STERIL: My Bottom Is A Zombie

STERIL: My Bottom Is A Zombie
Bab 25: (STERIL: Evolution)


__ADS_3

Sepasang kaki kurus Leony melangkah di lorong. Dua tangannya di dalam saku jas terkepal karena udara dingin. Sesekali dia merapikan syal yang melingkar di leher. Ini sudah bulan Mei, tetapi hujan masih turun meski hanya berupa titik-titik air. Ketika dia memasuki Atlantis, senyap dan hampa terasa begitu kentara. Apalagi penyebabnya jika bukan karena sebagian penghuninya adalah sosok-sosok manusia tanpa jiwa yang utuh. Mereka hanyalah seonggok tubuh bernama 'mayat hidup.'


Putihnya cat pada lorong-lorong Atlantis menambah suasana sendu. Ketika Leony tiba di lantai 7, kekosongan itu semakin menggelitik untuk menciptakan kegaduhan. Namun kau harus melanggar peraturan Atlantis jika ingin melakukannya. Coba saja kalau kau berani, maka bersiaplah aksesmu masuk ke Atlantis akan ditolak.


"Selamat pagi, Doktor," sapa seorang perawat yang berpapasan dengan Leony. Ah, setidaknya masih ada para pekerja medis dan militer di sini. Jadi dia tidak perlu berbicara sendiri untuk menghibur diri. Rasanya seperti orang gila.


"Selamat pagi."


"Selamat pagi, Leo."


"Selamat pagi," jawab Leony tanpa melihat lawan bicara yang baru saja berpapasan dengannya.


Langkah Leony terhenti. Sejenak dia merasa aneh karena seperti mengenali suara barusan, dia pun berbalik. Nah, tidak salah lagi. Pasti orang itu. Leony langsung dapat mengenali milik siapa suara tadi walau hanya melihat dari postur tubuhnya saja. Dengan tinggi 186 centimeter dan otot mendesak untaian pintal-pintal benang, Leony dapat menyebutkan satu nama dalam beberapa detik saja, "Hideo?!"


Leony mengarahkan pandangan dari ujung rambut hingga ujung kaki Hideo. Dia lantas mengerutkan alis terheran-heran. Saat itu Hideo masih memunggunginya. Namun entah mengapa dari belakang, Leony menangkap adanya gelagat mencurigakan. Hideo terlihat agak tegang. Seperti ada sesuatu yang disembunyikan. Bukan hanya itu yang menarik perhatian Leony, melainkan pada pakaian yang dikenakan Hideo.


"Kenapa kaupakai baju perawat?"


"Oh. Tidak. Aku hanya sedang ingin mencoba memakainya," Hideo berkelit.


Leony menyipitkan mata seakan kata-kata Hideo hanya dusta.


"Tidak mungkin. Pasti ada sesuatu yang kau sembunyikan. Katakan dengan jujur!"


"Maaf, aku sedang sibuk. Lain kali akan kubelikan oleh-oleh untukmu." Hideo memotong obrolan lalu cepat-cepat pergi, dia juga tidak melihat ada seorang perawat yang datang. Sepertinya Hideo tidak ingin bicara dengan Leony atau siapapun sekarang.


"Komandan, bukankah ini pakaianmu?" tanya Nuki dengan sedikit menaikkan nada suara. Karena Hideo tidak mendengar, Nuki pun mendesah.


"Apa yang kaubawa, Nuki?"


"Aku menemukan ini di kamar Tahta. Pakaian ini sudah rusak dan komandan Hideo meninggalkannya begitu saja," jawab Nuki sambari memperlihatkan pakaian Hideo pada Leony.


"Sudah rusak?" Leony mengambil pakaian Hideo. Setelah melihatnya satu-persatu, dia lantas berteriak. "Hideo, kau berutang penjelasan padaku!"


Meskipun memanggil-manggil dengan suara keras, tetapi Hideo tidak akan datang. Dia sudah pergi dari pandangan dua orang yang tampak kebingungan. Leony menyuruh Nuki untuk membuang pakaian rusak Hideo karena jelas pria itu tidak akan memakainya lagi.


Leony pergi ke ruangannya. Di sana sudah ada Profesor Hartman. Pria paruh baya itu sedang duduk sambari meneliti dengan menggunakan mikroskop. Profesor Hartman melakukan pengamatan dengan cara menggeser jarak benda terhadap lensa obyektif dengan menggunakan tombol halus yang digunakan untuk menemukan fokus.


"Selamat pagi, Prof."


"Pagi, Leo."


"Apa yang sedang kau lihat?" tanya Leony yang berjalan ke lemari. Dia melepas jas dan menggantinya dengan jas putih rumah sakit. Dia juga mengeluarkan sepasang sarung tangan karet, kacamata pelindung, lalu memakainya.


"Virus. Coba lihat ke sini!"


Leony mendekati Profesor Hartman. Dia menempatkan matanya pada lensa mikroskop. Lensa okuler pada alat optik itu telah memperbesar bayangan yang dihasilkan oleh lensa objektif berkisar antara 4 sampai 25x pembesaran. Leony jadi bisa melihat ada banyak virus bergerak-gerak di lempengan kaca.

__ADS_1


"Itu adalah sampel air liur Tahta. Aku sudah mengamatinya sejak lama. Virus di dalam air liur telah berevolusi dan membelah diri dengan cepat."


"Apakah ini virus jenis baru?"


"Ya. Aku melihat struktur jaringan pada intinya berubah dan mengubah jaringan lainnya."


"Apa berbahaya, Prof?"


"Kita belum tahu. Bisa saja berbahaya. Penemuan ini masih rahasia. Aku baru membaginya denganmu saja. Sebaiknya jaga jarak dari Tahta dan sebisa mungkin jangan sampai terkena air liurnya. Beritahu Hideo juga agar dia jangan terlalu dekat dengan Tahta." Profesor Hartman menatap mata Leony. Sangat terlihat jika pria itu sedang cemas.


"Ini serius. Zombie masih berkeliaran di luar dan kita belum menemukan penawarnya. Jika evolusi dari virus ini tertular ke manusia mungkin saja akan menjadi wabah yang berkelanjutan. Kita sebaiknya bersiap dan berjaga-jaga untuk situasi terburuk."


"Bagaimana dengan sistem imun? Kita bisa meningkatkan sistem imun bagi yang masih sehat." Baiklah. Leony agak panik. Sebagai seorang peneliti, dia merasa situasi saat ini kacau.


"Apakah cukup untuk melawan virus berbahaya yang bahkan dapat mengubah struktur DNA manusia hanya dalam beberapa menit saja?"


Bahu Leony jatuh lunglai. Jantung di dadanya berdegup kencang. Sel T atau limfosit T adalah kelompok sel darah putih yang memainkan peran utama pada kekebalan seluler pada tubuh manusia. Persentase kinerja sistem imun untuk menyembuhkan flu saja butuh waktu beberapa hari, lalu bagaimana dengan Sel T yang melawan virus ganas?


Setelah ditemukannya virus jenis baru, kini para ilmuwan harus bekerja lebih keras lagi.


****


2 mobil Van hitam melaju di atas jalan setapak yang hampir tak terlihat. Hideo bersama tim-nya kesulitan karena rerumputan tinggi membuat jalanan tertutup. Sang supir di sebelah Hideo mengambil tindakan. Dia menekan sebuah tombol agar besi keluar dari bawah van. Besi itu tipis dan bergerak cepat memutar secara horizontal, lalu memotong rerumputan seperti gergaji mesin.


Setelah jalan terbuka, sampailah mereka pada sebuah bangunan mini market yang sudah usang dan telah ditinggalkan lama oleh warga sekitar. Bangunan itu terletak tak jauh dari lokasi pengeboman. Hideo berpikir, ada beberapa kemungkinan; pertama, zombie di dalamnya kabur; kedua, tempat itu dijadikan sebagai tempat persembunyian bagi zombie untuk menyelamatkan diri. Karena tempat itu sunyi senyap dan tersembunyi oleh ilalang. 


Dory keluar dari Van dan masuk ke dalam bangunan lebih dulu. Robot kamera bekerja sebagai mana biasanya. Gambar rekaman keadaan sekitar diteruskan pada layar yang terpasang di dalam mobil. Selagi Dory bekerja, tim yang dipimpin oleh Hideo menunggu di tempat sambari memantau dari jarak jauh.


"Kau sedang apa, Dory? Berdandan untuk acara kencan?" sindir Hideo, menimpali melalui alat peranti dengar.


[Iri----bilang, Komandan.]


"Ha. Ha. Ha. Lucu sekali. Kerja yang benar atau aku akan memaksa Leony agar mengubahmu jadi kaleng kerupuk."


[Ha-ah! Jangan samakan aku dengan benda itu!]


"Sst. Suaramu akan menarik perhatian zombie."


[Maafkan aku, tapi aku mau mengajukan protes, karena Komandan sering menyamakan aku dengan kaleng kerupuk. Aku punya saran sebaiknya kaleng itu dimusnahkan dari muka bumi.]


"Ditolak. Benda itu berguna untuk menyimpan makanan."


[Komandan tidak asik.]


"Yah, kalau kau bersikeras, simpan protesmu untuk nanti," Hideo tertawa pelan.


Dory menggeram tertahan. Dia tahu apa itu 'kaleng kerupuk.' Bentuknya kotak dan ringan. Biasanya seseorang akan menaruh makanan di dalamnya. Dory menganggap benda itu buruk. Makanya dalam program chip, perasaan 'sebal' akan menyala dalam tubuh Dory. Jailnya, Hideo kerap kali membandingkan Dory dengan benda itu. Agaknya mereka berdua terbiasa berdebat. Hideo senang sekali melihat Dory marah atau paling tidak menggerutu seperti tadi.

__ADS_1


Hideo menunggu info lebih lanjut. Saat situasi dirasa aman, dia mengintruksikan anak buahnya agar turun dari mobil. Hideo pun membawa pasukan dengan dia berada paling depan. Dalam posisinya ini Hideo akan lebih mudah untuk menganalisa situasi dan mempermudah membuat formasi.


Remang menyambut kedatangan pasukan STERIL. Bau zat besi dari darah yang mengering pun menyeruak masuk ketika Hideo menurunkan penutup hidungnya. Setelah berjalan mengendap, mereka tiba di ruangan penuh rak-rak makanan. Hideo mengambil satu untuk dilihat dan ternyata tanggal yang tertera pada bungkusnya sudah kadaluarsa.


Hideo mengangkat senjata tinggi-tinggi serta bersikap waspada. Siapa tahu zombie muncul. Dia akan siap dengan tembakan. Hideo menekan tombol kecil di kacamatanya untuk mengubah mode pengaturan. Chip komputer mini yang terpasang pada kacamata dapat mendeteksi hawa dingin dari tubuh mayat hidup. Biasanya warna biru akan aktif sebagai identifikasi zombie.


Sejauh di ambang pintu, tidak ada yang terjadi. Zombie tidak menyadari kedatangan mereka karena sepatu berbahan sol karet khusus mampu meredam bunyi, sehingga memudahkan tim berjalan tanpa suara. Tiba di bagian mini market pun mereka sudah memeriksa bahwa tidak ada zombie di antara rak-rak makanan. Apakah zombie telah pergi? Agaknya terlalu dini untuk mengambil kesimpulan.


Namun, ketika mereka berbalik, salah satu zombie menyerang.


Groagh


Des


Suara senapan terdengar halus. Dengan cepat pelurunya menancap di dahi zombie. Beberapa detik setelahnya, zombie itu tumbang.


"Dia mati, Komandan. Maaf, padahal hasil data menunjukkan kalau dia perlu diselamatkan. Aku refleks!" seru anak buah Hideo. Tangannya menggenggam senapan erat-erat.


"Lain kali kau harus jeli dan gesit mengubah mana mode bius----mana peluru. Satu saja sangat penting. Sudah berapa lama kau berlatih?!"


"Maaf, Komandan, tapi dia anak baru," jawab anggota Hideo lainnya.


"Dan aku bayi." Hideo menaikkan senapan di pundak. Dia lalu menatap anak buahnya satu per satu. "Tidak ada istilah baru dan lama. Begitu kita terjun langsung ke lapangan semua punya tugas yang sama. Kalau takut lebih baik pulang saja!"


"Sekali lagi maafkan aku," pria itu menunduk karena merasa bersalah.


"Aku akan mengurusmu nanti. Yang terpenting sekarang kalian semua harus fokus!"


"Siap!"


Hideo dan tim membiarkan mayat itu tergeletak dan berpencar untuk memeriksa tiap baris rak. Hampir semua anak buah Hideo melaporkan 'nol' zombie. Namun, ketika salah satu dari anak buahnya hanya berdiam diri, Hideo mengernyitkan dahi.


"Kau belum memberi laporan, Aksara," singgung Hideo berbisik pada peranti dengar. Dia lantas berjalan perlahan menuju tempat anak buahnya berada.


"Aku menemukan satu di sini. Dia tepat di depanku dan dia belum menyadari kehadiranku. Perlahan!" jawab anak buah Hideo dengan bisikan pula.


"Siaga dan berkumpul!" perintah Hideo sambari melangkah ke arah barisan rak paling belakang, diikuti oleh anggota lainnya.


Ketika sepasang bola mata Hideo tak terhalang oleh besi-besi yang tersusun, segera saja salah satu zombie merusak pemandangan dari segi apapun. Gerakkan dari zombie itu lamban. Kedua tangannya mengayun pelan-pelan tanpa ada perpindahan berarti.


Sorot mata zombie kosong seperti biasa. Darah menetes dari lubang tak disangka. Tak ada suara terdengar kecuali gumaman. Di antara dua pilihan; diselamatkan atau dibinasakan, pilihan pun jatuh berdasar hasil data yang menunjukkan bahwa dia harus diselamatkan. Namun belum juga tugas terlaksana, tiba-tiba zombie itu berubah beringas.


"Tangkap dia dan tetap berhati-hati!" teriak Hideo pada anak buahnya.


Berbekal keahlian selama di medan tempur, Hideo berlari menghindar setelah sebelumnya melempar apapun yang dapat diraih oleh tangannya. Ketika Hideo dan beberapa pasukan berhasil menumbangkan zombie, teriakan dari arah lain terdengar.


"Bantu aku!"

__ADS_1


Suara letusan senjata pun memenuhi seisi ruangan.


****


__ADS_2