STERIL: My Bottom Is A Zombie

STERIL: My Bottom Is A Zombie
Bab 8: (STERIL: Walking Death on The City)


__ADS_3

...Lari. Larilah selagi kau masih bisa berlari....


...Berlindunglah ke tempat di mana kau bisa bersembunyi, sebelum dia yang belum mati menghampiri...


...*...


...*...


...*...


Malam itu, rembulan tertutup awan. Hanya lampu-lampu jalan jadi penerang suasana kota agar tak gelap gulita. Entah kenapa malam itu terasa berbeda. Mencekam tak seperti biasa. Kilat-kilat cahaya petir dan gemuruh bersahutan di langit laiknya cambuk malaikat. Pertanda akan turun hujan lebat.


Seorang wanita yang baru pulang bekerja berjalan kelelahan, menyusuri jalanan lengang. Dia ingin bergegas tiba di peraduan agar tak kehujanan. Sesekali dia mengusap tubuhnya sendiri agar tak kalah oleh udara dingin. Karena sunyi, telinga si wanita mendadak sensitif. Wanita itu menajamkan pendengaran pada sayup suara yang diterbangkan angin.


Srek srek


Langkahnya terhenti tiba-tiba ketika dua bola mata almond miliknya menangkap sosok yang berjalan di depan. Dilihat dari tempatnya berdiri gerakan sosok itu sangat pelan, lamban, juga sedikit terhuyung. Jika diperhatikan lebih teliti, sosok itu sedang memakai pakaian rumah sakit. Wanita tadi mengira 'mungkin dia sedang sakit.'


"Hey, kau baik-baik saja?" tanya wanita itu khawatir.


"Um."


"Mau kubantu?"


Sosok yang tak lain adalah Tahta itu berhenti. Diam.


"Hey, kenapa kau tidak menjawabku?" Wanita itu berjalan mendekat. Ketika dia sudah sampai di samping Tahta, Tahta menengok lalu menyeringai, memperlihatkan giginya dan wajah yang tak sempurna.


Hargh


"Argh! Zombie!" teriak wanita itu hingga jatuh terduduk. Mata lelahnya kini terbuka penuh rasa takut. Dalam sekejab suasana malam yang tenang berubah mencekam. Suara teriakan panik wanita tadi telah menarik perhatian.


Pemerintah telah memasang alarm khusus zombie di setiap sudut kota dan akan aktif apabila seseorang berteriak dengan kata kunci 'zombie.' Semudah itu alrm digunakan untuk menyebar berita dengan tujuan agar lebih cepat mengantisipasi. Sirine tanda bahaya secara otomatis berbunyi dan terdengar hampir di seluruh sudut kota. Saat itu juga Kota Lazar dinyatakan siaga.


Tahta terus berjalan tak tentu arah, mengikuti ke mana kakinya melangkah. Dia tidak tahu akibat apa yang ditimbulkan dalam aksi kaburnya ini. Dia tidak mengerti bahaya apa yang akan menimpanya nanti. Begitu mobil-mobil dan pasukan militer eamanan kota dikerahkan, dia benar-benar akan berjalan menuju mati----sekali lagi.


Tidak ada yang tahu isi pikiran Tahta, karena memang zombie remaja itu tak berpikir.


Tidak ada yang mengerti isi hatinya, karena memang dia tak punya hati.


Semua karena alam bawah sadar yang bekerja. Dia seperti tertidur. Tidur amat dalam dan sulit dibangunkan. Namun, tubuhnya bergerak sendiri. Seolah hanya mimpilah yang sanggup membuatnya bergerak. Dia memimpikan seseorang dan ingin bertemu dengan orang itu.


"Um," gumam Tahta.


Sekarang dia tiba di tengah jalan. Mobil yang kebetulan berpapasan dengannya terpaksa berhenti, lalu sang supir kabur meninggalkan mobilnya begitu saja. Mereka memilih untuk berlari karena ketakutan. Kemunculan Tahta menyebabkan kemacetan dan rasa panik bagi penghuni Kota Lazar.


Beberapa mobil keamanan kota telah mengepung Tahta. Satu per satu dari mereka mengangkat dan menodongkan senjata. Zombie di tengah kota sangat berbahaya. Peraturan walikota menetapkan zombie yang berkeliaran di kota harus ditembak hingga benar-benar menjadi mayat. Militer pasukan keamanan saat ini bisa saja langsung menembak, namun begitu melihat sebuah kata di pakaian Tahta, mereka mengurungkan niat.


"Pak, ada nama STERIL di pakaian zombie itu," kata salah seorang prajurit kepada pemimpin pasukan.

__ADS_1


"Tembak mati!" perintah seorang pria berpangkat lebih tinggi.


"Tapi, Pak ... itu zombie milik STERIL. Apa kita harus menembak?"


"Apa kau tidak ingat dengan peraturannya?! Tembak zombie yang berkeliaran di kota!"


"Apa tidak sebaiknya kita menunggu Militer Penyelamat STERIL dan orang dari Atlantis datang?"


"Zombie yang menyerang kota adalah tugas kita untuk mengatasinya. Jangan buang-buang waktu sampai jatuh korban! Laksanakan atau kita juga akan tertular virus!"


Mereka terus berdebat tentang sebuah peraturan. Perhatian mereka lantas teralih saat mendengar sebuah pola kata dari mulut Tahta. Tahta hanya sedikit membuka mulutnya waktu itu. Namun dari gumamannya, zombie yang seharusnya hanya menyeringai tiba-tiba bersuara dan mengucapkan kata, meski tidak ada seorang pun mengerti maksud dari kata-katanya.


"E ... eo."


"Eo? Apa itu eo?" tanya seorang prajurit terheran-heran.


"E-o."


"Dia zombie. Apapun yang keluar dari mulutnya tidak berarti. Tembak!"


Saat itu Tahta tidak beranjak dari tempatnya berdiri. Dia hanya menggerakkan kepala sambil menggeram lebih keras. Seakan dia tengah marah. Pandangan matanya memang tidak fokus, namun dia berusaha meneliti dan memperhatikan. Alam bawah sadarnya mengirimkan sinyal bahaya. Karena itulah Tahta menggeram semakin keras.


Prajurit lain datang untuk memberi kabar beberapa detik kemudian. "Pak, kami mendapat berita dari pos, katanya 'zombie-zombie sedang berjalan menuju ke kota.' Kita diminta untuk bersiap siaga!"


"Apa?! Bagaimana hal ini bisa terjadi?!"


Dulu, setelah peperangan dan zombie bermunculan, pasukan militer segera bergerak untuk membasmi mereka. Bom dijatuhkan pada area yang banyak dikuasai zombie. Sekarang hanya tinggal sisanya dan mereka sudah lama tidak mendekati kota. Kalau pun ada, setiap zombie yang mendekat akan ditembak mati dengan senapan mesin atau dilempari bom. Lalu kenapa sekarang tiba-tiba mereka menyerang? Sungguh aneh.


"Cepat selesaikan urusan di sini dan segera ke posisi masing-masing!"


"Baik! Laksanakan!"


Pasukan pun menyerah pada perintah. Kini mereka patuh pada peraturan walikota dan pemimpin pasukan. Jemari prajurit keamanan sudah siap menarik pelatuk. Mereka bersiap menembak. Baru saja peluru akan dimuntahkan, Tahta bergerak agresif.


"Cepat tembak dia!"


ZHASH


Hujan turun dengan deras membasahi tubuh-tubuh tegang. Gejala alam ini berhasil menunda peluru. Ini kesempatan bagi Tahta. Jika dia manusia normal, bisa saja celah ini digunakan untuk melarikan diri, namun dia tidak mengerti. Tahta justru berlari dan menyerang pasukan yang menghadang jalannya.


"Hargh!"


DOR DOR


****


Hideo melajukan mobil dinasnya ke jalan menuju Atlantis. Dua hari dia tidak menemui Tahta karena membantu Mark mengatasi zombie di sebelah Timur. Zombie di area itu lebih ganas sehingga militer yang ditempatkan di wilayah Timur kewalahan lalu meminta bantuan pada militer terdekat. Saat itu Divisi yang paling dekat secara wilayah dan secara hubungan adalah Divisi Utara. Karena Hideo dan Mark bersahabat, maka pilihan jatuh pada pasukan Hideo.


Setelah tugas selesai, Hideo cepat-cepat pulang. Dia ingin menemui Tahta. Entah kenapa hatinya resah. Yang ada dalam pilirannya saat ini hanyalah Tahta. Setelah sekian lama hidup sendiri, baru kali ini Hideo merasa rindu pada seseorang. Baru sekarang dia merasa semangat untuk kembali pulang.

__ADS_1


Hideo menganggap Tahta manusia meski nyatanya dia bukan manusia murni lagi. Hideo anggap Tahta hanya sedang sakit. Yah, Tahta memang sedang sakit oleh penyakit yang penawarnya belum ditemukan. Leony hanya memberi kekasihnya vaksin, serum, dan obat agar tubuh Tahta bisa melawan virus, namun bukan untuk mematikan virus. Hideo bisa mengatakan kalau obat yang disuntikkan Leony bukan penawar. Virus masih tersebar di mulut zombie dan bisa menulari siapa saja.


Hideo berharap kekasihnya cepat pulih, bisa mengenalinya, juga memanggil namanya.


Ketika segala pikiran dipenuhi oleh sang kekasih, tiba-tiba sirine kota berbunyi nyaring, disusul panggilan melalui radio yang terhubung dengan markas.


[Diberitahukan kepada semua Pasukan Keamanan Kota Lazar dan Militer Penyelamat STERIL, harap bersiaga dari serangan zombie. Zombie-zombie sedang berjalan kemari! Kota Lazar dalam status siaga satu! Sekali lagi siaga satu!]


Operator memberi status lagi.


[Kepada Pasukan Keamanan Kota Lazar, harap bereskan zombie yang berkeliaran di kota! Kembalikan dia pada STERIL atau binasakan!]


Hideo membulatkan mata saat mendengar berita. Jadi ada zombie yang kabur dari gedung rehabilitasi? Bagaimana bisa dia kabur? Segala pertanyaan dan beberapa kemungkinan datang menghampiri benak Hideo. Pikirannya sangat kuat tertuju pada Tahta meski berulang kali ditepisnya. Tahta ada di lantai 3 dan dia tidak mungkin kabur mengingat ketatnya pengawasan Atlantis. Zombie yang sekarang berkeliaran di kota pastilah berasal dari lantai dasar, karena mayat hidup di area itu masih agresif.


Hideo memutuskan untuk menghubungi sahabatnya, Leony, namun setelah beberapa panggilan, teleponnya tidak diangkat. Hideo sedikit menghibur diri. Tahta pasti aman di ruangannya sekarang. Tahta pasti ada di lantai 3 seperti biasa.


Mobil Hideo berhenti karena kemacetan. Air hujan membasahi kaca depan sehingga mengaburkan pandangan. Samar-samar dia melihat orang-orang telah meninggalkan kendaraan mereka dan berlari ketakutan. Hideo memutuskan untuk bertanya. Dia membuka jendela lalu menarik salah seorang pria yang berlari agak dekat dari mobilnya.


"Hei, tunggu, Pak! Ada apa di depan sana?" tanya Hideo sambil menahan jaket yang dipakai oleh pria itu.


"Ada zombie, Pak! Tolong bantu karena itu zombie milik STERIL! Kita sedang diserang! Oh, Tuhan, ampuni kami," rintihnya mengiba sebelum pergi.


"Terima kasih."


Hideo keluar dari dalam mobil setelah sebelumnya mengambil senjata. Dia bergegas berjalan menuju tempat yang katanya ada zombie. Siapa tahu dia bisa membantu menangkap. 'Pasti zombie itu bukan Tahta,' pikirannya saat itu.


Hideo berlari menembus hujan. Tidak peduli tubuhnya basah atau kedinginan, Komandan Divisi Utara itu mendekati kerumunan pasukan keamanan kota yang tengah menodongkan senapan. Begitu sampai, Hideo melihat zombie yang dimaksud tiba-tiba ingin menyerang salah satu anggota keamanan. Hideo memiliki refleks baik juga kecepatan dan ketepatan tembak hampir menyamai angin. Dia lantas menodongkan senjata khusus yang bahkan bisa menembus hujan, lalu menekan pelatuknya.


DOR DOR


Peluru Hideo mendahului peluru milik mereka.


Hujan masih turun dengan deras dan mengaburkan pandangan. Namun, saat zombie itu berbalik dada Hideo seperti disayat. Pemuda itu diam tak bergerak seperti ditimbun ribuan batu. Hatinya mencelos tiba-tiba.


"Tahta?"


"Eo."


Suara Tahta kalah oleh gemericik hujan. Bibir pucatnya hanya sedikit bergerak dan berucap dengan suara pelan. Dari jarak pandang terganggu oleh derasnya air yang turun dari langit, sangat kecil kemungkinan suara Tahta bisa terdengar. Hideo tidak mendengar Tahta memanggil namanya. Sejenak mereka saling menatap, sebelum akhirnya tubuh Tahta ambruk ke jalan beraspal.


Mobil Atlantis Misi STERIL datang. Leony keluar dari dalam mobil dalam keadaan cemas lagi panik. Pemuda itu melihat tubuh Tahta terbujur kaku. Matanya beralih pada Hideo yang masih berdiri mematung dengan senjata di tangan. Leony kini cemas pada sahabatnya.


"Hideo?" Panggil Leony untuk menyadarkan pemuda itu.


"Apa aku membunuhnya?"


****


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2