STERIL: My Bottom Is A Zombie

STERIL: My Bottom Is A Zombie
Bab 28: (STERIL: Vaccine?)


__ADS_3

DUAGH


"Hideo!"


Ketika Hideo dan Leony sedang menggali informasi mendalam tentang virus baru, tiba-tiba pintu ruang periksa didobrak oleh seseorang. Pintu itu bukan didobrak dengan menggunakan tangan, melainkan kaki. Orang itu menendang pintu dengan sekuat tenaga hingga terlepas bagian engselnya.  Mungkin setelah ini, dia akan terkena denda karena sudah merusak fasilitas Atlantis.


"Mark?!" hardik Hideo dan Leony bersamaan.


"Aku datang ingin melihat keadaan sahabatku yang ketampanannya beberapa tingkat di bawahku ini."


Leony lantas memutar bola matanya, bosan dengan sifat narsis Mark. "Lalu kau yang paling tampan, begitu?"


"Nah, itu----kau tau."


Mendengar jawaban Mark, Leony jadi merasa menyesal telah bertanya. Baik Leony maupun Hideo saling melempar pandangan, lalu berakhir dengan menggelengkan kepala.


Mark justru bersikap tidak perduli pada dua wajah yang menatapnya tidak percaya. Dia menghiraukan mereka seolah ekspresi ke dua orang itu sangat normal, padahal dia baru saja membuat sahabatnya ingin menenggelamkan wajah gara-gara sifat narsisnya. Mark melangkah agak tergesa, lalu mendekati Hideo. Setelah saling bertatapan, dia pun mengembuskan napas lega.


"Kau zombie atau manusia?" tanya Mark sekenanya dan santai, karena dia tahu kalau Hideo tidak berbahaya.


"Tentu saja aku masih manusia. Jangan berpura-pura bodoh," tukas Hideo.


Mark malah tertawa.


"Aku 'kan hanya mengetesmu saja. Siapa tahu kau tidak bisa menjawab. Kalau kau tidak bisa membalas kata-kataku, itu artinya kau zombie." Mark menarik salah satu kursi, lalu duduk. Dia mengamati Leony yang tengah berjibaku dengan peralatan penelitian. "Boleh aku mengatakan sesuatu? Kalau kau terlalu lama di sana----kau tidak akan pernah punya pacar. Bisa-bisa kau jadi perawan tua."


"Aku tidak sepertimu yang suka mengumbar cinta," balas Leony dari balik mikroskopnya.


"Lalu----apa yang kau temukan, Leo?" tanya Hideo.


"Aku tidak bisa mengatakannya, karena ini rahasia."


"Rahasia? Aku ingin tahu ada apa di dalam tubuhku. Kenapa aku tidak berubah setelah digigit zombie dan aku baik-baik saja?----lalu kau mengatakan ini rahasia?!"


Hideo sungguh tidak percaya. Baru saja dia di hadapkan pada peristiwa mengerikan dan nyaris menghadapi maut, lalu berakhir dengan 'hey, aku masih seorang manusia.' Lantas ada berjuta pertanyaan di dalam benaknya yang ingin segera terjawab, tetapi jawaban itu dirahasiakan. Sungguh menyebalkan.


"Yang pasti-----saat ini aku bisa menjamin bahwa kau baik-baik saja, Hideo. Aku tidak menemukan tanda-tanda bahwa DNA-mu akan bermutasi menjadi zombie. Itu artinya kau kebal terhadap virus zombie. Kau bisa tenang sekarang."


"Dia kebal?" Mark lantas melihat Hideo dari ujung rambut hingga kaki. "Hey, apa kau menyuntikkan vaksin pada Hideo? Berikan kepadaku juga!" pinta Mark pada Leony.


"Saat ini kami hanya fokus pada pemulihan zombie, belum sampai pada tahap pembuatan vaksin. Aku perlu memeriksa darah Hideo lebih lanjut di ruang penelitian dan memberitahu profesor Hartman. Tim STERIL harus tetap waspada atau kejadian seperti tadi akan terulang lagi, karena aku tidak bisa menjamin kalian akan selamat kali ini."


Hideo terdiam sejenak. Ada pikiran yang masih mengganjal. Sebenarnya apa yang ada di dalam tubuhnya sehingga dia kebal terhadap serangan virus? Jika ditilik lagi ke belakang, dia tidak mengkonsumsi makanan-makanan aneh. Dia selalu menjaga pola makan, berolahraga, meminum vitamin dan menghindari minuman beralkohol. Hideo juga tidak merokok.


Apakah kekebalan ini terbentuk karena hidup sehatnya?


"Ha-ah, ternyata kau baik-baik saja. Tadinya kukira kau akan jadi zombie," tukas Mark.


"Jika aku jadi zombie, yang akan kugigit pertama kali adalah kau," balas Hideo.


Mark bangkit, lalu mundur beberapa langkah, "hei, hei, tunggu dulu! Tidak semudah itu kau bisa menggigitku." Mark mengangkat kedua tangan, lalu menekuknya, sehingga otot pada lengan bagian atas menggembung. "Aku ini kuat. Mark sangat kuat."


"Kau kuat kalau bisa mengalahkanku dalam pertarungan 1 lawan 1, tapi sayangnya kau tidak bisa. Pada pertarungan terakhir saja, kau menyerah," ujar Hideo sambari tertawa.


"Hati-hati kalau bicara! Kita seri, karena aku berhasil meninjumu di detik-detik terakhir."


"Tapi saat kau meninjuku, waktunya telah habis dan itu tidak dihitung."


"Kau mau lihat kemampuanku? Ayo, kita duel di luar!" ajak Mark bersemangat. Mark mengangkat kedua tangan dalam posisi sedang meninju. Dia mencoba untuk mengenai Hideo, tetapi Hideo berhasil menangkis hanya dengan satu tangan.


"Bisakah kalian tidak berisik?! Suara kalian akan membangunkan Tahta." Leony yang semula ingin mengabaikan Hideo dan Mark untuk melanjutkan pengamatannya pun terusik. "Lagipula----ya ampun, Mark, kau harus bayar denda karena telah merusak pintu ruang praktekku!"


Mark menggedikan bahu.

__ADS_1


Leony berjalan ke arah pintu dan mendapati pintunya telah rusak. Salah satu bagian engsel sudah tercabut dari tempatnya. Untungnya kaca pada pintu cukup tebal sehingga tidak bisa pecah dengan begitu mudah. Namun, pemilik Atlantis termasuk orang yang sangat teliti dan rewel. Jika ada satu bagian dari gedung yang rusak sedikit saja, maka pemiliknya akan mengomel.


Di gedung itu ada beberapa aturan, di antaranya menyangkut fasilitas Atlantis. Si pemilik gedung sangat ketat menjaga aset. Dia mengatakan jika Atlantis beserta isinya telah didaftarkan di asuransi. Hal ini penting dilakukan, karena jika terjadi sesuatu pada Atlantis suatu hari nanti, maka tempat itu akan mendapat pencairan dana ganti rugi.


Berbeda halnya jika seseorang dengan sengaja merusak barang atau benda di sana, maka dia harus membayar denda dengan sejumlah uang yang terbilang cukup mahal. Selama ini belum pernah ada yang berani merusak benda-benda secara sengaja, kecuali Mark. Entah karena terlalu menggebu-gebu atau memang tenaganya terlalu besar, mau tidak mau Mark terkena aturan pelanggaran. Malangnya Mark.


"Mark, kau harus bayar denda!" pinta Leony.


"Baiklah, nanti aku akan ke lobi untuk membayarnya." Mark lantas mendengus kecewa. "Setelah uangku diambil untuk keperluan Jilly----sekarang malah harus membayar ganti rugi. Uangku dirampok."


"Memangnya salah siapa?" tukas Leony dengan sorot mata meredup tajam.


"Aku. Puas?!"


Hideo terkekeh.


Mark mendengar Hideo tertawa. Meskipun tawa itu samar, tapi indra pendengaran Mark telah terasah untuk dapat menangkap serta menganalisa suara. Mark pun terganggu dan dia berniat untuk mengerjai sahabatnya. Dia lantas mengepalkan tangan ingin meninju bahu Hideo. Sayangnya niat ini urung dilakukan begitu dia melihat sosok berambut pirang, pucat dan panjang, menjuntai melewati lengan sahabatnya.


"Itu Tahta, anak Tuan Altar atau orang lain?"


Sebagai pria yang mudah tertarik pada lawan jenis, Mark melihat sesuatu yang berbeda pada sosok dalam pelukan Hideo. Di mata Mark, sosok itu sangat manis. Tubuhnya yang sedang tertidur terlihat mungil, sangat kontras dengan tubuh Hideo. Dia sudah pernah bertemu dengan anak Tuan Altar sebelumnya. Hanya sekali. Waktu itu Mark yakin betul bahwa Tahta masih pucat, sedangkan hari ini Mark berasumsi ada sesuatu yang berbeda dengannya.


"Tentu saja dia Tahta, anak Tuan Altar," jawab Leony.


Karena terusik oleh kebisingan, perlahan-lahan kelopak mata Tahta terbuka. Sepasang bola mata pucat itu pun akhirnya mulai bekerja, menangkap bayangan obyek satu per satu. Ketika Tahta terbangun, yang pertama kali dilihatnya adalah Hideo. Tahta masih belum ingat peristiwa sebelum dia tidur, karena itu dia hanya terdiam linglung.


"Um, Deo." Tahta mengusap-usap matanya agar melihat lebih jelas.


"Kau sudah bangun, sayang?" tanya Hideo dengan nada lembut.


"Um, Tha ... sudah ... bangun."


Tahta mengangguk. Dia merasa senang mendengar suara Hideo. Damai rasanya. Hingga saat di mana suara seseorang memasuki Indra pendengaran, Tahta pun dibuat bingung olehnya.


Tahta menaruh jari telunjuk di bibirnya sendiri. Dia terus mengamati Mark. Mungkin jika pikirannya bekerja normal, dia akan bertanya 'kenapa Mark bertanya seperti itu?' Sunggu sayang, pemikiran itu masih tersimpan jauh ke alam bawah sadarnya dan belum sempat terucap.


"Nih, Tha. Um." Tahta pun kembali menjatuhkan kepalanya di atas bahu Hideo. Kedua tangannya melingkar di sekitar perut kekasihnya, menyamankan diri.


"Ouh, lama-kelamaan kau manis sekali. Kau bahkan lebih manis dari mantan-mantanku." Mark lantas mendekatkan wajahnya kepada Tahta, "bagaimana kalau kau tinggalkan Hideo, lalu kencan denganku? Aku akan memberi apapun yang kau mau."


Tak mau kehilangan kesempatan, lantas Mark mengedipkan sebelah matanya.


Mark si playboy. Nyalinya sungguh besar. Mungkin Mark sudah bosan hidup karena berani menggoda Tahta di depan Hideo. Bisa dibayangkan bagaimana merahnya wajah pria itu saat kekasihnya dirayu oleh sahabatnya sendiri.


"Ti-dak mau. Tha ... mau ... sama Deo."


"Berani-beraninya kau menggoda Tahta! Menjauh dari kekasihku, dasar playboy!" Hideo mendorong Mark menjauh, tetapi sahabatnya itu malah semakin menjadi.


"Tahta buatku saja, ya!"


"Tidak akan!"


Hideo menendang kaki Mark dan Mark pun membalas.


"Aku lebih tampan darimu, Hideo----jadi berikan Tahta padaku!"


"Bicaralah dengan tinjuku! Kalau kau bersikeras berarti kau cari mati!"


Hideo melepaskan Tahta dan segera beralih ke Mark. Dalam hitungan detik, dua pria berpangkat 'Komandan' itu sudah menjadikan ruang praktek Leony sebagai arena pertarungan. Mereka berkelahi, tetapi tidak benar-benar berkelahi. Ya, bisa dibilang seperti dua anak kecil yang sedang bertengkar demi memperebutkan sebuah mainan, bedanya mereka memperebutkan Tahta.


Hideo melayangkan tinju, lalu Mark menangkisnya.


Mark menendang Hideo, tetapi Hideo menggeser tubuh bagian atas sehingga tendangan itu tidak kena.

__ADS_1


Bunyi bak-bik-buk pun terdengar di seisi ruangan akibat benturan yang dihasilkan dari persinggungan tubuh mereka.


"Berhenti berkelahi! Ya, Tuhan, kalian seperti anak kecil!" teriak Leony.


"Ayo, Deo! Deo ... hebat!" Tahta tertawa sambari bertepuk tangan kegirangan.


"Seharusnya kau tidak memprovokasi kekasihmu untuk berkelahi, Tahta."


"Um, kenapa?" Tahta memiringkan kepalanya, tidak mengerti, lalu dia kembali bersorak-sorai. "Deo ... hebat. Ayo Deo ... terus! Hahaha. Waw, keren!" Tahta sangat senang. Dia bahkan melompat-lompat.


"Kubilang berhenti berkelahi!"


Mark dan Hideo mengabaikan Leony.


Suara gaduh di ruang praktek Leony telah menarik perhatian Jilly. Pada saat itu Jilly sedang lewat di sekitar koridor, mendengar ada suara bising, dia pun mendekat. Jilly terus berdiri di ambang pintu tanpa berniat ingin masuk atau pergi. Pedang dalam genggaman pun dibiarkan tetap pada sarungnya.


"1-sama," komentarnya ketika Hideo dan Mark masing-masing terkena 1 pukulan.


"2 untuk ... Hideo," ujarnya ketika Hideo berhasil meninju perut Mark.


"Sudah, ah. Tidak ... menarik," kata Jilly lagi seraya ingin pergi.


"Jilly!" Tahta yang melihat Jilly, lantas memanggil dan mendekatinya.


"Ada ... apa, Tahta?" tanya Jilly tanpa ekspresi.


"Ayo ... main!"


"Hi-deo ... bagai-mana?"


"Deo juga ... sedang main dengan ... Mark."


"Hm, begitu?" Jilly melihat ke arah dua pria yang sedang dipisahkan oleh Leony. "Sepertinya ... mereka ... sedang tidak bermain, Tahta."


"Um," Tahta menggeleng. "Mereka ... main. Jadi ... ayo ... kita juga ... main."


"Baiklah. Ayo, kita ... main."


"Asik! Ayo ... main!" Tahta mengikuti Jilly. Dia berjalan sambari melompat kecil. "Mau main ... apa, Jilly?"


"Bagai-mana ka-lau main ... pedang-pedangan. Aku akan ... mengajarimu bermain pedang."


"Yeyey! Asik! Tha ... mau main pedang!" Tahta bersorak kegirangan. "Ayo, main. Main sama Tha."


****


Jilly melangkah menyusuri koridor. Dia baru saja mengantar Tahta ke kamarnya selepas mereka bermain pedang. Tadi, Tahta bilang ingin bermain, jadi Jilly meladeninya. Sadar atau tidak, Jilly justru mengajari teknik pedang kepada Tahta, seperti yang telah diajarkan gurunya terhadap dirinya dulu.


Di persimpangan, Jilly berpapasan dengan Mark. Baik Mark maupun Jilly sama-sama berhenti.


"Mark ... kau tampan," ujar Jilly tiba-tiba.


Mark terperanjat, karena tidak biasanya Jilly berkata baik, apalagi memujinya secara langsung. Mark pun menarik sudut bibirnya ke atas. Dagunya yang tanpa rambut dielus-elus sayang.


"Jelaslah! Aku tampan sejak lahir." Mark terkekeh pelan.


"Tapi bohong."


Senyum Mark pudar.


"Kau bodoh ... karena kalah dari ... Hideo," ujar Jilly menohok. Ketika dia melewati Mark, salah satu sudut bibirnya terangkat, sinis.


"A-apa dia baru saja menertawakanku? Hei, barusan kau mengejekku, kan?! Dasar, zombie!" Mulut Mark terbuka dan menutup tak mampu membalas.

__ADS_1


****


__ADS_2