STERIL: My Bottom Is A Zombie

STERIL: My Bottom Is A Zombie
Bab 23: (STERIL: Tears)


__ADS_3

Sepasang mata hazel milik seseorang terus menatap layar telepon genggamnya. Berulang kali dia memupuk kekuatan. Namun, secepat mengedipkan mata, lantas niat itu urung. Padahal yang akan dia lakukan hanya tinggal menekan sebuah gambar berwarna hijau, lalu sambungan panggilan akan terhubung dengan seseorang. Kenapa rasanya sulit?


Helaan napas berembus untuk ke sekian kali. Angka jam dinding sudah menunjukkan pukul 10 malam, seharusnya orang itu sedang berada di rumahnya dan dia hanya ingin mendengar suaranya saja. Dia ingin memastikan kalau orang itu bisa beristirahat dengan tenang.


Sekali lagi, dia menggenggam teleponnya sedikit lebih kuat. Hampir saja dia memutuskan untuk menyerah, tapi kenyataannya, jarinya malah melakukan hal sebaliknya. Jarinya menekan layar tanpa sengaja. Ketika dia sadar, semuanya sudah terlambat.


[Leo, ada apa?]


Suara Leony tercekat di tenggorokan. Inilah suara yang dinantikan, ingin didengar, dan ingin dirasakan. Tegas namun menenangkan. Lembut nan menggetarkan. Suara yang selalu dirindukan, siang dan malam.


[Leo? Apa kau masih di sana?]


"Ya ... ya. Aku ... masih di sini."


[Kenapa kau belum tidur?]


Leony tersenyum, lalu kegugupannya sedikit berkurang. "Aku cuma ingin tahu apa kau sudah beristirahat dengan benar?" Mendengar seseorang di seberang sana terkekeh membuat Leony terdiam untuk mendengar, lalu merekamnya ke dalam ingatan. Ah, betapa merdunya dia saat tertawa.


Berlebihan? Memang.


Hanya dirinya yang mengerti arti tiap melodi dalam nada, juga intonasi suaranya.


[Jangan khawatir tentangku. Aku bisa mengurus diriku sendiri, tapi terima kasih untuk perhatiannya.]


Leony sedikit kecewa, namun dia berusaha bersikap biasa saja, "Ah, ya. Maaf, aku lupa kalau kau orang yang mandiri."


[Kau tahu itu. Padahal aku tidak pernah membicarakan kepribadianku kepada siapapun.]


Leony tertawa pelan. Tawanya renyah, namun menyimpan kegetiran. "Karena aku penggemarmu," ujarnya bangga.


Leony berjalan ke jendela. Cahaya lampu dari pemukiman penduduk terlihat gemerlap di kejauhan. Beberapa papan reklame digital berukuran besar sesekali menampilkan hiburan nyanyian, selebihnya hanya berupa iklan-iklan berisi protokol keamanan. Warga sipil tidak bisa masuk ataupun keluar kota sembarangan. Semua harus memiliki izin dan akses khusus. Sangat membosankan. Sejak adanya serangan zombie, sebagian artis pun telah berubah. Mereka tidak lagi menyanyi, tetapi menggeram. Betapa bersyukurnya Leony karena masih diijinkan untuk melihat semua keindahan di Kota Lazar yang dikelilingi oleh dinding baja.


[Kau berlebihan.]


"Aku bersungguh-sungguh. Aku memang penggemarmu. Sejak pertama bertemu, aku sudah mengidolakanmu."


[Ya. Kau sudah pernah bilang begitu padaku. Ah, sudah, ya. Ada hal penting yang harus kukerjakan.]


"Tapi ...," kata-katanya berhenti. Ada hal yang ingin dibicarakan, tapi rasa takut itu kembali menghantui. Bibirnya terkatup begitu saja. Leony lantas meremat ponselnya.


[Ada apa?] tanya seseorang di seberang.


Sejenak Leony senang karena dia diperhatikan. Namun sekali lagi hanya bisa membiarkan perasaannya mengalir tanpa muara. "Tidak ada apa-apa. Maaf, jika aku sudah mengganggu waktumu. Selamat malam."


[Ya. Selamat malam.]


Leony menatap kosong pantulan wajahnya di jendela kaca. Mendadak malam sudah tak indah lagi dan pemandangan di luar juga tak menarik untuk dipandang. Lalu dia menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur. Kelegaan dan rasa sakit bercampur jadi satu, kemudian membuahkan hasil berupa tetesan air di sudut matanya. Degup jantung Leony masih bergerak cepat laksana gendang, dibarengi rasa sakit yang teramat sangat.


"Oh, seperti inikah rasanya patah hati?" ucapnya lirih.


Betapa perihnya rasa ini.


Indah sekaligus menyakitkan.


Meski begitu, dia tetap ingin memelihara perasaannya, meski tidak mungkin diraih. Dia adalah seseorang yang istimewa meski bukan cinta pertama. Sejak Leony bertemu pertama kali, dia sudah menetapkan orang itu sebagai idola. Semakin hari semakin dia menyukainya, semakin dalamlah perasaanya. Dari penggemar, menjadi cinta.

__ADS_1


Namun sayang, perasaan yang telah tumbuh dan berkembang hanya bisa disimpan di dalam hati.


****


"Ayah, kau ... datang. Aku ... senang."


Aslinya mata Tahta bagai jendela kehangatan bagi siapapun yang melihat. Sepasang mata bulatnya penuh kasih sayang. Tetapi hari ini, ketika mentari akan tenggelam, tidak ada binar kehidupan terselip di kedua bola matanya. Sepasang mata Tahta memancarkan aura dingin di tengah-tengah suasana sendu. Tangan pucat miliknya beralih untuk meraih sebuah buku cerita. Gambar lucu di sampul buku membuat Tahta tertarik.


"Kau senang ayah datang? Ayah di sini khusus untuk melihatmu."


"Ayah ... aku mau ... dengar cerita ini."


Tuan Altar melihat buku yang disodorkan anaknya. Lama ditatapnya buku itu dan dia pun teringat masa lalu. Ketika kecil, Tahta sering meminta dibacakan dongeng. Ibunya akan duduk di samping, di atas ranjang, setiap malam sebelum tidur. Mereka akan bersisian hingga salah satu di antara mereka lelah dan terlelap. Biasanya Tahta lah yang akan lebih dulu menyerah pada rasa kantuk, lalu istrinya akan menyelimuti Tahta dan memberi kecupan selamat tidur. Sayangnya, kebersamaan keluarga yang harmonis kini hanya tinggal kenangan.


Kelopak mata Tuan Altar terasa panas. Setetes air mata pun tak mampu ditahan. Cepat-cepat dihapusnya air mata itu. Dia harus kuat demi Tahta.


Tuan Altar mengganti wajah sedih dengan menarik sudut bibirnya ke atas.


"Ya. Ayah akan membacakannya untukmu."


Kini, sekali lagi, ayah dan anak duduk berdampingan. Tidak bisa dipungkiri jika situasi saat ini mengingatkannya pada nostalgia di masa lalu, ketika kedamaian masih ada di muka bumi dan orang-orang tidak berperang demi kekuasaan.


Ketika ayahnya sedang bercerita, Tahta duduk dengan tenang. Dia tidak beranjak barang seinci pun. Tangannya hanya sibuk membelai-belai boneka yang sedari tadi duduk di pangkuannya. Dia sangat menikmati kebersamaan mereka, meski tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.


Hanya ada kau dan aku. Hubungan darah yang terjalin erat, tak 'kan bisa terputus oleh apapun. Walaupun bayi mungil dalam dekapannya dulu sekarang telah berubah. Namun, pekatnya darah yang telah berevolusi jadi zombie tidak bisa menghapus jejak DNA antara anak dan orang tua.


Apapun itu----Tahta bagian dari diri Tuan Altar.


'Kau anakku satu-satunya. Harta berharga yang kumiliki,' bathin Tuan Altar sesekali melirik Tahta.


Suara mendebarkan membuyarkan Tuan Altar. Gelombang yang ditimbulkan sesaat kemudian membuat benda-benda di sekitarnya ikut bergetar. Bunyi ledakan terdengar jelas, jika bisa didengar hingga ke Atlantis, itu artinya dentuman di lokasi kejadian sangat besar. Tuan Altar mengalihkan pandangan pada Tahta. Anaknya menggeram dan mulai gelisah. Boneka beruang pemberian Hideo tak luput dari penyiksaan. Benda tak bernyawa itu dikoyak hingga kapas-kapas di dalamnya menyembul ke luar.


Ada apa dengan bayi mungilnya?


"Tahta? Kenapa kau, Nak?"


Tahta tidak menjawab. Dia justru menggeram semakin jelas. Serta merta tak mendengar sang ayah memanggil namanya.


Tuan Altar mengangkat tangan untuk membuatnya tenang, namun Tahta menampiknya. Sepasang mata Tahta yang semula biasa saja kini mulai menatap nyalang ayahnya. Alisnya yang menungkik tajam seolah berkata bahwa dia sedang marah.


"Argh!"


Tuan Altar tidak tahu apa yang sedang terjadi. Dia hanya mundur dan memberi jarak untuk berjaga-jaga. Buku cerita tidak lagi menarik perhatian Tahta. Namun Tuan Altar masih memegangnya untuk disimpan. Ponsel yang berdering hanya menambah ketegangan, selanjutnya rasa risau pun datang.


Apakah ini lelucon yang dirangkai oleh takdir?


"Hallo. Ada apa kau memanggil?" tanyanya pada seseorang di seberang sesaat setelah mengangkat telepon.


[Maaf, Tuan, tapi ini keadaan darurat! Sebuah pesawat telah meledakkan sektor C. Tempat itu kini telah hancur.]


"Apa?! Bagaimana bisa hal itu terjadi? Di sana banyak zombie untuk diselamatkan----"


"Harrgh!"


Ucapan Tuan Altar terputus karena Tahta tiba-tiba menyerang. Tuan Altar mencoba menghindar, Tahta pun mengejar. Karena tidak ingin melukai maupun dilukai oleh anaknya, Tuan Altar terus mengelak. Dia harus tetap sehat agar misi STERIL tetap berjalan.

__ADS_1


Alarm berbunyi dan beberapa perawat datang dengan alat perkengkapan. Ketika kedua bola mata Tuan Altar menangkap adanya rantai di tangan mereka, dia tidak bisa membayangkan tindakan apa yang akan dilakukan oleh orang-orang berpakaian putih itu. Tahta tidak bisa dikendalikan. Untuk mencegah hal buruk, maka tidak ada cara lain selaian mengungkungnya dengan rantai baja.


Tahta meronta, menggeram tak ubahnya seperti seekor serigala lapar. Jika dia punya kuku panjang, maka siapapun bisa dikoyaknya. Sekarang kesadaran Tahta sedang hilang, maka Tahta akan berubah perangai layaknya mayat hidup sungguhan. Beberapa perawat berpakaian putih yang seluruh tubuhnya tertutup, menahan kedua tangan dan kaki Tahta, lalu memasangkan rantai.


"Apa tidak ada cara lain selain membawanya ke ruang isolasi dengan menggunakan rantai?" Tuan Altar berusaha bernegosiasi, namun prosedur Atlantis harus dilaksanakan. Raut kecemasan tergambar di wajah paruh bayanya. Siapa yang rela melihat anggota keluarganya dirantai seperti seekor anjing?


"Maaf, Tuan. Saat ini Tahta berbahaya. Dia bisa saja melukai tuan. Biar kami yang menangani dia sampai keadaannya kembali normal."


Tuan Altar hanya bisa melihat Tahta meronta dan dibawa paksa. Dengan rantai di sekujur tubuhnya, anaknya tampak seperti orang pesakitan. Setelah menggeram, suara Tahta lalu berubah menjadi isak tangis. Hati siapa tak 'kan luluh mendengarnya? Tuan Altar pun terenyuh.


"Ayah, ma ... maaf." Antara ketidakberdayaan, setetes air mata jatuh di pipi pucat Tahta.


"Tahta?"


"A ... yah."


Pertahanan Tuan Altar pun runtuh. Seorang pria yang tadinya mampu menguasai diri, tiba-tiba menitikkan air mata. "Lepaskan dia! Lepaskan anakku! Dia sudah sadar!" Dia mencoba menerjang para perawat yang hendak membawa Tahta, namun beberapa dari mereka justru menahannya di pintu. "Jangan halangi aku! Beri aku jalan!"


"Maaf, Tuan, anda tidak boleh mendekat! Ini prosedur! Kami tidak bisa mengambil risiko anda juga tertular dan terluka. mohon dimengerti. Pasien akan tetap kami bawa ke ruang isolasi."


"Tapi kalian menyakitinya!"


"Ayah! Ayah!" teriak Tahta. Hanya kata itu yang keluar dari mulut Tahta. Karena lambat laun, dia dapat memahami apa makna sebenarnya dari kata 'ayah.' Dialah pahlawan, pelindung bagi anaknya.


Des


Saat Tahta ingin berteriak lagi, suaranya menghilang, ditarik jauh memasuki alam bawah sadarnya. Dia pun terlelap.


"Lain kali----cepat bius Tahta jika mengamuk. Semua pasien di lantai 7 paling mendekati sisi manusia. Mereka bisa merasakan sakit, apa kalian tidak mengerti?" Leony datang dengan pistol bius di tangan, lantas memarahi para petugas medis yang menangani Tahta.


"Maaf, Doktor."


"Ya sudah, cepat bawa dia!"


"Baik."


Leony membiarkan Tahta dibawa, demi kebaikannya sendiri juga keselamatan semua orang. Toh, dia yakin bahwa Tahta hanya lepas kendali untuk sementara waktu. Beruntung dia cepat datang sebelum situasi menjadi kacau. Hanya saja Leony heran, karena tidak biasanya Tahta mengamuk.


Ada apa sebenarnya?


Dia lantas menatap Tuan Altar. Penampilan pria itu sedikit berantakan. Dari wajahnya sangat jelas terlihat sosok ayah yang sedang dirundung rasa cemas. Agaknya peristiwa tadi begitu memukul sisi manusiawi Tuan Altar hingga pamornya sebagai seseorang yang berwibawa pun runtuh. Leony dapat maklum, mengingat betapa sayang Tuan Altar kepada anaknya, Tahta.


"Tuan, apa kau baik-baik saja?" tanya Leony sedikit berhati-hati. Takutnya Tuan Altar masih terguncang.


"Ya, aku baik-baik saja."


"Sebenarnya apa yang terjadi dengan Tahta?"


Tuan Altar menjatuhkan tubuhnya di atas sofa tanpa peduli penampilannya rapi atau tidak. "Aku tidak tahu. Ada ledakan barusan. Apa kau mendengarnya?"


"Ya. Aku mendengarnya. Suara apa itu tadi? Apa yang terjadi sampai-sampai bumi bergetar?"


Tuan Altar mengubah raut wajahnya menjadi datar dan nada bicaranya serius, "Ada ledakan di sektor C. Itulah yang menyebabkan Atlantis bergetar dan Tahta mengamuk." Siku Tuan Altar bertumpu di atas kedua pahanya. Jari-jemarinya pun saling tertaut satu sama lain. "Tolong kauawasi Tahta. Aku akan menyelidiki apa yang sebenarnya telah terjadi."


"Baik, Tuan."

__ADS_1


__ADS_2