STERIL: My Bottom Is A Zombie

STERIL: My Bottom Is A Zombie
Bab 34: (STERIL : The Bride)


__ADS_3

Gelap di langit saat itu perlahan tersapu oleh kuas cahaya. Suram tak lagi membelenggu dunia.


Ketika mentari terbit di ufuk timur, hari pun berganti penuh kehangatan.


Di sebuah ruangan bercat putih, duduklah seorang pengantin di tepian tempat tidur. Rambutnya panjang bagaikan benang-benang kuning pucat yang terangkai rapi. Pipinya tidak kalah menarik perhatian. Bagian wajah paling lembut itu tampak samar merona merah nan segar. Sepertinya enak untuk dicium, kekasih.


Si pengantin berperan layaknya manekin, tak bergerak barang seincipun. Sebenarnya dia begitu karena arahan dari seseorang yang menyuruhnya agar duduk tegak.


"Jangan bergerak, Tahta!" perintah Leony.


"Tha ... tidak akan bergerak. Tha ... anak baik."


Dengan sabar Tahta menunggu hingga rambutnya selesai ditata, dijadikan gelungan sederhana. Dia tidak perlu memakai perhiasan berlebih, sebuah mahkota perak cukuplah bertakhta sebagai pemanis, karena dia memang sudah manis sejak lahir.


Oh----apakah dia perlu kerudung? Tentu saja. Kerudung putih transparan, menjuntai indah hingga melewati pinggangnya, membuatnya bertambah cantik nan anggun. Sangat serasi dengan gaun putih dari sutra dan tile, berhias bordiran bunga-bunga hitam yang menutupi kulit pucatnya.


Aduhai cantiknya, andai si pengantin pria menatap. Sayangnya si pria sedang bersiap-siap di lain tempat. Mereka harus menunggu sampai saat yang ditentukan untuk bisa bersanding. Keduanya harus bersabar.


"Sebentar lagi kau akan dipanggil 'nyonya Alexander.' Ah----aku tidak mengira Hideo benar-benar akan menikah," seloroh Leony sambari menyematkan jepit di antara sirkam kerudung dan helai rambut agar tidak bergeser. "Dan kau Jilly..." Leony menunjuk seorang perempuan yang tengah berdiri. "...kau juga akan dipanggil dengan nyonya Lambert."


"Aku ... tidak perduli," tolak Jilly seraya memalingkan wajahnya.


"Nyonya ... Alexander?" gumam Tahta mencerna maknanya.


"Ya. Itu panggilan istimewa jika kau jadi istrinya."


"Apa itu ... seperti ... dapat hadiah?"


"Ya---seperti hadiah," jawab Leony sedikit ragu.


"Tha ... senang." Tahta bertepuk tangan pelan, kegirangan.


Ini hari yang istimewa bagi Tahta, karena sebentar lagi dia akan menikah dengan kekasihnya, Hideo. Membayangkan namanya akan berganti dengan Tahta Alexander dan dipanggil dengan sebutan nyonya Alexander, membuat sudut bibirnya tak henti-henti mengulas senyum.


Sebagai setengah zombie, pernikahannya akan jadi hal tak biasa yang terjadi dalam sejarah penyerangan zombie. Dia beruntung. Sangat beruntung karena ada seseorang yang menyayangi dan mau menerima dia apa adanya. Tidak banyak orang seperti Hideo di dunia ini. Suatu kemujuran jika Tahta mendapatkan salah satu di antara pria-pria baik hati itu.


Terlepas dari pro dan kontra, antara boleh atau tidaknya manusia menikah dengan pasien setengah zombie, Hideo dan Tahta tetap memilih untuk setia pada cinta dan percaya bahwa mereka berjodoh. Tidak ada kebetulan di dunia ini, yang ada hanyalah takdir yang sudah digariskan.


"Sedikit lagi sudah selesai."


Leony tersenyum melihat hasil akhir dari tatanan rambut Tahta. Dia tidak pernah bekerja di salon dan tidak berpengalaman merias orang lain, tapi dia suka riasan dan suka memperhatikan bagaimana caranya orang-orang merias wajah. Sebagai seorang ilmuwan, dia juga penasaran bagaimana mungkin warna yang satu akan serasi dengan warna yang lain? Atau warna pemerah pada kelopak mata akan cocok dengan warna lipstik-nya. Bagi Leony ilmu riasan sama saja dengan ilmu kimia.


Ini kali pertama Leony merias orang lain melalui referensi dari pengamatannya selama ini dan ternyata hasilnya tidak mengecewakan. Setelah menyematkan jepit rambut sekali lagi, penampilan Tahta telah sempurna.


Tahta yang melihat pantulan wajahnya sendiri di cermin merasa asing. Kelopak matanya berkedip perlahan menelusuri tiap detail rambut hingga wajah. Mungkin dia takjub pada riasan dan penampilan barunya. Atau jangan-jangan dia malah tidak kenal dengan dirinya sendiri.


"Kau terlihat cantik. Apa kau suka?" tanya Leony ingin tau pendapat Tahta.


"Em, suka. Suka sekali," jawab Tahta seraya mengangguk dibarengi senyum kecil.


Di sisi lain, tampak Jilly justru tak suka dengan gaunnya. Sebenarnya gaun merah yang dipakainya tampak manis, bergelombang. Roknya pendek, sehingga Jilly dapat melihat sepasang kakinya yang memakai sepatu bermanik. Leony memilih gaun itu karena melihat karakter Jilly yang cenderung agak tomboy. Leony menilai bahwa perpaduan keanggunan dan kelincahan cocok dengan gaun Jilly.


"Apa ... aku tidak bisa ... pakai baju biasa saja?" Jilly melihat gaunnya yang berekor. Dia terlihat agak risih dan terus-menerus protes tentang gaun pengantinnya sejak tadi.


Jilly si pengguna pedang. Dulu ketika dia masih manusia, jarang sekali memakai pakaian feminin. Biasanya dia hanya memakai pakaian yang terlihat kaku. Kalaupun dia memakai rok, pasti warnanya gelap seperti merah hati atau hitam. Memakai gaun seperti sekarang dengan warna cerah hanya akan membatasi gerakannya saja.


"Ini hari pernikahanmu, sebaiknya kau memakai gaun. Lihatlah! Kau terlihat cocok memakainya. Aku yakin Mark pasti akan terkejut dan setuju bila kau juga cantik, tak kalah dari mantan-mantan kekasihnya." Leony mencoba menghibur Jilly.


Leony melihat ke arah tangan Jilly dan diapun tak habis pikir.


"Kenapa kau bawa pedang di hari pernikahanmu?" Leony bermaksud merebut pedang dari tangan Jilly, tetapi Jilly menggenggam benda itu sangat kuat.


"Jangan ... coba-coba ... mengambilnya!" ancam Jilly, menatap Leony nyalang.

__ADS_1


"Ya. Aku bisa. Anggap saja aku ibumu----dan sekarang ibumu akan menjauhkan benda berbahaya darimu."


"Kau ... bukan ... ibuku. Lagipula ... pedang ini ... belahan jiwaku."


"Benda mati tidak bisa jadi belahan jiwa. Mark lah yang akan jadi belahan jiwamu. Kau jangan khawatir, pedang ini akan kukembalikan jika acaranya sudah selesai."


Leony merebut pedang samurai sehingga Jilly tak lagi protes. Dia justru sedang mencerna 'apa arti dari kata-kata belahan jiwa yang sesungguhnya.'


"Apa itu ... belahan jiwa?" tanya Jilly.


Leony terhenyak. Dia bingung dari mana harus mulai menjelaskannya.


"Nanti juga kau akan tau sendiri. Jika kau dan Mark bersatu kau bisa bertanya banyak hal padanya." Leony tersenyum untuk meyakinkan Jilly. "Yang penting kalian berdua akan menikah hari ini lalu hidup bahagia." Leony meraih tangan Tahta dan Jilly.


"Kalian tau? Kalian sangat beruntung. Karena dua sahabatku itu orang yang baik. Kalian pasti akan bisa hidup bersama. Kalau sampai mereka berdua menyakiti kalian----kalian bilang saja padaku," lanjutnya.


Setelah mengatakan beberapa nasihat dan petuah-petuah penting, Leony menggiring dua calon mempelai wanita ke aula. Baik Tahta maupun Jilly berjalan dengan sedikit malu-malu. Leony berada di tengah-tengah sambari menggenggam tangan mereka dan menuntunnya bersama.


Tuan Altar dan beberapa orang-orang Atlantis sudah menanti kedatangan calon mempelai wanita sejak tadi. Tuan Altar tak sabar ingin melihat bagaimana rupa anaknya dalam pakaian pengantin. Ketika Tahta datang, Tuan Altar hampir menitikkan air mata. Dia terharu, karena gadis kecilnya telah tumbuh menjadi wanita yang mempesona.


Tahta sangat mirip seperti mendiang ibunya. Melihat Tahta, Tuan Altar seperti bernostalgia ke masa lalu. Sekarang putrinya telah dewasa dan akan menikah dengan seorang pria. Meski jauh dari kemewahan dan kemeriahan, melihat Tahta yang bahagia merupakan anugerah terindah dari Yang Maha Kuasa.


"Kau terlihat cantik, anakku," puji Tuan Altar dengan senyum kepuasan.


Tahta akan mengarungi pernikahannya sendiri. Tuan Altar berharap Hideo dapat membuat Tahta bahagia seperti yang telah dijanjikan. Dia harap memberi restu untuk mereka adalah keputusan yang tepat. Semoga Tahta memiliki masa depan baik bersama Hideo. Semoga Tahta dicintai dan disayangi.


Mereka berdua akan menjadi pionir dalam misi STERIL dan menunjukkan pada dunia bahwa zombie juga dapat menikah dan hidup layaknya manusia normal.


****


Di tempat lain, seorang pria berpakaian seragam militer duduk di kursinya. Jari jemari saling bertaut. Raut wajahnya serius dan suram. Jelas terlihat bahwa pria itu sedang tidak dalam suasana hati yang bagus.


Hari ini dia mengadakan pertemuan dengan para komandan STERIL untuk membahas masalah zombie selanjutnya. Beberapa menit sebelum pertemuan dimulai, anak buahnya memberi kabar yang membuatnya tak senang.


"Benar, Jenderal. Mata-mata kita yang berada di Atlantis mengatakan bahwa acara ini tertutup dan hanya akan dihadiri oleh orang dekat saja. Acaranya akan berlangsung beberapa jam lagi."


"Kurang ajar!" Jenderal Drake memukul meja menghasilkan bunyi yang keras. "Beraninya mereka menggelar pernikahan antara zombie dan manusia! Zombie dan manusia hidup bersama saja sudah salah, apalagi untuk menikah?!"


"Lantas apa yang harus kita lakukan, Jenderal? Komandan Hideo dan Mark juga pasti tidak akan hadir pada rapat penting ini!"


"Untuk urusan pernikahan, Hideo dan Mark mendapat izin atas nama misi STERIL. Pemerintah Beltran Guido sudah pasti menyetujuinya tanpa halangan, ditambah Tuan Altar ikut campur. Dalam hal ini aku tidak bisa berbuat apa-apa."


"Tapi secara militer mereka masih bawahan anda, Jenderal. Bukankah yang akan dibahas pada rapat kali ini menyangkut pertahanan negara dan mereka mangkir dari tugas. Apakah mereka sudah izin pada anda untuk menikah, Jenderal?" tanya Eril memastikan.


Merasa mendapat oase di tengah gurun pasir, Jenderal Drake tersenyum lalu terkekeh.


"Kau benar. Ada celah pada acara pernikahan ini, juga pelanggaran pada tata tertib. Hideo dan Mark belum izin atau mengatakan apapun padaku. Mereka telah melanggar aturan Tata Tertib Militer, mangkir dari tugas dan melakukan aktivitas ilegal. Pernikahan militer dengan zombie adalah hal ilegal, pemerintah belum mengganti peraturannya, maka mereka bersalah." Jenderal Drake meremat tongkatnya, lalu mengetuknya ke lantai. "Eril!"


"Ya, Jenderal!" jawab Eril yang berdiri tegak.


"Tugas kita adalah menjaga kedamaian Beltran Guido dan menjauhkannya dari hal-hal merugikan. Kerahkan anak buahmu! Bawa Hideo----Mark ke markas, lalu kepung Atlantis dan gagalkan pernikahan tak lazim ini!"


"Ta-tapi Jenderal, mengepung Atlantis bukankah akan melanggar peraturan?"


Senyum Jenderal Drake semakin lebar juga sinis.


"Jika Hideo dan Tahta menikah, mungkin suatu saat kau juga akan dinikahkan dengan zombie."


Eril terperanjat.


"Saya tidak mau menikah dengan zombie, Jenderal."


"Kalau begitu kau sudah tau tugasmu."

__ADS_1


"Baik, laksanakan Jenderal!" Eril memberi salam hormat kepada jenderal-nya, lalu dia pun pergi.


Setelah Eril menghilang dari balik pintu, Jenderal Drake menyandarkan punggungnya ke kursi. Sesekali dia mengelus-elus dagunya yang berambut jarang-jarang. Sorot matanya yang tajam beralih pada laci meja kerja. Di dalam laci ada sebuah gulungan kertas yang dengan cepat berpindah ke tangan jenderal.


Dalam diam dan ketenangan yang dingin, Jenderal Drake membaca lagi baris per baris isi surat. Dia nampak sama sekali tidak tertarik dengan isinya, karena itu dia mengambil sebuah pematik api lalu menyalakannya.


"Surat izin militer untuk menikah?" Sudut bibir jenderal tersungging naik. "Bagiku kalian tidak mendapat izin apa-apa."


Kertas yang semula utuh itu, perlahan-lahan dilahap oleh api.


****


Di Atlantis, Tahta berulang kali meremat jemarinya. Para tamu yang hadir di acara pernikahan tampak celingak-celinguk mencari-cari sosok si pengantin pria. Namun sudah satu jam mereka belum juga hadir di waktu yang sudah ditentukan.


Bapak penghulu kerap kali bertanya kapan acara pernikahan akan dimulai, tetapi jawabannya hanya 'tunggu sebentar lagi.'


"Kalian tidak usah cemas. Mungkin Hideo dan Mark sangat gugup lalu lupa jalan ke sini," Hibur Leony berharap Tahta dan Jilly tidak panik, meski alasannya sungguh tak masuk akal.


"Ke mana mereka? Kenapa belum datang juga?"


Tuan Altar menyibak lengan jas untuk melihat jam tangan. Berulang kali juga dia menghubungi ponsel Hideo dan Mark, tetapi mereka berdua tidak mengangkat atau menjawab panggilan.


"Ini sudah sangat terlambat. Saat ini mereka berkumpul dan bersiap-siap di apartemen Hideo. Sebaiknya ayah susul saja," ucap Tuan Altar.


"Ayah ... jangan ... pergi!" Tahta menahan lengan ayahnya.


Melihat sorot mata Tahta yang seperti tidak rela, Tuan Altar pun tak tega. Tapi Hideo dan Mark masih belum datang juga ditambah kondisi ponsel mereka yang tiba-tiba mati, membuat Tuan Altar cemas. Dia merasakan firasat buruk.


"Ayah harus pergi untuk menyusul mereka. Ayah akan kembali dan menikahkan kalian berempat. Kau tunggu di sini bersama Leony dan lainnya." Tuan Altar menitip pada Leony. "Jaga mereka untukku."


"Baik, Tuan. Aku akan menjaga Tahta dan Jilly sampai semuanya kembali."


Selepas Tuan Altar pamit, Tahta mendudukkan dirinya di sebuah kursi. Sepatu hak tinggi membuat kakinya menjerit kesakitan. Dia pun melepasnya, lalu termenung.


"Deo ... kapan ... datang?" gumamnya pelan, tetapi masih bisa di dengar Leony.


"Bersabarlah. Hideo tidak pernah mengingkari janji," Hibur Leony.


"Mungkin ... Mark ... tersesat," celetuk Jilly.


Saat semua berharap-harap cemas, di lantai dasar Atlantis terdengar kegaduhan. Pria-pria berseragam militer datang dengan mobil. Senjata mereka lengkap dengan senapan. Dalam sekejap, Atlantis telah mereka kuasai.


Ngiiiing


Suara alarm tanda peringatan Atlantis pun menggema ke seluruh ruangan.


"Angkat tangan dan berdiri di tempat!" Perintah salah satu komandan pasukan militer ketika memasuki aula.


"Ada apa ini?!" tanya Leony panik melihat moncong senapan mengacung ke arah mereka.


"Kalian semua telah melanggar dan melakukan aktivitas terlarang! Kami mendapat perintah untuk membubarkan acara dan menahan kalian!"


"Apa kau bilang? Kami sudah mendapat izin untuk mengadakan acara." Profesor Hartman maju, mengajak negosiasi.


"Maaf, kami hanya menjalankan tugas. Sebaiknya kalian diam dan menuruti perintah. Pasukan! Awasi mereka!"


"Siap!" Satu per satu pasukan mengepung seluruh manusia yang hadir dan memisahkan setengah zombie ke sudut lain.


"Hei, ini namanya diskriminasi!" teriak Leony yang melihat Tahta menjauh darinya dan dikumpulkan bersama setengah zombie.


"Lepaskan Tha! Deo!" Tahta meronta ketika salah satu dari pasukan militer menahan kedua tangannya di belakang.


****

__ADS_1


__ADS_2