
"Bantu aku!"
Hideo mendengar teriakan salah seorang anak buahnya, lalu dia berputar arah menuju tempat di mana orang itu berada. Dengan kacamata yang dapat diatur menjadi mode melihat dalam gelap, Hideo masih bisa mengidentifikasi seorang pria yang sedang menembakkan peluru. Beberapa zombie mendekat ke arah orang itu, tak kenal ampun. Hideo merasa situasi tak sesuai dengan harapan, maka dia memerintahkan seluruh anak buahnya untuk mundur dan menyelamatkan diri.
Seseorang yang berteriak barusan tak lain adalah si anak baru. Sebagai bagian dari tim, seharusnya dia mengerti jika dalam tiap tindakan anggota STERIL diminta rapi dan terorganisir. Mereka memiliki peraturan, khususnya dalam tim Hideo untuk tidak membuat kegaduhan dalam bertugas. Mereka datang diam-diam, bergerak diam-diam, pergi juga diam-diam. Dalam tiap pergerakan, STERIL mewajibkan seluruh anggota agar mengaktifkan mode senyap di senjata mereka. Hal ini bertujuan agar tidak menarik perhatian zombie juga tidak memancing tindakan agresif. Namun sepertinya si anak baru agak sembrono. Dia malah memicu keributan dan membawa tim dalam bahaya.
"Mundur! Mundur! Cepat pergi ke van!" perintah Hideo.
"Jumlah mereka terlalu banyak!" seru anggota lainnya.
Hideo dan timnya dikejar-kejar mayat hidup. Entah berapa kali tembakan, berapa kali letusan senjata api dimuntahkan, mereka terus berdatangan seolah tak habis-habis. Dory si robot kamera terbang mengikuti ke mana Hideo pergi. Ketika dia ada di posisi tinggi, salah satu zombie yang merayap di dinding tiba-tiba melompat, lalu menerjang Dory. Bunyi hantaman keras pun terdengar.
BUGH
"Aduh! Tolong aku, Komandan!"
Pada dasarnya semua robot kamera yang bertugas untuk STERIL dirancang khusus. Semua komponen dibuat agar tahan benturan juga guncangan. Inti Intel juga microchip komputer pun dibuat dengan teknologi terbaru. Ilmuwan yang membuatnya menginginkan robot kamera memiliki emosi layaknya manusia namun tetap dapat berpikir secara rasional. Untuk ukuran robot yang seluruh bagian tubuhnya keras, agaknya Dory sedikit berlebihan.
"Kau tidak lihat aku sedang sibuk?" Hideo menembaki zombie-zombie yang berdatangan silih berganti. Mereka datang melalui ruang gelap seperti seekor semut keluar dari sarang.
"Tolong! Aku akan jadi zombie!" Dory memaksa dirinya untuk terbang menjauh dari keributan seraya mengeluh jika dia seakan-akan dapat berubah menjadi zombie. Dia bukan pahlawan super yang bisa dengan tiba-tiba berubah wujud. Oke! Hal ini membuat Hideo sangat ingin menembaknya juga.
"Kau robot, mana bisa jadi zombie. Pergilah ke tempat aman!"
Hideo dan anak buahnya terpojok. Mau tidak mau dia harus mengambil keputusan. Hideo mengambil bom mini lalu melemparnya ke arah zombie yang berdatangan. "Menunduk!" teriaknya lantang.
BOOM
Mayat hidup terhempas seperti bulu yang beterbangan. Namun sayang sungguh sayang. Nasib masih ingin bermain-main dengan mereka sejenak. Di antara tubuh mayat hidup ada satu yang bertahan. Seperti tak pernah mati, dia bangkit dari neraka sekali lagi. Dia satu-satunya zombie bertubuh besar. Secara kasat mata, seseorang pun dapat melihat ototnya menyembul dari pakaian yang terkoyak.
Wajahnya tertutupi oleh topeng besi, sehingga siapapun tidak dapat melihat betapa bengisnya dia. Dengan tenaga yang masih tersisa, dia berlari lalu menerjang Hideo.
Hideo sempat meletuskan peluru, tetapi sia-sia. Topeng yang dipakai oleh zombie itu ternyata cukup tebal. Peluru yang diletuskan oleh Hideo hanya menancap, tetapi tidak mematikan. Sebuah tinju mengenai wajah Hideo dan dia pun jatuh terjerembab. Sesaat setelahnya yang terasa hanyalah rasa sakit akibat hantaman. Secepat kilat, makhluk itu datang. Hideo sempat menahan serangan dengan tangannya, tetapi tangannya malah digigit.
"Lambang kalajengking?!" gumam Hideo menahan sakit begitu melihat tato hitam berbentuk hewan berbisa di leher zombie. Hideo lantas menendangnya.
BUGH
Hideo berguling ke kanan untuk menghindari tinju.
BUGH
Hideo berguling ke kiri untuk menghindari serangan tinju berikutnya.
"Komandan, ini!"
__ADS_1
Setelah sadar dengan apa yang baru saja terjadi dan berhasil menguasai diri, lantas Hideo menangkap senapan yang dilempar oleh anak buahnya, lalu dia menembakkan peluru lagi. Satu-dua-tiga, dan akhirnya makhluk itu benar-benar berada di neraka.
Seonggok tubuh tergeletak tak membuat ketegangan mereda. Justru sebaliknya, Hideo kini harus berhadapan dengan kenyataan lebih mengerikan dari sekadar dikejar zombie. Hideo melihat tangannya berlubang. Dari lubang bekas gigitan darahnya menetes keluar. Saat ini dia sadar bahwa dirinya masihlah manusia. Namun hingga berapa lama? Sebentar lagi dia akan menjadi salah satu dari 'mereka.' Jika dia berubah, bagaimana dengan nasib kekasihnya?
Hideo cemas. Dia takut untuk meninggalkan Tahta seorang diri.
"Komandan ... kau digigit." Salah seorang anak buahnya mengembalikan Hideo ke alam nyata. Pria kepercayaan Hideo itu sedang mengangkat senjata. Nada suara bass yang menyapa pendengaran tak mampu menutupi rasa ragu lagi cemas.
Hideo mengalihkan pandangan pada anak buahnya satu per satu. Tak pernah sekalipun terpikir oleh Hideo bahwa suatu hari dia akan melihat anak buahnya sendiri berdiri mengelilinginya dengan senjata teracung.
STERIL memiliki peraturan 'Tembak mati anggota pasukan yang terinfeksi.' Hideo tak mengira senjata itu akan diarahkan padanya secepat ini. Roda takdir berputar sedemikian rupa. Dulu memburu, sekarang diburu. Hideo teringat pada Tahta. Sangat disayangkan, ketika dia ingin memulai hubungan baru, dia harus pergi meninggalkan kekasihnya. Dia tidak rela, sungguh.
"Komandan, apa kau masih sadar?"
Hideo terkekeh, menertawakan dirinya sendiri. "Aku sepenuhnya sadar." Hideo mengangkat kepalanya lalu berkata, "Entah nanti. Jika aku berubah kalian boleh menembakku."
"Komandan, kita semua tahu peraturannya. Tetapi kami memutuskan akan membawamu ke Atlantis. Biar kau dikarantina untuk disembuhkan."
"Bagaimana jika statusku 60%?"
"Tidak, Komandan. Kau hanya digigit ...."
"Aku tanya 'bagaimana jika statusku 60%?' Apa yang harus kalian lakukan?!" Bentak Hideo. Suara Hideo mulai tercekat di tenggorokan. Tubuhnya sakit. Ada darah menetes ketika dia menyeka hidungnya. Merah pekat. Fase perubahan yang sangat cepat. Hideo sudah tidak bisa lagi menghentikan penyebaran virus di dalam tubuhnya, meski ingin. "Lihat! Aku mulai berubah. Kalian harus menembakku, mengerti!"
"Kami ... mengerti, Komandan." Jawab anak buah Hideo, terpaksa. Senapan di tangan mereka genggam erat-erat, khawatir terjatuh karena menyerah pada iba.
"Komandan, salamu akan kami sampaikan. Tapi kami mohon, bertahanlah!"
Anak buah Hideo mulai bersedih.
"Kalian semua militer, tidak pantas memasang wajah sedih begitu. Sudah tidak ada waktu lagi. Uhuk!" Darah mengotori tangan Hideo ketika dia terbatuk. "Sial! Jadi ini yang Tahta rasakan sewaktu jadi zombie dulu."
Hideo tak sanggup berkata-kata. Pria yang semula kuat, kini jatuh lunglai. Kedua kakinya tak mampu menopang bobot tubuhnya sendiri. Hideo merasa sekujur badannya dihujam ribuan jarum. Darah tak hanya keluar dari hidung, melainkan kedua telinga, juga mata.
Anak buah Hideo diam bergeming. Tidak ada satupun dari mereka yang melepaskan peluru. Mereka memutuskan menunggu Hideo hingga berubah menjadi zombie. Dengan begitu mereka akan tega. Mereka akan tega membinasakan makhluk bringas tak bernyawa. Sampai akhirnya Hideo jatuh berbaring.
Dalam fase ini, mata Hideo perlahan berubah. Kornea mata yang semula berwarna digantikan dengan abu-abu.
"Tahta," gumamnya terakhir kali sebelum kesadarannya menghilang.
Virus zombie di tubuh manusia memiliki perjalan yang jauh. Ketika mereka masuk ke dalam tubuh manusia, dengan segera menempel pada sel-sel darah, mengubah jaringan DNA dan merusaknya. Virus itu kini telah menginfeksi Hideo. Virus membuat sel darah di dalam tubuhnya pecah dan mengganggu kinerja jantung sehingga mengalami kegagalan. Karena tubuh bagian dalam rusak, maka darah keluar melalui lubang manapun.
Tetapi, virus itu tidak sendiri.
Ada virus lain yang tinggal lebih dulu di dalam tubuh Hideo. Mereka membelah dengan sangat cepat dan hidup berdampingan dengan DNA inangnya. Virus yang semula tenang itu tiba-tiba berubah agresif. Mereka memakan virus zombie seperti ikan piranha yang memakan daging segar. Mereka makan dengan rakus. Makan. Makan lagi. Terus makan, hingga makanannya tak tersisa. Ketika virus zombie habis, mereka kembali bergerak perlahan.
__ADS_1
Dengan satu tarikan napas, Hideo kembali pada dunianya. Dunia di mana cintanya ada dan tinggal. Warna mata Hideo berubah coklat seperti sedia kala. Melalui lensa optik yang berfungsi normal dia melihat anak buahnya berdiri tegap pada posisi semula. Tak gentar. Dalam hati Hideo memuji. Anggotanya patut dibanggakan. Hideo kira akan mati, tetapi mengetahui jika dia bisa mengingat satu per satu nama dari anak buahnya, Hideo pun heran.
"Bagaimana bisa?" Hideo melihat luka di tangannya kini mulai mengering.
"Dia telah berubah! Sekarang, tembak zombie itu!"
"Tu-tunggu! Jangan tembak! Ini aku, Komandan kalian." ujar Hideo cepat begitu salah seorang anak buahnya memberi instruksi.
"Komandan? Apa itu benar-benar kau?"
Ditatap penuh permusuhan, Hideo lantas menempatkan ke dua tangannya ke atas sebagai tanda menyerah.
"Tentu saja aku masih komandan kalian. Jangan tembak aku!"
"Jangan bercanda! Tadi kau digigit zombie lalu berdarah-darah. Bagaimana ceritanya kau masih komandan kami? Persiapkan senjata kalian! Mungkin dia zombie jenis baru!" Perintah anak buah Hideo dengan papan nama 'Zarda.' Senjata pun semakin tinggi diarahkan pada pria berpangkat Komandan itu.
Hideo serba salah, tetapi temuan bahwa dia baik-baik saja lebih penting dari hal apapun.
"Aku tidak tahu persis apa yang sebenarnya terjadi. Aku tahu, aku digigit dan nyaris berubah? Aku kira, aku akan melupakan kalian, tetapi sekarang aku masih mengingat nama kalian juga Tahta. Bisakah kita pergi ke Atlantis dan memberitahu hal ini pada ilmuwan di sana? Kalian bisa merantaiku jika takut aku akan menyerang kalian."
Zarda memanggil Dory. Robot kamera bulat itu terbang dan berhenti di hadapan Hideo. Setelah bunyi 'BIP,' layar Dory mengeluarkan cahaya biru yang bergerak dari ujung rambut hingga ujung kaki, lalu dengan cepat identitas Hideo pun terbaca.
[Pria ini Bernama Hideo Alexander. Jabatan: Komandan STERIL Divisi Utara. Struktur jaringan di dalam dataku mengatakan kalau dia manusia.] Dory menghembuskan napas lega. [Syukurlah, Komandan. Kau membuatku takut.]
Setelah data menunjukkan bahwa Hideo masih manusia, anak buah Hideo lantas saling berpelukan. Tidak mungkin mereka memeluk komandannya karena keadaan Hideo masih perlu diwaspadai. Haru biru menyelimuti mereka termasuk Dory. Dory tak henti-hentinya menangis sambari terbang mengelilingi Hideo.
Hideo pulang bersama pasukannya. Seperti biasa mereka datang ke Atlantis untuk menyerahkan buruan. Dory telah merekam semua aktifitas tim-nya Hideo dan mengirimnya ke pusat. Namun karena terlalu sedih, Dory menangis dan tidak merekam seluruh kejadian sampai selesai. Dia hanya merekam bagian di mana Hideo digigit juga detik-detik fase perubahan menjadi zombie.
Akibatnya, baru saja tiba di pintu Atlantis, beberapa pasukan pelindung berbaju hitam berbaris untuk menghalangi jalan Hideo. Hideo sempat mengerutkan dahi karena melihat senjata militer diacungkan padanya. Dia memutuskan untuk menunggu apa yang akan dilakukan oleh militer. Lagipula tujuannya bukan mereka, tetapi Leony. Leony tentu bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
"Diam di tempat dan jangan bergerak! Kami sudah melihat laporan dari robot kamera tim Divisi Utara. Anda telah digigit dan menjadi zombie. Bagaimana bisa anda berjalan ke Atlantis tanpa dirantai?"
Suara lantang lagi garang menghentikan niat Hideo untuk melangkah. Pemimpin pelindung Atlantis tentu tidak akan membiarkannya masuk dengan mudah. Kalau diceritakan pun orang-orang militer pasti tidak akan paham. Satu-satunya yang dapat menjelaskan adalah seorang ilmuwan.
"Rantai dia!" Perintah pemimpin militer.
"Tunggu dulu!" Leony datang terburu-buru. Dengan setelan jas putihnya, Hideo melihat Leony bak malaikat penyelamat.
"Apa kau Hideo?" tanya Leony memastikan.
Hideo terdiam. Alis dan garis bibirnya datar, tak melukiskan ekspresi apapun. Hal ini membuat raut wajah Leony menegang.
"Jawab aku! Kau masih Hideo atau zombie?!"
Hideo mengangkat tangan bermaksud untuk memperlihatkan lukanya. Namun, sikap waspada militer pelindung Atlantis, mengartikan berbeda. Bagi mereka Hideo adalah ancaman, sehingga pelatuk pun siap ditekan.
__ADS_1
"Tangkap dan isolasi dia!"
***