
Jilly terus menatap bungkusan kecil di tangan Mark. Bungkusan itu sangat menarik karena kilau dari warna emas. Sejak kelahirannya yang baru, Jilly belum pernah melihat benda berkilau selain cahaya dari lampu neon. Karena itu dia mengambil permen pemberian Mark.
Jilly lantas beralih melihat Mark dengan sepasang bola mata hijau zamrud pucat. Sejak dia jadi zombie, warna matanya tidak berubah abu-abu, tetapi hanya memudar. Seperti warna hijau hutan yang tertutupi oleh kabut. Sorot matanya dingin, penuh kesendirian.
Jika dia sehat dan masih menjadi manusia murni, dia pasti akan dijadikan target pacar baru Mark. Sayangnya, Jilly bukan lagi manusia. Dia setengah zombie meski wajahnya cukup manis. Mark senang dengan wanita cantik nan molek. Jilly tidak akan masuk ke dalam daftar kriteria kekasih idamannya.
Di kehidupan Jilly dulu, gadis itu tak pernah mengenal cinta maupun belas kasih. Sejak kecil dia sudah berhadapan dengan kejahatan, kecurangan, dan kekuasaan. Dari pengalaman hidup dia belajar untuk bertahan dengan sebilah pedang. Baginya di dunia hanya ada 2 pilihan.
Hitam
Putih
Tidak ada abu-abu
Apapun yang dia mau, akan didapat dengan menghunuskan pedang. Lalu apa beda dirinya dulu dengan sekarang?
Sama-sama tak memiliki hati.
Tak memiliki jiwa.
Hatinya kosong.
Melompong.
Bagai nelayan tersesat di tengah lautan.
Dia menunggu dan terus menunggu seseorang 'kan datang.
Dia tidak butuh pangeran berkuda putih.
Dia tidak butuh pria kaya mengendarai mobil mewah.
Yang dia butuhkan hanyalah seseorang akan membawanya----pulang.
Mark, sosok itulah yang telah meraih Jilly. Pria itu menyelamatkan Jilly dari keadaan menyedihkan sebagai zombie yang terbuang. Meski dia tidak suka Jilly, tetapi takdirlah yang menyatukan mereka pada titik ini.
Lama Jilly menatap Mark, tetapi pria itu tidak merasa risih. Tatapan mata mereka berdua seolah terkunci. Akhirnya, gejolak dalam diri Jilly pun bangkit. Insting sebagai pemangsa, mendorongnya hingga berani berbuat lebih. Jika diingat-ingat, Jilly belum meng-klaim satu orang pun.
Tanpa diduga, Jilly memajukan bibirnya hingga menyentuh bibir Mark.
Ketika Mark meronta, dengan sigap, Jilly menahan kepalanya agar tidak melarikan diri. Sebagai pemangsa, insting Jilly mengeluarkan cairan dari mulutnya sangat banyak agar diminum oleh Mark. Jangan tanya bagaimana rasanya, karena Mark sendiri ingin membuang cairan itu jauh-jauh.
"Hei, sedang apa dia?!"
Hideo tidak mengira akan melihat secara langsung kejadian yang membuat Atlantis heboh seperti kemarin. Dia melihat Mark ditindih dan diserang Jilly. Karena sahabatnya sedang dalam bahaya, Hideo bermaksud menolong. Namun, baru saja dia akan melaksanakan niatnya tiba-tiba dia teringat pada kejadian saat dia diserang Tahta, kekasihnya.
"Wo, tunggu dulu! Kalau tebakanku benar----setidaknya tunggu sampai kami pergi, Tahta masih terlalu kecil untuk melihat kalian bermesraan. Tidak sopan!"
"Ap-uhuk-uhuk," Mark tidak sanggup membalas, karena Jilly membungkamnya lagi.
Hideo menarik Tahta agar menjauhi Mark dan Jilly. Dia tidak ingin penglihatan kekasihnya ternoda oleh adegan dewasa, jadi dia menutup kedua mata Tahta dengan tangannya.
"Jangan lihat!"
"Um, Deo? Tha ... mau lihat."
"Jangan, sayang! Lebih baik kita bermain si buta dan si tuli," kata Hideo sambari tertawa garing.
Tahta membuka paksa jemari Hideo, tetapi Hideo malah memutar tubuhnya.
"Hi-deo, tolong aku!" Mark tidak bisa ke mana-mana, karena tubuh Jilly menindih dan mengungkungnya kuat.
"Sudahlah, kau akan baik-baik saja," ujar Hideo menanggapi Mark. Pria itu lantas mengajak kekasihnya, "Sayang, ayo kita pergi dari sini!" Hideo menarik Tahta keluar dari dalam kamar Jilly.
"Um, tapi ... Mark dan Jilly?"
"Biarkan saja! Tidak usah pikirkan mereka!"
****
KRING
Bel berdering, disusul bunyi dari robot otomatis pada pengeras suara.
__ADS_1
[Pasien lantai 7, ini waktunya sarapan. Kalian semua boleh ke aula dan makan bersama. Setelah makan ada sesi bermain sebelum disuntik. Selamat makan!]
Tahta sedang senang. Begitu bunyi bel terdengar, dia langsung berlari kecil. Dia bahkan meninggalkan semua mainannya begitu saja. Rok mini berenda warna hijau pastel, mengayun lembut, mengikuti langkah kakinya menuju aula.
"Asik. Makan ... di aula. Tha ... mau cari ... teman," ucapnya ceria.
Di ruang aula, tampak beberapa orang petugas dan perawat Atlantis berlalu-lalang. Beberapa dari mereka menaruh beberapa piring di atas meja. Setelah zombie yang dikarantina telah berubah menjadi setengah zombie, pemimpin Atlantis memutuskan untuk menggunakan fasilitas aula sebagai tempat agar para setengah zombie bisa makan.
Mereka yang kesembuhannya serupa Tahta, mulai dibiasakan berkumpul dan berinteraksi. Para ilmuwan ingin tahu, cara mereka bersosialisasi antar sesamanya. Para ilmuwan bermaksud mengambil data akurat yang nantinya akan dikumpulkan sebagai bukti, bahwa setengah zombie layak mendapat hak sebagai Warga Negara Beltran Guido.
"Tahta," sapa Jilly yang sudah duduk di bangkunya.
"Jilly!"
Tahta menghampiri dan duduk di hadapan Jilly. Begitu bangku terisi, petugas Atlantis datang dan menaruh sepiring daging mentah ke atas meja. Tahta menoel-noel daging dengan garpu. Dia terus melakukan hal yang sama hingga Jilly menegur.
"Kalau ... tidak mau, ... dagingnya ... buatku saja!"
"Uh, bukan gitu. Tha mau ... makan," Tahta menggelengkan kepalanya.
"Lalu ... kenapa ... dagingnya kau toel? Memangnya ... itu ... Hideo?"
"Uh?" Tahta meletakkan telunjuk di bibir, juga memiringkan kepalanya karena tidak mengerti. "Ini ... daging, bukan ... Deo."
"Ya, terserah ... Tahta," ujar Jilly tak ingin memperpanjang urusan.
Tahta mengedarkan matanya, menelusuri aula. Di sana ada banyak zombie yang keadaan fisiknya telah mengalami pemulihan. Mereka terlihat baik. Pakaian mereka bagus, tidak lagi robek. Tubuh mereka jauh lebih bersih. Rambut mereka pun berkilau terkena cahaya lampu.
"Zacky ... Zacky!" panggil Tahta pada sosok zombie remaja.
Zacky menoleh dan hanya diam.
"Sini, ... sama Tha!"
Zacky menganggukkan kepala dan berjalan pelan-pelan. Alat penyangga pada kakinya terlihat masih baru. Salah satu tangannya diperban, karena saat diserang dulu keadaannya cukup parah. Dia hampir tidak mungkin dibawa ke Atlantis. Jika bukan karena Tahta, dia pasti sudah ditembak mati.
Untungnya serum dan obat-obatan terbaru sangat efektif. Serum temuan Leony yang terbuat dari herbal mampu memulihkan tanpa menimbulkan efek samping. Obat herbal mampu mengobati tanpa terlalu membebani organ hati dalam membuang racun, khususnya bagi tubuh rusak seperti zombie.
"Tahta mau ... kau duduk ... di sini," kata Jilly.
"Ya. Zacky ... sekarang teman ... Tha dan Jilly," ikrar Tahta.
Zacky duduk di sebelah Jilly. Mereka makan dalam diam. Sebagaimana sifat zombie, mereka agresif tapi di lain waktu bisa berubah dingin, begitu juga dengan mereka yang masih setengah zombie. Wangi aromaterapi yang ditebar di ruang aula membuat mereka rileks dan nyaman.
Tanpa disadari oleh mereka, di bawah meja masing-masing terpasang alat penyadap. Alat itu terhubung ke ruang pusat di mana para peneliti berkumpul untuk rapat. Alat itu sengaja dipasang agar mereka tahu dan dapat mendengar percakapan para setengah zombie.
"Apa alatnya sudah dinyalakan?" tanya Profesor Hartman pada seorang petugas.
"Sudah, Prof," jawab seorang pria berpakaian putih.
"Baik. Kalau begitu kita lihat interaksi mereka."
Orang-orang yang hadir dalam ruangan itu menunggu dengan sabar. Mata mereka tak lepas dari layar proyektor transparan yang terpampang di tengah meja. Suasananya sunyi senyap karena tak satu orangpun berbicara setelah itu.
[Aku .. sudah ... punya pilihan.]
Dalam kesunyian dalam acara makan pagi, tiba-tiba salah satu dari setengah zombie memulai percakapan.
[Pilihan? Siapa ... yang kau pilih?]
[Aku memilih ... seseorang ... berpakaian militer.]
[Oh], ujar setengah zombie laki-laki. Dia pun melanjutkan tetap dengan intonasi tak bertangga nada. [Kalau aku ... memilih seseorang ... yang memakai ... seragam putih. Dia ... pengantinku.]
Para ilmuwan yang mendengar percakapan mereka sedikit mengerutkan alis. Mereka tidak mengerti tentang topik pembicaraan para pasien lantai 7. Namun karena penasaran, mereka tetap memasang telinga lebar-lebar untuk mencari tahu kelanjutan percakapan berikutnya.
Percakapan pun beralih pada meja di mana Tahta, Jilly, dan Zacky berkumpul.
[Jilly?] panggil Tahta.
[Hm.] jawab Jilly sekenanya.
[Aku ... mau tanya ... waktu itu ... kau dan Mark sedang apa?]
__ADS_1
Jilly yang sedang mengunyah lantas berhenti. Dia mengalihkan mata dari daging ke wajah Tahta. Sambari melihat Tahta, Jilly kembali memasukkan makanannya lalu mengunyah pelan-pelan.
[Aku dan ... Mark sedang ... menikah.]
Zacky menengok ke samping di mana Jilly duduk.
[Apa?! Menikah?] tanya Tahta tidak mengerti.
[Ya. Kemarin ... ketika aku melihat Mark, aku ingin ... memilikinya. Aku ... memberinya minum ... air dari mulutku. Kau sendiri ... bagaimana? Apa kau sudah ... memberi seseorang ... minum dari mulutmu?]
[Um, ya. Aku memberi ... Hideo minum.]
[Oh. Aku ... tidak ragu, karena kalian ... sangat dekat. Kalau begitu kau ... sudah menikah ... dengan Hideo.]
Mulut Tahta terbuka membentuk huruf 'o' yang besar. Dia tidak tahu akan ada hal semacam itu. Yang dia tahu, dia senang jika berada di dekat Hideo, karena pria itu telah mengajari, memberi pakaian, dan mengajaknya bermain. Tahta tidak pernah terpikir akan menikah dengan Hideo.
Tapi tunggu dulu! Tahta tidak mengerti.
[Menikah itu ... apa, Jilly?]
[Menikah itu----ketika kita ingin ... memakan seseorang, tetapi ... tidak ingin ... membuatnya mati. Kau tertarik dengannya ... karena ... insting ingin memiliki. Jika kau berbagi ... hanya ... pada satu manusia, itu artinya ... kau sudah ... meng-klaim orang tersebut ... untuk dijadikan ... pengantin.]
[Kalau begitu ... aku juga ... harus mencari pengantinku.]
[Kau belum ... menikah, Zacky?] tanya Tahta pada Zacky.
Zacky menggeleng.
[Ayo, cepat cari ... lalu ... menikah.]
Leony di dalam ruang rapat terkejut akan kenyataan yang baru saja didengar. Namun dia merasa lucu. Kenapa acara 'pernikahan' sakral harus diganti dengan minum air dari mulut ke mulut? Apalagi, mendengar penjabaran Jilly soal pernikahan, Leony sampai tersedak ludahnya sendiri saking terkejutnya.
'Menikah disamakan dengan siklus makan memakan itu sangat konyol, Jilly.'
Tak satupun dari orang-orang yang hadir dalam ruang rapat bergerak seincipun. Mereka sangat terkejut. Tadinya mereka tidak yakin akan menemukan interaksi berarti di antara para setengah zombie, tetapi nyatanya berbanding terbalik. Mereka shock. Mereka heran.
Hei! Bukankah setengah zombie otaknya belum pulih sempurna?
Apa ini?
"Apa barusan aku salah dengar?" tanya Profesor Hartman pada Leony. Nyawa pria itu seperti terbang separuh.
Leony sadar lebih dulu dan segera menjawab, "tidak, Prof. Anda tidak salah dengar. Barusan mereka memang membicarakan tentang pernikahan."
Setelah merekam percakapan serta melihat interaksi para setengah zombie, beberapa menit, kemudian rapat pun ditutup. Orang-orang pergi dengan meninggalkan beribu pertanyaan. Untuk sementara, kesimpulan yang dapat diambil dari percakapan barusan bahwa; setengah zombie sudah mulai menunjukkan ketertarikan terhadap makhluk lainnya. Menurut ilmu psikologi, itu artinya para setengah zombie mulai tumbuh sedikit perasaan manusiawi.
Ini sebuah kemajuan dalam Misi STERIL.
Leony sendiri masih belum percaya jika Tahta dan setengah zombie yang disembuhkan dengan misi STERIL telah memilih sekaligus meng-klaim pasangan masing-masing. Itu artinya kejadian penyerangan pasien dari lantai 7 waktu lalu karena insting mereka untuk menikah telah muncul. Situasi ini mirip seperti musim kawin pada hewan.
Mark dan Hideo datang menyerahkan hasil buruan seperti biasa. Kebetulan mereka datang bersamaan. Baik Hideo maupun Mark tidak berpikiran macam-macam. Mereka hanya menjalankan tugas mencari, membawa zombie untuk diselamatkan, dan selesai----mereka dapat kembali beraktivitas masing-masing setelah bertugas.
Agaknya mereka keliru, karena Hideo menangkap gelagat aneh dari sahabatnya.
"Kau kenapa, Leo? Dari tadi kuperhatikan, kau senyum-senyum sendiri," tanya Hideo ketika menunggu Leony selesai memindahkan data.
"Mungkin dia dapat teman kencan," timpal Mark.
"Ha-ah. Bukan. Aku justru mau memberi selamat pada kalian berdua." Leony menarik senyum di wajahnya. Dia melihat Hideo dan Mark silih berganti. "Selamat atas pernikahan kalian berdua, ya!"
Leony menepuk bahu sahabat-sahabatnya.
"Menikah?" tanya Hideo.
Leony menganggukkan kepala.
"Dengan siapa?" tanya Mark.
"Siapa lagi kalau bukan Hideo dengan Tahta, Mark dengan Jilly. Aku harap kalian bisa menjaga pasangan masing-masing. Meski ini aneh, tapi aku bisa apa? Dua sahabatku memilih jalannya masing-masing, khususnya kau Mark. Akhirnya kau pensiun jadi playboy."
"Apa?!" teriak Hideo dan Mark bersamaan dan saling pandang. Mereka ingin menuntut penjelasan, tetapi Leony telah meninggalkan mereka.
****
__ADS_1