STERIL: My Bottom Is A Zombie

STERIL: My Bottom Is A Zombie
Bab 32 : (STERIL: The Mystery Man)


__ADS_3

Tuan Altar duduk di belakang meja kerjanya. Dia sedang membaca sebuah buku catatan yang mulai usang karena usia, milik seseorang. Buku itu berisi rancangan berupa rangka untuk membuat benda-benda, bangunan, juga robot. Beberapa bangunan dan robot di Kota Lazar dibuat berdasarkan tuntunan dalam buku tersebut.


Di salah satu halaman pada buku, ada bentuk geometri hexagonal dan sebuah bandul yang digambar secara terpisah. Bandul itu mirip dengan benda dalam genggaman Tuan Altar.


Tuan Altar mengusap-usap bandul kalung di tangannya. Bandul itu berbentuk enam sudut, di atasnya terpasang ornamen jarum kompas delapan penjuru mata angin. Di tengah mata angin ada sebuah simbol huruf G yang tersamar dalam bentuk spiral.


"Apa yang kau sembunyikan Gillian?" tanya Tuan Altar seolah buku itu adalah Gillian.


"Kenapa kau satukan bandul mata angin pada geometri hexagonal?" lanjutnya.


Gillian seorang pendatang sekaligus pemikir yang cerdas. Berbekal ilmu pengetahuan, dengan cepat dia menarik perhatian semua orang. Dia pun diangkat menjadi dosen di salah satu universitas ternama. Dia juga memiliki selera seni dan kreativitas yang tinggi.


Dari isi kepala, biasanya Gillian akan menuangkan ide-ide cemerlang pada miniatur-miniatur. Miniatur milik Gillian terbuat dari benda apa saja yang ditemuinya di jalan. Mur, baut, lampu, kabel, juga besi-besi tua pada mobil yang sudah tidak terpakai, disusun, lalu dirangkai hingga dapat berfungsi dengan baik.


Ketika Gillian masih berada di Kota Lazar, dia dekat dengan Tuan Altar. Mereka layaknya sahabat. Mereka sering mengobrol, bahkan Gillian kerap kali memperlihatkan miniaturnya pada Altar muda. Altar pun sangat memuji hasil karya Gillian yang dinilai lebih canggih dari negaranya.


Hingga hari itu pun tiba. Gillian tidak hadir ke acara peresmian Peluncuran Robot Kamera di universitas. Padahal itu adalah acaranya sendiri, dengan dia sebagai juru bicaranya.


Tuan Altar pergi ke rumah Gillian untuk menengok. Sebagai seorang sahabat dia khawatir, karena Gillian tinggal seorang diri. Namun Tuan Altar hanya menemukan rumahnya telah kosong. Benar-benar melompong.


Gillian tidak ada. Dia pergi bersama dengan barang-barangnya. Keadaan rumah itu sama seperti ketika baru akan dibeli.


Sehari. Dua hari, hingga berbulan-bulan, Gillian tak muncul. Hanya sekadar memberi kabar tentang keberadaannya pun tidak. Dia seolah hilang ditelan Bumi.


Karena didera rasa penasaran yang tinggi, Tuan Altar kerap kali kembali ke rumah Gillian.


Suatu hari, keanehan terjadi. Dia mendengar suara benda jatuh. Mengira Gillian sudah pulang, Altar muda bergegas masuk ke dalam rumah. Tetapi dia tidak menemukan apapun, kecuali sebuah buku tergeletak di lantai dan robot kamera lebah yang rusak.


Di atas buku ada secarik kertas berisi pesan yang ditulis dengan tangan Gillian sendiri.


'Hei, kawan! Aku tahu kau akan datang. Kau masih ingat Dorry? Dia rusak. Tolong perbaiki! Beri dia tubuh dari rancanganku dan isi dia dengan memori baru! Selamat tinggal dan jangan cari aku!"


Saat itu Altar sedikit bingung bercampur heran. Di sini dia sibuk mencari Gillian ke mana-mana, sementara yang dicari hanya meninggalkan sepucuk surat berisi pesan akrab, seolah berita tentang kehilangannya hanya hal biasa.


Wow, Gillian, kau benar-benar membuat semua orang gila!


Setelah menduplikasi buku itu, buku tiruan disimpan oleh pemerintah, sedangkan yang asli tetap dipegang oleh Altar. Buku itu berfungsi sebagai acuan untuk membantu Beltran Guido bangkit dari keterpurukan, akibat mayat hidup.


Mungkin beberapa dari kalian bertanya-tanya, mengapa buku asli malah justru disimpan oleh Tuan Altar? Semua itu semata-mata karena pesan wasiat yang tertulis di halaman terakhir buku tersebut.


Buku ini diwariskan kepada sahabatku, Altar Langit.


Di halaman sebaliknya ada tulisan yang berbunyi:


Ketika dia yang telah mati berjalan tanpa jiwa, bawalah dia kembali!


Berilah pilihan antara hidup atau mati.


Bawa dia ke naungan Atlantis, di bawah tangan orang-orang berpakaian putih.


Ketika ciptaan manusia tak lagi bekerja, beralihlah pada alam. Alam memberimu banyak hal yang kau inginkan.


Tuhan telah menciptakan banyak manfaat di dunia, maka 'nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan?'


Sekilas dibaca, orang awam akan menganggap pesan Gillian hanya sekadar kata-kata mutiara, tetapi bagi Tuan Altar yang dekat dengan Gillian, tidak ada gurauan dalam tiap baris pesannya, melainkan misteri. Apalagi, Gillian telah mengutip ayat dari dalam Kitab Suci.


Jelas, ini pesan tersirat.


Gillian memang orang yang aneh. Dia tidur hanya dua jam dalam sehari. Mandi sehari sekali. Dia lebih suka menyendiri di dalam ruang kerja selama berjam-jam. Dia akan membiarkan buku-buku, pensil, dan benda-benda tidak tertata dengan benar. Dia bahkan akan marah jika ada seseorang yang berani menggeser benda miliknya, meski hanya beberapa inci.


Jika pergi ke luar, Gillian lebih suka berjalan kaki sambari mencari benda-benda untuk dibawa pulang. Dalam petualangannya di jalan, dia selalu ditemani oleh robot kamera kecil, berbentuk lebah yang dipanggil dengan nama Dorry. Tubuh Dorry milik Gillian terbuat dari besi rongsokan bekas motor yang dibuang di pinggir jalan.


Kini Gillian tak nampak walau seujung rambut pun. Dia datang tanpa tahu dari mana asalnya. Dia pergi entah ke mana rimbanya. Mahakarya-mahakarya yang berguna di Kota Lazar, menjadi saksi bisu atas jerih payah, serta dahsyatnya kemampuan otak manusia pada diri seorang 'Gillian.'


Tok tok


Suara pintu ruangan diketuk, mengalihkan perhatian Tuan Altar.

__ADS_1


"Masuk!" jawabnya.


Seorang pria dengan balutan pakaian jas, khas seorang pelayan, masuk.


"Maaf, Tuan, di luar ada Tuan Hideo."


Tuan Altar sempat terdiam sejenak, "Suruh dia masuk!"


"Baik, Tuan."


Tuan Altar menaruh bandul di salah satu halaman, lalu menutupnya. Buku itu dimasukkan ke dalam laci meja kerja. Sambari menunggu Hideo, Tuan Altar duduk bersandar dan siap mendengar berita tentang anaknya, Tahta. Jika Hideo sampai datang ke rumah, berarti ada berita penting yang ingin disampaikan padanya.


"Selamat sore, Tuan," sapa Hideo ketika sudah berada di dalam ruangan Tuan Altar.


"Hideo, silahkan duduk!" Tuan Altar menyuruh Hideo duduk di seberang mejanya. "Ada apa kau datang ke sini? Oh, ya, bagaimana kabar anakku----Tahta?"


"Tahta baik-baik saja." Hideo diam untuk merangkai kata yang tepat. "Maaf sebelumnya jika aku lancang. Tujuanku datang menemuimu karena ada yang ingin kusampaikan."


"Tentang apa?" Tuan Altar saling menautkan jari-jemarinya, tanda dia sedang memposisikan diri menjadi pendengar yang baik, tetapi serius.


"Ini tentang Tahta."


Alis Tuan Altar mengerut samar, "tentang Tahta? Memangnya ada apa dengan anakku?"


"Aku ingin menikahi Tahta."


Seorang ayah jika mendengar ada seorang pemuda berpangkat, melamar anaknya, pasti akan senang. Tuan Altar pun ingin yang terbaik untuk putrinya. Tetapi melihat kondisi Tahta, Tuan Altar tidak yakin Hideo benar-benar menginginkan anaknya. Dia harus tahu apa alasan Hideo melamar anaknya terlebih dulu.


Mata Tuan Altar masih belum berkedip selama beberapa detik, karena dia begitu terkejut. Dia kaget bukan main, juga tidak percaya begitu saja pada ucapan Hideo.


"Kau ingin menikah dengan Tahta? Apa kau tidak salah bicara?" tanya Tuan Altar memastikan.


"Aku tidak salah bicara. Aku memang ingin menikahi Tahta. Aku ingin dia jadi istriku."


Tuan Altar mengetuk-ngetuk pelan jarinya ke atas meja.


Kini berganti Hideo yang terkejut.


"Apa maksudmu, Tuan?"


"Selain obat-obatan, aku hanya ingin mencoba memulihkan anakku dengan cara memberinya kasih sayang dari seseorang. Karena aku percaya bahwa membangun suasana hati yang bahagia bisa memberi efek pemulihan yang signifikan. Aku tidak berharap kau menikahinya. Jika Tahta sudah sembuh, kau boleh pergi."


Bagai disayat sembilu, hati Hideo sakit mendengarnya.


Tidak disangka ternyata begitulah akhir dari permainan dan kesepakatan antara mereka berdua. Selama ini Tuan Altar begitu percaya padanya. Dia memberi ruang bagi hubungannya bersama Tahta. Dari gelagat Tuan Altar selama ini, tidak ada satupun tanda 'merah' atau 'jangan.' Hideo mengira bahwa Tuan Altar akan setuju.


Setelah mengumpulkan seluruh keberanian, ternyata berakhir penolakan dari ayah sang calon mempelai wanita. Hideo merasa harga dirinya tercoreng. Namun dia mencoba menahan rasa kecewa dan amarahnya dalam hati, karena dia ingin bersama dengan Tahta.


"Kalau begitu sejak awal, kau hanya memanfaatkanku?"


"Entah apa istilahnya, tetapi yang jelas aku hanya menginginkanmu untuk memulihkan Tahta----anggap saja itu sebagai jasa seorang militer pada warga sipil."


"Jasa kaubilang?!" Hideo menguatkan rahangnya. Dia nyaris membentak pria di hadapannya. "Anda mendekatkan anak anda dengan seorang pria, lalu pria itu ingin menikahinya. Anda tidak bisa membuat seseorang jatuh cinta padanya, lalu anda membuang orang itu begitu saja. Aku menyayangi Tahta seperti pria pada wanita."


"Tidak boleh!" hardik Tuan Altar. "Aku juga pria. Aku tahu pemikiran bagaimana seorang pria. Pria ingin dilayani oleh wanita, ingin ditemani dan disediakan kebutuhannya----baik bathin maupun biologis, juga melahirkan keturunan. Tahta tidak bisa seperti itu. Dia tidak seperti yang kalian----para pria inginkan. Jika Tahta tidak bisa melakukan kewajibannya sebagai seorang istri----" Tuan Altar menatap Hideo, tajam.


"Kau pasti akan mencampakkan Tahta dan mencari ganti. Aku tidak bisa membiarkan Tahta terluka karena cinta," lanjutnya.


"Aku tidak akan mencampakkan Tahta."


"Sudah cukup Tahta dicampakkan oleh Soni, karena dia jadi zombie."


"Aku bukan anak ingusan seperti dia."


"Justru karena kau sudah dewasa, makanya aku tak rela."


"Apa masalahmu, Tuan? Aku tidak akan meninggalkan Tahta."

__ADS_1


"Tahta masih kecil."


"Aslinya dia sudah cukup umur untuk menikah."


BRAK


Tuan Altar kelepasan. Dia bahkan memukul meja kerjanya, karena Hideo sangat keras kepala.


"Pokoknya kau tidak boleh menikahi Tahta!"


"Tapi, Tuan----"


"Kalilo!" teriak Tuan Altar memanggil pelayan kepercayaannya.


"Ya, Tuan," jawab Kalilo, datang tergesa-gesa.


"Antar Hideo ke luar! Urusannya sudah selesai," perintah Tuan Altar, bernada dingin. Dia pun memutar kursinya membelakangi Hideo.


Hideo tidak segera beranjak dari tempatnya duduk. Dia menatap bagian belakang kursi yang menghalangi tubuh Tuan Altar dari pandangannya.


"Sebelum aku pergi, aku hanya ingin menekankan sekali lagi bahwa----aku mencintai Tahta. Aku tidak bisa berjanji karena aku tahu kau tidak percaya. Tapi satu hal yang pasti----aku akan berusaha membuat Tahta bahagia. Aku akan melindunginya dengan segenap jiwaku.


Tidak masalah, jika Tahta tidak bisa melakukan hal-hal seperti yang anda sebutkan tadi. Aku akan coba tuk mengerti keadaan, seperti yang selama ini aku lakukan ketika aku menjaganya. Tolong pertimbangkan lagi, karena aku bersungguh-sungguh."


Hideo berdiri di atas ke dua kakinya, lalu membungkuk untuk memberi salam hormat.


"Maaf, jika aku sudah mengganggu waktu anda. Permisi, Tuan!"


****


Tahta sedang duduk di kantin bersama geng-nya. Yah, siapa lagi anggota geng-nya jika bukan Jilly dan Zacky. Di depan Tahta ada tumpukan kotak kado pemberian Hideo. Samar, mata Tahta tampak berbinar bahagia. Jemarinya yang mungil asik menari membuka bungkus kado.


"Dari ... Hideo ... lagi?" tanya Jilly.


"Um. Deo ngasih ... Tha banyak ... sekali hadiah," jawab Tahta.


"Tahta ... sedang pamer," sahut Zacky.


"Tha cuma ... mau kasih ... lihat kok, Zacky," sangkal Tahta.


"Itu ... namanya pamer," sahut Jilly.


"Uh! Tha nda ... pamer! Nakal!" Tahta mengangkat salah satu tangannya ke atas, sekadar mengancam. Tetapi Jilly dan Zacky justru terus menggoda Tahta, hingga gemas ingin memukul teman-temannya. "Uh. Jilly nakal. Zacky nakal!"


"Anak ayah sedang apa?"


Tuan Altar datang berkunjung ke Atlantis dan langsung menemui Tahta. Ketika pria itu lewat, jas panjangnya mengayun seolah tertiup angin. Semua perawat wanita tak melepaskan pandangan dari Tuan Altar, sampai-sampai daging yang ada di atas piring merosot ke lantai.


"Dagingku ... jatuh, perawat," kata salah satu setengah zombie.


"Oh, maaf!"


Tahta memperhatikan sekeliling. Dia tidak mengerti kenapa semua orang jadi salah tingkah, begitu ayahnya datang.


"Ada apa?" tanyanya sambari memiringkan kepala.


"Ada apa? Mereka ... suka ... ayahmu," jawab Jilly.


"Um, suka ayah ... Tha?" Tahta melihat ayahnya, lalu menggeleng. "Nda ... nda boleh. Nih, ayah, Tha." Tahta merangkul tangan ayahnya.


Tuan Altar mengulas senyuman di bibir, lalu dia mengusap rambut Tahta dengan sayang.


"Hadiahmu banyak sekali," komentar Tuan Altar ketika melihat tumpukan box warna-warni.


"Ya, ayah. Nih ... dari ... Deo," jawab Tahta.


"Buang saja! Ayah akan belikan yang baru."

__ADS_1


****


__ADS_2