STERIL: My Bottom Is A Zombie

STERIL: My Bottom Is A Zombie
Bab 12: (STERIL: Please, Just Remember Me!)


__ADS_3

Kelopak mata Tahta bergerak-gerak. Setelah tertidur cukup lama, kini dia kembali pada kesadarannya, meski dengan sedikit paksaan. Dalam benak Tahta munculah kilas balik kenangan silih berganti. Kenangan itu berawal dari masa kecil hingga sebelum dia menjadi mayat hidup. Dalam ingatanya ada satu yang paling menonjol, yakni mengenai Jeon. Selain karena mereka bersahabat, juga kata-kata terakhirnya lah paling membekas dalam ingatan.


Penyataan cintanya pada Tahta terbawa hingga Tahta sadar.


"10% ... 30% ... 50% ... 60 ... 80 ... 94 ... 100!"


Seorang ilmuwan muda mulai berhitung maju. Ketika angka persentase kesadaran dihitung, mereka memperhatikan sepenuhnya. Harapan dari orang-orang yang hadir di ruangan itu hanya satu, tak lain adalah ingatan Tahta kembali sebagai bukti atas berhasilnya tahap ini. Dengan kembalinya sebuah memori maka itu artinya otak mereka bekerja dengan baik.


Mereka masih menunggu dan menunggu hingga suara teriakan menggema di seisi ruangan.


"ARGH!" teriak Tahta begitu matanya terbuka. Dia berontak ingin kabur dari dalam kungkungan. Tangannya memukul-mukul dinding kapsul, namun dinding transparan yang mengurungnya itu tidak akan mudah dibuka dari dalam. Dia tidak berputus asa. Dia memukul lagi dan lagi.


Beberapa orang staf pada akhirnya membuka kapsul untuk membantunya keluar, namun Tahta menolak. Dia mendorong orang-orang dan dan memaksa kedua kakinya untuk pergi. Ini sulit. Karena Tahta tidak terkendali, maka dia harus dipegangi agar tidak melakukan tindakan berbahaya.


"Eo ... Eon," panggilnya terus-menerus dengan suara parau.


"Apa kau ingat siapa dirimu?" tanya Leony penasaran. Dia ingin tahu jawabannya segera, tapi Tahta terus meracau.


Tahta seperti terbangun dari mimpi. Mimpi yang tidak bisa diingat kecuali potongan-potongan samar. Dia ingat dia punya kekasih, tapi bukan Soni. Sosok itu tersamarkan. Yang paling dia ingat justru Jeon, karena orang itulah pelindung Tahta hingga akhir. Jeon lah yang menyatakan cinta sebelum ajal menjemput. Semua tindakan, kata-kata, dan kesan terakhir itulah yang membuat potongan ingatan Tahta menganggapnya berarti.


Tahta menganggap Jeon penting.


Ketika dulu Tahta dan Jeon masih manusia, keduanya sangat akrab. Mereka selalu terlihat bersama seperti sepasang sandal. Di mana ada Tahta di situ pasti ada Jeon. Jeon juga kerap kali mengantar jemput Tahta ke sekolah, karenanya Tahta tidak perlu diantar oleh supir ayahnya. Seringnya mereka bersama akhirnya menumbuhkan benih lain di antara mereka secara sepihak.


Jeon menyukai Tahta karena anak itu begitu manis. Sorot matanya penuh ketulusan meski kata-kata Tahta terkadang pedas. Jeon senang menggoda Tahta sampai membuatnya tertawa. Karena saat dia tertawa, wajahnya akan memerah. Semua kenangan itu kini menghilang bersama jasad Jeon yang terkulai di tempat tak semestinya. Seharusnya dia dimakamkan di tempat layak sebagaimana manusia dikebumikan, namun zombie kuburnya adalah di atas tanah bukan di dalam tanah. Lebih mengenaskan lagi karena Jeon benar-benar mati di tangan Tahta. Mungkin Tahta tidak rela Jeon menjadi zombie, karena itu dia dibinasakan.


Namun, sisa kenangan tentang Jeon masih membekas dalam ingatan Tahta sampai terbawa ke kelahirannya yang ke dua.


"E-o ...."


"Kau ingat siapa dirimu?" tanya Leony sekali lagi.


Tahta diam. Matanya tidak fokus melihat pada satu titik.


"Kau ingat siapa Jeon?"


Mendengar nama ini disebut, Tahta melirik Leony. Kini matanya mulai fokus menatap pemuda itu. Tatapannya ini tidak nyalang seperti sebelumnya, melainkan tatapan polos seorang bayi yang baru dilahirkan. Tahta deperti terlahir kembali dengan membawa ingatan tentang sosok seseorang.


Tahta masih memandangi Leony. Mata merahnya berubah abu-abu semenjak dia jadi zombie dan hal ini membuatnya terlihat sangat pucat.


"E ... on?"


"Ya. Jeon. Kau ingat siapa dia?"


"Mm. Pa ... cal ... ku?"

__ADS_1


****


Tahta telah sadar. Kesadarannya kembali namun tidak semua. Dia lebih senang meneliti hal baru sebagai ganti ingatannya. Otaknya memang berfungsi walaupun agak lamban memproses suatu berita mengingat otak adalah bagian paling rentan dan penting dalam kasus pemulihan. Tahta kini harus belajar tentang kehidupan dari nol.


Serum regenerasi sel dosis tinggi terus disuntikan secara rutin. Tiap bagian tubuh, baik dalam maupun luar dicek secara menyeluruh. Profesor dan para ilmuwan cukup puas dengan hasilnya, namun mereka tetap menginginkan pemulihan 100%. Mereka harus bersabar, karena prosesnya tidak semudah mengedipkan mata.


Hideo berjalan ke ruangan Tahta. Sejak menjalani tahap penarikan memori, Tahta dipindahkan ke lantai 6 untuk menerima perawatan lebih lanjut. Hideo berdiri di depan pintu tanpa berniat ingin masuk. Dia sedang menimbang sesuatu. Dia teringat kejadian sehari setelah Tahta pulih, Tahta tidak mengenalinya. Jangankan dirinya, ayahnya saja tidak ingat.


Hideo menekan beberapa digit angka untuk membuka kamar rawat. Ruangan baru Tahta ternyata cukup luas. Kamar itu tidak seperti kamar di lantai 3 yang berisi satu tempat tidur single atau ruang kosong pada masing-masing kamar di lantai dasar hingga lantai 2. Di kamar lantai 6 ada tempat tidur ukuran king size, almari, kamar mandi, juga area bermain yang dilapisi karpet berbulu di tengah ruangan.


"Tahta," panggil Hideo begitu melihat sosok berambut pirang pucat duduk di atas karpet ditemani seorang staf Atlantis.


Di hadapan Tahta ada banyak mainan. Mainan-mainan itu ditujukan untuk merangsang motorik halus dan motorik kasar seperti pada anak-anak usia dini berumur 4-5 tahun. Paling penting di antara mainan itu juga berfungsi khusus mengasah otak, seperti; kubik, puzzle, lego, balok dan mainan lainnya. Berbagai macam warna yang menarik juga penting untuk merangsang syaraf pada otak kanan agar bisa mengidentifikasi bermacam-macam warna.


^^^* Motorik halus: kemampuan yang berhubungan dengan keterampilan fisik, melibatkan otot kecil dan koordinasi mata-tangan, contohnya melipat kertas.^^^


^^^Motorik kasar: kemampuan tubuh yang melibatkan otot besar, contohya menendang.^^^


"Tahta, kaudengar aku?" panggil Hideo lagi.


Tahta saat itu sedang mencoba sebuah mainan squishy. Bentuknya bundar seperti donat berwarna-warni. Jemari pucat Tahta sibuk meremas-remas benda kenyal di tangannya tanpa mempedulikan Hideo. Raut wajahnya datar tapi Tahta menyukai mainan barunya. Awalnya dia hanya memegangnya saja, tapi pada akhirnya dia malah memasukkan mainan ke dalam mulut dan mengigit-gigitnya. Untung benda itu dibuat aman. Pewarna pada squishy tidak berbahaya.


Hideo kini berada di hadapan Tahta. Sejenak Hideo merasa Tahta sangat lucu. Mulutnya yang sedang mengigit dan mengemut mainan terlihat menggemaskan seperti bocah kecil. Mau tak mau sudut bibir Hideo melengkung ke atas.


"Tahta, komandan memanggilmu," ujar pria yang sedari tadi menemani Tahta bermain.


Hideo mengembuskan napas kecewa, tapi dia bisa apa? Mana mungkin dia memaksa Tahta agar mengenalinya. Biar bagaimana pun mereka bertemu ketika Tahta berubah jadi zombie. Dalam keadaan otaknya yang kacau, memorinya tidak bisa diandalkan untuk mengingat wajah baru, meski dalam beberapa bagian ingatannya masih membekas.


"E ... o. E-on."


Panggilan ini mengusik Hideo. Mendengar kekasihnya menyebut nama orang lain membuat hatinya terbakar api cemburu. Ini terdengar lucu mengingat sosok nyata kalah oleh sosok yang sudah tiada. Hideo mengamati Tahta sejenak.


Tahta saat ini sedang bermain lego. Di lego itu ada figur manusia laki-laki. Tahta menunjuknya sambari menyebutnya 'Eon' yang artinya 'Jeon'. Gara-gara hal ini mendadak wajah tersenyum Hideo berubah suram. Sialnya staf yang menemani Tahta malah tertawa karena melihat ekspresi Hideo yang berubah.


Hideo dan Tahta pacaran. Berita bahwa Hideo menjadikan Tahta kekasihnya bukan lagi rahasia. Semua penghuni Atlantis maupun anak buahnya di divisi sudah tahu. Jangan lupakan bahwa berita juga bisa berpedar seperti sinyal internet, sehingga gosip ini cepat menyebar dan tersambung seperti jaringan 4G.


"Itu mainan, bukan Jeon." Hideo mencoba menjelaskan pada kekasihnya, tapi reaksinya jauh dari harapan.


"Eon. Eon. Eon."


"Bukan, Tahta. Itu mainan."


"Anu ... Komandan Hideo----biarkan saja dia begitu." Wajah si staf sekaligus perawat laki-laki hampir menyamai warna kain luntur. Dia takut Tahta ngambek.


"Kau ini bagaimana? Kenapa tidak menjelaskan padanya kalau itu mainan? Kalau dia menganggap benda itu manusia sungguhan bagaimana? Kau mau tanggung jawab?"

__ADS_1


"Tapi kita harus mengajarinya pelan-pelan, Komandan. Kata profesor seperti itu. Otak Tahta tidak boleh menerima informasi sekaligus, karena belum mampu."


"Kalau begitu serahkan saja padaku."


Hideo duduk sambil berlutut untuk mensejajarkan dirinya dengan Tahta. Dia ingin mengajari Tahta bagaimana caranya menjadi seorang manusia dimulai dari mengenali seseorang. Yang terpenting Hideo berharap agar Tahta bisa mengenal dan menyebut namanya, bukan laki-laki lain.


"Tahta, dengarkan aku----aku Hideo. Aku kekasihmu. Apa kau bisa mengerti?"


"Um, ke ... ka ... sih? Apa ... tu?"


Hideo menutup kembali mulutnya. Oke, dia harus menjelaskan pada Tahta. Semoga saja anak itu mengerti. Hideo, kau memang harus membuat Tahta sadar bahwa benda kecil itu hanya mainan. Jangan sampai kesalahan ini berlanjut hingga nanti.


"Kekasih itu sama saja dengan pacar."


"Um? Bu ... kan. Nih ... pa ... cal, Tha. E-on." Tahta menunjuk lego figur laki-laki.


"Bukan. Begini ... biar aku jelaskan. Yang itu mainan, benda mati. Yang ini kekasih." Hideo menunjuk lego lalu menunjuk dirinya sendiri. Seumur hidup dia berada di area peperangan, bertemu dengan penjahat dan situasi berbahaya, menembak zombie sampai mati, baru kali ini dia bernegosiasi dengan makhluk tidak berbahaya tapi cukup membuatnya terancam kalah----telak.


"Mamu ... bu ... kan pa ... cal. Nih pa ... cal," Tahta menunjuk legonya lagi. Kata-katanya masih belum sempurna, tapi sangat jelas kalau dia sedang protes.


Karena gemas Hideo lantas mengambil lego berbentuk laki-laki yang jadi sumber masalah tadi lalu melemparnya sembarang. "Sekarang sudah tidak ada," katanya.


Tahta menatap tajam Hideo. Sebentar lagi zombie kecil itu akan mengamuk.


"Wa! Mamu! Na ... kal!"


BLETAK


Tahta marah. Dia melempari Hideo dengan mainan. Meskipun gerakan Tahta masih lamban, tetapi jika dia sedang emosi bisa berubah agresif secara tiba-tiba.


"Hei! Kenapa kau marah?" Hideo menghindar dan mencoba melindungi tubuhnya sendiri dari serangan Tahta. Rupanya dia salah langkah. Strateginya kalah total.


"Komandan, aku bilang juga apa?! Sebaiknya sekarang Komandan Hideo pergi."


"Kau mengusirku?" Hideo menatap staf laki-laki dengan pandangan tidak percaya. Bukankah dia memiliki akses khusus di Atlantis? Kenapa dia disuruh pergi?


"Maafkan aku, tapi gara-gara Komandan tidak mau mendengarku Tahta jadi mengamuk. Lebih baik Komandan datang lagi lain waktu."


"Hei! Tunggu dulu!" Hideo protes karena dia didorong keluar. Hideo pun harus menghindari serangan mainan-mainan yang terbang ke arahnya.


Klik


Hideo menatap pintu metalik di depannya yang terkunci otomatis. Dia tidak bisa percaya baru saja diusir.


****

__ADS_1


To be continue


__ADS_2