STERIL: My Bottom Is A Zombie

STERIL: My Bottom Is A Zombie
Bab 20: (STERIL: The Lover)


__ADS_3

"Wah, wah, wah, lihat siapa yang datang? Seorang pria yang mengaku dirinya Tuhan berjalan dengan gagah berani di depanku," kata-kata pria ini lantas membuat lawan bicaranya berbalik arah padanya.


"Apa kaubicara padaku, Jenderal?"


"Tentu. Memangnya siapa yang berani datang ke ruanganku dan melihat data sejak tadi, Tuan Altar?"


Tuan Altar Langit mematikan hologram lalu beralih pada pria berwajah dingin di depannya. Mereka adalah jenderal dan wakil. Mereka sama-sama berpengaruh di Kota Lazar, namun saat ini keduanya saling berseberangan.


Dulu hubungan mereka erat, saling bekerja sama demi keadaan yang lebih baik. Dedikasi mereka terhadap negara tak perlu diragukan lagi. Sampai suatu hari munculah celah di antara keduanya. Cara berpikir mereka terhadap dunia pun berubah.


"Apa kau masih berpegang teguh pada mimpimu itu, hey, Altar? Mimpi yang sia-sia? Bagaimana dengan zombie-zombie asuhanmu? Apa mereka telah berubah wujud? Atau ... menjadi tubuh tak berguna?" Drake tertawa pelan. Bibirnya yang tebal tersenyum sinis. Andaikata dia bukan seorang jenderal, pasti orang lain akan langsung menyerang karena mulut pedasnya.


Tuan Altar Langit tampak tenang, meski sebenarnya pria itu tidak senang dengan kata-kata barusan. Mendengar anaknya dihina membuat darahnya mendidih, namun logika menahannya untuk meluap. Kekerasan bukan hal baik untuk dilakukan sekarang. Yang terpenting adalah Tahta dan Atlantis aman.


"Terima kasih kau sudah bertanya. Anakku dan pasien STERIL lainnya baik-baik saja. Sebentar lagi mereka akan bisa menjadi manusia dan kembali ke keluarga mereka."


"Hahaha! Keluarga? Apa kau pikir semudah itu mereka diterima? Kaupikir orang-orang berani mengambil risiko kehilangan nyawa karena menampung mayat hidup? Seperti apapun rupanya setelah dinyatakan sembuh, zombie tetaplah zombie. Mereka berbahaya."


"Kau tidak terjun langsung ke misi ini, bagaimana bisa menyebut mereka berbahaya?"


Jenderal Drake dan Tuan Altar duduk saling berhadapan di meja bundar. Dua pria itu hanya terpisah oleh ruang kosong. Namun dalam jarak ini bisa saja meja-meja terbang ke udara karena perkelahian.


Jenderal Drake mengangkat dagunya, lalu menekan rahang kuat-kuat sebelum bicara, "kita lihat saja sampai di mana makhluk mati itu bisa kau lindungi. Kautahu apa yang bisa kulakukan jika ancaman datang."


Tuan Altar menatap lurus ke arah lawan. Tatapannya mantap nan tajam. "Maka aku juga akan bertindak sesuai dengan apa yang kuyakini."


***


Hari itu, Hideo akan pergi bertugas selama dua hari, maka dia menyempatkan diri untuk menemui Tahta di pagi harinya.


Saat Hideo datang sepasang mata miliknya disuguhi pemandangan indah. Dia menatap dengan takjub objek di depannya dan hampir tak berkedip. Jika mendekatinya, maka akan terdengar suara jantung bertalu kencang hingga hampir melompat ke luar. Seindah itukah sosok itu?


Satu kata yang bisa diucapkan untuk menggambarkannya adalah...


Cantik


Di kamar rehabilitasi yang nyaman, Tahta duduk di atas ranjang dan baru saja selesai mandi. Rambutnya sedang dikeringkan dengan pengering rambut oleh salah satu perawat wanita. Tahta memakai dress panjang berenda berwarna lembut yang tampak cantik mengikuti lekuk tubuhnya. Baju pemberian Hideo sederhana, namun tampak serasi dipakai oleh Tahta. Dia tampak seperti boneka manekin.


Berbicara tentang rambut, rambut Tahta tumbuh semakin panjang hingga melewati bahunya. Serum regenerasi sel telah membuat rambut Tahta tumbuh subur. Perawat wanita menyisir, lalu mengikat rambut Tahta menjadi dua bagian, kiri-kanan. Ikat rambut berbentuk pita terlihat manis menghiasi surainya. Sekilas orang tidak akan tahu bahwa dia zombie.


Keindahan lainnya menarik perhatian Hideo. Mata pemuda itu tertuju pada bibir Tahta yang merah muda lagi merona segar. Jika kau lihat kelopak mawar, kira-kira seperti itulah warnanya. Bibir yang semula kering, kini terlapisi oleh kelembaban.


'Apa yang dia makan sampai meninggalkan bekas di bibirnya?' tanya Hideo dalam hati.


Hideo berasumsi tidak mungkin Tahta memakan daging mentah yang masih berlumuran darah lalu meninggalkan noda. Itu terlalu mengada-ada. Lagipula pencernaan Tahta sudah bisa menerima makanan manusia walaupun hanya sebatas makanan yang diolah mentah seperti sushi. Akhir-akhir ini kekasihnya hanya makan daging potong.


Jadi kenapa bibirnya secerah itu? Apa mungkin dia memakai gincu?


"Apa yang kau oles di bibirnya sampai merah begitu?" Hideo tidak bisa untuk tidak bertanya pada perawat wanita yang sedang merapikan pengering rambut.


Nuki yang sedang mencatat pun ikut menengok untuk melihat bibir Tahta. Benar saja Bibir Tahta tampak kemerahan. Si zombie tidak menyadari ketika dua orang pemuda berbeda pekerjaan itu terus memperhatikannya dengan serius.


"Aku tidak mengolesi apa-apa. Sejak aku datang bibirnya sudah merah begitu," jawab si perawat wanita.


Nuki cepat-cepat mengambil buku dan gawai lalu mencatat perkembangan pasiennya. "Aku rasa peredaran darahnya sudah mulai lancar. Biar kucatat dulu."

__ADS_1


Nuki lalu memberi tanda cheklist pada kolom data. Wajahnya terlihat serius juga senang.


"Kukunya berwarna bening mengilat. Cek.


Kulitnya putih cerah dan tidak pucat. Cek.


Warna bibirnya merah muda. Cek.


Detak jantung berfungsi. Cek.


Bagian alat kelamin juga sempurna. Cek."


Mendengar penuturan Nuki, alis Hideo menungkik tajam. "Sialan! Kenapa kau menyebut semua bagian tubuhnya?! Kau ini cabul, ya?!"


"Aku hanya membacakan hasil pengamatanku saat Tahta dimandikan."


"Dimandikan?! Kau yang memandikan Tahta?" Tatapan Hideo semakin tajam. Nada bicaranya penuh penekanan.


"Bukan aku, tapi dia. Aku melihat dari jauh." Nuki menunjuk perawat wanita, tetapi wanita itu telah pergi lebih dulu. Kini yang tersisa hanya Hideo dan si perawat laki-laki.


"Hm? Melihat dari jauh itu sama saja dengan kau mengintip saat Tahta sedang mandi." Hideo berjalan mendekat. Dia meremas jemarinya seperti mengajak duel.


Hideo tidak terima Tahta diperhatikan sampai sedetail itu. Pikirnya Nuki pasti sudah meraba-raba Tahta-nya. Hideo emosi hanya karena membayangkan kekasihnya diperhatikan secara cabul. Hideo tidak tahu kalau prosedur pemeriksaan pasien Atlantis harus dilakukan menyeluruh. Bagian luar dan dalam tubuh diperhatikan baik-baik. Hideo hanya sedang cemburu buta.


Sayangnya Nuki tidak paham akan situasi. Dia tidak menyadari amukan Hideo yang baru saja akan dimuntahkan. Malah dia melanjutkan penemuannya tanpa rasa bersalah sama sekali. Kalau dipikir ulang, perawat itu tidak salah. Dia hanya menjalankan tugas. Hanya saja tak seharusnya dia mengatakan ini saat Hideo ada di antara mereka.


"Aku kan cuma menjalankan tugas. Doktor Leony bilang aku harus memeriksa pasien Tahta dengan detail termasuk bagian kelaminnya. Bagian vitalnya sudah bisa digunakan. Saat benda 'itu' memasuki tubuhnya tidak akan menularkan virus. Dia sudah steril sekarang." Si perawat tersenyum senang, tidak memperhatikan Hideo yang siap dengan kemarahan berikutnya.


"KELUAR KAU SEKARANG JUGA!" Dengan tangannya yang kuat, Hideo menarik krah baju Nuki dan melemparnya keluar.


BUAGH


BRAK


Saat itu Leony sedang melintas dan melihat kegaduhan di depan kamar rawat Tahta. Dia jadi penasaran lalu bertanya, "ada apa denganmu?"


Walau dengan tubuh sakit karena habis dilempar ke luar, pemuda berkaca mata itu menjawab sambari meringis, "aku diusir oleh Komandan Hideo."


"Kenapa dia mengusirmu?"


"Entahlah. Aku tadi hanya mencatat hasil laporan tentang Tahta----dari atas sampai bawah."


"Dari atas sampai bawah?" tanya Leony tidak mengerti.


"Ya. Aku mencatat hasil perkembangan Tahta yang baru. Zombie Tahta hampir mendekati manusia secara fisik."


"Aku mau lihat laporannya."


Leony menerima gawai dari Nuki. Setelah membaca berkas laporan kesehatan Tahta, barulah dia mengerti tentang apa yang dimaksud dengan 'dari atas sampai bawah.'


"Benar seperti ini hasil laporannya?" tanya Leony dengan alis sedikit mengkerut.


"Ya. Tentu saja. Bukankah aku bertugas setiap hari untuk memantau keadaan zombie Tahta? Aku bahkan membacakan semua hasilnya di depan komandan, tapi Komandan Hideo malah marah-marah dan mengusirku."


Leony langsung mengalihkan pandangannya dari gawai ke perawat. "Kau menyebutkannya di depan Hideo, tentu saja dia marah! Pria mana yang tidak kesal saat ada orang lain menyebutkan bagian tubuh kekasihnya?!"

__ADS_1


"Hah? Tapi ini kan bagian dari prosedur Misi STERIL."


"Hideo mana peduli tentang hal itu, dasar bodoh! Lain kali jangan macam-macam dengan kekasihnya. Masih untung kauhanya diusir. Kalau tulangmu patah, bagaimana?"


Wajah Nuki mendadak pucat pasi. Bahkan tembok pun akan kalah putih dengan warna mukanya. Mulut Nuki bungkam. Dia tidak sanggup berkata apa-apa.


****


Hideo memastikan bahwa pintu tertutup rapat dan terkunci dengan benar. Setelah melempar penjaga tadi Hideo masih saja kesal. Nafasnya memburu. Berani sekali perawat itu meraba-raba Tahta-nya! Bahkan sampai melihat bagian bawah tubuhnya. SIALAN! Kalau bertemu lagi dia akan meninju orang itu.


Mata Hideo beralih pada Tahta yang sedang memainkan sisir. Dia tampak tidak terganggu dengan suara gaduh tadi. Hideo menghela nafas dan memutuskan untuk mengambil sikap seperti tidak terjadi apa-apa. Ya, lupakan saja rasa kesalnya, karena Tahta lebih penting.


Hideo merebut sisir dari tangan putih Tahta.


"Biar aku saja yang menyisir rambutmu," katanya sambari naik ke atas ranjang.


Hideo memposisikan diri di belakang tubuh ramping kekasihnya. Dengan hati-hati Hideo mengangkat rambut keperakan Tahta lalu menyisirnya, helai demi helai. Rambut Tahta terlihat lembut. Wangi sampo menghampiri penciuman Hideo, menghadirkan kenyamanan bagi seorang pria setelah selesai bertugas.


Gerakan Hideo sangat hati-hati dan penuh perasaan. Suasana nyaman telah membangkitkan sisi lain seorang pria. Biar bagaimanapun Hideo laki-laki. Terkadang libidonya muncul hanya dengan melihat bagian tubuh kekasihnya. Hideo tertarik pada si manis. Leher Tahta yang putih membuat Hideo ingin meninggalkan sebuah maha karya sebagai bukti kepemilikan atas Tahta. Untunglah sang malaikat segera menyadarkannya pada khayalan gila. Hideo pun cepat-cepat memalingkan wajah.


"Deo." Suara Tahta terdengar menyenangkan di telinga.


"Apa?"


Bukannya menjawab Tahta malah memanggil-manggil namanya berulang kali.


"Deo. Deo.Deo.Deo."


"Namaku Hideo." Hideo menghentikan kegiatannya. Saat ingin berdiri, tanpa diduga Tahta justru berbalik. Hideo tidak bisa bergerak karena Tahta memeluk pinggangnya dengan erat. Hideo tertegun sekaligus senang mendengar Tahta terus menyebut namanya.


"Deo. Deo. Deo. Deo."


Kalau kalian tau warna udang yang direbus, begini warna wajah Hideo saat ini. Jantungnya berdetak kencang dan wajahnya merona. Hideo boleh saja tegas dan kejam pada anak buah. Boleh saja jadi komandan unggulan untuk Divisi STERIL, tapi dia lemah pada makhluk di depannya saat ini. Apalagi sekarang Tahta telah berani duduk di atas pangkuannya sambari memeluk hingga pipi mereka saling bersentuhan.


"Hei! Aku tidak bisa ber-napas----" Hideo hampir tercekik. Dia berusaha melonggarkan pelukan Tahta, tetapi sia-sia.


"Deo. Deo.Deo."


Hideo menghela nafas lagi.


Ya, sudahlah. Tahta sedang ingin memeluk, jadi biarkan saja.


Dalam hati Hideo berjanji. Janji yang akan dibawa sampai mati. Mulai sekarang dia akan melindungi Tahta. Dia akan menjaga dan menyayanginya. Hideo tidak peduli jika dianggap gila.


Dia memang gila.


Gila karena tidak bisa menolak Tahta yang masih setengah zombie. Dia gila karena memiliki kekasih zombie, tapi paling tidak status Tahta sekarang sudah steril dan tidak akan menyebarkan virus. Jika harus menunggu pemulihan syaraf dan otak, Hideo tidak mempermasalahkannya. Semua hanya tentang waktu.


Hideo meraih wajah halus Tahta yang seperti bayi hingga mata mereka saling menatap.


"Kau memang kekasihku. Aku akan menjagamu dengan nyawaku."


****


To be continue

__ADS_1


__ADS_2