
Hujan kala itu, turun bagai kilau kristal yang terpantul cahaya matahari.
Seorang perempuan bersurai kuning pucat berdiri di tepi balkon taman Atlantis. Dari tempatnya berdiri, dia dapat melihat langit yang cerah oleh matahari, tetapi justru wajahnya basah oleh titik-titik air dari langit.
Gerimis di kala panas.
Dia sedang bahagia. Bagaimana tidak, jika dia baru saja menjadi pengantin beberapa jam yang lalu. Dia telah resmi menyandang status istri Hideo Alexander. Hal yang paling diinginkannya selama ini.
Kelopak matanya terpejam menyembunyikan sepasang bola mata yang kini terpancar setitik kehidupan. Dia merasakan ada sesuatu bergejolak di dalam dadanya. Dan itu membuatnya ingin berlari keluar, menghindari kerumunan agar tau rasa apa itu?
Seperti ada gendang bertalu-talu di tubuhnya.
Apakah ini yang namanya bahagia?
Dia menarik napas perlahan, meresapi wangi hujan yang khas. Hujan yang tidak deras itu kini hanya berupa gerimis yang disinari oleh mentari. Aneh. Pikirnya. Hujan saat cuaca cerah itu asing baginya.
"Kenapa kau malah hujan-hujanan? Nanti sakit."
Perempuan itu terkesiap ketika sepasang tangan kokoh merengkuh tubuh mungilnya dari belakang. Dia pun menoleh dan mendapati sosok pria, kekasihnya, yang baru saja berganti status menjadi suaminya. Sejenak dia terpana, tak berucap sepatah katapun.
"Deo," ucapnya akhirnya dengan pipi hampir menyamai warna buah ceri.
Hideo cukup terkejut dengan reaksi Tahta. Tak disangka bahwa perlakuannya barusan malah membuat Tahta menunjukkan reaksi malu-malu. Perasaan itu sangat manusiawi.
Pada akhirnya hati yang telah diklaim dingin dan mati itu mulai menunjukkan kehangatan, secara perlahan-lahan.
Sejak mereka berdua resmi menjadi sepasang suami istri, ada peraturan yang harus mereka patuhi. Leony mengatakan baik Tahta maupun Jilly tidak diperbolehkan untuk tinggal jauh dari Atlantis. Mereka harus tetap di sana agar dapat menjalani pemulihan lebih lanjut.
Hideo juga Mark masih bebas keluar-masuk Atlantis, tetapi bisa dikatakan bahwa Hideo dan Tahta tidak tinggal seatap, begitu pula dengan Mark-Jilly. Namun, para ilmuwan telah sepakat memberi jadwal kepada pasangan pengantin baru itu untuk bisa bersama.
"Kau sedang apa di sini sendirian? Aku mencarimu sejak tadi," keluh Hideo.
"Deo, aku ... sedang melihat air ... dari langit," kata Tahta sambil menunjuk ke atas.
Hideo melihat arah yang ditunjuk Tahta.
"Itu namanya hujan."
"Tapi ada matahari."
"Hujan yang turun saat matahari bersinar, itu namanya hujan panas atau bahasa ilmiahnya hujan zenithal."
"Apa itu ... hujan zenithal? Tha ... tidak mengerti," tanya Tahta dengan wajah polosnya.
"Hujan zenithal itu ... ya seperti ini. Ini namanya hujan zenithal. Ini ...," Hideo menggantungkan kata-katanya.
Bagaimana menjelaskannya? Bagaimana menjelaskan tentang hujan panas atau hujan zenithal pada Tahta dengan kata-kata sederhana?
Hideo lalu melihat awan mendung di sisi lain. Dia pun punya ide.
"Nah, coba kau perhatikan ke sebelah sana!" Hideo menunjuk kawasan yang dinaungi oleh awan mendung. "Di sana langit mendung, mungkin sedang turun hujan. Karena angin bertiup sangat kencang jadi saat awan yang tinggi itu menurunkan hujan, awan itu tertiup angin ke sini sebelum hujannya mencapai tanah. Itu sebabnya kenapa ada daerah yang cerah, tapi malah hujan."
Hideo menjelaskan dengan sangat perlahan, berharap Tahta akan mengerti.
"Oh, begitu," Tahta manggut-manggut.
"Kau sudah mengerti?"
Hideo lega.
__ADS_1
"Tha masih ... bingung, tapi Tha ... pasti segera mengerti." Tahta menarik seulas senyum dengan wajah tanpa dosa.
Bayangkanlah Hideo dalam gambar kartun seorang pria yang ditimpa batu besar, itulah dia sekarang. Setelah dijelaskan ternyata otak Tahta belum bisa memahaminya. Hideo masih maklum.
" Ha. Ha. Ha." Hideo tertawa aneh meruntuki dirinya sendiri. "Ya, sudahlah.Tahta kan anak pintar, pasti nanti juga mengerti dengan kata-kataku barusan."
"Tha, bukan ... anak-anak lagi. Tha sudah ... dewasa dan jadi ... seorang istri," ucap Tahta ngotot sambari memukuli dada Hideo dengan tangannya.
Ayolah Tahta, pukulanmu tidak akan bisa menyakiti Hideo. Suamimu malah tertawa keenakan seperti sedang dipijat.
"Tentu saja kau sudah dewasa." Hideo meletakkan salah satu tangannya di belakang kaki Tahta dan tangan lainnya di belakang punggungnya. Hideo mengangkat tubuh Tahta dengan mudah.
"Gerimisnya sudah reda. Ayo kita duduk di kursi itu!"
Hideo membawa Tahta, lalu mendudukkannya di salah satu kursi di taman Atlantis, lalu dia pun duduk di kursi yang ada di hadapannya. Mereka hanya terpisah oleh satu meja taman. Di atas meja sudah ada sebuah kotak persegi, putih, dihiasi pita.
"Aku punya hadiah untukmu, tetapi kau tidak boleh membukanya." Kata Hideo sambari memberikan kotak putih kepada istrinya.
"Kenapa Tha ... tidak boleh ... membukanya?"
"Nanti untuk kejutan," Hideo menarik sudut bibirnya ke atas. Dia lalu meraih tangan Tahta. "Aku akan pergi membantu di sektor B dan pasti akan memakan waktu sekitar tiga hari. Setelah tiga hari bukalah hadiah ini dan pakailah apapun yang ada di dalamnya, lalu kita pergi makan malam."
Tahta menarik tangan Hideo.
"Jangan pergi! Tha ingin ... Deo tetap di sini!"
"Aku tidak akan lama."
"Tidak boleh!" Tahta menggelengkan kepala. "Deo harus tetap... di sini!"
Tahta mengeratkan genggaman tangannya, seakan takut Hideo tidak akan pernah kembali. Tahta tidak tau mengapa dia mencegah Hideo, seperti ada sesuatu yang mendorongnya untuk melakukan itu. Entah ini firasat atau hanya nafsu, karena mereka baru saja menjadi pengantin baru.
"Aku akan segera pulang," kata Hideo meyakinkan Tahta sekali lagi.
Hideo diam sejenak. Pria itu menatap jauh ke dalam mata istrinya dan menemukan ada kekhawatiran di sana. Dia pun bangkit dari tempatnya duduk, lalu mengalungkan kedua lengannya ke tubuh Tahta agar tenang.
"Aku akan baik-baik saja. Kau tidak usah khawatir."
Hideo menangkup sisi wajah Tahta dengan telapak tangannya yang lebar. Pipi Tahta terasa lembut menyentuh kulitnya yang tak halus. Hideo membiarkan tangannya merekam sensasi kelembutan dari istrinya. Mungkin bisa jadi penyemangat ketika dia bertugas atau pengingat bahwa dia harus hidup untuk pulang ke pangkuan sang istri.
"Hey, jangan bersedih! Wajahmu terlihat jelek kalau cemberut!" goda Hideo mencairkan suasana.
"Tha tidak ... cemberut!"
Tahta menjauhkan tangan Hideo yang berusaha mengacak poninya.
"Barusan bibirmu maju beberapa centi, lalu kau juga marah-marah. Itu namanya cemberut."
"Deo nakal!"
Hideo semakin senang dan dia tertawa hingga giginya terlihat.
"Tunggu aku pulang dan kita akan makan malam bersama."
"Janji?"
Hideo melihat jari kelingking Tahta yang disodorkan padanya. Meski terkesan kekanakan, tapi Hideo menyambutnya. Sesekali bersikap seperti anak kecil juga tak apa-apa.
"Aku janji akan kembali padamu."
__ADS_1
***
Bulan di waktu malam itu indah.
Dialah satu-satunya penerang ketika malam kelam tak bercahaya.
Namun, bulan juga bisa menjadi teror, ketika kau bersinggungan dengan makhluk tak berakal.
Dor dor
Terdengar suara tembakan di kegelapan malam, disusul geraman demi geraman saling sahut. Beberapa pasukan militer yang berjaga diperbatasan sektor B berjalan mundur menghindari beberapa zombie yang menyerang.
Di sisi lain, dibalik semak, seorang pria berdiri dengan kedua kaki kokoh dan dagu yang terangkat. Sudut bibirnya menungkik ke atas penuh kepuasan. Sorot matanya kadang menyipit dan mengintimidasi. Isi pikirannya pun tak kalah sibuk, karena penuh dengan rencana yang akan dilakukannya nanti.
Namun, cukup hari ini dia tengah menikmati pemandangan di depannya.
"Lapor, Jenderal! Orang kita telah berhasil menyusupi dan mensiasati sistem keamanan. Semua kawat pelindung yang melingkupi sektor B di area luar telah dimatikan. Para zombie itu bisa dipastikan dapat menyentuh dan melewatinya, tanpa terbakar," ucap salah seorang pemuda berpakaian militer. Suaranya hampir berbisik karena tidak ingin ada orang lain yang mendengar percakapan mereka.
"Khu khu khu. Bagus," Jenderal Drake tersenyum puas. "Dengan begini, pasti pusat akan mengirim lebih banyak pasukan militer ke sektor B. Jangan lupakan STERIL pun pasti akan diterjunkan. Dengan begini kemanan sekitar Atlantis akan kendor. Jika pengamanannya kendor, maka akan lebih mudah bagi kita untuk masuk," lanjutnya.
"Orang-orang kita telah siap di markas sektor B. Pagar listrik di sana masih aktif. Cukup untuk menahan serangan 'mereka'. Sebentar lagi akan ada banyak zombie yang datang, sebaiknya kita segera berlindung, Jenderal," kata anak buahnya.
"Tunggu sebentar!" Jenderal Drake mengangkat salah satu tangannya.
Sejak wabah zombie menyebar, pemerintah Beltran Guido telah memetakan wilayah-wilayah yang terdapat banyak zombie. Dari hasil riset, mereka memerintahkan para konstruksi bangunan, dibantu militer untuk membuat pembatas di sekitar kawasan sektor-sektor dengan pagar kawat yang dialiri listrik bertegangan tinggi.
Pagar listrik itu dilapisi zincalium. Pagar jenis ini 6x lebih tahan karat. Dipastikan zombie yang mendekat dan menyentuhnya pasti akan langsung terpanggang.
Jendral sudah mengetahui hal ini. Dia memerintahkan anak buah kepercayaannya untuk meretas dan merubah sistem sesuai dengan keinginannya. Dia berhasil mematikan aliran listrik di bagian tertentu, sehingga membuat kawat itu tidak lagi berbahaya bagi zombie. Dia juga telah memerintahkan anak buahnya agar membuka kunci pada pagar keamanan.
Jenderal Drake melihat seorang anggota pasukan militer hampir terpojok. Dia pun tersenyum. Inilah saat yang tepat untuknya menjalankan rencana.
"Sekarang!"
Jenderal Drake keluar dari persembunyian bak seorang pahlawan. Dia mengangkat senapan miliknya sendiri, membantu anggota militer melawan para zombie.
Dor dor dor
Jenderal Drake menembaki zombie lalu berjalan mundur menuju salah satu mobil militer.
"Cepat masuk ke dalam mobil dan kita pergi ke markas sektor B. Aku sudah memanggil bantuan. Mereka akan segera tiba!" katanya pada anak buahnya.
"Baik, Jenderal."
Setelah seluruh penjaga perbatasan sektor B masuk ke dalam mobil, benda hitam berlapis baja itu pun pergi meninggalkan wilayah. Sang supir dengan lihai dan cekatan menginjak gas penuh sehingga mobil mereka melaju kencang.
[Lapor, Jenderal! Kami dari anggota militer markas sektor B. Anda bisa dengar aku?]
Jenderal Drake menyentuh airphone di telinganya untuk memastikan.
"Ya. Aku bisa mendengarmu. Berikan laporan!"
[Kami memantaumu bersama anggota dan kami akan melindungi kalian dari jarak jauh. Kami akan bersiap di pintu gerbang. Saat mobil anda dan yang lainnya masuk, kami akan langsung menutup gerbangnya.]
"Laporan diterima! Laksanakan tugasmu!"
[Laksanakan, Jenderal! Pesawat remote control sedang diluncurkan.]
Jenderal Drake mengakhiri panggilan. Beberapa saat berlalu, dia melihat ada beberapa kelap-kelip lampu di kejauhan. Dia mengasumsikan pasti lampu itu berasal dari pesawat remote control yang dikendalikan jarak jauh.
__ADS_1
Beberapa bulan lalu, memang pemerintah telah melengkapi keamanan militer dengan mendatangkan beberapa unit pesawat remote control yang dirancang khusus untuk 'pertahanan.' Pesawat itu bermodel jet tempur F18 hornet, memiliki kemampuan terbang dengan jarak tempuh cukup jauh, memiliki kamera pemantau mode terang dan gelap, serta peluru yang lebih kecil dari peluru pistol.
Pesawat-pesawat itu terbang bergerombol. Ketika mereka semakin dekat dengan sasaran, mereka menyebar membentuk formasi, mengeluarkan tembakan dari sisi-sisinya, memberondong zombie-zombie dengan peluru.