
Leony semakin sibuk. Dia bahkan bekerja lebih keras dari sebelumnya. Bersama Profesor Hartman dan ilmuwan lainnya, mereka mencari bahan-bahan di alam untuk dibuat obat penawar. Sebenarnya pergantian bahan obat-obatan ini tidak mudah diterima. Setiap tindakan ada pro dan kontra. Karena itulah terjadi perpecahan di antara para ilmuwan. Sebagian dari mereka sanksi bahwa ide ini akan berhasil, beberapa di antaranya malah tertawa.
Karena terjadi perpecahan, para ilmuwan yang tadinya solid satu per satu mengundurkan diri. Mereka beranggapan manusia yang menjadi zombie tidak dapat disembuhkan dan seharusnya dibinasakan. Dari 233 profesor menyusut menjadi 105 orang; 13.500 staff hanya menyisakan 9.570 orang termasuk ilmuwan dan staff. Profesor Hartman hanya menatap kepergian mereka dengan kecewa. Dengan berkurangnya jumlah anggota dalam misi STERIL, maka semakin berat pula pekerjaan mereka.
Perpecahan tidak hanya terjadi di dalam Atlantis, melainkan di luar. Berita tentang kegagalan penelitian STERIL terdengar hingga ke telinga para petinggi negara. Untuk menjelaskan perihal ini, Profesor Hartman pergi bersama Leony ke pusat.
"Jadi misi STERIL gagal?" tanya salah satu pria paling tua di antara petinggi negara lainnya.
"Harus kami akui bahwa penelitian ini mengecewakan, tapi kami akan menemukan cara lain untuk menemukan penawarnya. Kami telah menemukan bahan yang berasal dari tumbuhan dan hewan untuk obat," jawab Profesor Hartman.
"Menggunakan bahan yang sudah dikembangkan saja tidak ada hasil, bagaimana mungkin bahan dari tumbuhan dan hewan bisa menyembuhkan? Itu artinya kalian gagal," seseorang menimpali.
"Ya. Uang dan waktu kami terbuang sia-sia hanya demi penelitian konyol ini."
"Zombie sangat berbahaya bagi kelangsungan hidup manusia sehat. Kalau begitu binasakan mereka hingga ke akar. Jangan biarkan mereka membahayakan hidup kita termasuk zombie yang telanjur masuk Atlantis."
"Ya. Benar. Binasakan mereka!"
Aula pertemuan kian ricuh. Para petinggi mulai meragukan misi yang mereka jalankan. Di tempatnya duduk, Leony mulai resah. Dia melihat Profesor Hartman diam. Entah apa yang dipikirkan oleh pria itu.
"Bubarkan saja misi STERIL!"
Ketika kata-kata ini dilontarkan, Leony benar-benar tidak bisa tinggal diam.
"JANGAN!"
Leony berdiri dari tempatnya duduk lalu berteriak. Dia sudah tidak tahan dengan segala cibiran. Penelitiannya baru akan dimulai. Dia tidak rela jika zombie yang sudah dikarantina harus dimusnahkan, apalagi melihat Atlantis ditutup. Dia lantas berjalan ke tengah podium dan meminta ijin untuk bicara. Dia tidak peduli lagi dengan tatapan berpasang-pasang mata yang mencemooh.
"Maaf jika aku menyela. Akulah yang memiliki ide dan memaksa profesor untuk mengganti bahannya." Leony mengabaikan kasak-kusuk dari para petinggi negara.
"Aku telah meneliti profil berbagai macam tanaman juga hewan. Vitamin yang terkandung di dalamnya lebih beragam dan bervariasi. Bahan-bahan itu bisa kita tambahkan atau kombinasikan dengan bahan yang sudah ada. Aku jamin kali ini tidak akan gagal," Leony menunjukkan buku yang dibawanya lalu berkata dengan yakin.
"Dari mana kautahu akan berhasil jika bahannya diganti?" tanya petinggi negara yang lain.
"Tidak tahu. Feelingku mengatakan demikian. Selain itu----kami dibantu oleh para profesor dan ilmuwan yang masih percaya adanya sebuah harapan. Kami akan berusaha sebaik mungkin untuk penelitian ini. Mohon beri kami waktu satu tahun untuk membuktikannya."
"Kau masih anak baru. Lancang sekali kau berdiri di sana dan berkata seolah-seolah apa yang kau katakan akan berhasil, sedangkan kau saja hanya menerka-nerka." Pria ini lantas berdiri dan tertawa. "Apa ini lelucon? Dia sedang mempermainkan kita!"
"Aku tidak sedang bermain-main." Leony ingin sekali melempar pria itu dengan sepatunya.
Melihat Leony tetap pada pendiriannya, Profesor Hartman mulai berkeringat.
"Kumohon, beri kami waktu! Aku akan berusaha sebaik mungkin! Kumohon!" Leony merapatkan kedua tangan berharap persetujuan dari para petinggi negara. Dia sangat berharap.
"Hm, sudahlah! Ruangan ini jadi gaduh gara-gara kau. Baiklah kami beri kalian waktu, tapi bukan setahun. Itu terlalu lama. Kuberi kalian waktu lima bulan untuk membuktikan. Jika dalam waktu itu tidak ada perubahan, maka Atlantis harus ditutup!" jawab pria lainnya menengahi.
"Kami akan menggunakan waktu sebaik mungkin dan tidak akan mengecewakan. Kami akan membuktikannya dalam waktu yang ditentukan! Terima kasih atas kesempatannya. Terima kasih."
__ADS_1
Leony membungkuk sebagai rasa hormat. Satu per satu petinggi Beltran Guido berdiri dan meninggalkan ruangan, namun Leony masih terus membungkuk berulang kali sambari berucap 'terimakasih'. Dia sangat ingin penelitian dilanjutkan. Dia tidak akan menerima keputusan Atlantis ditutup begitu saja dan membiarkan kerja keras para ilmuwan berakhir sia-sia. Dia sadar, Profesor Hartman pasti marah padanya karena telah bersikap lancang. Leonard bahkan takut melihat pria itu.
"Berani sekali, kau Leo?!"
Jantung Leony berdetak dengan cepat. Benar dugaanya. Profesor pasti tengah marah. Dia memberanikan diri untuk bersuara. "Profesor, maafkan aku! Aku tidak bermaksud lancang. Aku hanya ingin Atlantis tetap berdiri. Segala kemungkinan pasti ada, mau gagal atau berhasil----kita tidak akan tahu hasilnya sebelum mencoba. Lagipula aku ingin percaya bahwa masih ada harapan walau sebesar biji jagung."
"Kau memang muridku yang keras kepala, tapi kau adalah murid terbaik yang pernah kumiliki. Hahaha. Aku terkejut melihatmu berani bicara pada para petinggi, tapi kau benar. Kita tidak boleh menyerah begitu saja. Ayo, kita akan sibuk sekarang."
"Baik, Profesor."
Leony berjalan di belakang Profesor Hartman. Ada kelegaan merasuk ke sukma begitu mendengar pria yang sangat dihormatinya itu bersemangat lagi. Namun kelegaan itu menjadi sebuah tanda tanya begitu matanya melirik pada seorang pria yang berdiri di bangku paling atas podium. Pria itu hadir sejak awal pertemuan dan belum juga pergi. Begitu mata mereka saling bertubrukan, dia mengangguk dengan mantap dan Leony pun melakukan hal yang sama sebagai jawaban. Diam-diam Leony tersenyum. Dia senang karena Tuan Altar juga mendengar hasil keputusan barusan.
Lima bulan!
Bisa kau bayangkan betapa singkatnya waktu itu untuk sebuah penelitian besar? Segala hal harus dipikirkan matang-matang. Obat yang dibuat harus sesuai dengan standar kedokteran. Begitu juga dengan semua komposisi dan campuran bahan harus pas sehingga obat bisa bekerja dengan baik. Leony bersama beberapa ilmuwan lainnya melakukan pengecekan terhadap reaksi dari campuran ekstrak tumbuhan dan hewani tiap satu jam. Karena itulah pola tidur mereka jadi tidak teratur.
Hari demi hari berlalu dengan cepat. Obat yang dibuat sudah jadi, walau sempat ragu karena mereka belum pernah mencobanya pada pasien zombie manapun. Kemungkinan berhasil dan gagalnya adalah 50-50. Bisa saja lebih banyak ke arah salah satunya. Ketua Rumah Sakit Atlantis dan Profesor Hartman menunjuk zombie Tahta sebagai target awal kelinci percobaan dari obat dan serum baru.
Tahap pertama mereka menyuntikkan ekstrak tumbuhan menyebabkan pendarahan di sekitar hidung satu jam kemudian. Dua jam berlalu pendarahan masih terus terlihat, namun kali ini warnanya merah pekat dan agak kental menggumpal.
Hideo datang ke Atlantis setelah menyerahkan tangkapan zombie seperti biasa. Sudah jadi kebiasaannya akhir-akhir ini Hideo akan tinggal lebih lama di Atlantis. Tak lain dan tak bukan untuk menemui kekasihnya, Tahta. Mendengar Tahta mengalami pendarahan membuat Hideo panik. Pemuda itu terus menunggu sahabatnya keluar dari ruang pemeriksaan.
"Leo!" panggil Hideo ketika melihat sahabatnya.
"Hideo? Kau sedang apa di sini?"
"Bagaimana keadaan Tahta?"
"Karena dia kekasihku."
Leony memutar bola matanya bosan. "Baiklah, kalau kau ingin tahu ... Tahta saat ini mengalami pendarahan dan kami masih berusaha menyelamatkannya. Kau tahu apa artinya itu?"
Hideo diam sejenak. Tentu dia tahu risikonya memiliki kekasih zombie. Sejak dia memutuskan memilih Tahta, Hideo sudah menyiapkan hati untuk hal buruk, termasuk kehilangan. Namun entah kenapa hati kecilnya berkata----inilah keajaiban yang ditunggu-tunggu setelah sekian lama memerangi mayat hidup.
Semoga ada cahaya untuk Beltran Guido.
"Aku tahu. Tapi aku yakin penelitian kalian akan berhasil."
"Dengar, Hideo. Aku ...." Leony baru akan membuka mulutnya. Dia ingin berkata pada Hideo agar mencari manusia untuk dijadikan kekasih, tetapi melihat keyakinan yang terpancar dari dua mata Hideo membuat Leony mengucapkan hal sebaliknya.
"Kita berdoa saja semoga obat dan serumnya bekerja dengan baik, tapi kau juga harus siap dengan apapun yang terjadi."
"Aku selalu siap," tegas Hideo penuh keyakinan.
****
"Doktor, apa ini nyata?" tanya salah satu perawat pada Leony.
__ADS_1
Dua pria itu menatap tidak percaya pada zombie di depannya. Setelah semalaman mereka begadang memantau perkembangan Tahta dan harus bolak-balik membersihkan ceceran darah, kini zombie itu tidak menunjukkan tanda-tanda akan binasa, malah berjalan seperti biasa. Laiknya manusia normal, Tahta telah melewati masa kritis. Zombie Tahta kini sudah berkeliaran lagi di lantai 3 gedung Atlantis, seolah tidak terjadi apa-apa semalam.
"Um. Um," gumamnya pelan dan terus berjalan tak tentu arah, mengabaikan dua orang yang membuntutinya sejak tadi.
"Apa hanya aku yang melihat luka di pipi dan kakinya mengering?" monolog si perawat.
"Tidak. Lukanya nemang mengering," jawab Leony yang juga bengong sebelum akhirnya dia tersadar. "Apa yang kau lakukan? Cepat catat!"
"Ah, iya. Maaf, Doktor." Si perawat terkesiap dan buru-buru mencatat perkembangan Tahta sebelum Leony mengomel.
Beberapa hari lalu, tubuh Tahta masih sepucat mayat juga agak biru. Luka-lukanya terlihat masih basah. Jika mendekat kau akan bisa mencium bau anyir busuk, namun kali ini bau itu tidak tercium. Leony bersama seorang perawat saat ini sedang memeriksa Tahta dan masih tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.
Tahap awal berhasil.
"Tahta jauh lebih baik setelah kemarin mengalami pendarahan? Mungkinkah kemarin tubuh Tahta sedang mengeluarkan racun, Doktor?"
"Hasil ceknya belum keluar. Masih terlalu cepat untuk mengambil kesimpulan."
Doktor muda dan perawat laki-laki itu sekarang sedang mengamati Tahta dari jarak tiga meter. Mereka menulis semua hal, sedetil dan se-spesifik mungkin, ketika seorang militer mendekat.
"Tahta."
Hideo lagi. Kali ini dia membawa setangkai bunga yang dipetik dari taman indoor Atlantis. Dia seorang komandan. Atlantis memberi akses khusus bagi pemilik jabatan tinggi militer agar bisa memasuki Atlantis hingga lantai tujuh bangunan itu.
"Hideo? Apa kau tidak punya pekerjaan lain selain merusuh di sini?" Leony menatap bosan pada sahabatnya. Hideo terlihat seperti ABG labil yang sedang jatuh cinta, ditambah bunga di tangan. Ini Atlantis, pusat rehabilitasi bukan tempat untuk kencan.
"Aku ingin menengok kekasihku. Apa salahnya?"
"Salah----karena sejak semalam kau terus saja menelpon dan menggangguku dengan pertanyaan 'bagaimana keadaan Tahta?' Lalu hari ini kau muncul dengan bunga?"
"Aku datang ingin menengok dan membawa bunga ini untuk Tahta. Kenapa kau protes? Memang kau ibunya?"
"Ish, awas kau, ya?! Aku akan menutup aksesmu supaya kau tidak bisa masuk ke Atlantis seenaknya!"
Hideo bersiap menangkis serangan Leony yang akan memukul dengan buku, namun tiba-tiba saja Tahta lewat. Zombie itu berhenti tepat di samping Hideo, lalu memiringkan kepalanya seolah sedang meneliti sesuatu.
"Um. Um."
"Hey, apa kau sedang memperhatikanku?"
Tahta tidak menjawab. Zombie itu berjalan lagi dan mengabaikan Hideo.
"Ya, silakan jalan-jalan sesukamu, sayang."
"Dasar bodoh," umpat Leony menanggapi panggilan sayang Hideo untuk Tahta yang diklaim sebagai kekasihnya.
...Semoga cahaya selalu menyelimuti Beltran Guido...
__ADS_1
****
Bersambung