
Tahta tengah duduk di sofa. Kepalanya bersandar pada pinggiran jendela yang terbuka. Angin sepoi-sepoi berembus halus, memaksa poni peraknya menari-nari. Mengesampingkan fakta bahwa dia setengah zombie, Tahta terlihat lucu dan menggemaskan secara bersamaan. Jari-jemarinya pun tak mau diam. Mereka memainkan bola kaca dengan pemandangan rumah salju di dalamnya. Benda bulat hadiah dari kekasihnya, Hideo, menjadi pelampiasan atas hati yang gundah namun tak terucap.
Tahta belum tahu makna dari kata kekasih, yang dia tahu hanya ingin bertemu dengan Hideo. Karena sudah dua hari Hideo sangat sibuk, sehingga hanya datang menemui Tahta saat dia sudah tidur. Mungkin itulah sebabnya dia uring-uringan. Dia bahkan mengacuhkan Leony yang sejak tadi duduk menemaninya.
Leony merasa gatal ingin mencubit pipi Tahta. Bila perlu dia ingin memeluknya, tapi tidak bisa karena prosedur. Tahta terlihat seperti adik kecil yang manis. Di sanalah bathinnya berusaha mati-matian untuk bisa menahan diri. 'Kenapa setengah zombie bisa begitu menggemaskan?'
"Tahta."
Tahta diam.
"Ada apa denganmu?"
Tahta tidak menjawab.
"Kalau ada sesuatu yang kau mau, bilang saja padaku," bujuk Leony seraya merapikan rambut Tahta dengan sisir. 'Rambutnya terlihat bersih dan berkilau. Apakah serumnya bekerja dengan baik?' Sejenak dia takjub merasakan betapa terlihat lembutnya helaian pirang Tahta. Cukup dengan sekali lihat, Leony tahu bahwa serumnya telah menghidupkan kembali sel-sel mati.
"Deo," gumam Tahta.
Leony tersenyum menyadari betapa bundarnya bola mata Tahta, "Kau mau bertemu dengan Hideo?"
"Um." Tahta mengangguk lalu berucap lagi, "Mau ... ketemu Deo."
"Tadi aku sudah menelpon Hideo. Katanya, dia sedang ada pertemuan dengan seluruh kapten divisi. Kau tunggu saja dulu. Kalau sudah selesai dia pasti datang menemuimu."
"Tidak. Mau ... ketemu ... Deo!"
Leony menangkap perubahan pada raut wajah Tahta. Mimik mukanya agresif dan sedikit memaksa. "Kau mau bertemu Hideo sekarang?"
"Ya. Sekarang! Mau bertemu Deo! Kangen ...." Tahta menarik-narik lengan Leony. Seolah tidak peduli jika bisa saja Leony lepas kendali karena kelebihan gula yang dimilikinya.
"Kau sangat imut. Bisakah aku melanggar prosedur?!" Leony sebenarnya orang yang kaku, tetapi sangat lemah pada sesuatu yang manis dan imut. Dia melihat Tahta sebagai obyek dari 2 kriteria barusan, jadi dia suka memilihkan Tahta baju-baju berwarna pastel nan lembut.
Leony sadar akan satu hal, lantas dia pun tertawa, "Dasar, Hideo. Kau sudah berhasil membuat anak orang merindukanmu." Ada kegembiraan tak terlukis ketika cinta sahabatnya mulai bersambut. Sang ilmuwan akhirnya menyadari bahwa kasih dan sayang bisa membuat hati yang mati mulai hidup kembali.
Leony mengusap kepala Tahta dengan tangannya yang memakai sarung tangan karet. Dia sebenarnya senang karena harapan masih ada bagi mereka yang berusaha dan senantiasa berdoa. "Baiklah. Sekarang kita ke Kantor Divisi. Aku akan mengantarmu ke sana."
'Sekalian aku ingin pamer soal misi STERIL yang sedikit lagi berhasil. Akan kutunjukan pada semua orang kalau setengah zombie juga pantas untuk dicintai,' ucap Leony dalam hati. Dadanya bergemuruh karena bersemangat.
****
Markas Pusat Militer yang dipimpin oleh Jenderal Drake terlihat seperti hari-hari biasa. Para prajurit berlatih dengan giat. Semua yang dilihat oleh Tahta adalah baru. Derap langkah teratur, yel-yel semangat penuh kekompakan, juga wajah-wajah tegas berpeluh. Semuanya begitu menarik di mata Tahta yang baru saja terbangun dari tidur panjang. Kerja otaknya semakin giat dan dia jadi lebih kritis. Rasa ingin tahunya sangat tinggi.
Tahta tak merasa takut pada mereka, meski badan prajurit-prajurit militer lebih besar darinya. Bukankah Hideo juga berotot? Ketika Hideo memakai kaus ketat, maka kainnya seolah akan robek. Tahta justru tertarik karena di benaknya muncul pertanyaan, kenapa ada orang-orang serupa dengan penampilan Hideo?
Sejak Tahta dipindahkan ke lantai atas, sangat jarang dia bisa melihat prajurit selain kekasihnya. Jadi, jangan salahkan Tahta jika sekarang dia penasaran. Kelopak mata Tahta hampir tak berkedip menatap barisan pria berpakaian seragam militer sedang berlari-lari mengitari markas. Tahta ingin menyusul mereka di barisan belakang, tetapi Leony menahannya.
Baiklah----untung saja Hideo tidak melihat kekasihnya sedang memelototi pria-pria tampan berotot. Jika dia tahu, entah apa yang dilakukan olehnya. Walaupun Hideo marah sekalipun, Tahta tidak akan sadar atas rasa cemburu kekasihnya. Yang ada Hideo lah yang menelan perasaan itu bulat-bulat, karena otak Tahta sama dengan pemikiran anak usia empat atau lima tahun. Anggap saja sekolah Taman Kanak-Kanak Tahta adalah di Atlantis dengan Leony sebagai gurunya dan Profesor Hartman sang kepala sekolahnya.
"Hey, mau ke mana? Kau tidak boleh pergi sendiri. Mengerti?!" Leony memberi peringatan. Dia yang bertanggung jawab membawa Tahta keluar, jadi tidak mungkin dia membiarkan Tahta berbuat sesukanya. Profesor Hartman bisa marah nanti.
Sayangnya, Tahta hanya memiringkan kepala dan tidak menjawab apa-apa selain, "um?" Seperti makan buah simalakama. Marah tidak tega, tidak marah makan hati.
"Ah, sudahlah. Ayo masuk!"
__ADS_1
Leony menarik Tahta untuk mengikutinya pergi memasuki gedung pusat. Ketika Tahta datang bersama Leony, berpasang-pasang mata menyambut mereka. Prajurit yang sehari-hari bertemu dengan musuh, zombie, dan medan perang tiba-tiba diberi angin segar oleh sosok manis. Pastilah mereka bersikap layaknya kucing yang diberi ikan.
"Kau siapa manis?"
"Apa kau tersesat?"
"Cantik sekali."
"Apa kau mau sesuatu?"
Tahta menatap bingung anggota prajurit divisi yang berkerumun mengelilinginya. Dia menggaruk-garuk belakang kepala sambil menggembungkan pipi. Pipi putih bulat persis bakpao yang memanggil agar minta digigit. Gerakan Tahta memancing reaksi debaran jantung berlebihan.
"Aih, manisnya!" teriak para prajurit muda. Biasanya mereka selalu berlatih dengan serius, tetapi ada pengecualian khusus hari ini. Latihan mereka buyar seketika.
"Yak! Bisa tidak kalian minggir? Kami ke sini bukan mau digoda oleh kalian," kata Leony gusar. Dia menutupi Tahta dengan tubuhnya sendiri agar tidak ada yang bisa melihat.
"Kami tidak sedang menggodamu. Kami menggoda si cantik ini." Kata salah satu dari mereka membuat Leony semakin kesal.
"Cantik? Apa menurut kalian dia cantik?" tantang Leony.
"Tentu saja."
"Hahaha. Andai saja kalian tahu siapa dia sebenarnya. Masihkah kalian menganggapnya cantik?"
"Memangnya siapa dia?"
Leony berhenti tertawa lalu memasang wajah serius, "Baiklah, jika kalian penasaran----akan kuberitahu. Dia pasien Atlantis. Dia----setengah zombie."
"Apa?! Tidak mungkin!" teriak para prajurit tidak percaya.
"Kami genit juga pilih-pilih."
"Aku tidak percaya dengan ucapanmu. Dia tidak mungkin zombie! Zombie itu buruk. Kau lihat dia! Dia manusia!"
"Hahaha. Kalian yang salah lihat!"
"Dasar, ilmuwan gila! Bermimpi saja sana! Mana mungkin zombie bisa jadi manusia?!"
"Aish! Diberitahu, malah tidak mau tahu! Awas kalian! Aku akan mengadukan kalian pada atasan kalian!"
Sementara Leony berdebat, mata ungu keabu-abuan Tahta menangkap sosok yang dirindukan.
"Deo." Tahta menjauh dari Leony. Dengan riang dia berlari kecil dan menubrukkan diri ke dalam pelukan Hideo.
"Lho? Tahta, apa yang kau lakukan di sini?"
"Aku mau ... ketemu ... Deo. Kangen khikhikhi."
Tahta yang tertawa menjadi pemandangan langka bagi Hideo. Tahta mencarinya? Benarkah Tahta rindu padanya? Rasanya seperti mimpi. Jika ini mimpi, maka Hideo tidak ingin tersadar. Dia senang bukan kepalang. Hideo pun tersenyum, lalu mengusap helaian pirang kekasihnya sayang.
"Kau ke sini dengan siapa?"
"Leo...ny," Tahta menunjuk Leony yang sedang memberi pelajaran pada beberapa orang prajurit.
__ADS_1
"Terima kasih sudah mengantar Tahta," ujar Hideo pada sahabat ilmuwannya.
"Sama-sama. Apa boleh buat, dia terus uring-uringan sejak pagi dan ingin bertemu denganmu. Dia masih dalam pengawasanku jadi aku sendiri yang mengantarnya."
"Tahta."
Tahta menoleh ke asal suara yang dikenalnya.
"Ayah," seulas senyum samar menghiasi wajah pucat milik Tahta. Garis matanya sedikit menyipit, namun bola mata ungunya masih terlihat mengintip.
Tuan Altar mengusap puncak kepala Tahta dan dia terkejut menyadari rambut anaknya yang halus. Rambut Tahta belum pernah sehalus ini sebelumnya, bahkan saat masih jadi manusia sekalipun. Rasanya seperti permukaan marmer yang diperhalus sempurna.
"Yah ... apa ... kabar?" Tahta beralih memeluk ayahnya.
"Kabar ayah baik. Apa kau jadi anak baik di sana?"
"Ya...ay..yah. Tentu." Lagi-lagi Tahta tersenyum simpul.
Tuan Altar juga tak kalah tekejut. Melihat anaknya diperbolehkan untuk melakukan perjalanan jauh, pria itu lantas bertanya pada Leony. "Leony, apakah Tahta tidak apa-apa pergi ke luar?"
Ditatap agak menusuk, Leony tersentak, "Y-ya. Tentu saja tidak apa-apa. Aku sudah meminta ijin pada profesor. Selagi Tahta dalam pengawasanku dia akan baik-baik saja. Ha. Ha. Ha." Leony memaksakan senyumnya. Jujur saja dia agak segan pada Tuan Altar, sekaligus kagum. Ayah Tahta begitu tinggi, bahunya lebar juga terlihat kuat. Jika dia lewat, semua orang pasti akan menunduk penuh hormat. Kesan berkharisma sangat bertolak belakang dengan anaknya. Mungkin wajah halus dan manis Tahta menurun dari sang ibu. 'Ibu Tahta pasti cantik.'
"Hey, Leo, kenapa kau melamun?"
Sebuah tepukan kencang di bahu menyadarkan Leony. Dia bukan hanya dipukul, tetapi melihat wajah Hideo yang cengengesan jail padanya membuat Leony kesal. "Berhentilah memasang wajah seperti itu!"
"Memangnya kenapa?"
"Kau terlihat seperti orang bodoh."
"Apa?! Lalu kenapa wajahmu merah?"
"Wajahku baik-baik saja. Mungkin hanya sedang kesal tadi," elak Leony agak terganggu dengan kejailan sahabatnya.
"Omong-omong, apa aku boleh mengajak kekasihku jalan-jalan?" Pertanyaan barusan bukan hanya diajukan pada Leony, tetapi dia juga meminta ijin pada Tuan Altar secara tidak langsung.
"Ya, boleh. Tapi dia harus kembali ke Atlantis sebelum matahari tenggelam untuk pemeriksaan. Dan ...." Leony berbisik di telinga Hideo. "Jangan lakukan hal macam-macam dengannya. Dia masih belum sembuh."
"Ck, iya. Aku juga tahu." Hideo bertanya pada Tuan Altar sekali lagi, "Apa boleh aku membawanya pergi?"
Tuan Altar mengangguk, "silahkan saja."
"Ayo pergi." Hideo menggandeng tangan Tahta. Dia akan membawa kekasihnya jalan-jalan dan memperlihatkan dunia selain kamar rawat yang selama ini ditempati.
Setelah Hideo dan Tahta pergi, hanya menyisakan Tuan Altar dan Leony. Mereka berdua tidak bicara sampai akhirnya Tuan Altar lah yang memulai obrolan lebih dulu. "Sampai di mana penelitiannya?"
"Kami sedang meneliti air liur Tahta. Kami benar-benar fokus dalam penyembuhan ini. Zombie menularkan virus melalui gigitan dan juga air liur, karena itu kami ingin memastikan kalau air liurnya tidak menularkan virus zombie."
"Hmm. Baguslah kalau begitu. Aku titip Tahta. Aku percaya pada orang-orang Atlantis."
"Terima kasih, Tuan. Kami tidak akan mengecewakan Tuan."
Tanpa menjawab, Tuan Altar pergi. Leony menatap punggungnya yang hilang di balik pintu. "Terima kasih sudah percaya padaku," gumamnya pelan.
__ADS_1
****
To be continue