. Ya, dia memang merasa aneh.
"Kau terlalu banyak pikiran. Mungkin itu hanya perasaanmu saja," Hideo menimpali.
****
Seorang pria duduk dalam sebuah ruangan. Kedua siku menopang di atas meja, serta jari jemarinya saling tertaut satu sama lain. Suasana di ruangan itu temaram. Hanya ada cahaya dari sosok hologram yang jadi satu-satunya penerang agar tidak gelap gulita. Samar terlihat wajah serius saat dia menyimak laporan dari anak buah 3 dimensi-nya.
[Lapor, Jenderal! Dari data yang dikumpulkan, zombie masih menguasai di beberapa wilayah. Populasi mereka hanya berkurang sebanyak 30%.]
"Hm? Kalau begitu misi STERIL tidak berguna. Berapa zombie yang ada di Atlantis sekarang?"
[Ada 6300 zombie di lantai dasar lalu menyusut menjadi 1000, dan saat ini hanya ada 10 zombie yang berhasil lolos pada tahap mendekati manusia.]
Tatapan pria itu semakin serius "Bagaimana dengan zombie anak Tuan Altar?"
[Dia berada di level tinggi. Dia yang paling mendekati sisi manusia.]
Pria itu tertawa dingin, "mendekati manusia? Zombie tetap saja zombie. Dia hanya makhluk percobaan. Apanya yang level tinggi? Omong kosong. Pantau terus perkembangan mereka dan laporkan padaku!"
[Baik, Jenderal.]
__ADS_1
****
To be continue