STERIL: My Bottom Is A Zombie

STERIL: My Bottom Is A Zombie
Bab 29 (STERIL: Claim)


__ADS_3

Sejak Hideo terinfeksi, lalu dinyatakan bebas virus, dia jadi pusat perhatian semua orang, terutama para ilmuwan. Orang-orang Atlantis penasaran dan mereka terus meneliti darahnya, mencatat hingga ke partikel paling kecil. Jelas mereka tidak akan melewatkan satu bagian pun. Mereka menelusuri jejak DNA untuk dianalisa, agar dapat mempelajari bagaimana cara darah Hideo beradaptasi terhadap protein virus.


Awalnya, Profesor Hartman tidak percaya. Tetapi karena ada bukti dari hasil data yang diberikan Leony, Profesor Hartman pun tercengang. Profesor yang sudah tidak muda lagi itu hampir mematahkan kacamata miliknya, karena begitu terkejut.


Dengan data seadanya, dunia penelitian tidak serta merta percaya begitu saja. Mereka perlu melakukan pengecekan lebih dulu. Akhirnya, para ilmuwan sepakat, mereka akan membuat tim khusus secara berkelompok yang terdiri dari beberapa orang. Di dalam kelompok nantinya akan ditempatkan ilmuwan, doktor, juga perawat yang bertugas untuk meneliti virus di dalam darah Hideo.


Ketika para ilmuwan tengah memutar otak demi menemukan kejanggalan, secara bersamaan muncul hal aneh pada zombie-zombie yang dirawat oleh Atlantis. Beberapa dari para mayat hidup serupa Tahta, baik secara fisik maupun telah melalui tahap penarikan memori, mulai menunjukkan gelagat mencurigakan. Mereka terus-menerus mencoba mendekati orang-orang.


Anehnya bukan untuk menyakiti, melainkan sesuatu yang lain telah terjadi.


Tidak ada yang tau mengapa mereka tiba-tiba bertindak berbeda dari biasanya. Sifat mereka kembali seperti semula, layaknya zombie predator. Mereka----para setengah zombie yang berjenis kelamin laki-laki mengincar perempuan-perempuan, sebaliknya setengah zombie wanita mencari pria-pria berseragam militer.


"Um," gumamnya mengambang, tiada kehidupan.


Dia pasien di lantai 7, tetapi entah bagaimana ceritanya dia bisa sampai di lantai 3. Setengah zombie yang sejatinya berjenis kelamin perempuan itu hanya diam. Namun sepasang mata abu-abu pucat miliknya gencar memilih mangsa. Dia terus menatap ke lantai bawah, ke arah zombie-zombie yang sedang dirantai, digiring oleh pria-pria berseragam militer.


Agaknya, pria berseragam militer lebih menarik perhatian. Sorot mata nan dingin itu terus membidik salah satu diantaranya.


Pria-pria militer dan perawat laki-laki sedang sibuk membawa para mayat hidup, jelas tidak akan menyadari adanya sang pengintai. Ketika mereka semua lengah, makhluk itu pun melompat dari lantai 3.


Satu


"Hargh!"


"Ada apa ini?!" teriak seorang perawat.


Dua


"Apa yang terjadi?!" teriak pria militer lainnya, tetapi dia terlanjur diterjang oleh sosok setengah zombie.


Tiga


"Keadaan darurat!"


"Hargh!"


Setengah zombie dari lantai 7 satu per satu terbang bebas, lalu menerjang manusia yang diincar.


Alarm Atlantis berbunyi, sebagai tanda situasi genting. Suara nyaring yang menggema di dalam gedung, memanggil para petugas keamanan. Mereka berusaha memisahkan dan membawa para pasien lantai 7 kembali ke ruangan, tetapi sepertinya butuh usaha ekstra agar mereka mau menurut. Petugas keamanan Atlantis kesulitan mengevakuasi, karena kaki dan tangan mereka mengungkung kuat tubuh mangsanya.


"Hih, apa yang sedang dia lakukan?!" tanya pria penjaga Atlantis, jijik. Dia melihat air liur keluar dari mulut setengah zombie lalu masuk ke mulut pria di bawahnya. Air liur yang dimuntahkan sangat kental dan banyak, begitu menjijikkan hingga membuat perut orang-orang yang melihatnya bergejolak.


Satu per satu tubuh-tubuh kekar dalam balutan seragam tak lagi menampakkan kekuatan. Pria-pria perkasa yang maju di garda depan dalam pencarian jejak manusia, kini terkulai tak berdaya. Mereka kira pasti mati, karena jangankan membasmi, melawan pun tak bisa. Mereka akan berakhir dengan kematian.


"Cepat tembakkan peluru bius!" suara  Profesor Hartman memberi instruksi.


"Baik, Prof!"


Pasukan keamanan di Atlantis bersiap dengan senapan yang telah diberi peluru bius. Namun, belum sempat peluru dimuntahkan, suara lain menahan.


"Berhenti!" teriak sosok berambut merah. Dia berdiri di lantai 3, lalu melompat ke atas patung kuda berlari yang terletak di tengah-tengah aula.


"Jilly?!" panggil Leony terkejut.


Jilly tak menanggapi panggilan Leony. Matanya terfokus pada setengah zombie yang menindih manusia.


"Kalau kalian sudah melakukan klaim, Tuanku menyuruh kalian untuk berhenti."


Para setengah zombie menggeram dan menengok Jilly hanya sekilas.


"Tuanku menyuruh kalian kembali, apa kalian tidak mau?!" ulang Jilly bernada penuh penekanan. Jilly menarik setengah pedangnya lalu memasukkan lagi, dengan sengaja membuat bunyi untuk menakut-nakuti.


"Hargh!"


"Kaupikir aku takut?!" tatapan mata Jilly tak kalah tajam, disusul senyuman sinis. Tak ada yang mengira jika Jilly akan menebas leher patung itu, lalu menendang kepalanya hingga mengenai zombie tadi. "Pembangkang. Kembali atau ku-ha-bi-si?!"


Cara Jilly yang sedikit keras tampaknya berhasil. Para setengah zombie kali ini menurut, satu per satu dari mereka mulai melepaskan manusia dan kembali dengan menaiki tangga.


"Jilly, sebenarnya siapa yang kau panggil tuan?" tanya Leony sesaat sebelum Jilly pergi.


Jilly yang bersiap untuk beranjak, memberi Leony wajah datar dan sorot mata enggan. "Tidak ada."


"Tidak ada? Pasien lantai 7 tiba-tiba menyerang manusia dan mereka berhenti hanya karena ucapanmu, aku yakin itu bukan kebetulan. Lagipula kau menyinggung soal 'Tuan.' Sebenarnya apa maksud dari kata-katamu?"

__ADS_1


Raut wajah tegas Jilly sedikit melunak. Meski bibir itu masih jauh dari kesan tersenyum ramah, dia justru memberi Leony tatapan polos seolah-olah tidak tahu apa-apa.


"Kau ... sedang stress. Pergi berlibur, ... sana!"


Leony tertohok.


"Aku ... mau main ... dengan Tahta, ah," ujar Jilly.


"Hei, kenapa kau bilang aku stress? Aku tidak sedang stress! Jilly, aku tidak terima kata-katamu!" teriak Leony, tetapi Jilly terlanjur melompat ke anak tangga dan berlari menaikinya.


"Aku tidak mengira Jilly bisa mengejekmu, Leo," komentar Profesor Hartman sambari tersenyum.


"Kenapa profesor malah tersenyum?" tanya Leony tidak habis pikir. "Jilly mengatakan hal aneh. Mungkin ..." Leony diam sejenak. "... mungkin itu ada maksudnya?"


Profesor Hartman mengelus-elus jenggotnya


perlahan. "Hm, mungkin, tapi bisa saja itu berasal dari ingatan masa lalu yang terbawa hingga saat ini. Jangan terlalu dipikirkan!"


"Tapi, Prof?!"


"Hm, gawat! Kepala patungnya hilang. Siapa yang harus tanggungjawab?" Profesor Hartman menengok  ke samping dan ternyata Leony sudah kabur. Pria itu lantas mengembuskan napas pasrah. "Sepertinya aku harus mengalihkan ganti rugi pada keluarga yang mengadopsi Jilly."


****


"Hei, kau, dasar zombie!"


Mark datang dengan secarik kertas di tangan. Tadi, selagi sedang bertugas, Mark mendapat pesan digital dari Atlantis. Petugas administrasi Atlantis mengirim beberapa digit nominal yang harus dibayar Mark untuk membayar ganti rugi. Bagaimana mungkin?


Mark terkejut.


Setahunya, dia sudah membayar ganti rugi gara-gara merusak pintu ruangan Leony. Seharusnya masalah sudah selesai. Aneh saja jika bagian administrasi masih menghubunginya karena alasan agar Mark segera membayar denda. Mark berasumsi mungkin salah catat.


Setibanya di Atlantis, Mark datang ke lobi untuk minta penjelasan. Setelah dijelaskan, dia malah semakin tak habis pikir. Sebab, ternyata dia harus membayar ganti rugi atas nama Jilly Lambert.


'Bisa tolong hapus nama keluargaku dari nama Jilly?!'


"Jilly!" panggil Mark. Kedatangan Mark yang tiba-tiba disambut acuh oleh penghuninya.


Saat itu Tahta sedang bermain di kamar Jilly. Jilly mengundang Tahta untuk bermain bersama. Namanya anak-anak, pasti mereka akan memberitahu temannya jika punya sesuatu yang baru. Sama halnya dengan Jilly. Pemikiran khas kanak-kanak, mendorongnya memperlihatkan pedang mainan untuk dipamerkan pada Tahta.


"He-eh, bagus." Tahta melihat pedang di tangannya dengan gembira.


"Pedangnya ... bisa nyala ... lho. Ada ... musiknya lagi. Nih, lihat!" Jilly menekan tombol pada pedang, seketika cahaya warna-warni menyala dan musik pun terdengar.


"Waw! Pe-la-ngi." Kepala Tahta pun ikut bergoyang-goyang, menikmati musik.


"Aku punya ... 2 pedang. Yang ini ... untuk ... Tahta," ujar Jilly.


"Benar ... ini ... buat, Tha?"


"Ya. Buat Tahta."


"Hore! Asik! Makasih, ... Jilly." Tahta memeluk Jilly, gembira.


"Hei, sayang. Kau 'kan perempuan. Perempuan seharusnya main boneka," sahut Hideo yang ternyata sudah lebih dulu datang menengok kekasihnya, yang ternyata kekasihnya itu sedang main ke tetangga (Jilly).


Tahta mengerutkan alis, menyipitkan mata ke arah Hideo. Pipinya yang memiliki bekas luka samar, menggembung, tanda tak suka. Dia lantas menyembunyikan pedang barunya agar tidak diambil Hideo, kekasihnya sendiri.


"Nda mau. Nih, punya, Tha. Deo, nda boleh ambil."


"Pedang mainan buat apa? Untuk melawan zombie juga tidak bisa," gumam Hideo, menunduk lesu.


"Jilly, apa yang sudah kau lakukan sampai aku harus membayar ganti rugi?" tanya Mark kepada Jilly, menggebu.


"Aku ... tidak ... melakukan apa-apa."


"Kau mau coba-coba berbohong? Tadi, aku baru saja dari bagian administrasi, dia bilang kau merusak patung kuda. Memang kau apakan patungnya?" Mark berdiri di depan Jilly. Kedua tangan diletakkan di pinggang, menuntut penjelasan. Suara 'tak-tuk-tak-tuk' dari salah satu sepatu Mark mengindikasikan bahwa dia tidak sabar ingin segera tahu apa jawaban Jilly.


"Oh, itu ... aku hanya ... memenggal kepala patung kuda ... lalu kutendang."


"Apa?!" kata Mark.


"Oh," ujar Tahta.

__ADS_1


"Hebat, betul," sahut Hideo dengan alis terangkat naik.


"Kau memenggal kepala patung lalu menendangnya?!"


Mark masih tidak percaya. Jawaban Jilly sama sekali tak bisa diterima. Pasalnya, Jilly perempuan. Meski dulunya dia seorang petarung dengan pedang samurai sekaligus menjadi anggota organisasi Kalajengking Hitam, seharusnya semua itu hanya kenangan. Mark tidak mengira jika kemampuan masa lalu Jilly akan terbawa hingga ke kelahirannya saat ini.


"Kalau begitu kau yang harus bayar denda." Mark menyodorkan kertas denda kepada Jilly.


"Tidak. Aku ... tidak punya ... uang." Jilly mendorong tangan Mark.


"Kau yang bayar!" Mark kembali menyodorkan kertas.


"Kau yang bayar!" Jilly mendorong lagi.


"Aku bilang kau yang bayar!"


"Kubilang ... aku tidak ... mau."


Baik Mark maupun Jilly sama-sama tidak mau mengalah. Mereka terus berdebat dan saling dorong.


"Sudahlah Mark, mengalah saja! Sebagai pria sejati kita harus mengalah pada perempuan," saran Hideo.


"Tidak bisa. Sejak bertemu dengannya aku selalu tertimpa sial. Uangku yang seharusnya kupakai kencan jadi harus kugunakan untuknya. Bisa-bisa pacarku kabur. Sekarang, aku harus bayar denda gara-gara ulah bocah zombie nakal ini."


"Aku tidak ... nakal," bantah Jilly.


"Masih tidak mau mengaku, anak nakal?!"


TAK


Mark menyentil dahi Jilly.


"Mark, kau berlebihan!" ujar Hideo. "Apa kau tidak ingat kalau setengah zombie memiliki sifat anak-anak? Kau harus memperlakukan mereka dengan baik ... jika tidak ...." Hideo melihat kedua mata Jilly mulai berair.


"Hua!"


" ... dia akan menangis," lanjut Hideo.


"Uh, Jilly. Cep ... cep. Jangan ... nangis! Nih, Tha ... kasih boneka ... beruang." Tahta mengusap-usap punggung Jilly untuk membuatnya diam, tetapi justru tangisan Jilly semakin kencang.


Awalnya Mark diam dan tidak perduli. Lambat laun, telinganya berdengung mendengar tangisan Jilly, juga tubuhnya panas karena ditatap tak bersahabat oleh Hideo dan Tahta. Sebagai pria yang punya banyak pacar, Mark terbiasa menghibur jika pacar-pacarnya sedang kesal atau marah padanya. Mark akan mengeluarkan 212 cara yang dikuasai untuk merayu dan membuat suasana kembali harmonis. Tetapi rasanya janggal dan aneh jika dia merayu Jilly.


Merayu dengan bunga? Mark yakin zombie tidak perduli keindahan.


Merayu dengan cokelat? Zombie saja makan daging mentah, tidak mungkin suka cokelat yang manis.


Merayu dengan puisi? Ingat! Tingkah Jilly jauh dari kata romantis.


Merayu dengan lagu? Masa dia harus merayu dengan lagu 'Libur telah Tiba?'


"Mark jahat, Hua!" tangis Jilly menggema di seisi kamar.


"Jilly, diam!"


Tangisan Jilly semakin kencang.


"Kau sedang menghibur atau membentak? Kalau ingin membuat Jilly diam, kau harus lembut," saran Hideo.


Mark serba salah, tetapi memaksakan tangannya untuk berbuat sesuatu. Perlahan-lahan tangan itu mulai berada di puncak kepala Jilly, menepuk-nepuk pelan. Nada bicara Mark dibuat selembut mungkin. Awalnya sulit, tetapi dia mulai membiasakan diri.


"Sudah, jangan menangis!" hibur Mark dengan nada melunak. "Baik, aku yang akan membayar dendanya. Aku juga----minta maaf karena sudah menyentilmu tadi."


Mark berjongkok di hadapan Jilly, sehingga mereka saling bertatapan. Mark merogoh saku celananya dan mengambil sesuatu.


"Aku hanya punya permen cokelat. Apa kau mau?" tawar Mark sambari tersenyum.


Jilly tertegun. Sesaat dia ragu, tetapi dia penasaran dengan isi di dalam bungkusan kecil, emas itu.


"Mau, tapi ... di permen itu ... tidak ada ... racunnya, kan?"


"Tidak ada," tegas Mark.


Jilly mengambil permen pemberian Mark, lalu dia mendekatkan bibirnya.

__ADS_1


****


__ADS_2