STERIL: My Bottom Is A Zombie

STERIL: My Bottom Is A Zombie
Bab 14: (STERIL: Mark Lambert)


__ADS_3

Mayat hidup masih berkeliaran di luar Kota Lazar. Begitu kau melewati gerbang, bersiaplah dengan senjata atau taruhannya tubuhmu akan dimangsa. Makhluk-makhluk hilang akal akan terus mengejar karena lapar. Tak cukup hanya makan, tetapi insting buas telah mengambil alih seluruh rasa manusiawi lalu mengganti identitasnya sebagai predator.


Seorang pemimpin tim Penyelamat STERIL Divisi Timur, membawa pasukannya ke sebuah vila tua. Rumah peristirahatan yang terletak di dekat bukit itu ditumbuhi tanaman liar. Dindingnya retak di sana-sini, begitu pun catnya telah mengelupas. Ketika masuk ke dalam sana, suasana dingin nan mencekam menyapa hingga orang biasa pasti akan berbalik pulang.


GROARGH


DZING


Tembakan meletus dari senapan ke zombie yang datang menghadang jalannya Misi Penyelamatan STERIL. Mereka tidak gentar walau bahaya menghadang. Mereka militer.


Keberanian adalah pakaian mereka.


Pengabdian adalah junjungan mereka.


Semoga Beltran Guido dipenuhi cahaya.


Baru saja pasukan memasuki halaman, tim yang dipimpin oleh Mark Lambert harus siap terhadap serangan mendadak. Beberapa zombie berdatangan menyerang, sehingga peluru harus ditembakkan. Zombie-zombie yang mereka temui 75% penuh luka dengan kegilaan membabi buta. Tidak bisa diselamatkan.


"Formasi Lingkaran Bertahan!"


"Siap, Komandan!"


Pasukan Mark saling merapat membentuk lingkaran, disusul peluru-peluru melesat menembus tulang tengkorak para mayat hidup.


Mark melihat salah satu zombie melompat ke arah mereka.


"Formasi Menara!"


"Siap!"


Maka pasukan yang berjumlah sepuluh itu dibagi dua. Lima menembak ke arah depan, lima lagi ke atas tepat ke arah zombie yang melompat.


GROAGH


DZING


Mark melihat beberapa zombie merangkak, lalu dia pun memberi perintah, "Formasi Teratai!"


"Siap!"


Maka tiga dari mereka berlutut untuk menembak.


Setelah zombie tumbang, pasukan di belakang pemuda pirang mengikuti untruksi dengan patuh. Mereka melangkah ke dalam vila. Kaki mereka telah terlatih agar berjalan tanpa suara, sehingga mudah masuk tanpa menarik perhatian lebih banyak.


Firasat Mark mengatakan----ada bahaya di dalam sana.


"Tetap waspada!" perintah Mark pada anak buahnya.


"Siap, Komandan!"


Setiap tim di masing-masing divisi diberi satu robot kamera. Robot ini berfungsi sebagai pengintai dan bertugas lebih dulu dibanding pasukan manusia. Gunanya untuk memantau keadaan di dalam bangunan, sehingga memudahkan tim dalam bekerja.


[Ada zombie di aula, Komandan. Kondisi tubuh 35% luka, 50% kesadaran, 75% kegilaan. Status diselamatkan dan mohon untuk berhati-hati.] Robot kamera mengirim status melalui earphone.


Sejenak Mark bingung. Bagaimana mungkin zombie dengan 50% kesadaran juga memiliki persentase kegilaan yang tinggi? "Zombie macam apa ini? Datamu salah Rex-x."


[Analisisku benar, Komandan. Aku tidak salah. Dia memang sedikit gila.]


"Terima kasih, Rex-x. Kau berhasil membuat wajahku yang tampan jadi keriput gara-gara datamu yang membingungkan," jawab Mark.


[Komandan, tolong dikondisikan.]


TING TING

__ADS_1


Sebuah suara benda berbenturan dengan besi terdengar ketika pasukan memasuki teras.


"Komandan Mark?" salah seorang anak buahnya memanggil demi meminta perhatian terhadap suara barusan.


Mark tidak menjawab, melainkan hanya mendekatkan telunjuknya ke bibir. Dia menyuruh anak buahnya untuk diam dan terus maju.


TING TING


Ketika suara itu terdengar lagi, Mark tidak tahan untuk berkomentar, "Suara itu terdengar seperti kekasihku memanggil untuk makan siang."


"Kekasih yang ke berapa, Komandan?"


"Tiga. Eh, bukan ...  ke enam. Entahlah?" Mark mengedikkan bahu.


Anak buahnya hanya mengembuskan napas lelah. Komandan Mark terkenal memiliki banyak kekasih. Setelah putus dari kekasihnya, biasanya besok dia akan punya kekasih baru. Kabar terpanas yang beredar saat ini yakni Mark memiliki tujuh kekasih sekaligus. Waktunya dibagi satu hari untuk satu orang. Sungguh gila!


Mark sangat yakin dirinya tampan. Dengan modal ini dia mengencani seseorang yang dianggap menarik. Setelah bosan dia akan putus dengan kekasihnya lalu mencari ganti. Karena pada dasarnya Mark belum benar-benar jatuh cinta sehingga dia senang berpetualang mencari cinta sejati.


Ting Ting


Suara itu masih terdengar, Mark membawa anak buahnya mengikuti asal suara.


"Tetap waspada," perintahnya pada anak buah di belakang.


"Baik, Komandan."


Mereka telah memasuki ruang aula. Semua benda tergeletak tak beraturan. Kursi-kursi dan meja-meja tamu berserakan di mana-mana. Ada gelas-gelas pecah juga hidangan yang busuk. Mark berasumsi mungkin sebelum diserang, saat itu sedang ada pesta di vila.


Dari tempat ini suara yang mereka dengar semakin jelas.


TING TING


Mark melihat zombie sedang memukul-mukul tiang besi penyangga dengan pedang. Rambutnya merah dan lebih panjang di salah satu sisi. Meski tampak kusam dan berdebu, tapi merah pada rambutnya mengingatkan Mark pada batu ruby di cincin yang dimiliki.


Mark berhenti bergerak ketika zombie itu menoleh. Tatapannya dingin nan tajam----menembus jauh ke dalam mata merah Mark. Sangat menusuk seperti belati yang dihujam.


"Hem," geraman zombie pun terdengar. Darah menetes dari luka di bibirnya yang sobek. Ekspresinya tak terbaca karena terhalang oleh otot wajah kaku. "Hem," geramnya lagi.


TING TING


Dia memukul tiang lebih kencang.


Meski memiliki luka di tangan dan bibirnya, zombie yang dilihat Mark ini terlihat berbeda. Makhluk itu tidak hanya wujudnya masih bagus, tetapi satu-satunya zombie dengan senjata. Mungkinkah di saat terakhir, dia sempat melawan dengan pedang?


Ditambah sosok itu memakai atasan blazer merah mahal. Rok hitam berenda bergaya Lolita pun robek di beberapa bagian. Ini membuat Mark bertanya-tanya, siapa identitas makhluk itu sebelumnya?


GROAGH


Zombie berambut merah lantas melempar pedangnya. Karena berbahaya, pasukan Mark berpencar untuk menghindari serangan, jika tidak ingin tubuh mereka terbelah dua. Tak disangka aksi si rambut merah terus berlanjut. Dia menarik pedang lain yang ada di pinggangnya lalu menyerang Mark membabi buta.


DUAGH


Mark mundur beberapa langkah sambil mengusap dadanya yang ditendang. "Cih, hebat juga dia. Baiklah! Aku tidak akan main-main lagi!" Mark melawan dengan menggunakan keahlian bela diri serta senapan laras panjang yang kini berfungsi untuk menahan serangan.


BUAGH


Mark berhasil memukul si rambut merah. Tanpa ekspresi, si rambut merah bangkit. Dia berlari, melompat, berpijak pada dinding lalu kakinya mendarat di tubuh Mark.


PRANG


Serangan balasan. Mark ditendang hingga tubuhnya membentur meja. Gelas-gelas di atasnya berjatuhan menimpanya. Mark kesal. Sangat kesal. Dia tidak suka kalah apalagi oleh zombie yang bahkan ukuran tubuhnya tidak sebesar dia. Harga diri di hadapan anak buahnya bisa hancur.


"Berikan lempengannya!" teriak Mark.

__ADS_1


Salah satu pasukan melempar sebuah lempengan baja dan segera ditangkap oleh Mark.


"Jika saja kau manusia, aku pasti akan mengencanimu. Tapi sayang sekali ... kesempatanmu sudah habis."


Mark dan si rambut merah masih berkelahi dan berebut tentang siapa yang menang. Mark pun lebih bersemangat. Seolah ini adalah turnamen. Dia harus menang.


Mark menimang-nimang lempengan baja di tangannya sebelum dilempar tepat ke arah perut si rambut merah. Begitu benda itu menempel, dari dalam lempengan baja secara otomatis keluar rantai, lalu melilit seluruh tubuh mangsa.


Zombie itu tidak bisa bergerak dan hanya menggeram marah. Di dalam lempengan baja tidak hanya ada rantai, tetapi mesin berkapasitas besar yang digerakkan atas perintah komandan. Kelebihannya ini mampu membawa si rambut merah melayang mendekati Mark.


"Kemari!"


Mark sedang berada di atas angin. Sekali lagi dia menatap si rambut merah yang tergeletak tak berdaya. Meski sosok itu menyeringai buas, Mark justru tersenyum puas. Pemuda itu menyambut buruannya dengan ekspresi mengejek.


"Lihat siapa yang menang? Pasti aku. Khekhekhe."


****


Kemenangan Mark atas duel singkatnya tadi tidak berpengaruh sama sekali pada dua sahabatnya. Jangankan mengucapkan selamat atau berbelas kasih, mereka malah mengejek. Mereka memang seperti itu. Suka saling mengejek padahal sama-sama perhatian seperti saudara. Ketika dia tiba di Atlantis, dia bertemu dengan Hideo dan Leony. Mereka menanyakan luka-luka di wajah Mark.


"Kau kenapa bisa babak belur begitu?" tanya Leony.


"Pasti dia habis berkelahi dengan kekasihnya karena ketahuan selingkuh," ejek Hideo.


"Enak saja. Kekasihku tidak ada yang berani memukul. Mereka semua memujaku."


"Oh, ya. Biar kutebak ... kau pasti sedang mengincar calon kekasih baru. Tapi dia tidak suka lalu dia menghajarmu. Benar begitu, kan?"


"Salah! Tadi aku habis berkelahi dengan zombie yang baru saja kubawa. Dia zombie berambut merah dan sangat merepotkan. Zombie itu bersenjata, kau tahu? Dia hampir memenggal leherku tadi. Aku baru saja terkena musibah. Seharusnya kalian simpati padaku."


"Apa kau juga berniat menggoda zombie? Kau sudah tidak waras." Leony menatap Mark tidak percaya.


"Biar kuperjelas. Aku diserang. Bukan sedang menggodanya. Manusia lebih menawan dari pada zombie. Kenapa kalian pikir aku tertarik pada makhluk mengerikan?"


"Ah, ralat. Leo yang berpikir bahwa kau tertarik pada zombie, sedangkan aku tidak berpikir ke arah sana," bantah Hideo sambil menunjuk Leony.


"Hideo juga dulu seperti itu. Bilangnya tidak tertarik pada zombie, tapi sekarang dia malah cinta mati dengan Tahta. Kalau sampai kau juga punya kekasih zombie, Mark----aku pasti merasa aku sedang gila karena punya sahabat yang menjilat kata-katanya sendiri."


"Hey, Leo. Mana kita tahu takdir akan membawa kita ke mana." Teriak Hideo pada Leony yang sedang berjalan ke utusan divisi lain untuk mengimput data. "Apa boleh buat. Tahta lucu sekali," monolognya pada diri sendiri.


"Apa kau benar-benar cinta mati pada anak Tuan Altar?" tanya Mark pada sahabatnya.


"Menurutmu?"


"Kalau begitu kata-kata Leo ada benarnya. Kau sudah menjilat ludahmu sendiri."


"Aku sumpahi kau bernasib sama sepertiku."


"Mau mengajak berkelahi, hah?"


"Biar kubuat kau babak belur."


Mark dan Hideo berhadap-hadapan dan saling melempar tatapan tajam. Dua pemuda berstatus komandan itu sama-sama tidak mau mengalah. Kalau sudah begini sebentar lagi mereka pasti akan berkelahi. Ujung-ujungnya Leony yang turun tangan melerai mereka. Paling banter jika Leony sedang malas jadi penengah, dia pasti akan meninggalkan mereka. Biar saja Hideo dan Mark babak belur.


Tapi situasinya sekarang mereka sedang berada di Atlantis. Berani-beraninya mereka berdua berantem di pusat rehabilitasi. Leony mengembuskan napas lelah. Mau tidak mau gadis itu mendekati lagi dua sahabatnya untuk memberi usapan sayang.


BLETAK


BLETAK


"Yak! Kalian sedang apa?! Apa kalian tidak sadar ini ada di mana? Apa kalian tidak malu?! Jangan merusuh di Atlantis! Cari tempat lain kalau ingin berkelahi!" marah Leony setelah mendaratkan buku tebal ke kepala Hideo dan Mark. Dua tangannya menangkring di pinggang. Dia kesal.


Jika Leony sudah turun tangan, dua komandan itu tidak berani melawan karena pasti akan diceramahi.

__ADS_1


****


To be continue


__ADS_2