
Tahta bangkit dari jalanan yang basah oleh air. Jelas terlihat dia berusaha berdiri walau jatuh sekali lagi. Seluruh tubuhnya mulai mati rasa, namun memaksa untuk tetap membuka mata. Dia tidak peduli pada hujan sekalipun. Fokus perhatiannya hanya tertuju pada Hideo.
Hideo sendiri menatap Tahta dengan perasaan bersalah dan beralih melihat pistol bius yang dipegangnya. Sebelum pemuda itu mendekati kerumunan, dia mengambil dua senjata; satu pistol berpeluru bius dan satu lainnya senapan laras panjang dengan peluru penghancur. Peluru milik anggota STERIL dibuat berbeda. Benda kecil itu tidak hanya menancap bila ditembakkan, tapi akan meledak di dalam jika sudah bersarang di dalam tubuh mangsanya. Untung saja Hideo berubah pikiran dan mengambil peluru bius. Kalau tidak, Tahta pasti binasa. Untunglah dia tidak salah mengambil keputusan. Meskipun begitu, dia takut menembak kekasihnya sendiri. Dia takut Tahta terluka.
"Tahta!"
Tidak mau menunggu lama, Hideo bergegas menghampiri Tahta yang hampir tidak sadarkan diri karena obat bius. Tubuh tegapnya menembus puluhan titik hujan untuk menjemput sang kekasih dan membawanya kembali ke Atlantis. Dia sangat bersyukur datang tepat waktu sebelum para aparat keamanan Kota Lazar bertindak. Dia tidak bisa membayangkan Tahta mati di tangan mereka.
Pemuda itu berniat untuk langsung menggendong Tahta, namun dicegah oleh Leony. Sebagai seorang manusia sehat dia masih tidak boleh menyentuh Tahta. Dia sangat mengerti. Sebenarnya dia tidak peduli tentang itu, tapi jika dipikir lagi bila dia sendiri sakit dan tertular, lalu siapa yang akan menjaga Tahta? Karena itu Hideo harus bertindak hati-hati. Hideo menuruti kata-kata sahabatnya kali ini.
"Hideo, pakai selimut ini agar tidak terjadi kontak langsung!"
Leony memberikan sebuah selimut berukuran besar. Selimut itu dibuat dari bahan khusus yang tahan air dan anti terbakar. Fungsi sebenarnya adalah untuk mengevakuasi korban bencana alam juga korban peperangan beberapa tahun silam, tapi sekarang Leony sengaja membawanya untuk berjaga-jaga. Benar saja, benda itu berguna untuk sedikit menghalangi kulit Tahta dan Hideo agar tidak saling bersentuhan.
Dalam beberapa menit, tubuh Tahta telah terbalut selimut. Kesadaran zombie itu pun menghilang begitu tubuhnya dibopong oleh Hideo. Saat inilah pemuda itu mendengar Tahta menggumam. Dia akan mengabaikannya kalau saja hanya berupa gumaman biasa. Tapi ketika pendengarannya menangkap sebuah huruf vokal yang dikenal, Hideo pun menunduk untuk mendengarkan.
"Eo."
Hideo diam untuk mendengar sekali lagi.
"E ... eo."
"Bertahan! Aku akan membawamu ke Atlantis!"
Hideo masuk ke dalam mobil dan tidak berniat untuk pergi barang secuil pun. Dia memangku, membenarkan selimut lalu memeluk Tahta dengan erat. Tubuh mereka sama-sama basah, tapi hati salah satunya menghangat. Hideo senang karena Tahta bisa menyebut namanya meski terpenggal.
"Jadi Tahta kabur untuk mencarimu?" tanya Leony yang juga mendengar suara Tahta. Kini mereka pergi bersama mobil Atlantis setelah sebelumnya dia meminta ijin kepada Aparat Keamanan Kota Lazar untuk membawa Tahta kembali. Sisanya biar aparat yang menangani kekacauan termasuk membantu mengembalikan mobil dinas Hideo ke markas Utara.
"Aku tidak percaya, dalam diamnya Tahta selalu memperhatikanmu," lanjutnya.
"Kalau begitu mulai sekarang aku harus memberitahunya jika aku sibuk dan tidak bisa datang menengok."
Hideo menunduk untuk melihat wajah Tahta yang tenggelam oleh kain di sekelilingnya. Kulit wajahnya putih pucat hampir menyamai warna selimut. Bibirnya masih keabu-abuan. Untuk ukuran zombie, tubuh Tahta tergolong bersih dari darah. Lukanya memang belum sembuh, tapi Hideo tidak takut sama sekali melihat daging pipinya terkoyak. Hideo pernah melihat ribuan mayat hidup lebih mengerikan dari ini, jadi melihat keadaan Tahta, dia baik-baik saja.
'Sayangku.' Hideo memeluk Tahta lebih erat.
Keadaan di luar pagar Kota Lazar masih tegang. Seluruh pos militer Divisi Delapan Penjuru Mata Angin; Timur, Barat, Utara, Selatan, Barat Laut, Tenggara, Timur Laut, dan Barat Daya bersiaga dari serangan zombie. Beberapa waktu silam setelah peperangan, Kota Lazar ditutup dari dunia luar. Pemerintah menempatkan beribu-ribu militer untuk menjaga Kota Metropolitan itu. Mereka menata dan membangun kembali bangunan yang rusak. Hingga saat ini pun kota itu masih tertutup. Untuk masuk ke sana perlu akses khusus, mengingat banyaknya zombie berkeliaran di sekitarnya.
Mayat hidup di dunia ini meskipun tidak takut sinar matahari, tapi lebih suka tempat gelap, lembab, dan rusak. Ada satu hal yang membuat mereka takut untuk mendekati Kota Lazar, yaitu di depan dindingnya banyak ditumbuhi pohon buah berduri. Bila buah itu matang, maka harum baunya akan tercium hingga beberapa kilometer. Bagi mayat hidup, wangi itu membuat pusing dan mengacaukan sinyal mereka terhadap mangsa. Jika mereka berjalan mendekat saat buah-buah berjatuhan, kaki mereka akan menginjak durinya dan pasti tidak akan sanggup untuk berjalan lagi. Seharusnya saat ini pun zombie enggan untuk mendekati kota, tapi entah kenapa mereka nekat.
Setelah menunggu, siaran radio pun mengudara. Kabar yang diberikan oleh reporter militer ini sungguh di luar dugaan. Sekalipun mereka manusia yang berjalan dalam keadaan tidak sadar, tapi otak mereka memberi instruksi kepada anggota tubuh untuk bergerak. Dalam pergerakan satu arah ke jalur yang sama dan serempak bukankah itu aneh?
[Status siaga telah diturunkan. Zombie berbalik arah menjauhi kota. Status siaga diturunkan! Sekali lagi status siaga diturunkan!]
"Mereka berbalik arah?" tanya Leony heran. "Bagaimana bisa mereka bertindak seperti mendapat instruksi dari seseorang? Apa mereka punya pemimpin, Hideo?"
__ADS_1
"Aku tidak tahu. Ini pertama kalinya mereka bertindak begini."
****
Hideo duduk di ruang tunggu. Punggungnya bersandar pada tembok dingin akibat bergesekan dengan udara. Kelopak matanya terpejam. Dia memutuskan untuk beristirahat sambil menunggui Tahta. Sebenarnya dia tidak perlu melakukan itu, karena Leony dan orang-orang Atlantis akan sungguh-sungguh menjaga Tahta.
Hideo merapatkan selimut yang dipakainya. Dia mencoba untuk beristirahat. Dalam tidur dia bermimpi. Saat pemuda itu ingin kedamaian, alam bawah sadarnya justru menarik kembali ingatan yang paling ingin dia lupakan.
Hideo terbangun di atas tempat tidur ketika bunyi sirine membuatnya terhenyak. Saat itu zombie masih berkeliaran di perbatasan kota di mana Hideo dan istrinya tinggal. Suasana masih mencekam. Orang-orang tidak akan bisa tidur tanpa senjata di tangan mereka.
Begitu mendengar bunyi alarm tanda peringatan, dia berlari ke lantai bawah setelah sebelumnya mengambil senapan yang disimpan di bawah tempat tidur. Dia mencari istrinya di tiap sudut rumah.
"Stella?!" teriak Hideo. Pemuda itu mencari-cari wanita yang amat dicintai.
"Stella jawab aku! Di mana kau?!"
"Aargh!"
Hideo berlari ke halaman belakang dan menemukan dua zombie menggigit istrinya.
"Lepaskan dia!"
DOR DOR
Hideo memuntahkan peluru ke arah zombie-zombie itu. Sayang sungguh sayang, istrinya tidak terselamatkan. Dua zombie tadi telah melukai istrinya. Sebentar lagi Stella akan berubah menjadi seperti 'mereka.'
"Stella----"
"Jangan mendekat, Hideo atau aku akan melukaimu." Stella berjalan mundur untuk menghindari Hideo yang berjalan maju. "Pergilah ke tempat aman dan hiduplah dengan baik. Aku dan bayi kita akan selalu melihatmu dari surga."
Wanita itu tersenyum, sebelum akhirnya berkata, "tembak aku!"
"Tidak bisa." Untuk ukuran seorang laki-laki, dia pantang menangis. Kecuali saat ini, air mata mengalir dengan sendirinya.
"Tembak aku, Hideo! Aku tidak mau menjadi zombie! Tembak aku!"
Hideo menodongkan senjata. Dia diam dan menunggu Stella berubah jadi zombie, karena dengan begitu dia akan tega. Dia akan tega menembak makhluk bukan manusia. Ketika istrinya menggeram, Hideo lantas menarik pelatuk.
DOR DOR
"Hideo."
Hideo terbangun kembali ke dunia nyata karena tubuhnya diguncang. Pemuda itu membuka mata dengan kaget. Di sampingnya ada sahabatnya, Leony sedang menatap cemas. Hideo tidak tertarik untuk memulai percakapan di antara mereka. Toh biasanya Leony yang lebih banyak bicara.
"Lebih baik kau pulang, Hideo."
__ADS_1
Hideo membenarkan posisi duduknya dan membiarkan Leony menemaninya di samping.
"Kenapa? Kau teringat lagi dengan masa lalu?" tanya Leony.
Seperti yang kita tahu, mereka bersahabat sejak lama. Mereka bertiga bersama Mark menjadi sahabat sejak sekolah menengah pertama sampai akhirnya mereka bekerja di bidang masing-masing. Leony tahu masa lalu Hideo yang telah menikah. Hideo menikah muda lebih dulu dibanding mereka. Namun, baru dua bulan pasangan itu mengucapkan janji suci, istri Hideo harus pergi.
"Tadi aku bermimpi tentangnya," jawab Hideo dengan suara pelan.
"Mungkin karena kau mengalami kejadian yang mirip dengan waktu itu, makanya kau bermimpi."
"Bagaimana keadaan Tahta?" Hideo menoleh untuk mendengar jawaban Leony lebih jelas.
"Dia baik-baik saja. Suhu tubuhnya memang turun drastis, tapi selama peluru itu hanya berisi obat bius, tidak akan ada masalah."
"Syukurlah. Aku tidak bisa membayangkan aku menembak seseorang yang penting bagiku."
"Hideo, aku tidak tahu lagi bagaimana caranya untuk memberi pengertian padamu bahwa Tahta zombie. Tidak akan ada masa depan jika kau memilihnya untuk jadi kekasih----"
"Leo, bukankah sebelumnya aku sudah pernah memberitahumu tentang ini?"
"Dengarkan aku dulu----"
"Aku tidak akan menjauhi Tahta meski terpaksa kau jadi ibuku dan Mark!"
"Yah! Siapa juga yang mau jadi ayah kalian?! Aku tidak mau punya anak keras kepala sepertimu juga Mark yang pecicilan." Leony diam sejenak sebelum melanjutkan kembali kata-katanya.
"Maksudku ... tidak akan ada masa depan jika kau memilihnya jadi kekasih hanya berdasar rasa kasihan. Kau tahu----banyak orang di luar sana mencela dan tertawa. Mereka pikir berpacaran dengan zombie hal yang konyol. Mereka bilang penelitian ini mustahil. Keadaan Tahta sudah sakit seperti itu tolong jangan lakukan ini bila kau hanya terpaksa."
"Tidak, Leo. Aku tidak punya pemikiran itu. Aku tidak terpaksa."
"Lalu atas dasar apa? Aku penasaran ingin tahu alasanmu?"
"Aku tidak tahu."
"Sudah kuduga."
"Jangan memojokanku."
"Aku tidak akan berhenti bertanya."
"Oke, baiklah! Aku hanya ingin menjaganya. Meski sekarang aku belum cinta, tapi aku akan memberi kesempatan bagi hubungan kami walaupun hanya aku yang bergerak untuk memulainya. Aku akan melindungi Tahta. Kalaupun Tahta berubah ganas, aku sendiri yang akan menghadapinya."
"Bagus. Setelah ini jalan bagi hubungan kalian tidak akan mudah. Akan ada orang yang menentang. Aku harap kau dan Tahta bisa melalui semuanya." Leony diam sejenak. "Kalau begitu aku akan berusaha menyembuhkannya. Aku ingin melihat keajaiban dari hubungan kalian," kata Leony sambil tersenyum.
****
__ADS_1
Bersambung