
"Buang saja! Ayah akan belikan hadiah baru."
"Kenapa, ayah?"
Pertanyaan ini membuat Tuan Altar teringat kembali pada kata-kata Hideo, seketika dia pun merasa jengkel. Sebab pria itu telah dengan berani melamar anaknya, padahal Hideo hanyalah orang asing. Anak gadisnya belum pantas menikah, karena Tahta masih dianggap gadis kecilnya hingga kini.
Dulu saat Tahta masih berumur 4 tahun, gadis kecil itu senang bermanja-manja pada ayahnya. Jika sore hari tiba, sepasang kaki mungilnya dibawa berlari ke depan pintu dan menunggu hingga sosok yang dicari muncul. Dengan senyuman terukir di bibir, Tahta terlihat sangat bersemangat menyambut ayahnya pulang.
Namun, agaknya kini posisi itu telah tergeser oleh seseorang. Apa Hideo begitu penting bagi Tahta?
Tuan Altar menempatkan diri di sebelah anaknya. Dia memperhatikan Tahta yang terus memutar kunci pada punggung sebuah boneka, lalu boneka itu pun bersuara setelahnya. Harus diakui bahwa Hideo sangat memanjakan Tahta. Pilihan hadiah yang diberikan benar-benar bagus dan harganya juga terbilang mahal.
Tuan Altar lantas merasa tersaingi. Sekilas tampak di raut wajahnya bahwa pria itu cemburu. Jauh di dalam lubuk hatinya, Tuan Altar pasti merasa tersisih, karena ada seseorang yang menggeser perannya sebagai seorang ayah. Membayangkan putrinya akan dibawa pergi oleh seorang pria pun, ada rasa tidak rela.
"Ayah masih mampu memberimu apa saja. Kau sudah punya cukup banyak hadiah dari Hideo. Sekarang bilang pada ayah, kau mau hadiah apa ?" bujuknya, berharap Tahta mengubah keputusan.
Membicarakan pernikahan tidak hanya tentang menyatukan dua insan yang saling mengasihi, tetapi ada rasa tanggungjawab, saling mengerti dan mengisi satu sama lain. Jika hanya salah satu saja yang mengalah, maka dikawatirkan pernikahan itu tidak akan berlangsung lama. Takutnya, mental Tahta akan semakin terluka. Itulah sebabnya kenapa Tuan Altar tidak bisa membiarkan anaknya menikah semudah itu.
Nampaknya, Tahta tidak sependapat dengan ayahnya. Ya, tentu karena dia masih belum begitu mengerti tentang arti dari sebuah pernikahan.
Tahta berhenti bermain. Dia lantas terdiam seperti sedang menimbang sesuatu. Dengan kapasitas otak yang belum begitu sempurna, agaknya berpikir menjadi kegiatan sulit. Setelah lama mengetuk-ngetuk bibirnya sendiri, Tahta pun mengutarakan isi hatinya tanpa memikirkan apakah ayahnya akan setuju atau tidak.
"Tha mau Deo."
Tuan Altar sama sekali tidak pernah menduga bahwa Tahta akan bicara demikian, apalagi meminta seorang pria secara langsung di depan ayahnya sendiri. Dia memang ingin agar Tahta bahagia dan hidup dengan normal, tetapi tidak untuk permintaan ini. Dari sekian banyak hadiah yang dijual di toko, kenapa Tahta justru meminta Hideo?
"Hideo manusia, bukan hadiah," kata Tuan Altar mengarahkan.
"Tapi Tha ... mau Deo. Deo baik ... sama Tha."
"Hideo bukan benda. Mintalah yang lain, seperti; baju, sepeda, atau tas baru dengan pernak-pernik, misalnya?"
"Nda mau, ayah," Tahta menggeleng. "Tha sudah punya ... tas baru. Tha mau Deo, ayah."
"Tapi, sayang----"
"Hm, ayahnya .... Tahta----sepertinya Tahta ... suka sama Hideo," Jilly yang sejak tadi asik makan, angkat bicara.
"Ya, om. Tahta suka Hideo," sahut Zacky.
"Lagipula, Tahta ... sudah menikah ... dengan Hideo," kata Jilly lagi.
"Apa maksudmu kalau Tahta sudah menikah dengan Hideo?!" tanya Tuan Altar.
Baik Jilly maupun Zacky tidak ada yang menjawab. Mereka hanya saling pandang dan berakhir dengan menggedikan bahu. Merasa tidak mendapat jawaban apapun dari dua teman Tahta----atau bahkan anaknya sendiri, Tuan Altar akhirnya mendatangi Profesor Hartman dan Leony.
Kebetulan Tuan Altar bertemu dengan keduanya di ruang tunggu lantai 7. Suasana di lantai paling atas itu agak sepi karena para ilmuwan sedang berada di dalam ruangannya masing-masing, jadi obrolan mereka nantinya tidak akan terdengar oleh orang lain. Akhirnya mereka bertiga pun terlibat percakapan serius.
"Jadi----apa ada berita yang kulewatkan selama ini? Kenapa teman Tahta bilang kalau anakku sudah menikah dengan Hideo?"
Profesor Hartman mengembuskan napas perlahan karena tidak tahu dari mana sebaiknya memulai seluruh penjelasan. Sebagai pria dia mengerti kecemasan yang tengah dilanda oleh Tuan Altar. Tapi dia juga tidak mengerti kenapa ada konsep pernikahan tak lazim di antara para zombie.
Para profesor maupun ilmuwan lainnya masih menyelidiki hal ini. Setelah beberapa hari terus memantau kegiatan para setengah zombie, mereka pun akhirnya dibuat kebingungan dengan perilaku ajaib mereka. Sejauh ini data penelitian menunjukan kalau 'mereka' mulai bersosialisasi seperti manusia normal, meski ada sedikit kejanggalan.
Sejauh pengamatan melalui rekaman CCTV, mereka tidak mengerti kenapa seluruh setengah zombie yang dikarantina, terlihat seperti selalu mengelilingi Tahta. Biasanya mereka akan menyapa anak Tuan Altar itu setiap mereka berpapasan. Mereka akan memberi satu meja kosong di kantin untuk Tahta duduk. Mereka bahkan tidak mengerti kenapa Tahta selalu berdua dengan Jilly, sementara yang lainnya berkelompok.
Profesor Hartman yakin kalau setengah zombie sebenarnya tidak menjauhi Tahta karena benci. Justru sebaliknya, mereka memberi jarak lebih terlihat segan dan menghormati, seperti bawahan kepada atasannya.
Jadi apakan penjelasan ini masuk akal?
Untungnya, Leony dapat membantu menjelaskan pada Tuan Altar.
Setelah mendengar kalau Tahta memang mengaku sudah menikah dengan Hideo, jangan tanya bagaimana Tuan Altar bereaksi, karena jelas pria itu sangat terkejut dan tak habis pikir. Dari mana asalnya spekulasi bahwa mereka----para zombie telah menikah hanya dengan memberi air liur pada pasangannya?
Tuan Altar yakin jika perkembangan otak mereka bukan berasal dari serum yang disuntikkan.
"Apa kalian sudah mencekoki Tahta dengan film adegan dewasa (percintaan orang dewasa)?"
__ADS_1
"Hah? Apa?! Tidak!" sanggah Leony salah tingkah. Kedua tangannya dikibas-kibaskan. Dia tidak melakukan hal tertuduh.
"Apa yang kau bicarakan? Mana mungkin tim kami memberi 'anak-anak' itu tontonan film orang dewasa? Kau jangan mengada-ada," sanggah Profesor Hartman, menghela napas.
"Lalu kenapa Tahta mengklaim Hideo dan memintanya sebagai hadiah?" Tuan Altar pun melihat ke arah Leony. "Hideo temanmu, kan?"
"Ya, Tuan. Kenapa dengannya?
"Beberapa waktu lalu dia datang ke rumahku. Dia bilang ingin melamar Tahta untuk dijadikan istri, apa kau tahu?"
"A-apa?!" Catatan yang dipegang Leony hampir merosot. "Apa tuan bilang? Hideo melamar Tahta?"
"Ya. Dia bersikeras dan memaksaku untuk merestuinya. Dia pikir pernikahan itu main-main? Aku pun langsung menolaknya."
"Aku tidak tahu soal itu. Hideo belum cerita apa-apa padaku." Dalam hati Leony menggerutu, "Hideo, kau cari gara-gara saja!"
"Karena dia temanmu, tolong sampaikan pada Hideo, supaya dia membatalkan niatnya."
"Hm, maaf Tuan. Sepertinya itu agak sulit."
"Kenapa?"
"Sebagai sahabat, aku juga khawatir dengannya. Aku sudah meminta dia untuk tidak terlalu dekat dengan Tahta dan menjauhinya, tetapi dia tidak mau. Dia terlihat sangat menyayangi Tahta."
Tuan Altar diam sejenak.
"Benarkah?"
"Aku tahu Hideo. Dia jarang sekali mendekati dan menghabiskan hampir seluruh waktu senggangnya untuk menemani seseorang, seperti dia menemani Tahta. Aku tidak bermaksud berlebihan, tapi kita juga harus memberi mereka kesempatan.
Bukankah tujuan dari Misi STERIL adalah untuk mengembalikan zombie seperti manusia? yang bisa merasakan kasih sayang, ketulusan, dan tempat di masyarakat? Kesempatan itu sudah ada di depan mata. Kita hanya memberi mereka jalan, selagi memantau dari dekat." Leony lantas melirik Profesor Hartman. "Benar 'kan, Prof?"
"Ya. Masuk akal juga." Profesor Hartman menepuk pundak Tuan Altar. "Jangan terlalu cemas. Meski aku sangat terkejut karena Hideo nekat melamar Tahta, kulihat Hideo pria yang baik. Dia pasti bisa menjaganya. Lagipula suatu hari nanti, siap atau tidak, kau juga harus melepas putrimu agar bahagia bersama orang lain. Aku permisi dulu."
Profesor Hartman pergi meninggalkan dua orang yang tengah sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Di tengah suasana canggung, Leony berinisiatif mencairkan suasana.
"Bagaimana pendapatmu?" tanya Tuan Altar, membuat Leony sedikit mengerutkan alis.
"Apanya?"
"Tentang lamaran Hideo."
"O-oh~menurutku sebaiknya pikirkan lagi atau----terima saja!" jawab Leony dengan nada meninggi. "Oh, maaf."
"Begitu, ya? Kalau begitu sepertinya aku harus memikirkan lagi tentang lamaran itu." Tuan Altar diam sejenak. Pria itu melihat ke sekeliling. Di ruang tunggu hanya ada mereka berdua. "Apa kau ada waktu luang saat makan siang?"
"Hah? Ada, Tuan."
"Kalau begitu bagaimana kalau kapan-kapan kita mengobrol sambil makan siang. Aku ingin tahu lebih banyak tentang perkembangan anakku. Aku takut kecolongan seperti tadi."
"Baik, Tuan. Dengan senang hati," ucap Leony seraya tersenyum.
"Hm, kalau begitu aku pergi dulu."
Ketika Leony hanya dapat melihat punggung Tuan Altar, wanita itu tak bergerak seperti patung. Agak lama Leony dalam posisi diamnya, sampai seorang pria cleaning service datang ingin menyedot debu di karpet yang diinjak Leony.
"Permisi, Doktor Leony."
Leony tidak menjawab.
"Doktor, aku ingin melakukan tugasku."
Ketika ujung penyedot debu menyentuh kakinya, barulah dia sadar.
"Yeah! Aku akan makan siang dengan idolaku! Yeah, asik!" soraknya gembira. Wanita itu bahkan melompat-lompat kegirangan.
"Doktor kau mengganggu tugasku."
__ADS_1
"Ish. Kau merusak suasana saja. Kenapa kau bisa ada di sini?" marah Leony.
"Sekarang 'kan sudah waktunya untuk bersih-bersih. Semua harus serba steril, bebas dari kuman, parasit, dan bakteri."
"Ya. Ya. Terserah kau saja. Yang penting aku sedang senang."
****
Setelah mendapat penjelasan dari Profesor Hartman juga Leony, Tuan Altar memikirkan lamaran Hideo. Dia menimbang dengan benar tiap konsekuensi yang akan didapat jika mengijinkan Hideo menikahi Tahta. Dia cemas. Sudah pasti.
Tetapi memberikan kesempatan pada hubungan mereka juga ada benarnya. Sejak awal dialah yang memulai gagasan untuk membentuk STERIL. Dia jugalah yang menginginkan misi tersebut terus berlanjut, jadi tidak mungkin dia mundur. Tanpa sadar dia telah menjerumuskan anaknya untuk dijadikan kelinci percobaan.
Tuan Altar menoleh pada sebuah figura yang ada di atas meja kerjanya. Jemarinya lantas membelai sosok wanita di dalam foto.
"Apa yang sudah kulakukan? Kau pasti marah padaku karena aku telah menjadikan anak kita sebagai acuan penelitian STERIL. Tapi----aku hanya ingin dia kembali menjadi anak kita yang manis, karena dia adalah satu-satunya anugerah terindah yang kau tinggalkan."
Meski berat, Tuan Altar pun memilih menerima lamaran Hideo. Dia memberi restu pada Hideo dan Tahta untuk menikah. Pernikahannya akan dilaksanakan secepatnya. Dengan kondisi Tahta, tak mungkin bagi mereka untuk memiliki pernikahan mewah yang dihadiri oleh banyak orang.
Maka dari itu acara pernikahan akan dilangsungkan di Atlantis dan dihadiri oleh perwakilan para ilmuwan, staf dan para setengah zombie.
Beberapa hari sebelum pernikahan, Leony ditunjuk sebagai penanggung jawab dekorasi. Dia wanita, dia tentu dapat memilihkan baju pernikahan dan pernak-pernik yang bagus. Uniknya, bukan hanya Tahta yang akan menikah, tetapi juga Jilly.
Jilly akan menikah dengan Mark.
Awalnya Mark menolak. Dia masih ingin bebas dan berpetualang cinta. Mana mungkin dia memutuskan semua pacar-pacarnya yang cantik? Selain itu, Hideo tidak henti-hentinya meledek dengan sebutan 'playboy pensiun.' Makin gondok saja Mark.
Mark tidak merasa memiliki ketertarikan khusus pada setengah zombie, apalagi Jilly. Setiap bertemu, mereka berdua terlihat seperti anjing dan kucing. Perlu digaris bawahi jika Jilly hampir selalu ingin menebas lehernya. Jadi bagaimana mungkin mereka menikah?
Jilly yang ingin menikah, namun ditolak oleh pasangannya, ternyata lebih mengerikan daripada zombie asli. Dia menghunuskan pedang pada setiap perawat yang lewat.
"Akh!" teriak seorang petugas bagian makanan lari tunggang langgang. Troli besi berisi makanan ditinggalkan begitu saja karena ada Jilly yang sedang menghunuskan pedangnya.
"Grhm, Mark!" geramnya seraya berteriak. "Aku mau Mark, Mark, Mark!"
"Akh! Kenapa Komandan Mark tidak setuju saja!" teriak perawat yang lari menghindari Jilly.
"Panggilkan Komandan Mark!" teriak perawat lainnya yang berlindung ke arah taman.
"Wou, wou, wou, ada apa ini ribut-ribut? Apa aku terlambat datang ke pesta?" Mark datang setelah Leony terus-menerus menerornya dengan panggilan.
"Jangan bercanda! Kaulihat? Gara-gara kau menolak menikah, kau membuat Jilly marah," kata Leony mengomel.
"Kenapa aku?"
"Tinggal terima saja."
"Na-ah. Tidak mau. Enak saja."
"Mark!" teriak Jilly ketika dia melihat Mark.
"Ada apa? Aku tidak mau menikah denganmu! Cari orang lain saja!"
Mark baru saja akan berbalik pergi, tiba-tiba Jilly berlari cepat ke arahnya lalu----
Plak
"Kau menamparku?" Mark terkejut sekaligus tak percaya, seraya memegang pipinya yang memerah.
Jilly menggeram dan menatap nyalang.
"Bagaimana aku mau menikah denganmu kalau kau terus-menerus menatapku garang begitu?" Memanfaatkan kelengahan Jilly, Mark pun mendorongnya. "Lihat ada kelinci!"
Setelah mendorong, Mark sendiri kabur.
****
to be continued
__ADS_1