STERIL: My Bottom Is A Zombie

STERIL: My Bottom Is A Zombie
Bab 13: (STERIL: Jeon)


__ADS_3

Ingatan Tahta yang tidak lengkap membuat semuanya kacau. Dalam hubungan keluarga, ikatan antara orang tua sangat penting. Apa jadinya jika seorang anak tidak lagi mengingat ayahnya? 'Durhaka,' orang-orang bilang. Namun dalam kasus Tahta, bukan durhaka namanya karena Tahta pun tidak ingin melupakan ayahnya. Ayah yang sangat dia sayangi.


Hari itu, Tuan Altar datang untuk menjenguk. Dia berharap anak satu-satunya yang dirawat dan dijaga akan memanggil ayah, namun Tahta mengucap sebaliknya.


"Tahta," sapa Tuan Altar.


"Ma ... mu ca ... pa?"


(Kamu siapa?), tanya Tahta dengan logat cadel dan terbata.


Ketika dia sedang bermain, seorang pria tiba-tiba datang ke kamarnya. Aura sosok tidak membuat Tahta dalam bahaya justru penuh kehangatan. Dia bertubuh tinggi dengan senyum simpul nan ramah. Jika saja Tahta mengerti dengan yang namanya perasaan, dia sangat senang melihat pria ini. Terlihat dari mulutnya yang membuka membentuk huruf 'O.' Ikatan antara ayah dan anak tidak dapat terputus, karena darah Tuan Altar mengalir dalam tubuh Tahta, meski dia berbeda.


Tidak bisa dibantah. Tidak bisa dimanipulasi. DNA mereka sama walau virus zombie berusaha mengubah susunannya.


"Aku Altar. Ayahmu."


"A-yah Tha?"


Tahta lagi-lagi berbicara tak sempurna. Ada sesuatu yang salah pada indra pengucapnya, sehingga dia benar-benar terlihat seperti bayi baru belajar bicara. Hal ini sedikit mengusik Tuan Altar ketika pertama kali mendengar kata-kata keluar dari mulut Tahta, padahal dulu sewaktu Tahta kecil pun bicaranya lancar. Apakah virus zombie juga telah merusak syaraf pada lidahnya? Akankah ini hanya sementara? Tuan Altar tidak yakin pada pemikirannya sendiri. Pria itu tidak bisa berbuat apa-apa selain menampakkan raut seolah semua baik-baik saja. Tahta sudah sadar saja dia sangat bersyukur.


"Ayah senang kau sehat, Tahta."


Inginnya pria itu membelai dan memeluk anaknya, namun peraturan mengatakan 'Dilarang melakukan kontak fisik selama Tahta belum sepenuhnya pulih!'


"A ... yah?" Tahta memiringkan kepala. Jari telunjuknya sejak tadi tidak mau beranjak dari bibir karena berusaha untuk merekam wajah pria di depannya. Tahta bertanya tentang pria yang saat ini sedang menatap dengan perasaan rindu. Sorot matanya tampak polos dan jelas terlihat bahwa dia tertarik pada pria ini. "Yah ... a-yah."


"Ya, benar, Tahta. Aku ayahmu. Semoga kaupulih dan semoga kau bahagia."


"Um, A-yah, Tha ... agi ... ma-in ... ca-ma E-on."


(Um, Ayah, Tha lagi main sama Jeon.)


"Ya. Kerja bagus, Nak. Kau semakin pintar. Tapi Tahta ..." Tuan Altar berpikir sejenak, apakah benar jika dia memberitahu kebenaran sekarang? "... Jeon sudah tidak ada. Lupakan dia!"


Tahta melihat ayahnya lagi, namun dia tidak mengerti.


"Tha mau ... main ... ca-ma ... Eon. E-on ba-ik, mau ... ma-in ca-ma, Tha."


(Tha, mau main sama Eon. Eon baik, mau main sama Tha.)


Tahta mengambil lagi beberapa benda berbentuk kubus dan balok, lalu menyusunnya hingga tinggi. Di samping Tahta ada lego berbentuk laki-laki yang seolah menemaninya bermain. Setelah Hideo membuang mainan yang dianggap sebagai sosok Jeon waktu lalu, perawat yang ditugaskan khusus untuk menemani Tahta membawa lagi benda itu. Karena jika mainan itu tidak ada, Tahta akan bertindak agresif.


Tahta sebetulnya memiliki indra keenam yakni rasa empati yang tinggi. Dia gampang terenyuh dan bisa merasakan kesulitan orang lain hanya dengan pengamatan, sama seperti kemampuan mendiang ibunya. Dulu ketika Tahta kecil, dia akan menangis karena melihat seorang pria tua berjalan tergopoh sambil mendorong gerobak berisi barang-barang bekas.


"Kenapa, Tahta?" tanya ibunya ketika menjemput Tahta di taman kanak-kanak.


Salah seorang gurunya berkata, "Tahta sejak istirahat tadi menangis. Dia menolak untuk memakan bekal dan tidak mau memberitahuku apa penyebabnya."


Ibu Tahta menunduk untuk mengajak anaknya bicara. "Katakan Tahta. Anak baik tidak boleh menangis tanpa sebab."


"Hiks. Orang itu kasihan mama. Dia su-dah tua tapi ... tapi ... orang itu pasti belum makan, mama. Kasihan Pak Tua. Huee." Tahta menunjuk seorang pria tua yang sedang duduk di seberang jalan, di sebelah gerobaknya.


Ibu Tahta hanya tersenyum. Dia mengerti perasaan sang anak karena Tahta seperti dirinya. Sangat berempati. Dengan bijak wanita itu menghibur sambil membelai surai halus Tahta.


"Kalau Tha kasihan dan takut dia tidak bisa makan----kenapa Tha tidak memberinya makan?"


"Tha masih ada roti dan susu. Boleh kuberikan ke Pak Tua?" tanya Tahta pada ibunya, penuh harap.


"Tentu saja boleh."


"Boleh kukasih makananku, ayah?" tanyanya pada seorang pria yang juga ikut menjemput ke TK dan telah siap dengan kunci mobil.

__ADS_1


"Kenapa tidak? Pergi dan berikan makanan untuknya!"


Setelah mendapat ijin, Tahta berlari dengan kaki mungilnya untuk memberi makanan pada seorang pria tua. Wajah sedih karena melihat penderitaan orang lain kini ceria setelah berbuat kebaikan.


Seperti itulah Tahta. Tuan Altar takut kemampuannya ini malah menjerumuskannya atau disalahgunakan oleh orang lain. Karena itulah Tuan Altar selalu menjaga sang anak dari jauh guna menjauhkannya dari orang jahat.


Tuan Altar tahu kedekatan antara Tahta dan Jeon. Dia kenal Jeon dengan baik karena remaja itu merupakan sahabat Tahta dan satu-satunya sahabat yang dapat dia percaya untuk menjaga anaknya termasuk dari lelaki seperti Soni. Tuan Altar sebenarnya tidak menyukai Soni, karena itu dia meminta Jeon untuk memantau hubungan mereka.


Sekarang Jeon sudah tidak ada.


Satu-satunya orang yang dapat dia percaya saat ini hanyalah 'dia.'


Tuan Altar mengusap bulir air yang jatuh menuruni sudut matanya. Rasa haru merasuk ke jiwa. Karena sudah tidak tahan lagi, Tuan Altar pun keluar. Pria itu tetap berdiri di depan pintu kamar Tahta sambil menyembunyikan air matanya. Tuan Altar tidak ingin ada seorang pun yang tahu bahwa dia menangis.


Namun, seseorang telanjur melihatnya.


"Kau baik-baik saja, Tuan?"


Leony baru saja akan memeriksa Tahta dan terkejut melihat Tuan Altar berdiri sendirian. Pemuda itu berhenti, lantas memilih untuk melihat keadaannya.


"Kau mau ini, Tuan?"


Tuan Altar melihat sapu tangan yang disodorkan padanya lalu beralih menatap Leony "Maaf, kau jadi melihatku seperti ini," ungkapnya sambil menerima sapu tangan pemberian Leony.


"Tidak masalah. Aku mengerti perasaanmu. Pasti kau sangat rindu pada anakmu, Tuan." Leony tersenyum simpul.


Jujur dia sangat bersimpati pada Tuan Altar. Selain karena dia adalah salah satu pria berpengaruh di Kota Lazar, juga seorang ayah yang baik. Leony telah lama bersimpati pada pria ini sejak pertama kali bertemu.


****


Hideo tidak kapok meski dia diusir Tahta beberapa kali. Dia terus datang dan kembali lagi untuk menemui kekasihnya  dengan mengambil risiko dilempari mainan. Hanya mainan----perkara mudah. Sebelumnya dia sudah sering dilempar senjata oleh musuh.


"Hideo," ucapnya saat mereka duduk di balkon yang menghadap langsung ke pemandangan Kota Lazar. Dari gedung Atlantis, mereka dapat melihat seluruh kota. "Apa kau tahu jika Tahta sering menyebut nama Jeon?"


"Ya. Aku tahu, Tuan."


"Bagaimana perasaanmu ketika mendengarnya?"


"Haruskah kujawab?"


"Kalau kau tidak bersedia menjawab pun sepertinya aku tahu jawabannya. Sangat sulit untuk menganggap Tahta benar-benar kekasihmu, bukan?"


Tuan Altar bersandar pada kursi dan menempatkan diri supaya lebih santai. Namun kata-katanya bermakna sangat serius.


"Banyak yang mengatakan bahwa manusia setengah zombie tidak punya masa depan. Aku sering mendengar orang-orang berkata seperti ini di belakangku. Aku mengerti jika suatu hari nanti kau ingin berhenti dari misi ini dan aku akan sangat kecewa bila kau mengakhirinya.


Jeon adalah orang yang kupercaya untuk menjaga Tahta. Sayangnya dia sudah tiada dan sampai hari ini pun Tahta terus mengingatnya. Kau satu-satunya orang yang kupercaya sekarang. Apa kau mau menyerah?"


Jemari Hideo diam-diam mengepal mendengar penuturan Tuan Altar.


"Tidak. Aku bisa menjaga Tahta lebih daripada orang itu."


"Begitu? Kenapa?"


"Karena ... tidak sulit bagi seseorang untuk menyukainya."


"Tapi dia zombie."


"Hah! Bisakah seseorang bicara tanpa mengatakan itu padaku?! Aku sudah tahu!" Tanpa sadar Hideo sedikit menaikkan nada suaranya. Ketika dia sadar dengan siapa dia berkata, dia segera menyadari kesalahannya. "Maafkan aku, Tuan. Aku sudah lancang."


Tuan Altar terkejut melihat reaksi pemuda yang duduk di depannya, namun tidak marah.

__ADS_1


"Kalau kau memang mau melanjutkan misi ini----buat Tahta melupakan Jeon!"


****


Hideo melangkah masuk ke kamar Tahta begitu pintu terbuka. Seperti yang diinginkan Tuan Altar, Hideo akan membuat Tahta melupakam Jeon dan mengisi memorinya tentang mereka berdua. Hanya dia dan Tahta.


Tet tot


Khayalan Hideo buyar ketika tiba-tiba saja dia menginjak sesuatu. Pemuda itu menunduk dan menemukan kucing karet tergeletak tak berdaya di bawah kakinya. Diambilnya mainan itu lalu dibawanya ke tengah ruangan. Di sana ada Tahta sedang bermain seperti biasa.


Tahta sedang bermain rumah-rumahan.


"Nih, lu ... mah Tha. Nih ... lu-mah E ... on."


(Ini, rumah Tha. Ini rumah Jeon.)


Tahta menyusun balok-balok menjadi dua macam bentuk bangunan. Dengan telunjuknya dia menunjuk masing-masing bentuk sebagai rumah miliknya dan Jeon. Tahta sedang asik bermain sampai-sampai tidak menyadari kedatangan Hideo hingga pemuda itu bersuara.


"Dan ini rumah kita. Rumahku dan Tahta." Hideo ikut menyusun tumpukan balok dan bentuk limas hingga menjadi bangunan rumah yang bagus. Dengan sengaja dia membuatnya di tengah-tengah antara rumah Tahta dan Jeon.


Tahta mendelik tajam pada Hideo. Tatapannya semakin menusuk karena Hideo malah tersenyum.


"Nih, lu ... mah Tha. Nih ... lu ... mah Eon. Nih ... ce ... ko ... lah. Tha ca-ma Eon be ... lang ... kat ceko ... lah cama-cama."


(Ini rumah Tha. Ini rumah Jeon. Ini sekolah. Tha sama Jeon berangkat sekolah sama-sama.)


Tahta menunjuk rumah yang dibuat Hideo sebagai sekolah. Hal ini membuat Hideo kesal. Rasanya dia ingin menyingkirkan rumah-rumahan Jeon dan membuangnya jauh-jauh. Namun, belum sempat niatnya terlaksana, Tahta terus-menerus menyingkirkan tangannya.


"Cu ... dah, di ... am."


(Sudah, diam.)


"Ajak aku bermain, sayang," Hideo terus menggangu Tahta. Sudut bibirnya melengkung ke atas, tersenyum. Dia sangat senang bisa berinteraksi dengan kekasihnya. Pemuda itu bahkan mengabaikan perawat pendamping Tahta yang sejak tadi memberinya peringatan.


"Ma ... mu ... na ... kal."


"Namaku Hideo. Ingat namaku baik-baik." Hideo mengusak rambut Tahta dengan tangannya yang memakai sarung tangan.


Hideo tak kehabisan ide. Dia mengambil dua lego berbentuk laki-laki dan memainkannya sebagai wayang. Satu diletakkan di depan rumah-rumahan, sedangkan satu lagi dia pegang.


"Hai, Tahta. Aku datang menjemputmu. Ayo kita jalan-jalan," kata Hideo sambil memainkan peran. Hideo berharap Tahta memberikan respon lain selain menolaknya.


"Tha ... mau pel ... gi ca ... ma E-on."


(Tha, mau pergi sama Eon.)


"Tahta denganku saja. Jeon sedang terkena sembelit."


Tahta mengangkat tangannya dan bersiap untuk melempar Hideo.


"Tunggu! Aku bukan musuhmu, oke? Aku punya hadiah untukmu, sayang." Hideo mengambil boneka dari dalam tas yang dibawanya sejak tadi lalu meletakkannya di depan Tahta. "Ini hadiah untuk Tahta."


Kedua mata Tahta terus menatap boneka beruang di tangan Hideo tanpa berkedip. Boneka berbulu cokelat itu sedang memegang bentuk hati.


"Ini boneka lucu untuk Tahta yang manis," ucap Hideo melembut.


Perlahan tangan Tahta terulur. Dalam beberapa menit boneka beruang itu telah berpindah ke tangan Tahta. "Pu ... nya Tha."


****


To be continue

__ADS_1


__ADS_2