
Hari terus berganti, namun suara Tahta masih tetap seperti sebelumnya----cadel. Otaknya pun masih bergerak lambat. Tahta mengira dirinya masih kecil. Dia senang bermain-main. Meski begitu, penampilan fisiknya semakin baik. Luka di kulit pipinya pun berangsur pulih tertutup oleh jaringan baru. Kukunya yang mati mulai ditumbuhi jaringan berwarna cerah.
Zombie kecil kita sekarang sedang bermain petak umpet. Dia berjalan-jalan di koridor. Salah satu tangannya membawa boneka beruang pemberian Hideo, sedangkan tangan lainnya digunakan untuk menutupi mulutnya sendiri untuk menahan suara agar tidak keluar. Hari ini Tahta sedang tidak ingin disuntik, karena itu dia kabur saat perawat pribadinya sedang pergi ke toilet.
Tahta meremat piyama biru bergambar kucing yang dipakainya. Dia lantas berlari kecil ketika Nuki----si perawat---- memanggil.
"Tahta, di mana kau?"
Nuki tidak tahu kalau Tahta sedang bersembunyi di balik patung putri. Patung itu besar, sedang membawa kendi, dan diletakkan di tengah-tengah taman Atlantis. Ukurannya cukup untuk menutupi tubuh ramping Tahta.
"Cem ... bunyi."
(Sembunyi.) bisik Tahta pada boneka beruang yang dibawanya sejak tadi.
Tahta terus berada di belakang patung untuk beberapa saat sampai perawat tadi pergi ke sudut lain. Dia bisa saja berada di sana dalam waktu lama, namun bisikan tiba-tiba masuk ke dalam isi kepala Tahta. Suara itu mencoba berkomunikasi dengannya. Ketika suara asing barusan berdesakkan di dalam kepala Tahta, dia diam tak bergerak sedikit pun.
"Tuan."
Tahta masih diam dan mematung seperti robot kehabisan baterai. Bahkan bonekanya hampir terlepas dari tangan saking tak sadarnya dia. Dia terus seperti itu dalam beberapa menit. Di menit berikutnya, Tahta justru berjalan menuju anak tangga sambil menyeret boneka beruang.
"Um," gumam Tahta.
"Tuan."
Tahta bergerak dengan sendirinya seolah suara itu memanggil dan menuntunnya ke suatu tempat. Tahta kini sedang menuruni anak tangga dan terus berjalan hingga tiba di lantai 3. Di sana sangat sepi, karena semua perawat sibuk. Dari dinding yang serba putih, ada satu warna yang menarik perhatian. Merah.
Tahta berhenti di depan zombie berambut merah. Dia menerima tatapan tajam dari saat mereka bertemu hingga saling berhadapan seperti sekarang. Atmosfer disekitarnya lantas berubah dingin karena keduanya hanya saling tatap tanpa bicara.
Dilihat berdekatan seperti ini jika diukur, si rambut merah lebih tinggi beberapa centimeter di atas Tahta. Rambutnya bersih dibanding saat dia ditemukan pertama kali oleh Mark. Luka sayatan disudut bibirnya masih agak basah, begitu pula dengan luka gigitan di tangannya. Jika manusia normal mendekat, kau bisa mencium bau anyir menguar dari tubuh si rambut merah.
Tanpa berucap dengan lisan, tangan kanan si rambut merah terulur. Dia menunjuk Tahta. Dan kata hati berujar sebagai gantinya.
"Kau."
"Siapa kau?" tanya Tahta dalam pikirannya memasuki alam bawah sadar zombie berambut merah.
"Jilly."
"Apa yang kau mau, Jilly?"
"Aku menyampaikan pesan. Mereka ingin balas dendam."
"Balas dendam untuk apa?"
"Balas dendam pada mereka yang berdosa dan telah menyengsarakan makhluk tak berdosa. Tidakkah kaudengar mereka menjerit?" Jilly memiringkan kepalanya lalu melihat keluar jendela seolah ada orang lain di luar sana.
"Ya, aku dengar----sampai aku tidak bisa menahannya. Mereka terus memasuki pikiranku."
"Mereka memilihmu sebagai tuan kami dan memilihku untuk menjadi guardianmu."
Tahta tersenyum dingin. "Kalau begitu kau akan ada di sampingku."
"Dengan seluruh kesetiaanku, Tuanku Tahta."
"Tahta?"
Suara seorang perawat memutus koneksi mereka. Tahta kembali pada dirinya begitu pula si rambut merah.
"Tahta kenapa kau ada di sini? Apa kau kabur?" tanya perawat itu cemas.
"Um ... Tha main."
"Ayo, kuantar kau kembali ke kamarmu."
"Biar aku saja." Hideo tadi datang ingin menengok Tahta seperti biasa, tapi kekasihnya malah hilang, jadi dia ikut mencari. Siapa sangka Tahta ada di lantai 3. "Hai, sayang. Ke mana saja kau? Aku mencarimu."
"Tha ha ... bis main."
"Ayo, kuantar kau kembali ke tempatmu."
Tahta menaiki anak tangga meski dengan gerakan lambat. Dia menaikinya satu per satu sambil berhitung.
"Ca ... tu."
(Satu)
__ADS_1
Tahta baru naik satu anak tangga.
"Du ... a."
(Dua)
Kakinya baru menaiki tangga berikutnya.
"I ... ga."
(Tiga)
Tangga berikutnya berhasil dinaik. Total anak tangga yang sudah Tahta pijak baru tiga. Itu juga pelan sekali. Rasanya seperti seabad. Dibandingkan dengan orang normal, Tahta berjalan paling lamban.
"Ayo kita naik lift," saran Hideo yang menunggu Tahta sedari tadi.
"Nda ... mau. Tuh ta ... di be ... lapa? Tha lupa gala-gala mamu."
(Tidak mau. Tuh tadi berapa? Tha lupa gara-gara kamu.)
"Naik lift lebih cepat, Tahta."
"Nda mau. Ula ... ngi a ... gi."
(Tidak mau. Ulangi lagi.)
"Jangan! Tadi hitungan ke tiga, sekarang ke empat."
Tahta berbalik sambil memiringkan kepalanya. "Boong."
(Bohong)
Hideo mengusap wajahnya frustasi. "Aku tidak bohong."
"Tha, tu ... lun ... agi, nih!"
(Tha, turun lagi, nih!) Tahta mengangkat salah satu kakinya hendak menginjak anak tangga bawah dan mulai lagi dari awal.
"Sumpah, aku tidak bohong. Sekarang Tahta silakan naik."
Tahta diam sejenak.
Hideo melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan. Sebentar lagi jadwal Tahta disuntik serum dan si pasien yang bersangkutan malah sedang asik menghitung anak tangga. Hideo berpikir bagaimana caranya agar Tahta bergerak lebih cepat. Akhirnya sebuah ide muncul. Dia berdiri lalu mengambil selimut dari perawat yang kebetulan melintas. Selimut tadi dibawanya melilit tubuh Tahta sekalian dengan bonekanya.
"Waa!" Tahta meronta tak ingin digendong Hideo, tapi tenaga Hideo lebih kuat sehingga Tahta hanya bisa menggerakkan kakinya. Dengan keadaan dibalut kain, dia terlihat seperti bayi.
"Tu-lun!"
(Turun!)
"Tidak. Aku akan membawamu ke ruang perawatan. Kau diam saja." Hideo membawa Tahta ke dalam lift. Tidak tahan dengan aura suram di dalam gendongannya, Hideo pun munduk. Dia ingin tertawa karena sedari tadi Tahta terus menatapnya tajam, tapi malah terlihat lucu. "Apa? Kau kangen denganku?"
"Cebel."
(Sebal)
****
Mark membuka sebuah peti, lalu mengambil benda panjang yang dibalut kain putih. Begitu kainnya disibak, sebuah pedang samurai menyapa mata Mark. Pedang itu terlihat bagus. Pasti lah terbuat dari besi terbaik dan ditempa dengan baik pula. Gagang dari pedang itu hitam dan emas. Mark mengangkat benda tajam itu sekaligus menelitinya. Ternyata di bagian ujung pegangan terdapat lambang yang tidak asing.
Kalajengking.
Sejauh pemuda itu ketahui, hanya ada satu organisasi yang memakai lambang kalajengking, yaitu organisasi pengawal elit dalam bendera hitam. Artinya mereka bergerak di dunia gelap dan memiliki peraturan keji. Mereka akan sangat berdedikasi melindungi tuannya. Bila perlu hingga tetes darah penghabisan. Jika gagal dalam misi maka akan melakukan bunuh diri.
Organisasi Kalajengking adalah penyalur guardian bagi para konglomerat. Organisasi ini berisi tidak lebih dari 200 orang, karena untuk menjadi anggotanya tidak lah mudah. Itu sebabnya kenapa harga sewa mereka sangat mahal.
Jika dihubungkan antara vila, si rambut merah, dan organisasi Kalajengking, mereka bisa diartikan memiliki satu kesimpulan, bahwa si rambut merah dulunya seorang guardian. Si penyewa vila kemungkinan adalah tuannya mengingat harga sewa vila itu sangat mahal. Kalau vila saja bisa disewa, bukan tidak mungkin orang itu juga bisa memakai jasa pengawal dari Organisasi Kalajengking.
Mark membolak-balik pedang samurai di tangannya. Rasa dingin dan halus terasa di kulit begitu dia meraba permukaan pedang. Dia berhenti sejenak ketika jarinya menemukan permukaan kasar pada samurai di sudut dekat pegangan. Ada tulisan di sana. Mungkin sebuah nama pemiliknya.
"Jilly," gumam Mark.
Ponsel Mark berdering disusul dahinya yang berkerut heran. Kenapa sahabatnya menelpon di jam dua pagi?
"Hallo, Leo?"
__ADS_1
[Mark, apa kau menemukan sebuah pedang ketika bertemu dengan si rambut merah?] tanya Leony dari seberang kepada sahabatnya, Mark.
"Kau menelponku jam dua dini hari hanya untuk bertanya pedang? Apa kau berniat jadi tukang jagal?" goda Mark.
[Berhenti tertawa! Aku hanya kepikiran tentang benda itu.]
"Maksudmu pedang samurai?" Mark melirik lagi samurai yang tergeletak di atas meja. Setelah zombie rambut merah dirantai, Mark kembali untuk mengambil pedangnya. Pedang itu sangat menarik sehingga dia penasaran dan membawanya untuk dianalisa. Siapa sangka ini adalah awal dari penemuan besar dari organisasi paling disegani di Kota Lazar.
[Ya, apapun namanya. Apa kau ingat zombie berambut merah yang kaubawa?]
"Ya. Ada apa dengannya?"
[Sekarang dia sudah menjalani tahap penarikan memori. Begitu sadar dia terus mengucapkan 'pedang.' Apa kau tahu tentang ini?]
"Saat aku bertemu dengannya dia memang membawa samurai dan hampir menebasku."
[Kalau begitu bawa benda itu ke sini, karena si rambut merah menginginkan pedangnya.]
"Dia dulunya seorang pengawal dari Organisasi Kalajengking, saranku sebaiknya jauhkan dia dari senjata."
[Peraturan Atlantis mengatakan untuk membantu pasien zombie mengingat kehidupan manusianya termasuk memberikan benda yang mereka inginkan jika ada.]
"Lalu dia akan menebasmu dengan pedangnya," ucap Mark sambil berkaca pada pantulan pedang. Tak lama dia tersenyum sendiri melihat penampilan wajahnya.
[Berhentilah merajuk.]
"Aku tidak merajuk. Jilly hampir membuat nyawaku melayang."
[Siapa Jilly?]
"Kurasa itu nama si rambut merah."
"Bawa pedang itu ke mari dan kita akan pikirkan solusinya. Semoga asumsi konyolmu tidak terjadi."
****
"Pe ... pedang."
Lagi-lagi kata itu terucap. Meski terbata, si rambut merah tetap menginginkan pedangnya.
Masa lalu Jilly terkuak di laboratorium setelah dia menjalankan serangkaian pemulihan seperti Tahta.
Jilly dulunya hanya seorang anak pedagang dari kota kecil. Ibunya sudah meninggal saat dia berumur 6 tahun. Karena terus-menerus teringat akan istrinya, ayah Jilly pergi ke kota yang lebih besar untuk memulai usaha. Naas, dalam perjalanan mereka dirampok dan ayahnya meninggal karena berusaha melawan. Jilly sendiri kabur karena dikejar-kejar oleh para perampok untuk menutup bukti.
Jilly akhirnya tiba di sebuah bukit lalu menyusup ke dalam rumah yang ternyata berisi orang-orang dari organisasi penyalur pengawal kelas berat. Organisasi itu berkibar dalam bendera hewan berbisa kalajengking hitam. Sejak saat itu Jilly berlatih ilmu bela diri. Lingkungan di sekitarnya ini membuat Jilly tumbuh menjadi seorang yang berhati dingin dan terbiasa dengan rasa sakit. Sebagaimana kenyataan dalam hukum bersosialisasi, lingkunganmu akan mempengaruhi jalan pikiran dan cara hidupmu.
Jilly terbiasa dengan kekejaman.
Baginya senjata sama dengan mainan.
Dan darah adalah tinta yang indah.
Seperti itu jalan pikiran Jilly di masa lalu, karena dia seorang Jade----orang kepercayaan sang master. The right hand for the Master.
Dari tempatnya duduk, Jilly terus mengawasi seorang pemuda. Pemuda itu bergerak ke kanan, dia lihat ke kanan. Orang itu ke kiri, dia lihat ke kiri. Sorot mata Jilly tajam nan dingin. Siap menusuk seperti sebilah pedang.
"Apa kau bisa menyuruhnya berhenti menatapku, Leo? Aku merasa dimusuhi," kata Mark dengan sengaja mengalihkan pandangan ke manapun itu asal jangan bertatapan dengan Jilly.
"Kau seorang militer, Mark. Masa kautakut?" Leony memutar bola matanya. Serius, dilihatnya Mark berdiri menjaga jarak dari Jilly sepanjang 6 meter.
"Ini bukan soal militer atau takut. Coba saja kau bayangkan----sudah susah payah aku datang ke sini jam tujuh pagi berniat mengembalikan pedang miliknya, tapi aku malah dipelototi."
"Itu karena kau dianggap telah mencuri miliknya. Reaksi semua orang normal juga seperti itu. Kalau Jilly memelototimu aku malah bersyukur karena artinya dia bisa merespon situasi dengan baik dan penelitianku berhasil."
"Persetan dengan penelitianmu! Kalau aku diserang dan tidak sempat melawan lalu wajah tampanku terluka berarti itu salahmu, karena senjataku disimpan di lobi."
"Bisakah kaudiam, berhenti memuji dirimu sendiri, dan bawa milik Jilly ke sini? Kujamin dia tidak akan menyerangmu."
Kali ini Mark tidak ingin berdebat. Walaupun terus diberi tatapan menusuk dia maju dan menyerahkan pedang Jilly ke tangan Leony. Dia rasa lebih baik jika sahabatnya yang menyerahkan benda itu.
"Pedang ini sangat berbahaya. Mungkin sebaiknya dihancurkan saja," bisik Mark. Dia khawatir Jilly akan mendengar. Bisa gawat bila zombie itu mengamuk.
BRAK
Terlambat. Jilly sudah mendengar kata-kata Mark. Dia marah lalu menggebrak meja.
__ADS_1
****
To be continue